Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara sakit, dan nikmat
Setelah teman-teman Yeye kembali ke kamar masing-masing, villa itu kembali hening. Hanya suara musik hiphop dari speaker yang masih pelan mengisi ruangan. Aku duduk bersandar di sofa, mencoba menenangkan kepala yang masih berat karena alkohol.
Yeye menoleh ke arahku, senyumnya tipis tapi cukup untuk membuatku merasa diperhatikan. Dia bertanya pelan, "Are you okay?"
Aku mengangguk, meski sebenarnya masih sedikit pusing. "I'm fine," jawabku singkat, lalu tertawa kecil.
Dia ikut tertawa, lalu menatapku lebih lama. Ada sesuatu di tatapannya yang membuatku gugup. Aku mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk memainkan rambutku.
"You are different," katanya tiba-tiba.
Aku mengerutkan kening, "Different? How?"
Dia mengangkat bahu, lalu hanya berkata, "I don't know... just different."
Malam itu terasa melambat. Jarak kami di sofa semakin mengecil, percakapan yang tadinya ringan berubah menjadi lebih dalam. Dia bercerita sedikit tentang hidupnya di Paris, tentang anaknya, tentang bagaimana dia ingin memulai sesuatu yang baru di Bali. Bahasa Inggrisnya memang patah-patah, tapi aku mengerti maksudnya. Dan justru logatnya itu membuatku semakin tertarik.
Aku pun bercerita sedikit tentang hidupku di Bali, tentang rutinitasku, bahkan tentang kebiasaanku nongkrong tiap Kamis malam. Rasanya aneh-baru beberapa jam bertemu, tapi kami sudah berbagi hal-hal pribadi.
Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Tubuhnya yang besar, kulitnya yang gelap, otot tangannya yang terlihat jelas di balik kaos ketat... semua itu membuatku ingin lebih dekat, tapi aku menahan diri.
Di luar, angin malam Bali berhembus lembut melalui jendela villa yang terbuka. Di dalam, hanya ada dua orang asing yang mulai menemukan kenyamanan satu sama lain.
Dan malam itu, aku tahu... ini baru permulaan.
Setelah teman-temannya masuk ke kamar masing-masing, villa itu kembali hening. Hanya ada aku dan Yeye, duduk bersebelahan di sofa, ditemani musik hiphop pelan yang masih diputar.
Aku merasa semakin pusing, tubuhku berat, dan mataku buram. Yeye menoleh padaku dan bertanya lembut, "Do you want to rest upstairs?"
Aku mengangguk pelan. "Yes."
Dia segera meraih tasku, lalu menemaniku berjalan menaiki tangga. Namun, setiap langkah terasa sulit. Kepalaku semakin berputar, membuatku terhuyung. "Can you walk? I'll help you," katanya.
Aku mencoba tegar. "I can..." bisikku. Tapi ternyata aku tidak mampu.
Tanpa banyak kata, Yeye menggendongku. Tubuhku terasa ringan di lengannya yang kokoh. Degup jantungku semakin kencang ketika dia membawaku masuk ke kamarnya, lalu meletakkanku perlahan di atas kasur.
Saat dia hendak berdiri, refleks aku menariknya dan mencium bibirnya. "Where are you going?" tanyaku.
"Just get water, so you don't get thirsty," jawabnya.
Aku menahannya, "Don't go yet. Stay... just hold me."
Dia menuruti. Tubuhnya hangat saat aku memeluknya manja, lalu kembali mencium bibirnya. Kali ini, dia membalas dengan lembut, namun semakin erat.
Pelukan itu berubah semakin dalam. Tanganku bergerak pelan, dan aku merasakan sesuatu yang membuatku terkejut-lebih dari yang pernah kutemui sebelumnya. Aku sempat terdiam, takut, tapi dia menatapku lembut sambil tertawa kecil, meyakinkanku.
Malam itu, satu per satu lapisan penghalang di antara kami terlepas. Dress coklatku jatuh, begitu juga pakaian hitam ketat yang melekat di tubuhnya. Hingga akhirnya, tidak ada lagi yang memisahkan kami.
Dia menunduk, berbisik pelan, "It won't hurt. I'll be gentle."
Namun saat tubuhnya menyatu denganku, rasa nyeri yang tajam membuatku terkejut. Aku menggigit bibir, menahan perih, dan bahkan merasakan ada yang robek. Yeye sempat berhenti, menatapku khawatir. "Are you...?" tanyanya.
Aku hanya menggeleng, jujur berkata, "No... I've done it before. But... it's been years."
Dia tersenyum kecil, lalu kembali perlahan. Sampai akhirnya, rasa sakit itu memudar, digantikan sesuatu yang lain-sebuah kenikmatan yang selama ini hanya kubayangkan.
Aku menatap wajahnya yang larut dalam momen itu, tubuhnya yang besar bergerak dari lambat menjadi cepat. Dia menciumi leherku, membuatku kehilangan kendali. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa seolah dunia berhenti, menyisakan hanya kami berdua-di malam yang terasa seperti surga dunia.
Setelah aku selesai muntah, Yeye tetap mengikutiku. Dia menatapku serius, lalu tiba-tiba berkata, "You are beautiful."
Aku hanya tersenyum malu, tidak tahu harus menjawab apa. Entah bagaimana, momen itu kembali membuat kami larut, dan sekali lagi kami melakukannya. Setelah itu tubuhku lelah, aku pun tertidur kembali.
Di luar, hujan turun deras membasahi atap villa. Suasana sejuk membuat tidurku semakin dalam. Aku tidak tahu pukul berapa, tapi ketika terbangun hari sudah mulai cerah, jarum jam menunjukkan sekitar pukul tiga sore.
Yeye sudah bangun terlebih dahulu. Aku melihat pesan di ponselku, lalu mengabari bahwa aku sudah terjaga. Tak lama, dia berlari menaiki tangga, masuk ke kamar dengan wajah yang penuh perhatian.
"Are you hungry?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk pelan. "Yes... but it's still raining."
Dia hanya tertawa, "Don't worry. There's a restaurant just in front. Wait here, I'll get it for you."
Dia lalu turun lagi menemui teman-temannya, sementara aku masih terduduk di atas kasur, tubuhku masih telanjang di balik selimut. Rasanya aneh, campuran antara malu, lelah, dan bahagia.
Aku lalu bangkit, masuk ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diriku. Setelah itu, aku menunggu Yeye kembali dengan makanan, sambil mendengarkan sisa rintik hujan di luar jendela.