Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24. Untuk cinta pertamaku
Happy Reading
"Ini enak banget. Makasih banyak, ya." Aily tersenyum manis membuat semua orang terpana melihatnya.
Tak mengerti lagi, hari ini sangat membahagiakan untuk Aily. Sejak tadi, Wulan mengajaknya becanda dan membuatnya tertawa riang. Dia bahkan mengajak Aily untuk memakan jagung bakar dan ikut berkumpul bersama anak lainnya duduk mengelilingi api unggun.
"Gitu dong, ketawa." Ucap Linda, anak kelas lain.
"Iya, gue kira Aily itu jutek loh orangnya. Tapi ternyata baik banget." Ucap Harmony.
"Kalian aja kali yang takut sama genk sok berkuasa itu, makanya gak tahu bahwa sahabat gue ini super-super baik."
Aily tersenyum sambil menatap Wulan lalu kembali memakan jagung yang ada di tangannya.
Sungguh, ini kali pertama bagi Aily bisa berbincang hangat dengan seseorang selain Wulan.
Dan ini cukup membuatnya bahagia. Dia tidak tahu seberapa lama kebahagiaannya ini bertahan, tetapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin menikmati momen yang sangat langka ini.
"Maaf...." Ucap mereka sembari menunduk malu.
"Eh, gak apa-apa kok." Ucap Aily.
Perhatian mereka teralihkan saat ketua OSIS membuka acara. Kali ini, akan ada banyak persembahan dari tiap kelas yang akan menampilkan bakatnya.
"Udah pada siap, kan? Siap dong... Kalian, kan udah persiapan sebulan lebih untuk acara ini. Pasti pada semangat banget buat menampilkan bakat terbaik kalian." Ketua OSIS cukup membuat anak-anak berteriak histeris, menandakan bahwa mereka sudah siap.
Tapi tunggu.... tiap kelas?
Aily berpikir sejenak, lalu berkata, "Emangnya kelas ada persiapan apa, ya?"
Wulan pun baru menyadarinya. Kelas mereka sama sekali tidak mengadakan latihan apa pun. Mereka sibuk membully Aily dan tidak pernah peduli dengan kegiatan apa pun.
"Eh iya, ya. Kalo kelas kita dipanggil, gimana?" Wulan mulai gelisah dan mencari-cari di mana anak kelas berada.
Aily dan Wulan menemukan mereka sedang berkumpul, raut wajah mereka terlihat tegang dan kebingungan.
Mereka langsung menghampirinya, dimana Sinta dan Riska sudah berkacak pinggang menatap Aily dengan sinis.
"Gimana sih lo. Anak kelas lagi pusing, lo malah asyik makan jagung bakar sama kelas lain!" Ucap Sinta kesal.
"Najis. Gak ada tanggung jawabnya banget." Sambut Riska.
"Heh remah micin. Daripada ribut, mending fokus aja sama kelas kita mau nampilin apa!" Tukas Wulan sambil memegang tangan Aily.
Napas Sinta menggebu menandakan jika dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
Melihat Wulan, murid baru yang sok akrab dan sok pahlawan ini begitu lancang padanya.
"Eh, lo murid baru-"
"Udah. Berisik, Sinta! Sekarang, kita latihan dadakan!" Bentak Alderza tiba-tiba seketika membuat hati Sinta tertohok.
Alderza langsung mengambil gitar dan memainkannya, mencoba chord yang dia mainkan sesuai dengan lagu yang akan dia bawakan.
Semua orang terdiam, karena kejadian seperti ini sangat jarang atau bahkan tidak pernah terjadi.
Orang-orang menganga tak percaya melihat Alderza tidak membela genknya.
Tapi di sisi lain, Aily tersenyum kecil karena sahabatnya dibela oleh Alderza dengan terang-terangan.
Dan di saat itu juga, Alderza menatap Aily yang tengah tersenyum. Entah kenapa, dia merasakan sedikit perasaan lega dalam hatinya.
