NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vidcall

Enjoy your time gays...

Menjadikan Aurora sebagai prioritasnya adalah prinsip Luca ketika keduanya menikah. Itu sebabnya, sesibuk apapun dia selama itu masih bisa di tinggal atau di tunda, Luca pasti akan menomorduakannya. Karena baginya, mendahulukan Aurora adalah hal paling utama. Dan membahagiakan Aurora adalah tujuan hidupnya.

Seperti sekarang, Luca sebenarnya ada jadwal meeting pagi bersama divisi marketing. Tapi, dia lebih memilih mengantar Aurora ke bandara dan mengundur kegiatan itu. Terlebih setelah kejadian semalam, Aurora berubah menjadi sosok yang tak seperti biasa. Apa-apa selalu ingin ditemani dan ada di dekatnya. Bahkan, semalam saja keduanya tidur bersama di kamar Luca karena Aurora yang terlalu lelah menangis dan Luca yang akhirnya menceritakan semuanya sebagai penghantar tidur Aurora.

Sampai lebih awal di bandara daripada teman-temannya, Aurora langsung mengirim pesan di Grup Chat mereka. Sementara Luca mengeluarkan koper yang akan Aurora bawa dari dalam bagasi mobilnya.

"Mereka dimana? Belum pada nyampe?" Tanya Luca seraya menutup pintu bagasi mobil dan berjalan mendekati Aurora.

"Masih pada di jalan." Jawab Aurora menyimpan kembali handphonenya di dalam saku celana.

Banyaknya orang yang berlalu-lalang diiringi bunyi informasi dari pengeras suara yang terpasang seolah sudah menjadi pemandangan umum saat kota ada di bandara termasuk Aurora.

Mengambil tempat duduk tak jauh dari pintu check-in, Aurora dan Luca menunggu kedatangan teman-temannya di sana.

10 menit berselang tak ada obrolan yang tercipta karena Aurora yang hanya diam dan menyandarkan kepalanya di bahu Luca. Sedangkan Luca, justru terlihat sibuk dengan handphonenya untuk memastikan pekerjaan yang dia tinggal masih aman tanpa gangguan.

"Ara?" Panggil seseorang seketika membuat Aurora mengangkat kepalanya dan menoleh celingukan mencari arah dimana sumber suara itu terdengar.

Luca yang juga mendengar suara itu ikut mengalihkan pandangannya dari layar Handphone. Itu Alexa dan teman-teman Aurora ternyata.

"Sorry lama." Ucap Alice saat mereka sudah saling berhadap-hadapan.

"Gak juga kok." Sahut Luca santai.

"Lo udah pastiin kalo gak ada barang apapun yang ketinggalan 'kan Lexa?" Tanya Aurora memastikan sebelum mereka masuk untuk check-in.

"Lo tenang aja Ra. Tadi sebelum berangkat gue sama anak-anak udah cek semuanya. Kali ini dia prepare semua barangnya dengan baik." Jawab Audrey menjelaskan.

"Syukur deh kalo gitu."

"Kan gue juga udah bilang kalo kali ini gue gak akan ada yang ketinggalan lagi." Ucap Alexa sedikit kesal karena tak ada satupun dari mereka yang mempercayainya.

"Kita cuma mastiin doang Lexa....."

"Iya.... Gue tau kok."

"Pesawatnya bentar lagi kan? Ya udah, masuk sekarang aja yuk?" Tanya Audrey mengajak seraya melihat jam tangannya.

"Luca? Pergi dulu ya?" Pamit Aurora dan tiba-tiba memeluk Luca.

"Iya, hati-hati. Jangan lupa kabarin gue udah sampe mana aja. Dan.... Have fun selama di sana." Meski sedikit terkejut karena Aurora tiba-tiba memeluknya di depan umum untuk pertama kalinya, tapi Luca tetap membalas pelukan itu dengan hangat seraya tersenyum dan mengusap punggung serta belakang kepala.

Alih-alih merasa iri, risih, atau bagaimana, Audrey dan teman-temannya yang melihat itu justru tanpa sadar mengukir senyum tipis di wajah mereka.

Tentu karena mereka ikut bahagia melihat Aurora yang mulai berani membuka dirinya dan memperlihatkan sikap yang sedikit berbeda pada Luca.

