Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22. BCS
Disebuah kamar hotel tiga orang sedang berdebat. Mereka membahas perusahaan milik Albi dan ingin menguasai harta Albi dengan cara licik. Berbagai rencana telah disusun dengan rapih namun, salah satu dari mereka ada yang mencoba membuat rencana sendiri untuk balas dendam terhadap Albi siapa lagi kalau bukan Rosmaya.
Perempuan bernama Rosmaya berdiri didekat jendela memandang keluar dengan senyum smirk. Wajahnya yang buruk sebelah tidak membuatnya malu justru itu adalah andalannya menggaet lawan agar jatuh dan kasihan padanya.
"Jika kamu bisa menaklukkan Albi, ambil dan bereskan secepatnya agar perusahaannya dialihkan," kata Dorman pria bertubuh besar.
"Tanpa kamu memberitahu, aku tahu apa yang harus aku lakukan," sahut Rosmaya beralih menatap Dorman.
"Apa kamu ada inisiatif lain, Gael?" tanya Dorman melempar pulpen ke arah pria berbadan tegap sedang membuat miniatur dari kayu.
“Sempurna," kata Gael dengan perasaan puas melihat hasil karyanya.
“Apa yang kamu dapatkan dari benda rongsokan itu?" tanya Rosmaya melihat miniatur berbentuk manusia.
"Seni, ini adalah sebuah karya sederhana tapi nilainya sangat tinggi, apalagi kalau dijual bisa laku jutaan," jelas Gael dengan percaya diri.
"Bentuknya sih biasa saja tapi, kalau dilihat lebih detail memang benar-benar mirip manusia, darimana kamu dapat ide membuat seperti ini?" tanya Dorman.
Gael mengangkat bahu, karena ia sendiri tidak tahu. Ide itu terkadang muncul tiba-tiba, dirinya mempunyai inisiatif membuat karya seperti itu terinspirasi dari seorang pelukis.
“Buang-buang waktu," ucap Rosmaya berjalan melangkah keluar dari kamar hotel.
"Hei, Ros. Kamu mau kemana?" tanya Dorman melihat Rosmaya keluar dari kamar.
Rosmaya berhenti sebelum benar-benar pergi lalu menoleh kebelakang sambil tersenyum penuh arti. "Menyelesaikan urusan tadi,"
Jawaban Rosmaya membuat Dorman tersenyum. Dorman menyukai Rosmaya karena kecantikannya dan kepeduliannya, namun, ia tidak mau mengatakan karena Rosmaya tidak pernah menganggapnya berarti dalam hidupnya, yang dipikirkannya adalah balas dendam kepada Albi.
__________
Ditempat lain Albi bertemu dengan teman-temannya disebuah danau tempat berkumpul, ketika ada masalah. Mereka memikirkan nasib pernikahan Albi dengan Prasasti yang baru seumur tomat.
“Kita cari tahu siapa si muka sebelah itu, dan apa tujuannya," kata Bisma.
"Sudah pasti menghancurkan hidupku," sahut Albi menatap lurus air danau.
Semua saling memandang dengan pertanyaan dibenak masing-masing. Tidak ada yang memberi solusi yang tepat membuat Albi jenuh, kepalanya terasa pusing.
“Aku punya ide," kata Abas sambil berbisik dengan wajah serius memberi ide kepada teman-temannya termasuk Albi.
“Setuju, bagaimana kalau kita mulai malam nanti," sahut Dasa.
“Aku sih oke saja," kata Bisma dan disetujui semuanya.
“Aku dengar sih si Ros ini punya dua teman pria entah teman tidur atau teman main, kalau tidak salah namanya Dorman sama satu lagi Gege atau Gigi gitulah pokoknya," kata Abas mengingat nama seseorang.
"Kenapa tidak dari kemarin memberitahu kita," Bisma menarik lengan Abas dan menguncinya.
"Mana kutahu kalau Albi punya masalah seperti ini, rumit," kata Abas membela diri.
"Baiklah, kalau begitu nanti malam kita beraksi, sekarang aku pamit pulang," Albi beranjak dari tempat duduk berjalan menuju mobil.
"Kita bubar, pulang ke rumah masing-masing," Bisma beranjak dan diikuti yang lain.
