NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 35

"Sistem Saham Rakyat itu bukan cuma soal jual beli lot, Raka," Dina berbisik saat kami melangkah masuk ke lift privat menuju lantai paling atas. "Ini soal kepemilikan psikologis. Pak Sobari punya 5% saham di divisi logistik, Ibu-ibu Academy punya 10% di unit katering. Mereka bukan lagi buruh, mereka adalah pemilik. Itu sebabnya efisiensi kita mencapai 98%—karena siapa yang mau mencuri dari kantongnya sendiri?"

Pintu lift berdenting terbuka di lantai 45. The Summit by Ma, restoran berputar yang menjadi mahkota gedung ini. Melalui dinding kaca setinggi plafon, seluruh kerlap-kerlip Jakarta terlihat seperti hamparan permata. Di tengah ruangan, meja bundar besar sudah disiapkan untuk makan malam privat keluarga.

Ma sudah duduk di sana, terpaku menatap pemandangan kota dari ketinggian. "Raka... dulu Ma takut melihat gedung-gedung tinggi ini dari bawah ruko kita. Rasanya mereka mau menelan kita. Sekarang, Ma baru sadar kalau Jakarta itu cantik kalau kita punya tempat yang aman di dalamnya."

"Ma bukan cuma punya tempat, Ma punya gedungnya," Arka menyahut sambil menuangkan air mineral ke gelas Ma. "Dan yang lebih keren, di menu restoran ini, semua bahan bakunya berasal dari ekosistem kita sendiri. Sapi organiknya dari peternakan mitra di Boyolali, sayurnya dari Pak Sobari."

Dina duduk di sampingku, meletakkan tas kerjanya—tindakan langka yang menandakan dia benar-benar ingin istirahat. "Malam ini, tidak ada bicara soal valuasi Berdikari Sekuritas. Malam ini, kita bicara soal kemenangan."

Pelayan mulai menghidangkan menu pembuka. Sebuah kreasi modern dari masakan Ma: Deconstructed Rendang dengan presentasi bintang lima, namun aromanya tetap membawa kita kembali ke dapur sempit sepuluh tahun lalu.

"Raka," Dina menyentuh lenganku, wajahnya tampak serius namun lembut. "Tadi di lobi, aku melihat data pendaftar baru. Ada satu nama perusahaan yang ingin masuk ke lantai bursa UMKM kita. Namanya Prasetya Properti Jaya."

Aku terhenti sejenak, sendokku menggantung di udara. "Om Pras?"

Dina mengangguk. "Dia sedang kesulitan likuiditas. Dia ingin menjaminkan sisa asetnya untuk mendapatkan pendanaan lewat sistem kita. Dia butuh kita, Raka. Secara teknis, kita bisa saja menolaknya atau... mengambil alih perusahaannya dengan harga sangat murah."

Suasana meja makan mendadak hening. Ma menatapku, Arka menunggu reaksiku.

Aku menyesap air putih, menatap pantulan lampu Jakarta di kaca jendela. "Jangan ambil alih, Din. Masukkan dia ke program pendampingan Academy dulu. Biar dia belajar kalau bisnis itu soal orang, bukan cuma soal tanah dan semen. Kalau dia lulus kriteria sistemmu, biarkan dia melantai. Kita tidak membangun gedung ini untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan kalau cara kita lebih baik."

Dina tersenyum bangga, senyum yang sama yang kulihat saat aku pertama kali berjanji akan menyelamatkan rukonya. "Tepat seperti yang kukira. Aku sudah menyiapkan kontrak pendampingannya. Dia akan mulai dari kelas dasar besok pagi."

Ma mengelus tanganku pelan. "Kamu sudah jadi laki-laki yang luar biasa, Raka. Bapak pasti bangga."

Malam itu, di puncak tertinggi pencapaian kami, kami makan dengan penuh rasa syukur. Di bawah sana, Jakarta terus bergerak, tapi di sini, di Berdikari Tower, api kompor Dapur Ma telah berubah menjadi obyek harapan bagi ribuan pengusaha kecil lainnya.

"Jadi," Dina berbisik saat kami berdiri di balkon luar, merasakan angin malam yang kencang namun menyegarkan. "Gedung sudah punya, bursa saham sudah jalan, rumah di desa sudah nyaman. Apa target CEO kita selanjutnya?"

Aku merangkul pinggangnya, menatap cakrawala. "Targetku selanjutnya? Memastikan Arkan besok pagi tidak menangis saat aku ajak dia melihat lobi gedung ini untuk pertama kalinya. Aku mau dia tahu bahwa ayahnya membangun ini bukan untuk pamer, tapi untuk memastikan tidak ada lagi anak yang harus menangis karena rumahnya disita."

Dina tertawa, menyandarkan kepalanya di bahuku. "Setuju. Tapi ingat, jam sembilan besok kita ada rapat strategis untuk ekspansi ke pasar regional Asia. Singapura sudah mulai melirik model bisnis kita."