"Woi! Udah kali tuh pelukannya....." Tegur Alexa sedikit keras namun dengan nada becanda dan senyum meledek.

Menanggapinya dengan sebuah senyuman, keduanya pun akhirnya melepas pelukan.

"Titip Aurora ya gays? Jagain dia baik-baik. Kalo ada apa-apa langsung hubungin gue." Ucap Luca berpesan menatap mereka.

"Pasti di jagain. Gak akan lecet sedikitpun. Gue jamin." Sahut Alice diiringi senyuman seraya tangan terangkat membentuk huruf O.

"Have fun juga buat kalian selama di sana."

"Thanks Luca." Ucap Alexa.

"Ya udah yuk?" Ajak Aline.

"Da Luca." Pamit Audrey seraya tersenyum dan melambaikan tangannya lalu mendorong troli berisikan koper mereka pergi dari sana.

"Bye bye" Ucap Alice juga dengan senyuman seraya melambaikan tangan. Lalu menyusul Audrey yang sudah ada di depan kemudian diikuti  Aline dan Alexa dan Aurora dari belakang.

"Da....." Diiringi dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan, Luca melepas kepergian Aurora yang masih menatapnya. Seakan belum Ikhaa jika keduanya akan berpisah untuk dua minggu lamanya.

"Ra? Tiketnya?" Tegur Alice membuat Aurora akhirnya mengalihkan pandangannya dari Luca.

Mereka tentu tak bisa masuk begitu saja untuk check-in jika belum menunjukkan tiket pesawat yang mereka miliki.

Berhubung semua kegiatan mereka kali ini yang mengurusi Aurora, jadi apa-apa mereka harus menanyakannya pada Aurora. Termasuk tiket pesawat keberangkatan mereka.

Mengeluarkan tiketnya dari dalam tas, Aurora memberikan tiket itu pada petugas beserta dengan kartu Identitas.

Setelah mengeceknya dan memastikan jika semuanya memang benar, barulah Aurora dan teman-temannya diizinkan untuk masuk.

Tapi sebelum itu, Aurora kembali memalingkan wajahnya ke arah belakang untuk melihat Luca yang terakhir kalinya sebelum pergi. Beruntung, Luca masih ada di sana dengan senyum yang sama dan menatapnya.

"Udah mulai jatuh cinta beneran ya sama Luca? Kok sampe segitunya banget ngeliatin suaminya? Kayaknya sih ada yang gak ikhlas gitu buat berpisah sementara sama mas suami." Ledek Audrey sedikit berbisik dengan senyum yang begitu menyebalkan di mata Aurora.

"Cuma dua minggu doang Aurora.... Setelah itu pasti bakalan ketemu lagi kok...." Sahut Alexa dari arah belakang ikut menggoda.

"Kalo kangen di tahan dulu aja.... Nanti juga bisa telfon atau video call." Balas Alice ikut-ikutan.

"Berisik!" Tegur Aurora ketus menatap teman-temannya lalu mendorong kopernya dengan cepat meninggalkan mereka.

Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf karena sudah membuat sang teman kesal, mereka justru tertawa puas seraya berhigh five ria sebelum akhirnya menyusul Aurora.

***

Perjalanan dari jakarta menuju semarang menggunakan pesawat membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih 5 menit.

Memilih kelas economy untuk penerbangan mereka kali ini, Aurora bukan bermaksud pelit atau bagaimana. Tapi karena jarak tempuh perjalanan mereka yang tak terlalu jauh dan juga tidak membutuhkan waktu lama.

Setibanya di bandar udara Semarang, Aurora dan teman-temannya langsung di sambut dengan seorang supir yang menjadi kepercayaan keluarga Aurora untuk mengantarkan mereka ke kota Jepara.

Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar 2 jam menggunakan mobil.

"Ra?" Panggil Alice yang duduk di kursi paling belakang.

"Hm?" Gumam Aurora tanpa memalingkan pandangannya dari pemandangan luar.

"Kita langsung ke karimunjawa sekarang?"

"Enggak. Besok pagi kita baru bisa nyebrang. Sekarang, kita ke penginapan punya bokap gue dulu buat nginep di sana."

"Kenapa gak langsung aja?" Tanya Audrey yang duduk di kursi tengah bersama Aline.

