Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Menolong
Kepala Desa akhirnya melangkah maju. Suaranya yang tenang memotong ketegangan di sekitarnya.
“Sudah, cukup sampai di sini," kata pria tua itu.
"Jenara, Seran, lebih baik kalian bawa anak-anak pulang. Tenangkan diri. Masalah ini tidak akan selesai dengan emosi.”
Seran menarik napas dalam, lalu menunduk sedikit.
“Terima kasih, Pak Kepala Desa. Kami permisi.”
Tanpa menunggu respons lain, Seran meraih lengan Jenara dan menariknya menjauh dari hadapan Ranisya. Gerakannya tidak kasar, tetapi menegaskan bahwa ia tak ingin ada perdebatan lanjutan. Sementara tangan Seran yang lain memberi isyarat singkat pada Giri.
“Ajak kedua saudaramu pulang.”
Giri mengangguk cepat. Ia segera menggandeng Gatra dan Gita. Mereka pun berjalan bersama menyusuri jalan desa.
Langkah mereka terasa berat, terutama bagi Jenara. Ia menggandeng Gatra dan Gita erat-erat, seolah takut mereka menghilang lagi jika dilepas. Seran berjalan di sisi lain, menggandeng Giri, wajahnya kaku dan diam.
Tak satu pun dari mereka berbicara sampai akhirnya rumah sederhana itu tampak di depan mata.
Begitu masuk ke halaman, Seran berhenti dan menoleh kepada tiga anaknya.
“Dengar baik-baik,” katanya penuh penekanan. “Lain kali, kalian tidak boleh ikut siapapun keluar dari rumah tanpa izin Ayah atau Ibu. Mengerti?”
Tiga kepala kecil itu mengangguk bersamaan.
“Sekarang, kalian mandi bersama Ayah.”
Jenara refleks melangkah maju. “Seran, jangan salahkan mereka. Ini akibat kelalaianku. Aku yang meninggalkan mereka sendirian.”
“Tidak perlu dibahas lagi,” balas Seran singkat. Dengan sorot mata dingin, ia menatap Jenara tak berkedip.
“Kau seharusnya tidak perlu berjualan, apalagi bersaing dengan Ranisya. Aku tidak pernah memintamu membayar ganti rugi apa pun."
“Tapi, Seran—”
Belum sempat Jenara menyelesaikan kalimatnya, Seran sudah berbalik. Tangannya merangkul bahu 3G, menggiring mereka menuju bilik mandi tanpa menoleh lagi.
Sementara Jenara berdiri terpaku di tengah halaman. Pelan, hampir seperti bisikan yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, Jenara bergumam.
“Kau belum tahu alur cerita ini, Seran. Bagaimanapun, aku memang harus pergi dari hidupmu. Dan sebelum itu, aku harus bisa mandiri.”
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Jenara berbalik menuju teras depan. Di sudut beranda, sekarung beras yang tadi dibeli Seran masih tergeletak. Ukurannya besar, tampak berat bahkan untuk diangkat dengan dua tangan.
Sekuat tenaga, Jenara berusaha menyeretnya ke dalam dapur. Karung itu bergesekan dengan lantai tanah, membuat lengannya bergetar menahan berat.
Napasnya terengah, peluh mulai membasahi pelipis. Namun, ia tidak berhenti.
Begitu karung itu sampai di dapur, Jenara menyandarkan tubuh sejenak sambil menyingsingkan lengan bajunya.
“Ini saatnya, aku mulai bekerja."
Ia membuka ikatan karung dan menakar beras secukupnya, lalu mencuci sampai airnya bening. Setelah itu, Jenara menyalakan tungku dan mulai menanak nasi.
Sambil menunggu butiran-butiran nasi matang, Jenara melangkah ke halaman depan. Di dekat pagar, tumbuh rimbun daun pisang muda berwarna hijau yang cocok untuk membungkus nasi kepal.
Jenara memetik beberapa helai dengan hati-hati. Setelah mengumpulkan daun pisang, ia kembali ke dapur dengan langkah cepat.
