Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Labirin Beton dan Suara dari Kegelapan
Gema tembakan shotgun tadi masih berdenging di telingaku, bercampur dengan aroma mesiu yang tajam dan bau busuk daging monster yang terbakar. Makhluk itu—si Crawler—terpental ke dinding tangga darurat, tubuhnya yang tanpa kulit meninggalkan jejak cairan kental kemerahan di semen yang dingin. Tapi dia tidak mati. Dengan gerakan yang melawan logika anatomi manusia, dia memutar kepalanya 180 derajat dan menatapku dengan lubang hitam di wajahnya.
"Zidan! Dia bangun lagi!" Kurumi berteriak, suaranya melengking di lorong tangga yang sempit.
"Jangan cuma teriak, bodoh! Lari ke pintu atap dan tahan pintunya!" perintahku. Aku tidak melepaskan pandangan dari monster itu.
Logikaku bekerja cepat. Peluru shotgun sebar (buckshot) tidak cukup untuk menghancurkan otak makhluk ini dalam satu tembakan jika jaraknya terlalu jauh atau sudutnya tidak pas. Aku butuh jarak dekat. Sangat dekat.
Makhluk itu melompat lagi, kali ini dia merayap di dinding samping dengan kecepatan seperti cicak raksasa. Cakar-cakarnya yang panjang mengeluarkan suara kriet-kriet saat menggores beton. Dia mengincar leherku.
Aku tidak mundur. Aku justru melangkah maju satu langkah, merendahkan tubuhku, dan menunggu momen yang tepat. Saat moncong makhluk itu hanya berjarak satu meter dari wajahku, aku menarik pelatuk.
DOR!
Kali ini telak. Selongsong peluru itu meledak tepat di wajahnya, menghancurkan tengkoraknya menjadi serpihan kecil. Tubuh monster itu lunglai, jatuh berdebum di depanku dan berguling menuruni tangga. Darah hitamnya menciprat ke sepatu botku.
Aku mengatur napas sejenak, lalu menyambar radio panggil yang tadi sempat terjatuh. "Kurumi! Buka pintunya!"
Kami kembali ke area atap yang luas. Angin masih berhembus kencang, tapi sekarang ada ancaman baru yang mengintai dari dalam gedung. Aku segera mengunci pintu akses atap itu dengan sepotong besi yang kutemukan di dekat sana.
"Apa itu tadi, Zidan? Itu bukan zombi biasa kan?" Kurumi bertanya dengan napas memburu. Dia memegangi dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang liar.
"Evolusi," jawabku singkat sambil memeriksa sisa peluru di kantongku. "Virusnya bermutasi. Kalau kita cuma ketemu mayat hidup yang lambat, dunia ini bakal terlalu mudah untuk dibersihkan. Tapi makhluk tadi... dia predator murni."
Aku menyalakan radio panggil yang kuambil tadi. Suara statis masih mendominasi, tapi sesekali terdengar suara manusia yang terputus-putus.
"...sektor 4... markas Delta... masih bertahan... gunakan jalur lingkar luar... hindari pusat kota... sttt..."
"Markas Delta," gumamku. "Itu markas militer yang kita tuju. Mereka masih ada di sana."
"Tapi suara di radio itu terdengar sangat ketakutan, Zidan. Bagaimana kalau markas itu juga sudah terkepung?" Kurumi menatapku dengan ragu.
"Ketakutan adalah emosi manusia yang paling jujur, Kurumi. Selama mereka masih takut, artinya mereka masih hidup. Dan selama mereka masih hidup, mereka punya sumber daya yang kita butuhkan," balasku dingin. Aku melihat ke arah gedung-gedung di depan. Jalur atap ini masih panjang.
Kami mulai bergerak lagi. Melompat dari satu atap ke atap lain menjadi rutinitas yang mematikan. Kadang jaraknya dekat, kadang kami harus menggunakan papan kayu yang kami temukan untuk menyeberang. Aku selalu memimpin di depan, memastikan setiap pijakan aman sebelum menyuruh Kurumi melangkah.