"Penyeberangannya cuma ada dua hari sekali dan itu setiap jam 8 pagi."

"Ohh.... Gue kira bakalan bisa langsung ke sana?"

"Kira-kira masih berapa lama lagi kita nyampe ke sana Ra? Gue udah mulai laper soalnya." Tanya Alice lagi karena dia memang belum selesai bicara.

"Setengah jaman lagi." Jawab Aurora.

"Gue masih ada roti dari pesawat nih, lo mau gak?" Sembari mengulurkan roti yang ada di tangannya ke belakang, Audrey memberi tawaran.

"Thank you Audrey." Dengan senang hati dan raut bahagia, Alice mengambil roti itu dari tangan Audrey lalu memakannya.

***

Memiliki kedua orang tua yang bergerak di bidang bisnis tentu membuat Aurora tak pernah kesulitan setiap kali ia pergi kemana-mana. Karena semuanya pasti akan bersangkutan dengan kepemilikan nama orang tuanya di sana.

Terlebih, statusnya sekarang ini sebagai seorang stri dari  salah satu konglomerat Korea. Tentu membuat Aurora semakin dipermudah dalam mendapatkan setiap kebutuhannya. Termasuk tempat penginapan yang Aurora pilih saat ini.

Penrod Cottage and Villa namanya. Salah satu tempat penginapan terkenal dan terbaik di kota jepara yang 90% kepemilikan sahamnya atas nama Ny. Airin. Ibunya.

"Selamat datang di kota Jepara Non Ara." Ucap seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah dan pakaian sederhana menyambut kedatangan Aurora dan teman-temannya yang baru saja turun dari mobil.

"Makasih Bi." Balas Aurora juga dengan senyum ramah. Sedangkan Audrey dan ketiga temannya yang lain hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala.

"Semua yang Non Ara minta udah Bibi siapin di saung. Mari Non." Ucap wanita itu lagi seraya mempersilahkan Aurora dan teman-temannya untuk melangkah bersamanya menuju tempat penginapan mereka.

"Makasih Bi. Maaf ya kalo Ara jadi krepotin Bibi sama Amang."

"Sama sekali gak krepotin Non.... Bibi malah seneng karena Non Ara mau mampir."

Sejak mereka memasuki kawasan cottage tadi, sebenarnya suasana pedesaan yang indah dan asri sudah menarik perhatian mereka dan menyejukkan mata.

Dan kini, setelah mereka di bawa masuk lebih dalam untuk menuju tempat istirahat mereka, lagi dan lagi mereka disuguhkan dengan pemandangan ciri khas pedesaan yang tak kalah menawan sekaligus menenangkan.

Hampir 10 menit mereka berjalan, sampailah mereka di sebuah villa semi outdoor dengan bangunan kayu, halaman rumput hijau, pohon hias sebagai pelengkap serta sebuah saung.

"Non Ara? Semua kopernya mau di taruh di mana?" Tanya pria paruh baya yang tadi menurunkan koper Aurora dan teman-temannya dari dalam mobil pada Aurora seraya meletakkan koper yang dia bawa di depan teras kamar mereka.

"Taruh situ aja Mang, gak papa. Nanti biar kita sendiri aja yang beresin." Sahut Aurora.

"Kalau gitu Bibi sama Amang tinggal ya Non?" Pamit wanita paruh baya itu secara tidak langsung memberi sang majikan bersama teman-temannya ruang untuk menikmati waktu kebersamaan mereka tanpa adanya orang asing diantara mereka.

"Iya Bi. Sekali lagi makasih ya."

"Sama-sama Non. Mari." Kembali tersenyum dan mengangguk hormat, wanita paruh baya itu pun pergi dari sana bersama sang pria paruh baya yang mengikutinya dari belakang.

"Lo tadi bilang laper kan? Tuh, udah gue siapin semuanya." Ucap Aurora melirik Alice disebelahnya sekilas seraya menunjuk saung yang ada di depan mereka tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang dengan dagunya.

Menatap berbagai macam makanan yang telah dihidangkan, membuat mata mereka semua berbinar karena memang sudah seharusnya mereka makan siang tapi terlewat sebab perjalanan.