Dengan melihat senyumnya saja, sudah sangat cukup untuk merobohkan segala kegelisahan di hati.
"Kenapa lo senyum-senyum?" Tanya Sinta sembari mendorong bahu Aily.
Tiba-tiba Riska berkata dengan sangat kencang di depan anak kelasnya.
"Gimana kalo kita tumbalin aja ni cewek cupu buat wakilin kelas kita?"
Aily melotot kaget. Dia yang maju untuk tampil? Aily sama sekali tidak tahu apa yang harus dia tampilkan di sana, apalagi sendirian. Selain mempermalukan dirinya sendiri, nama kelasnya pun akan tercoreng.
"Bener banget, maju sekarang!" Dorong Sinta lagi.
"Dan, kalo sampe ada yang ngetawain lo, liat aja."
"MAMPUS LO!" Teriak Sinta tepat di depan muka Aily.
Alderza yang melihat kejadian itu langsung menatap tajam Sinta dan Riska. Saat dia ingin menghampiri mereka, Wulan langsung mencekalnya.
"Dan kalo sampe semua orang tepuk tangan, lo harus jilat kaki gue!" Balas Wulan dengan percaya diri sambil membulatkan matanya dengan penuh.
"Najis banget!" Mereka berdua mengoceh seperti orang yang kesurupan.
Wulan mengabaikan mereka berdua dan langsung mengambil gitar milik Alderza dengan berani.
"Deal, oke? Kita taruhan. Kalo gue kalah, gue bakal jadi budak lo selama satu tahun. Tapi, kalo gue menang, lo berdua harus jilat kaki gue!"
"Deal!" Mereka berdua langsung semangat mendengar Wulan menawarkan dirinya untuk menjadi budak.
Sepertinya tawaran itu menggiurkan, cukup untuk menjadi mainan baru Sinta dan Riska.
Setelah Wulan berjabat tangan dengan mereka berdua, dia langsung menarik Aily menuju ke depan acara.
Alderz, Rafa, dan Bintang tentunya hanya bisa melongo melihat Wulan yang begitu nekat.
"Tunggu, tunggu. Kita mau nampilin apa?" Tanya Aily panik.
"Lo nyanyi, gue yang gitar."
Aily melotot kaget. "APA?!" Aily berteriak.
"Aily, please.... Gue tau lo pinter nyanyi. Lo pernah bilang kalo hobi lo itu nyanyi." Ucap Wulan. Ia menatap Aily dengan penuh harap.
"Ya, tapi tetep aja kalo di depan banyak orang-"
Belum beres Aily berkata, Wulan langsung memotongnya dan kembali memberi tatapan memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
"Please.... gue pengen Sinta sama Riska jilat kaki gue, please."
Aily langsung tertawa mendengar ucapan Wulan, sepertinya dia tak bisa menolak lagi.
Entah apa yang akan orang pikirkan tentang suaranya, yang terpenting Aily sudah membantu keinginan sahabatnya.
"Oke, aku mau nyanyi lagu..."
Tanpa mereka sadari, Alderza ternyata mengikuti mereka dan menguping pembicaraan mereka.
"Lagu itu ya, gue bisa sih, tapi gue agak ragu bisa selaras apa enggak. Udah lama soalnya semenjak gue main gitar. Apa ada lagu lain?" Tanya Wulan merasa tidak enak kepada Aily.
"Lagu lain ya, aku-"
Ucapan Aily kembali terpotong ketika tiba-tiba Alderza datang dan mengambil kembali gitarnya dari tangan Wulan.
"Biar gue aja yang mainin gitarnya, lo yang nyanyi." Ucap Alderza sembari memegang gitarnya yang tentunya membuat Aily dan Wulan melotot tidak percaya.