Di tengah perjalanan, kami sampai di atap sebuah gedung apartemen mewah. Di sana, aku melihat sesuatu yang tidak biasa: sebuah tenda darurat dan sisa-sisa api unggun yang sudah padam. Ada tumpukan kaleng makanan kosong yang berserakan.
"Ada orang lain di sini!" Kurumi tampak bersemangat. Dia mulai melihat sekeliling dengan harapan menemukan manusia lain.
"Jangan naif, Kurumi. Di dunia sekarang, manusia lain bisa lebih berbahaya daripada zombi," aku memperingatkan, tanganku tetap siaga di gagang shotgun.
Aku mendekati tenda itu. Di dalamnya, aku menemukan sebuah tas ransel militer yang masih terisi penuh. Aku membukanya dan mataku berbinar—bukan karena emas atau perhiasan, tapi karena tiga kotak peluru shotgun dan dua buah granat asap.
"Jackpot," bisikku.
"Zidan, lihat itu!" Kurumi menunjuk ke arah pintu akses atap apartemen ini. Ada coretan besar berwarna merah di pintunya: "JANGAN BUKA. MEREKA DI DALAM."
Aku mendekati pintu itu, menempelkan telingaku. Awalnya sunyi, tapi kemudian aku mendengar suara garukan halus. Banyak suara garukan. Sepertinya ratusan zombi terjebak di dalam lorong apartemen ini.
"Mereka menggunakan atap ini sebagai tempat persembunyian terakhir sebelum akhirnya mati kelaparan atau bunuh diri," kataku setelah memeriksa sekitar. Aku menemukan satu mayat lagi di sudut atap, sebuah lubang peluru di pelipisnya. Dia memilih jalan pintas.
"Kenapa mereka tidak mencoba melompat seperti kita?" tanya Kurumi pelan.
"Karena tidak semua orang punya logika untuk bertahan hidup di atas rasa takut mereka. Kebanyakan orang akan memilih untuk diam dan menunggu bantuan yang tidak akan pernah datang, sampai akhirnya bantuan itu berubah menjadi kematian." Aku mengambil botol air dari tas militer itu dan meminumnya sedikit.
Tiba-tiba, suara radio di saku kemejaku berteriak lebih keras.
"...perhatian bagi semua unit! Sektor 4 akan dilakukan pembersihan udara dalam dua jam! Ulangi, pembersihan udara sektor 4! Semua penyintas harap segera menuju koordinat evakuasi di atap Rumah Sakit Pusat!"
Mataku membelalak. Pembersihan udara? Itu kode halus untuk pengeboman besar-besaran. Mereka akan meratakan area ini untuk menghentikan penyebaran virus.
"Zidan! Pembersihan udara? Apa itu artinya mereka akan menjatuhkan bom?!" Kurumi panik, dia mengguncang bahuku.
"Ya. Dan kita berada tepat di tengah-tengah sektor 4," kataku, suaraku tetap stabil meski pikiranku sedang berputar dengan kecepatan penuh. "Rumah sakit pusat... jaraknya dua kilometer dari sini. Kita punya waktu kurang dari dua jam."
"Dua kilometer dalam dua jam lewat jalur atap? Itu tidak mungkin!"
"Tidak ada yang tidak mungkin kalau pilihannya adalah jadi debu atau jadi makanan zombi. Lari, Kurumi! Sekarang!"
Kami berlari sekuat tenaga. Jalur atap yang tadi terasa menantang kini terasa seperti labirin kematian. Kami tidak lagi ragu untuk melompat. Adrenalin menghapus semua rasa takut Kurumi. Dia mengikuti setiap langkahku tanpa protes.
Kami melewati atap sekolah, gedung olahraga, hingga akhirnya kami sampai di sebuah celah besar. Gedung selanjutnya adalah sebuah mal, tapi jaraknya terlalu jauh untuk dilompat—setidaknya lima meter. Di bawahnya adalah jalan raya yang sangat padat dengan zombi karena ada suara sirine ambulans yang terus berbunyi dari sebuah bangkai mobil.