Tanpa membuang banyak waktu lagi, mereka semua langsung menuju saung untuk makan siang bersama.

"Ra? Mereka tadi itu siapa? Mereka juga kerja di sini?" Tanya Audrey seraya duduk di salah satu sudut meja.

"Di bilang kerja juga enggak. Tapi, setiap kali gue sama keluarga gue kesini, kita selalu minta bantuan mereka buat nyiapin semuanya."

Tak kembali melanjutkan obrolan, Audrey lebih dulu menscane semua makanan yang ada di atas meja sebelum akhirnya mengambil makanan yang dia inginkan. Begitupun dengan Aurora dan ketiga temannya yang lain yang langsung memilih menu makan siang mereka.

***

Memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana adalah pilihan yang mereka lakukan.

Menghabiskan waktu di dalam kamar sembari menunggu rasa kantuk menyerang dengan berbagai aktivitas yang mereka inginkan. Entah itu bermain media sosial, bermain game, atau sesuatu yang setidaknya tak membosankan.

Terbagi dalam 2 kamar, Aurora satu kamar dengan si kembar. Aline masih ada di dalam kamar mandi membersihkan dirinya sedangkan Alice tampak tak terganggu dengan jelajahnya di dunia maya. Tak ingin mengganggu, Aurora pun memilih untuk pergi karena sudah bosan bermain handphone sejak tadi.

Duduk di saung tempat mereka makan siang tadi, terangnya sinar bulan yang menerangi di tambah bintang yang juga ikut menemani berhasil menarik perhatian Aurora untuk menatap langit dan menikmati.

Tanpa sadar beberapa menit telah terlewati. Seakan belum mau beranjak dari tempatnya, Aurora tampak memperbaiki posisi duduknya yang tak lagi nyaman. Memiliki waktu sendiri tanpa melakukan apa-apa dan tanpa siapa-siapa nyatanya tak cukup buruk jika dilakukan di saat yang tepat.

Namun tiba-tiba...... Sebuah dering handphone berbunyi.

Menolehkan pandangannya, Aurora mengambil handphone yang tergeletak begitu saja di sampingnya.

Seutas senyum terukir saat melihat nama yang tertera. Panggil itu..... Dari Luca.

"Hey Ra." Sapa Luca diiringi senyuman dan lambaian tangan saat wajah Aurora sudah terlihat di layar handphonenya.

^^^"Hey Luca." Balas Aurora juga dengan senyum bahagia. ^^^

"Lo dimana?" Melihat background Aurora membuat Luca yakin jika sekarang sang istri sedang tidak ada di kamarnya.

^^^"Di saung." Tak hanya sekedar memberitahu, Aurora juga memutar handphonenya untuk memperlihatkan pada Luca apa saja yang ada di sekitarnya. ^^^

"Gak pergi jalan-jalan atau emang udah pulang?"

^^^"Gak pergi kemana-mana. Soalnya besok pagi-pagi udah harus berangkat."^^^

Meletakkan handphonenya di atas meja menggunakan sandaran agar bisa tetap berdiri, Luca mematikan kompor di depannya pertanda kegiatan memasaknya telah selesai.

Tak berhenti sampai di sana, Luca mengambil piring dari dalam lemari yang ada di belakangnya lalu menyajikan masakan buatannya di atas piring itu. Setelahnya, dia mengambil tempat duduk di kursinya dan tak lupa mengarahkan layar handphonenya ke arahnya.

"Mau gak? Gue masak spaghetti." Ucap Luca dengan senyum menggoda seraya memperlihatkan hasil masakannya pada Aurora.

Alih-alih memperpanjang obrolan diantara mereka di saat Luca menikmati makanannya, Aurora justru sibuk memperhatikan Luca dalam diamnya.

"Jangan diliatin terus..... Entar terpesona lho?" Tegur Luca bernada candaan seraya tersenyum dan melirik Aurora.

Sadar jika dirinya terciduk dan tak mampu mengelak, Aurora pun hanya bisa membalasnya dengan senyum malu-malu.

^^^"Kayaknya enak tuh? Next time boleh kali gue di bikinin yang persis kayak gitu."^^^

"Boleh. Tapi tunggu gue mood dulu. Hehehe...."