"Gak ada, gue yakin lo sengaja ngajuin diri biar bisa ngerecokin penampilan Aily buat bantuin temen lo itu kan." Wulan sama sekali tidak mempercayai perkataan Alderza, meskipun ia tahu bahwa Alderza sudah meminta maaf kepada Aily.
"Gue ngelakuin ini juga biar nama kelas kita gak tercoreng. Gak usah mikir macem-macem deh lo. Lagian, kan lo sendiri yang bilang gak yakin main gitar buat lagu tadi."
"Iya sih, tapi kan kita bisa ganti lagu dan-" Alderza langsung memotong ucapan Wulan.
"Gak ada waktu lagi buat ganti lagu." Potong Alderza.
"Oke, tapi awas aja kalo lo berani ngerecokin lagunya. Gue bakal awasin lo." Ucap Wulan karena mau tidak mau, ia harus setuju.
"Ta-tapi, kalo aku tampil sama dia..." Bisik Aily pada Wulan dengan nada gemetar.
Aily bukannya takut pada Alderza, tapi dia pasti akan gugup jika harus tampil berdua dengan Alderza dan itu pasti akan mempengaruhi penampilannya nanti.
"Emm, gini aja. Gimana kalo gue duet lagunya sama lo?" Tanya Wulan.
"Duet?" Ucap Aily memastikan.
"Iya, tapi kita duetnya waktu mulai di bagian reff, dan sisanya lo bakal nyanyi dan gue bakalan buat gerakan tambahan. Gimana? Lo inget kan gue pernah gabung ekskul tari."
"Yaudah deh."
***
"Nah, sekarang waktunya kelas 12 IPS 4 yang menampilkan bakatnya. Mana suaranya....?" MC berteriak dengan semangat.
Tapi, tidak ada satu orang pun yang menanggapinya, mereka semua terdiam dan gelisah. Bagaimana penampilan Aily dan Wulan di depan nanti?
Kecuali Sinta dan Riska tentunya, mereka berdua tersenyum sinis sambil melipat kedua tangan mereka di atas dada.
"Loh, gak ada pendukungnya sama sekali nih?" Ucap MC bingung.
"Baiklah, langsung saja kita panggil perwakilan dari 12 IPS 3."
Semua orang terdiam melihat Aily yang akan tampil, sekaligus terkejut melihat keberadaan Alderza bersama Aily dan Wulan.
Mereka menduga-duga, mungkin saja Alderza ada di sana untuk merecoki penampilan Aily karena memang Aily adalah bahan bullyan nya. Terutama Sinta, Riska, dan Rafa yang berpikiran begitu.
Aily memang gugup, tangannya gemetar, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Meskipun udara di pegunungan sangat dingin, tapi tetap saja tidak mampu membuat tubuhnya sejuk.
Perlahan, Aily duduk bersama Wulan, dengan Alderza yang berada di belakang mereka. Tiba-tiba, hal yang tak disangka-sangka terjadi. Aily tersenyum di depan semua orang.
Pertama, dia tersenyum untuk memenuhi permintaan Wulan yang cerewet. Kedua, dia tidak boleh terlihat gugup di depan semua orang.
"Sumpah, ini anak cantik banget."
"Senyumnya mengalihkan duniaku."
"Gue baru sadar ada anak IPS 3 yang cantiknya kebangetan."
Semua anak cowok langsung ribut saat melihat Aily tersenyum. Alderza yang melihatnya dari belakang, meski tidak melihatnya secara jelas hanya terpaku melihat keindahan tersebut.
Meskipun begitu, telinganya seketika panas mendengar ucapan dari cowok-cowok lain yang memuji kecantikan Aily.
"Gue, Aily Marsela, dan sahabat gue Wulan Gabriella, serta..." Aily agak ragu untuk memperkenalkan Alderza juga.
"Alderza Rajendra." Jawab Alderza singkat.
"Bakal bawain lagu 'First Love' dari Nikka Costa."
Aily perlahan melihat Wulan sembari mulai berdiri. Dia memberikan jempol untuk Aily karena tidak gugup saat berkata 'gue' di depan umum.