Nasi di periuk sudah matang sempurna. Uap hangat mengepul begitu tutupnya dibuka, membawa aroma beras yang harum.
Jenara tidak langsung mengangkatnya. Ia menambahkan sedikit air panas yang telah dicampur garam halus dan setetes minyak wijen. Cara ini mampu membuat nasi lebih pulen, berkilau, dan wangi alami, meski dimasak dengan tungku kayu.
Beberapa menit berlalu, Jenara membuka kembali periuk dan mengaduk nasi dengan teknik membalik, agar butiran nasi tidak hancur. Kemudian, ia beralih ke bahan isian.
Jamur segar dari Ruang Wiji ia letakkan di talenan. Jamur tiram putih, seratnya tebal dan kenyal, tampak hampir seperti irisan daging. Jenara pun mengirisnya memanjang mengikuti serat supaya teksturnya tetap “berisi”. Sedikit bayam muda ia petik daunnya saja, sementara wortel ia iris tipis memanjang seperti korek api.
Usai bahan siap, Jenara menumis bawang putih yang dimemarkan hingga harum. Barulah jamur dimasukkan ke wajan sampai sisi-sisinya kecokelatan. Ini adalah teknik sear sederhana yang membuat jamur mengeluarkan rasa umami.
Jenara membalik jamur itu, lantas menambahkan sedikit garam, lada, dan sejumput gula aren parut. Bayam dan wortel masuk paling akhir untuk menjaga warna alaminya. Terakhir, Jenara meneteskan sedikit air dan menutup wajan sebentar, membiarkan semuanya menyatu dalam uap panas.
Saat Jenara mengangkat wajan, ia tidak sadar bahwa 3G sedang melongok dari ambang pintu.
“Ibu...buat apa?” panggil Gita terdengar penuh rasa ingin tahu.
Jenara tersenyum tanpa menoleh. Ia mengambil selembar daun pisang dan membersihkannya dengan lap kering.
“Nasi kepal, Gita,” jawabnya sambil mengambil segenggam nasi hangat.
Ia memipihkannya di telapak tangan, memberi isian jamur dan sayur di tengah, lalu menutupnya kembali dengan nasi. Jenara membentuknya menjadi bulatan padat.
“Mmm…” Gita mendekat. “Boleh aku bantu?”
Jenara menoleh dan mengangguk. “Boleh. Ayo kemari. Ibu ajarkan.”
Giri dan Gatra otomatis ikut maju. Jenara pun membagi tugas sederhana: Giri memegang daun, Gatra membantu mengambil nasi, sementara Gita menirukan gerakan tangan Jenara, meski bentuk nasi kepalnya masih sedikit miring.
Di saat itulah Seran muncul di dapur. Ia berdiri sejenak, memperhatikan kesibukan istri dan anaknya. Pandangan Seran lalu jatuh pada meja kayu yang masih terletak di sudut dapur.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat meja itu dengan mudah dan membawanya keluar menuju teras depan. Bunyi kayu bergeser membuat Jenara mendongak sebentar.
Setelah meja tersebut diletakkan rapi di depan rumah, Seran kembali ke dapur.
“Kalau ada barang berat, biar aku yang membawanya," pungkas Seran.
Jenara tidak menjawab. Tangannya tetap bekerja, membungkus nasi kepal dengan daun pisang lantas melipatnya rapi.
“Kau membuat ini saja, atau ada yang lain?" tanya Seran tiba-tiba.
"Aku tinggal membuat ubi ungu kukus."
Begitu mendengar ucapan Jenara, Seran langsung bergerak. Ia melangkah ke tumpukan ubi ungu di sudut dapur. Dengan mengenakan pisau besar, Seran mulai mengupas kulitnya dengan cekatan. Setelahnya, pria itu mencuci ubi ungu hingga bersih.
Jenara terkejut melihat Seran bersedia membantu. Maka, sebelum membungkus nasi kepal berikutnya, Jenara berdiri dan menghampiri Seran. Tanpa kata, ia menyuapkan sesendok nasi ke bibir pria itu.
"Coba cicipi enak tidak? Anggap saja kau pembeli pertamaku," pinta Jenara.