^^^"Ye.... Itu mah sama aja namanya."^^^

Menghabiskan suapan terakhirnya, Luca tak lupa meletakkan bekas makan yang di pakaiannya ke dalam wastafel lalu langsung mencucinya. Termasuk peralatan yang tadi dia gunakan untuk memasak.

Selesai dengan kegiatan singkat itu, Luca kembali ke tempat duduknya tadi dengan secangkir air putih yang dia letakkan di sampingnya.

^^^"Luca?"^^^

"Hm?"

^^^"Ada gue atau gak ada gue, sama aja atau beda?" Entah terinspirasi dari mana Aurora,tiba-tiba mempertanyakan hal itu. Mungkin karena dia melihat Luca yang begitu mandiri mengurus dirinya tanpa kehadirannya. ^^^

"Maksudnya?"

^^^"Ya kita emang tinggal bareng dan udah nikah juga. Tapi, apa-apa kan kita lebih sering ngelakuinnya sendiri-sendiri. Jadi gue pengen tau aja perasaan lo sekarang gimana?"^^^

"Ohhh..... Kalo gue sih ngerasanya beda. Karena setiap kali gue pulang kerja gue selalu ngerasa excited buat cepet-cepet sampe rumah dan ketemu sama lo. Rasanya tuh, semua capek gue ilang gitu aja kalo udah liat wajah lo." Tanpa adanya sedikitpun rasa keraguan, Luca menyampaikan isi hatinya untuk pertama kalinya.

^^^"Berarti sekarang capeknya masih krasa dong?"^^^

"Tadinya. Makanya gue telfon lo buat ngilangin itu."

^^^"Thanks ya Luca udah setulus ini sama gue."^^^

"Sama-sama. Asalkan kehadiran gue di hidup lo masih bisa bikin lo bahagia, gue juga ikut seneng kok."

Jika biasanya Luca akan berpikir dua kali untuk menunjukkan perasaannya di depan Aurora agar tidak terlalu terlihat berlebihan dan membuat Aurora tak nyaman, maka sekarang Luca akan menyampaikannya secara terang-terangan dan lebih blak-blakan. Terlebih, setelah Aurora tahu tentang masa lalu dan isi buku diarynya, rasanya tak ada lagi yang perlu di tutupi. Biarlah Aurora tahu betapa dia begitu tulus mencintai sang istri.

"Kangen ya lo sama gue?" Tanya Luca dengan senyum menggoda dan kedua alis yang naik turun, membuat Aurora yang mendengar itu seketika salah tingkah dibuatnya.

^^^"Gak juga." Jawab Aurora tak mau mengakui. Tapi terlihat jelas semburat merah di kedua pipi pertanda dia tengah merasakan malu saat ini. ^^^

^^^"Besok weekend, mau ada acara apa?" Tanya Aurora secepat kilat mengalihkan pembicaraan agar Luca tak semakin menggodanya dan dia yang bertambah malu karena ketahuan. ^^^

"Nonton pertandingan basket sama anak-anak. Habis itu gak tau lagi mau kemana."

Notifikasi pesan yang tiba-tiba muncul di layar handphonenya membuat Luca terdiam sejenak untuk melihat siapa nama sang pengirim pesan.

Tapi, bukannya membuka isi pesan itu, Luca Justru menggesernya untuk menghilangkannya dari layar handphonenya.

"Eh, tapi Ra? Kalo misalkan gue sama anak-anak mau ke panti asuhan yang waktu itu, boleh gak?" Tanya Luca saat dirinya tiba-tiba mengingat sesuatu.

^^^"Boleh, kenapa gak? Kegiatan kalian jadi bermanfaat kalo di sana. Nanti deh gue kirimin nomer pengurus pantinya sama lo. Jadi, kalo kalian mau ke sana kalian bisa hubungin mereka dulu."^^^

"Sip lah."

Notifikasi pesan masuk yang kembali tertera di layar handphone membuat Luca tak lagi bisa mengabaikannya karena itu dari pengirim yang sama.

Terpaksa, Luca pun membuka isi pesan itu dan mengetikkan pesan balasannya. Membuat Aurora terdiam dan sedikit menunggu karena layar handphonenya yang tadinya menampilkan wajah Luca berubah menjadi buram dengan tulisan video anda terjeda.

Kurang dari 3 menit, panggilan video mereka kembali normal.