"Zidan, kita terjebak! Jaraknya terlalu jauh!" Kurumi berteriak di tengah deru angin.
Aku melihat sekeliling dengan liar. Mataku menangkap sebuah kabel baja besar yang membentang dari puncak gedung apartemen ini ke tiang reklame raksasa di atap mal. Itu adalah kabel penahan papan iklan.
"Gunakan itu!" aku menunjuk kabel baja tersebut.
"Maksudmu... meluncur? Kita tidak punya alatnya!"
Aku segera melepas ikat pinggang kulitku yang tebal. Aku juga menyambar ikat pinggang Kurumi. "Lilitkan ini di kabel! Pegangan pada gespernya dan gunakan jaketmu untuk melapisi tanganmu agar tidak terbakar gesekan!"
"Ini gila! Benar-benar gila!"
"Pilihannya cuma satu, Kurumi: meluncur atau meledak! Cepat!"
Aku membantu Kurumi memasang ikat pinggangnya di atas kabel baja. Aku bisa melihat air mata mengalir di pipinya, tapi dia tidak berhenti bergerak. Keberaniannya mulai tumbuh di bawah tekanan maut.
"Aku akan mendorongmu. Begitu sampai di ujung, segera lepaskan dan berguling! Jangan ragu!"
Aku mendorongnya. Kurumi meluncur dengan kecepatan tinggi, teriakannya tertelan oleh angin. Aku melihatnya mendarat dengan keras di atap mal, berguling beberapa kali, tapi dia segera bangkit dan memberi isyarat padaku.
Sekarang giliranku. Aku memasang ikat pinggangku sendiri. Aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, melihat ke arah langit di mana aku bisa melihat titik-titik hitam pesawat pembom mulai muncul di ufuk timur.
"Sampai jumpa di neraka, sektor 4," bisikku.
Aku meluncur. Sensasi panas di tanganku terasa luar biasa meski sudah dilapisi jaket. Kecepatan meluncurku jauh lebih cepat karena berat tubuhku dan beban senjata. Angin menghantam wajahku dengan keras, membuat mataku perih.
BRAKK!
Aku mendarat di atap mal dengan benturan yang membuat bahuku kembali berdenyut sakit. Kurumi segera membantuku berdiri. Kami tidak punya waktu untuk merayakan keberhasilan ini.
Rumah sakit pusat sudah terlihat di depan sana. Sebuah gedung putih besar dengan tanda palang merah yang sudah pudar. Di atasnya, sebuah helikopter militer terlihat sedang mendarat.
"Itu evakuasi kita! Ayo!" seruku.
Tapi, begitu kami melangkah menuju tangga turun mal, pintu kaca menuju atap pecah dari dalam. Bukan satu, bukan dua, tapi puluhan zombi berpakaian staf mal keluar dengan beringas. Dan di belakang mereka... ada dua sosok Crawler lagi yang merayap di dinding.
"Kurumi, siapkan sekopmu. Aku akan membuka jalan," aku mengokang shotgun-ku. "Ingat, jangan ada rasa kasihan. Siapa pun yang menghalangi kita menuju helikopter itu... dia harus mati."
Dunia mungkin akan meledak dalam satu jam lagi, tapi aku, Zidan, akan memastikan bahwa akulah yang terakhir berdiri di atas puing-puingnya.
Catatan Penulis:
Ketegangan memuncak! Zidan dan Kurumi berpacu dengan waktu sebelum sektor 4 diratakan oleh bom. Dengan munculnya musuh baru dan tantangan meluncur di ketinggian, apakah mereka akan mencapai helikopter evakuasi tepat waktu? Jangan lupa Like, Favorit, dan berikan komentar kalian tentang teori evolusi zombi ini! Dukungan kalian adalah bensin buat gue nulis!