Alderza sangat keheranan. Terutama saat Aily berkata 'gue' dengan lugas. Sangat terlihat jelas Aily begitu percaya diri.
Bagaimana bisa?
"Semangat, IPS 4!" Teriak Bintang dengan semangat.
Dan otomatis mata Aily langsung menatap Bintang. Alderza yang melihat itu tentu saja kesal, tapi ia langsung mengesampingkan kekesalannya dan mulai memainkan gitarnya dengan lihai.
Everyone can see
There's a change in me
Baru beberapa bait Aily menyanyikan lagu tersebut, sudah banyak yang bersorak. Tidak menyangka, hanya itu yang mereka rasakan.
Cewek lugu yang biasanya menunduk, diam, dan jadi korban bullying itu memiliki suara yang begitu lembut.
They all say
I'm not the same kid I used to be
Alunan merdu dari bibirnya yang indah mulai terdengar, melody yang mengalir begitu menyentuh hati.
Semua orang yang melihatnya tidak ada yang berkedip. Mereka tidak bisa mengalihkan pandangannya dari cewek cantik yang sedang bernyanyi tersebut.
Don't go out and play
I just dream all day
Aily menatap Alderza secara perlahan, lagu ini benar-benar ia persembahkan untuk Alderza. Meski begitu, rasa gugup kembali saat ia memandang Alderza. Untungnya, itu sama sekali tidak memengaruhi performanya.
Meski begitu, ia terus berusaha menatap Alderza. Hanya saja, Alderza sama sekali tidak menyadarinya.
Kemudian, lirik berikutnya Wulan pun mulai ikut bernyanyi dengan Aily.
They don't know what's wrong with me
And I'm too shy to say
It's my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
Thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
'Cause I'm feeling my first love
Alderza menatap Aily sembari terus memainkan gitarnya dengan lihai. Ia memperhatikan sepertinya Aily sedang melihat seseorang.
Saat ia melihat ke depan, ia melihat tatapan Aily tertuju kepada Bintang, yang padahal tatapan Aily kebetulan memang sedang melihat ke arah Bintang.
Dia merasa sangat kesal saat Aily melihat Bintang sambil menyanyikan lagu itu. Seolah-olah lagu itu dinyanyikan untuk Bintang. Ada sedikit rasa tidak terima dalam hatinya jika lagu itu memang untuk Bintang.
Will he ever find a way
And answer to my prayers?
For my first love
What I'm dreaming of
When I go to bed
When I lay my head upon my pillow
Don't know what to do
My first love
Thinks that I'm too young
He doesn't even know
Wish that I could show him what I'm feeling
'Cause I'm feeling my first love
My first love
Setelah beberapa menit yang menegangkan berlalu, Aily membuka matanya lebar-lebar. Dia kembali tersenyum saat lagu yang dia nyanyikan selesai.
"Terima kasih." Ucap Aily sambil menunduk.
Semua orang bertepuk tangan, sangat meriah dan ramai. Aily tidak menyangka jika akan ada yang bertepuk tangan setelah semuanya selesai.
"Wow... keliatannya ini tepuk tangan yang paling meriah, ya." Ucap MC sambil menghampiri Aily, Wulan, dan Alderza dengan Aily dan Wulan yang sedang berpelukan.
"Lagunya kok bisa menghayati gitu, sih? Udah lama pinter nyanyi, jadi pinter menghayati, atau..." Tanya MC pada Aily yang memang bernyanyi lebih banyak dibandingkan Wulan.
Wulan langsung menyikut Aily agar dia menjawab semua pernyataan yang diberikan.
"Emm... ini lagu spesial buat cinta pertama gue." Ucap Aily dengan jujur dan polos, yang seketika membuat Alderza menatap Bintang dengan tatapan tajam.
Thank you yang udah baca. Kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, tolong untuk dikoreksi ya guys. Love you guys.