Mobil Albi mengalami kendala remnya tiba-tiba blong, ia sangat khawatir dalam pikirannya teringat nama Prasasti istrinya. "Kalau aku meninggal sekarang, semoga kamu mendapat pengganti yang lebih baik dariku, Sayangku Prasasti. Aku mencintaimu,"
Albi berusaha tetap tenang meskipun remnya blong. Tiba-tiba suara brak menghantam bagian belakang, mobil Albi melaju sangat kencang hingga Albi harus banting stir ke pembatas jalan.
Mobil Albi terguling beberapa meter dari jalan raya beruntung tidak masuk jurang, mobil Albi masuk ke dalam rimbunan pepohonan. Diseberang seseorang berada didalam sebuah mobil tersenyum penuh kemenangan kemudian melajukan mobil dengan kecepatan penuh.
Beberapa pengendara berhenti karena terhalang mobil yang mengalami kecelakaan. Seseorang meminta pertolongan kepada pengendara lain. Beberapa menit kemudian mobil ambulan dan mobil polisi datang mengevaluasi situasi jalan raya.
Albi masih dalam keadaan sadar tapi ia tidak bisa bergerak, karena posisinya terjepit. Seorang petugas kepolisian datang menolongnya dibantu tim medis, Albi segera dibawa ke rumah sakit.
Di rumah Prasasti perasaannya tidak enak, ia menghubungi Albi tapi tidak dibalas, membuatnya kesal dan marah-marah sendiri. Prasasti ingin menghubungi mama mertuanya namun ragu.
Prasasti benar-benar dibuat tidak berdaya dengan sikap papanya Fabio. Ia keluar dari kamar mengambil air minum, saat tak sengaja melihat bibi sedang melihat berita ia memperhatikan dengan seksama.
Jantung Prasasti berdegup sangat cepat, waktu melihat kecelakaan dijalan raya. Prasasti jatuh pingsan padahal tidak tahu siapa yang mengalami kecelakaan. Bibi terkejut mendengar suara kursi jatuh menoleh dan menghampiri Prasasti.
"Non, Non Prasasti. Kenapa, Non?" Bibi menangis melihat majikannya pingsan.
Bibi berlari keluar meminta tolong sama pak Tito penjaga pintu gerbang milik majikannya. Pak Tito berlari masuk ke dalam melihat majikannya pingsan langsung dibawa ke sofa.
"Apa yang terjadi dengan non Prasasti. Bi?" tanya Pak Tito khawatir.
"Aku juga tidak tahu, Tito. Aku sedang nonton televisi," jawab bibi dengan jujur.
"Lebih baik kamu hubungi pak Fabio atau pak Albi," perintah Pak Tito.
Bibi segera menghubungi Fabio. Panggilan itu diabaikan oleh Fabio, ia ingin memberi pelajaran kepada Prasasti agar bisa bersikap dewasa.
Baru saja Fabio akan mengangkat ponsel tiba-tiba sudah mati. Perasaan Fabio tiba-tiba seperti mendapat feeling buruk segera melakukan panggilan.
Bibi mengangkat ponsel. "Tuan, Non Sasti pingsan",
"Baik, saya akan segera pulang," jawab Fabio memutuskan panggilan telepon dan berlari keluar ruangan.
Fabio masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin. Ia melajukan mobilnya ke arah rumah. Fabio memarkirkan mobilnya digarasi kemudian turun dengan cepat dan memasuki rumah dengan berlari.
Diruang keluarga terlihat Prasasti dalam keadaan pingsan, Fabio mendekat dan memeriksa kondisinya. “Sebenarnya apa yang terjadi, Bi?"
Bibi dengan tubuh bergetar berkata. "Saya kurang tahu, Tuan. Waktu saya sedang melihat televisi, saya mendengar suara kursi jatuh ternyata Nona Prasasti pingsan disebelah kursi itu,"
Fabio merasa ada sesuatu yang tidak biasa beranjak dan menyalakan televisi namun, tidak menemukan berita apapun.
"Memangnya Bibi tadi melihat acara apa?“ tanya Fabio tiba-tiba teringat istrinya dulu sakit.
“Berita kecelakaan, Tuan," jawab Bibi dengan jujur.
“Apa terjadi sesuatu sama Albi?" batin Fabio menebak.
Fabio membuka ponsel Prasasti mencari log aktifitas panggilan keluar, ternyata Albi tidak mengangkat panggilan dari Prasasti. Ia menduga Albi berselingkuh dengan perempuan itu dengan berakhir kecelakaan, Fabio merasa frustasi memikirkan nasib pernikahan anaknya.