"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Kayu {2}
Suara gemerisik genting yang bergeser terdengar sangat halus, hampir tenggelam oleh deru angin malam yang menyusup di sela-sela pepohonan pinus. Yuuichi tetap bergeming di ambang pintu dapur, membiarkan bayangan tubuhnya memanjang di atas lantai kayu yang dipoles. Ia bisa merasakan detak jantung Chika yang tidak beraturan di belakangnya, serta napas Sakura yang tertahan.
"Masuk sekarang," bisik Yuuichi sekali lagi. Nadanya tidak mengizinkan perdebatan.
Sakura, meskipun ragu dan ingin tahu tentang apa yang terjadi pada rumahnya, melihat ketegangan di punggung Yuuichi dan akhirnya menarik Chika menjauh dari ambang pintu. Mereka mundur ke dalam ruang keluarga yang lebih dalam, di mana kegelapan terasa lebih tebal dan aman.
Setelah memastikan kedua wanita itu cukup jauh, Yuuichi melangkah keluar ke halaman belakang. Ia tidak terburu-buru. Setiap langkahnya disinkronkan dengan aliran energi yang mulai memadat di telapak kakinya.
"Target berpindah ke sisi barat atap. Kecepatan reaksi: 0,15 detik. Dia bukan varian liar, Kakak. Pola gerakannya menunjukkan pelatihan militer atau eksperimental tingkat lanjut."
"Aku tahu," gumam Yuuichi. "Aroma amonia dan bahan kimia itu... dia baru saja keluar dari tangki inkubasi."
Yuuichi menekuk lututnya, lalu dengan satu ledakan tenaga, ia melompat setinggi tiga meter. Tangannya mencengkeram pinggiran atap, dan dengan ayunan tubuh yang ringan, ia mendarat di atas genting yang licin.
Di hadapannya, sekitar lima meter, berdiri sesosok pria dengan tinggi yang hampir sama dengannya. Pria itu mengenakan pakaian taktis hitam tanpa atribut. Wajahnya tertutup masker oksigen tipis, namun matanya yang bersinar merah—identik dengan milik Yuuichi—menatap tanpa emosi. Di tangan pria itu terdapat sepasang belati pendek yang bergetar mengeluarkan suara frekuensi tinggi.
"Subjek 007," suara pria itu terdengar mekanis, keluar dari speaker kecil di maskernya. "Kau telah menyimpang dari rute evakuasi yang ditentukan. Kau diperintahkan untuk kembali ke fasilitas pusat untuk pembersihan data."
Yuuichi menyeringai, sebuah ekspresi sinis yang penuh kebencian. "Pembersihan data? Maksudmu membedah otakku lagi? Maaf, aku sedang sibuk menikmati kebebasanku."
Pria misterius itu tidak membalas sarkasme Yuuichi. Ia menghilang dalam sekejap—sebuah teknik Burst Speed yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang ototnya telah dimodifikasi secara genetik.
Ting!
Yuuichi menangkis serangan belati yang mengincar tenggorokannya hanya sepersekian detik sebelum bilah itu menyentuh kulit. Percikan api tercipta saat logam belati beradu dengan es yang menyelimuti katana Nichirin.
"Peringatan: Lawan menggunakan penguat saraf. Kecepatan serangannya meningkat 20% setiap kali ia bergerak. Gunakan area luas atau bekukan pijakannya!"
Yuuichi tidak panik. Ia membiarkan lawan menyerangnya berkali-kali, mengamati pola gerakannya. Atribut INT Yuuichi yang mencapai 20 memungkinkannya untuk menganalisis setiap celah kecil. Sambil menangkis, Yuuichi secara halus mulai mengalirkan energi esnya melalui telapak kaki ke genting yang mereka pijak.
"Kau hanyalah boneka baru," ucap Yuuichi sambil memutar katananya, memaksa lawan mundur. "Mereka mengirimmu karena mereka takut padaku, bukan?"
Lawan itu kembali menerjang, kali ini dengan serangan rendah. Namun, saat ia mencoba menjejakkan kakinya untuk memberikan dorongan, kakinya terpeleset. Genting yang dipijaknya telah dilapisi oleh lapisan es tipis yang sangat licin—hasil manipulasi Yuuichi yang tidak ia sadari selama pertarungan.
"Sekarang!"
[ KETERAMPILAN AKTIF: MANIPULASI ES - PENJARA BEKU ]
Lantai atap di bawah kaki lawan meledak mengeluarkan pilar-pilar es tajam yang mengunci gerakannya. Lawan itu mencoba memotong es tersebut, namun es Yuuichi jauh lebih padat daripada es biasa.
