NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

legenda agung

Lonceng tanda pelajaran berakhir berdenting, menggema ke seluruh akademi.

Rune pelindung di dinding kelas meredup perlahan, kembali menjadi ukiran batu mati. Aroma sisa praktik reaksi yang tadi memenuhi ruangan tersedot keluar melalui ventilasi di langit-langit, menyisakan udara dingin yang terasa aneh.

Para siswa dari berbagai ras bergegas membereskan buku dan peralatan mereka. Bisik-bisik pecah di mana-mana, sebagian besar masih membicarakan ramuan sempurna Luce yang kini menjadi pusat perhatian.

Ursha’el dan Vivi mengamati pemandangan itu dari seberang meja batu.

“Lihat, artis baru,” ujar Vivi geli.

Ursha’el hanya tersenyum tipis. Mata keemasannya memperhatikan raut wajah Luce yang terlihat menjengkelkan karena senyum lebarnya, namun Ursha’el bisa merasakan kegelisahan tipis yang tersembunyi di balik ekspresi itu.

Luce, yang masih duduk di kursinya, kini dikerumuni belasan murid. Beberapa siswa laki-laki segera mendekat, menepuk bahu dan punggungnya dengan semangat yang terlalu besar untuk sekadar kagum.

“Bro, kita harus bikin kelompok belajar.”

“Ajari aku, sumpah. Aku traktir apa aja.”

“Mulai sekarang duduk sebelahku, ya.”

Di sisi lain, beberapa siswi melangkah mendekat dengan senyum yang dibuat-buat santai.

“Luce, kau kelihatan beda waktu serius.”

“Teknikmu itu… kau belajar dari mana?”

“Aku nggak nyangka kau seteliti itu.”

Luce tertawa kecil.

“Heh… kalian berlebihan,” katanya ringan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suaranya bergetar samar. “Aku cuma… ngg— kebetulan memang suka bereksperimen.”

Kerumunan itu makin menjadi-jadi. Mereka menghujani Luce dengan berbagai pertanyaan.

“Oh!? Eksperimen seperti apa?”

“Lain kali ajak aku juga, dong.”

“Jadilah tutorku, Tuan Luce yang terhormat.”

“Dilihat-lihat, kamu tampan juga, ya… jenius pula.”

“Kamu sudah punya pacar atau belum?”

Raut wajah Luce mengeras. Kegelisahannya kini makin jelas di balik senyum kaku itu. Mata cokelatnya berusaha menembus kerumunan, tepat mengarah ke Kenny yang masih duduk di kursinya.

Kenny menangkap pandangan gelisah Luce. Ia terkekeh kecil, kemudian terdiam sesaat.

Tiba-tiba, Kenny ambruk dari kursinya. Tubuhnya kejang, mulutnya berbusa, menarik perhatian semua orang.

“Astaga! Dia keracunan bahan ramuan!” pekik Luce dengan nada panik.

Kerumunan di sekitarnya langsung bubar. Perhatian mereka beralih pada Kenny yang kejang di lantai batu.

“Panggil Professor Ojike!” teriak Luce.

Professor Ojike, yang masih merapikan buku di mejanya, menoleh ke arah kerumunan di belakang kelas dan segera berjalan mendekat.

“Ada apa ini!?” tanyanya, hampir panik.

“Kenny, Prof! Dia kejang!” seru seseorang.

“Kejang!?” Professor Ojike berdiri tepat di samping tubuh Kenny. Kepanikannya kini tak tersamarkan lagi.

“Bawa dia ke ruang pemulihan!” perintahnya tegas.

Para siswa bergerak cepat mengikuti instruksi. Tubuh Kenny yang masih kejang diangkat tergesa, dua siswa menopang bahunya, dua lainnya mengangkat kaki. Di sepanjang lorong batu, suara langkah kaki bergema cepat.

Begitu kerumunan menjauh, suasana kelas yang tadinya riuh kembali lengang.

Professor Ojike menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya, lalu kembali duduk di kursi pengajar.

“Astaga… ada-ada saja.”

Sementara itu, Vivi dan Ursha’el menyaksikan kejadian itu dalam diam dari seberang meja batu.

“Loh? Luce ke mana? Tadi sepertinya masih di situ,” ujar Ursha’el saat pandangannya tertuju pada kursi Luce yang kini kosong.

“Lah, iya juga…” sahut Vivi, baru tersadar.

Mereka saling pandang. Mata mereka melebar bersamaan. Sedetik kemudian, keduanya menahan tawa kuat-kuat, baru menyadari bahwa mereka ikut terperangkap dalam drama murahan Kenny.

“Astaga… mereka berdua benar-benar unik,” ujar Vivi sambil berdiri dari kursinya, bersiap meninggalkan ruang kelas alkimia. “Ke lapangan, yuk. Persiapan latihan pertarungan fisik,” sambungnya.

“Gila, aku benar-benar nggak sadar,” jawab Ursha’el dengan senyum tipis. “Kamu duluan. Aku masih ada keperluan kecil di sini.”

Vivi mengangguk. “Baiklah, sampai nanti,” katanya sambil melambaikan tangan, lalu melangkah keluar dari ruang kelas.

Ursha’el membalas lambaian itu dengan senyum kecil.

Tak lama kemudian, ruang kelas alkimia benar-benar kosong.

Hanya tersisa bunyi api kecil dari tungku pemanas dan suara Professor Ojike yang menyusun beberapa bukunya.

Ursha’el menarik napas.

“Professor Ojike.”

Ojike berhenti bergerak dan menoleh perlahan. “Ada apa, Nak?”

Ursha’el melangkah mendekat. Tangan kirinya mengepal, lalu mengendur. Keraguan jelas terlihat, sesuatu yang jarang darinya.