"Ra? Udah dulu ya? Gue mau lanjut kerja." Pamit Luca tak enak hati karena sejujurnya dia masih ingin berlama-lama melihat wajah sang istri. Tapi mau bagaimana lagi, tuntutan pekerjaan dan tanggungjawab yang harus di selesaikan membuat Luca mau tak mau harus mengalah. Apalagi, ini juga sudah malam dan Aurora juga harus segera tidur agar besok dia tidak kelelahan.

^^^"Masih banyak aja kerjaannya?" Sama dengan yang di rasakan Luca, Aurora sejujurnya juga masih belum rela jika panggilan video mereka harus di sudahi. Tapi, dia juga tak ingin egois dengan tetap menahan Luca untuk terus ada bersamanya. ^^^

"Gitu deh." Sahut Luca dengan wajah lesu tanya semangat.

^^^"Gak papa..... Kan kalo mau sukses emang harus kerja keras dulu?" Sibuknya Luca mengurus pekerjaannya akhir-akhir ini memang begitu menguras tenaga, tapi apa daya tak banyak yang bisa Aurora lakukan selain memberikan Luca semangat dan menjadikan dirinya orang ternyaman untuk Luca berkeluh kesah dan bersandar. ^^^

"Makasih ya Ra. Sekarang ada lo yang selalu bisa semangatin gue." Dibalik sikap Aurora yang terkesan diam dan cuek, tapi Luca tetap bersyukur karena selalu saja ada saat dimana dia menemui Aurora yang perhatian seperti sekarang ini.

^^^"Karena cuma itu yang bisa gue lakuin buat lo. Mau bantu juga gak bakalan bisa kan? Nanti yang ada proyek-proyek lo isinya rumus kedokteran semua."^^^

'Hahahaha....... Bisa aja lo Ra."

^^^"Nah.... Gitu dong, senyum. Yang semangat!! Jangan lesu kayak tadi."^^^

Meski hanya candaan sederhana tapi Aurora tetap bahagia karena bisa melihat Luca tersenyum karena usahanya. Setidaknya, dia bisa sedikit mengurangi beban yang ada walaupun dirinya tak sedang ada disisi Luca seperti biasa.

^^^"Jangan kemaleman ngerjainnya. Kalo emang udah capek istirahat, gak usah di paksa." Tak hanya memberikan dorong dan semangat, Aurora juga tak lupa untuk selalu mengingatkan Luca agar tetap menjaga kesehatannya. ^^^

"Iya...."

^^^"Jam makannya juga harus di jaga, jangan sampe telat. Kalo emang gak perlu-perlu banget gak usah begadang, jaga kesehatan." Seelah belum cukup dengan yang pertama, Aurora kembali memberikan nasehatnya agar Luca benar-benar mengingatnya atau bahkan melalaikannya begitu saja. ^^^

"Iya Bu Komandan.... Pasti diinget terus kok pesennya." Julukan semua wanita itu cerewet tampaknya juga berlaku untuk Aurora meski sejatinya memiliki kepribadian yang cenderung diam dan tak banyak bicara. Dan Luca, dengan senang hati menerima serta memahami hal itu karena dia sudah mulai biasa.

^^^"Oke. Good night Luca."^^^

"Good night juga Ara."

Tak langsung mematikannya, Luca menempelkan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah ke bibirnya lalu menempelkannya di layar handphonenya.

"Karena malem ini gue gak bisa kasih lo kayak biasanya, jadi kiss jauh aja." Ucap Luca diakhiri senyuman.

Mendapatkan hal tak terduga itu dari Luca membuat Aurora seketika tersisa malu. Dia benar tak menyangka jika Luca masih sempat mengingat kebiasaan mereka sebelum tidur.

"Bye bye istrinya Luca. Semoga tidurnya nyenyak dan mimpi indah." Pamit Luca masih dengan senyum yang sama tapi lebih terlihat bahagia. Setelahnya, barulah dia mematikan panggilan video mereka.

Panggilan yang sudah terputus membuat Aurora meletakkan handphonenya kembali ke tempat semula. Tampaknya, Aurora masih enggan untuk beranjak dan masuk ke dalam kamarnya guna beristirahat. Padahal, hari sudah cukup malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!