Yuuichi melangkah mendekat, ujung katananya menyentuh leher pria itu. "Katakan padaku, di mana mereka membawa keluarga Hoshino?"
Pria itu hanya menatap Yuuichi dengan mata merahnya yang mulai meredup. "Mereka... bukan tawanan. Mereka adalah pengamat. Kau hanyalah variabel yang sedang diuji, 007. Selamat datang di tahap kedua."
Tiba-tiba, tubuh pria itu bergetar hebat. Sebuah alarm terdengar dari balik pakaian taktisnya.
"Peringatan! Mekanisme penghancuran diri terdeteksi! Mundur, Kakak! Cepat!"
Yuuichi tidak ragu. Ia melompat mundur dari atap, terjun bebas ke halaman belakang tepat saat sebuah ledakan kecil namun intens menghancurkan tubuh pria misterius itu menjadi abu, tidak meninggalkan jejak organik apa pun.
Yuuichi mendarat dengan guncangan yang cukup keras, debu menyelimuti dirinya. Ia berdiri sambil menyarungkan pedangnya, napasnya sedikit berat.
"Variable yang diuji, ya?" gumamnya sambil menatap sisa-sisa api di atap.
Sementara itu, dari dalam rumah, terdengar suara teriakan tertahan dari Sakura. Yuuichi segera berlari masuk melalui pintu geser yang tadi ia lewati. Di ruang keluarga, ia menemukan Sakura dan Chika sedang berlutut di atas lantai kayu.
Salah satu papan lantai telah digeser oleh Sakura, menyingkap sebuah tangga rahasia yang menuju ke bawah tanah. Di bawah sana, terdapat sebuah ruangan kecil yang diterangi oleh lampu darurat berwarna merah.
"Yuuichi-kun... lihat ini," Sakura menunjuk ke bawah dengan tangan gemetar.
Yuuichi turun ke ruang bawah tanah tersebut. Di sana terdapat deretan monitor yang menampilkan CCTV dari seluruh area sekolah, termasuk koridor tempat Yuuichi pertama kali membunuh zombie. Namun yang paling mengejutkan adalah sebuah dokumen di atas meja kerja yang berjudul: "PROYEK CHIMERA: TAHAP ADAPTASI SOSIAL - SUBJEK PENGAMAT: HOSHINO KENSHIN".
Ayah Sakura.
Di bawah dokumen itu terdapat foto-foto Yuuichi selama di sekolah, lengkap dengan catatan tentang peningkatan kemampuannya setiap hari.
"Ayahku... dia mengawasimu? Dia bagian dari mereka?" Sakura bertanya, suaranya pecah oleh rasa tidak percaya dan pengkhianatan.
Yuuichi mengambil dokumen itu, matanya memindai isinya dengan cepat. "Dia bukan sekadar pengamat, Sakura. Dia adalah penjagaku. Dan sepertinya, kepergian mereka ke utara bukan untuk melindungimu, tapi untuk melaporkan perkembangan 'senjata' mereka."
Chika mendekat ke arah Yuuichi, wajahnya penuh kesedihan. Ia memegang tangan Yuuichi yang terasa sangat dingin. "Lalu kita... kita selama ini hanya bagian dari eksperimen mereka?"
Yuuichi menatap kedua wanita itu. Meskipun hatinya terasa panas oleh amarah, ia tetap menjaga suaranya tetap tenang. "Mungkin bagi mereka, kita adalah eksperimen. Tapi bagiku, kalian adalah nyata. Dan jika mereka ingin menguji variabel ini... aku akan menunjukkan kepada mereka variabel yang tidak bisa mereka kendalikan."
"Misi Tersembunyi Selesai: Mengungkap Rahasia Dojo. Hadiah: Akses Peta Satelit Proyek Chimera & Peningkatan Hubungan dengan Sakura Hoshino (Rasa Percaya yang Terluka)."
Yuuichi menatap Sakura yang kini bersandar pada dinding bawah tanah, air matanya mengalir dalam diam. Ia mendekati gadis itu, lalu tanpa banyak bicara, ia menarik Sakura ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis," bisik Yuuichi di telinga Sakura. "Mulai sekarang, Dojo ini bukan milik ayahmu lagi. Ini adalah markas kita. Dan aku bersumpah, siapa pun yang mencoba memanipulasi hidup kita... akan aku bekukan sampai ke akar-akarnya."
Di luar, hujan mulai turun, membasuh sisa-sisa abu dari atap, sementara di bawah tanah yang sempit itu, tiga jiwa yang terbuang mulai menyusun kekuatan untuk melawan pencipta kiamat itu sendiri.