"Besok, Din. Besok."

"Singapura itu terlalu dekat, Raka. Rasanya masih seperti sedang inspeksi cabang," Dina berkata sambil menutup laptopnya dengan bunyi klik yang memuaskan. "Kalau kita ke sana, ujung-ujungnya kamu pasti mampir ke pusat logistik atau cek harga cabai di pasar mereka."

Aku tertawa, menarik napas panjang sambil meregangkan otot bahu yang kaku setelah sesi pembukaan bursa saham yang melelahkan. "Oke, CFO. Aku menyerah. Singapura dibatalkan. Jadi, apa usulan 'Divisi Rekreasi' kita untuk merayakan kemenangan ini?"

Dina tersenyum misterius. Dia mengeluarkan dua lembar tiket fisik—sesuatu yang langka di zaman digital ini—dan meletakkannya di atas meja makan restoran berputar itu.

"Swiss," bisiknya. "Zermatt. Tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada kemacetan Sudirman, dan yang paling penting... tidak ada bau rendang selama tujuh hari."

Ma yang sedang asyik memandang lampu kota langsung menoleh. "Swiss? Itu tempat yang banyak saljunya itu ya, Din? Apa Ma kuat dinginnya?"

"Ma tenang saja," sahut Dina sambil menggenggam tangan Ma. "Dina sudah pesan chalet kayu yang punya perapian besar dan dapur tercanggih. Ma tidak perlu masak, tapi kalau Ma kangen pegang sodet, dapurnya lebih lengkap dari ruko kita dulu. Kita akan naik kereta gantung melihat Gunung Matterhorn, lalu makan cokelat sampai lupa kalau kita punya puluhan gerai di Jakarta."

Arka langsung bersorak. "Asyik! Aku bisa belajar snowboarding! Mas Raka, tolong jangan bawa ponsel kantor ya, nanti malah balas email investor di tengah salju."

Aku mengangkat tangan tanda menyerah. "Janji. Ponsel kantor akan aku titipkan pada sekretaris utama. Kita berangkat sebagai keluarga, bukan sebagai jajaran direksi."

Dua minggu kemudian, kami benar-benar berada di sana. Udara dingin Zermatt yang menusuk tulang terasa sangat menyegarkan setelah bertahun-tahun menghirup polusi Jakarta. Arkan, si koki kecil kita, tampak menggemaskan dengan jaket bulu tebalnya, matanya membulat melihat butiran salju yang turun pertama kali.

Kami duduk di teras chalet yang menghadap langsung ke puncak Matterhorn yang ikonik itu. Dina menyandarkan kepalanya di bahuku, kami berdua terbungkus selimut tebal sambil menyesap hot chocolate.

"Raka," bisik Dina. "Tahu tidak apa yang paling mewah dari perjalanan ini?"

"Pemandangannya? Atau harga keju fondue yang tadi kita makan?"

"Bukan," Dina menatapku dengan mata yang jernih. "Kemewahan yang sebenarnya adalah saat aku menyadari bahwa sistem yang kita bangun di Berdikari Tower tetap berjalan sempurna meskipun kita sedang di sini. Tidak ada telepon darurat, tidak ada krisis. Kita sudah benar-benar merdeka, Raka."

Aku mengecup keningnya. "Itu hasil kerja kerasmu mendigitalkan setiap bumbu dan setiap rupiah, Din. Kita tidak lagi memiliki bisnis, bisnis itulah yang menghidupi ekosistemnya sendiri."

Tiba-tiba, Ma keluar dari dalam chalet sambil membawa piring berisi... pisang goreng hangat?

"Lho, Ma? Katanya mau libur masak?" aku terheran-heran melihat camilan khas Indonesia itu muncul di tengah pegunungan Alpen.

Ma tertawa renyah. "Tadi Ma lihat ada pisang di dapur, rasanya gatal kalau cuma dilihat saja. Ternyata tepung terigu di sini bagus sekali, Raka! Coba bayangkan kalau kita ekspor tepung ini untuk cabang kita di Jakarta..."

Aku dan Dina saling berpandangan, lalu meledak dalam tawa bersama.

"Ternyata benar," kata Dina sambil mengambil sepotong pisang goreng. "Kamu bisa menjauhkan Ma dari dapur, tapi kamu tidak bisa menjauhkan jiwa 'Dapur Ma' dari hatinya. Bahkan di Swiss pun, dia tetap berpikir soal kualitas bahan baku."

Malam itu, di bawah langit Swiss yang dipenuhi bintang, kami menyadari bahwa hiburan terbaik bukan hanya soal tempat yang jauh, tapi soal ketenangan batin karena tahu bahwa semua orang yang kami tinggalkan di rumah—petani, ibu-ibu Academy, dan staf kantor—juga sedang tumbuh bersama kesuksesan yang kami bangun.

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!