“Tentang… bahan tadi,” katanya akhirnya. “Kotoran naga terkutuk.”

Ojike menatap mata keemasannya lama, seolah menimbang sesuatu. “Pertanyaanmu tidak sederhana,” jawabnya pelan. “Kenapa kau ingin menanyakan itu?”

Ursha’el mengangkat kepala. “Saya ingin tahu. Hanya itu saja.”

Ojike mendengus kecil.

Ia mengayunkan tongkatnya ringan. Rune di pintu kelas menyala samar.

KLIK.

Pintu tertutup sendiri.

“Baiklah,” kata Ojike. “Anggap ini bukan pelajaran resmi.”

Ia menarik sebuah peti dari lacinya, membukanya, dan menarik keluar sebuah buku tua berkulit hitam. Sampulnya retak, judulnya hampir terhapus. Legenda Agung.

“Sedikit yang diajarkan di akademi berasal dari kebenaran utuh,” lanjutnya. “Terutama soal ini.”

Ojike membuka buku itu. Halaman-halamannya dipenuhi gambar lingkaran, gerbang, dan sosok bersayap besar yang digores kasar.

“Naga itu,” kata Ojike lirih, “bukan sekadar makhluk kuat. Ia adalah sumber.”

“Sumber… apa?”

Ojike menatapnya.

“Kegelapan.”

Ursha'el merasa dingin mengalir di tengkuknya. Ia mendengar cerita Professor Ojike dengan seksama.

“Ribuan tahun lalu, sebelum kerajaan-kerajaan berdiri, dunia ini bukanlah tempat yang aman seperti sekarang." ucap Ojike. "orang-orang hidup dalam kelompok kecil yang berpindah-pindah karena ketakutan, bukan oleh perang, melainkan oleh gerbang.”

"Gerbang...?" Tanya Ursha'el lirih.

Ojike mengangguk perlahan.

“Gerbang ke dimensi lain. Dunia yang dipenuhi makhluk yang hidup dengan cara yang benar-benar berbeda, tak mengenal bentuk, tak mengenal kematian."

"kemudian.... hubungannya dengan naga itu??"

Ojike menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. "Naga itu membuka gerbang tersebut.”

"kenapa...?"

“Karena keberadaan naga itu sendiri. Pancaran energi kegelapannya adalah santapan bagi makhluk-makhluk itu, dimana sang naga berdiam, batas dunia melemah.”

Ojike menatap Ursha’el tajam.

“Dan makhluk-makhluk itu datang.”

Ursha’el teringat mimpinya. Bau busuk. Kegelapan. Sesuatu yang mengintai di balik tembok.

“Lalu… bagaimana dunia selamat?” tanyanya.

Ojike terdiam sejenak.

“Ada seorang legenda agung,” katanya akhirnya. “Namanya telah hilang dari seluruh buku sejarah. Tapi dialah yang mengalahkan naga itu.”

“Sendirian?” Ursha’el bertanya tanpa sadar.

Ojike tersenyum pahit. “Legenda selalu terdengar indah jika diceritakan singkat.”

“Dia bukan yang terkuat. Bukan pula yang paling berbakat,” lanjutnya.

Ojike menatap Ursha’el lurus-lurus.

“Tapi dia satu-satunya yang memahami cara mengalahkan naga itu, selama naga itu hidup… dunia tidak akan pernah aman.”

Ursha’el berujar pelan, “Dia.... membunuh naga itu?”

Ojike menggeleng.

“Tidak sesederhana itu.”

Ojike mengetukkan tongkatnya ke lantai, cahaya putih berkilau redup.

“Dia menyegel gerbang itu. Dengan segel yang tidak menggunakan mana biasa, melainkan dirinya sendiri.”

Ursha’el membelalak. “Dirinya… sendiri?”

“Setiap segel mengambil sesuatu darinya,” ujar Ojike lirih. “Ingatan. Nama. Jejak keberadaannya. Hingga akhirnya, bahkan sejarah tidak mampu mengingatnya secara utuh.”

Keheningan menggantung berat.

“Ketika gerbang itu akhirnya tertutup,” lanjut Ojike, “Sang naga tumbang. Dunia diselamatkan.”

Ia berhenti sejenak.

“Namun tidak semua hal bisa dihapus.”

Ojike menatap koper logam dan menepuknya pelan.

“Apa yang tersisa dari naga itu, darah, tulang, bahkan kotorannya, masih membawa gema kekuatannya.”

Dada Ursha’el menegang. “Jadi kotoran naga terkutuk itu…”

“…adalah residu,” sambung Ojike. “Sisa yang tidak mati, tidak hidup, stabil, dan menyimpan energi magis yang kuat. Kematian naga itu tidak menghapus jejaknya. Kekuatan naga itu terlalu besar untuk lenyap begitu saja,” lanjutnya pelan.

Jantung Ursha’el berdebar. “Dan jika digunakan dengan salah…?”

Ojike menatapnya lurus. “Bukan hanya racun yang tercipta,” jawabnya. “Tapi celah.”

Keheningan kembali jatuh.

Ursha’el menunduk menatap lantai batu.

“…Celah ke mana?”

Ojike tidak langsung menjawab.

Ia mematikan rune di pintu. Cahaya samar itu padam. Pintu kelas terbuka kembali.

“Ke tempat yang seharusnya tetap tertutup,” katanya. “Itulah sebabnya bahan itu diawasi.”

Ursha’el menggenggam tangannya. Telinga runcingnya melemas.

Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di akademi dua belas tahun lalu, ia merasa dunia ini jauh lebih luas.

Dan jauh lebih berbahaya, dari yang pernah ia bayangkan.

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!