Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Bunga
Arlan turun dari mobil, membukakan pintu untuk Gisel yang masih mendekap Keira. Tak punya pilihan lain, Gisel masuk ke kabin mewah itu dengan patuh.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Arlan sambil memasang sabuk pengaman.
“Jalan Bunga.”
“Lebih tepatnya?”
“Jalan Bunga saja. Berhenti di mulut gangnya. Mobilmu tidak akan bisa masuk ke dalam,” jawab Gisel datar.
Arlan mengetikkan alamat tersebut di navigasi. Sebagai orang yang baru seminggu pindah ke kota ini, ia memang belum hafal seluk-beluk jalanan. Sepanjang perjalanan, Gisel hanya diam, sesekali membisikkan kata-kata lembut pada Keira yang tetap bergeming.
“Keira anak berkebutuhan khusus, dia penyandang autisme,” suara Arlan memecah keheningan.
“Dia belum bisa bicara, hanya satu-dua kata. Biasanya dia sangat menutup diri dengan orang asing, tapi sepertinya kamu pengecualian.”
Gisel menoleh, sedikit terkejut dengan kejujuran pria di sampingnya.
“Sebagai penyandang autis, Keira punya diet ketat. Dia harus menghindari gula, susu, dan olahan tepung terigu. Maaf kalau tadi aku sempat meninggikan suara,” lanjut Arlan.
Tunggu, kenapa aku malah curhat pada bocah ingusan ini? batin Arlan, sedikit menyesali keterbukaan instannya.
“Tidak masalah,” sahut Gisel santai.
“Tapi kalau semuanya dilarang, dia makan apa? Pantas saja tadi dia lahap sekali, mungkin dia merasa bebas.”
Arlan tidak menjawab. Ia fokus membelah kemacetan sore hingga akhirnya mobil berhenti di dekat sebuah halte bus di ujung Jalan Bunga. Setelah drama pembujukan yang cukup alot, Keira akhirnya mau melepaskan pelukannya. Bocah itu melambaikan tangan kecilnya saat Gisel turun. Gisel membalas lambaian itu dengan senyum tipis, lalu berbalik masuk ke dalam gang.
Tak lama setelah Gisel menghilang, ponsel Arlan berdering. Rey, temannya, menelepon.
“Di mana, Bro? Aku di bank, katanya kamu sudah pulang duluan.”
“Aku di Jalan Bunga. Tunggu di sana, aku ke arahmu sekarang.”
Sepuluh menit kemudian, Rey sudah melompat masuk ke mobil Arlan. “Baru seminggu di sini, kamu sudah berkunjung ke Jalan Bunga? Mau mencarikan Keira ibu baru di sana?”
Arlan mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Apalagi? Bukankah tujuan orang ke sana memang untuk itu?”
“Aku hanya mengantar seseorang,” jawab Arlan dingin.
“Siapa? Setahuku kenalanmu di sini cuma aku dan Nancy. Apa kamu mengantar calon istri?”
“Rey, diamlah. Keira sedang tidur!” Arlan memperingatkan.
“Kenapa kamu berasumsi aku mencari istri di sana? Memangnya Jalan Bunga tempat seperti apa?”
Rey terbahak, lalu mengembuskan napas panjang saat melihat wajah polos Arlan. Ia pun menjelaskan reputasi kelam tempat itu.
Di Kota Fauna, "Jalan Bunga" bukan dinamai karena tanaman, melainkan karena "bunga-bunga" manusia yang menjajakan diri di sana secara terang-terangan. Tempat itu adalah lokalisasi terselubung yang sudah menjadi rahasia umum.
Wajah Arlan mengeras. Apakah gadis berseragam itu juga salah satu dari 'bunga' yang dijual di sana? tanyanya dalam hati. Ia segera menggeleng kuat. Mengapa ia harus peduli? Mereka hanya orang asing yang tidak sengaja bertemu.
Di sisi lain.
“Siapa yang mengantarmu?” suara berat menyambut Gisel begitu ia menginjak teras rumah.
“Hanya orang lewat, Om,” jawab Gisel pada Om Arman, adik ibunya.
“Jangan bohong!”
“Aku serius. Aku menemukan anaknya tersesat di jalan, dan dia mengantarku karena anaknya tidak mau lepas dariku. Dia duda.”
Om Arman menatap Gisel tajam. Sebagai preman penguasa Jalan Bunga, ia punya insting yang kuat.
“Ingat, prioritasmu itu belajar! Setelah lulus, kamu harus kuliah dan keluar dari tempat terkutuk ini. Mengerti?”
“Iya, Om.”
Arman sangat menjaga Gisel. Meski ia dan istrinya, Tante Ira—sang manajer "bunga-bunga"—hidup dari bisnis gelap di sana, Gisel tidak boleh tersentuh. Baginya, Gisel adalah satu-satunya tiket untuk membersihkan nama keluarga mereka di masa depan.
Malam itu, seperti biasa, Gisel mengurung diri di kamar begitu jam kerja "Jalan Bunga" dimulai. Dentum musik dan hiruk-pikuk di luar sana ia redam dengan headset. Ia harus bertahan di sana sampai fajar tiba.
Keesokan paginya, Gisel berangkat sekolah setelah menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Karena tidak sempat makan di rumah, ia membawa bekal untuk dimakan di kelas. Namun, ketenangannya terusik.
“Wah, si Ani-ani mau sarapan nih!” cibir Karin, yang datang bersama dua pengikutnya.
Gisel mengabaikannya, namun Karin menggebrak meja. “Heh! Aku bicara denganmu!”
“Namaku Gisel, bukan ani-ani,” sahut Gisel tanpa menoleh.
“Sama saja! Semua orang tahu kamu tinggal di mana. Kamu pasti melayani om-om genit untuk biaya sekolah, kan?”
Gisel menutup kotak bekalnya. Selera makannya hilang seketika. “Aku tidak pernah cari masalah dengamu, Karin. Apa maumu?”
“Jauhi Kak Regis! Kamu itu kotor, tidak pantas bersanding dengan pria dari keluarga baik-baik seperti dia!”
“Aku dan Kak Regis tidak ada hubungan apa-apa.”
“Bohong! Dia selalu membelamu. Dasar sampah Jalan Bunga!”
PLAK!
Tamparan keras Gisel mendarat di pipi Karin. Kelas mendadak hening. Karin yang murka langsung menerjang, menjambak rambut Gisel. Keduanya bergulat di lantai, saling pukul dan tarik, hingga suara petir dari pintu membuat mereka membeku.
“HENTIKAN!” teriak Guru Matematika.
Keduanya berakhir di ruang BK. Karin menangis histeris, berakting sebagai korban, sementara Gisel berdiri tegak dengan bibir pecah namun tatapan mata yang tajam. Guru BK segera memanggil wali murid.
Tak lama, Om Arman datang dengan kaus oblong dan jaket kulit lusuh, wajahnya tampak mengantuk dan sangar. Di sisi lain, orang tua Karin datang dengan setelan jas dan pakaian formal yang elegan.
Hanya dengan sekali lirik, sang Guru BK sudah menunjukkan keberpihakannya. Di mata sekolah, status sosial lebih berbicara daripada kebenaran fakta, dan Gisel tahu, hari ini ia akan kalah lagi.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