NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Dua Sisi dari Kotak yang Sama

Jakarta, pukul 13.00, macet parah di perempatan Sudirman.

Tapi Kalara tidak peduli pada macet. Ia tidak peduli pada klakson mobil di belakangnya yang minta jalan, tidak peduli pada pengemudi ojek online yang menyelip di antara mobil-mobil, tidak peduli pada panasnya matahari yang menyengat atap mobil. Matanya hanya tertuju pada benda di pangkuannya: kotak kayu kecil itu.

Gambar anak-anak masih terbuka di sampingnya. Warna krayon yang mulai pudar, garis-garis polos yang dibuat tangan mungil, dan kalimat yang terus berulang di kepalanya:

"Ibu, pulanglah. Aku tunggu di stasiun."

Stasiun.

Kalara teringat sesuatu. Sesuatu yang dikatakan Mama bertahun-tahun lalu, saat ia bertanya mengapa tidak punya foto ayahnya. Mama bilang, semua foto ayahnya hilang saat mereka pindah rumah. Tapi ada satu hal yang Mama cerita: ayahnya bekerja di dekat stasiun. Stasiun apa? Kalara tidak ingat. Ia masih kecil, dan Mama tidak pernah mau bicara panjang lebar tentang ayah.

Lampu merah berubah hijau. Mobil di belakangnya membunyikan klakson panjang. Kalara tersentak, segera menginjak gas. Mobilnya melaju, tapi pikirannya masih tertinggal di kamar kecil rumah tua Menteng.

Siapa anak yang menggambar ini? Di mana ia sekarang? Dan mengapa gambar ini terasa begitu... akrab?

Arsya tidak langsung pulang ke kantor setelah pertemuan.

Ia meminta izin pada Willem untuk tinggal lebih lama, dengan alasan ingin mengukur ulang beberapa ruangan. Willem mengizinkan, bahkan menawarkan makan siang, tapi Arsya menolak. Ia butuh waktu sendiri. Butuh ruang untuk berpikir.

Sekarang ia berdiri di kamar kecil itu lagi.

Kamar pembantu. Kamar yang—mungkin—pernah ditempati ibunya.

Ia berjalan lambat, mengamati setiap sudut dengan seksama. Dinding-dinding kusam dengan bekas lukisan atau foto yang sudah lama dipindahkan. Lantai kayu yang berderit di beberapa bagian. Lemari kecil dengan satu laci yang macet.

Arsya membuka laci itu perlahan. Kosong. Hanya debu dan bangkai serangga kecil. Tapi di sudut laci, ada sesuatu yang terselip—selembar kertas lain, tersobek setengah.

Ia mengeluarkannya dengan hati-hati. Ini juga gambar anak-anak. Gaya yang sama dengan gambar yang ditemukan Kalara di dalam kotak, Arsya yakin. Tapi gambar ini berbeda: hanya setengah, robek tidak beraturan. Yang tersisa adalah gambar seorang laki-laki dewasa, digambar dengan krayon biru. Wajahnya tidak jelas—kertas robek tepat di bagian kepala. Tapi ada tulisan di bawahnya:

"Ayah, jangan pergi lagi."

Arsya menatap gambar itu lama. Tangannya gemetar sedikit.

Ayah. Anak ini juga menggambar ayahnya. Lalu di mana gambar ayah itu sekarang? Siapa yang merobeknya?

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari asistennya mengingatkan ada rapat tim sore ini. Arsya menghela napas, melipat kertas itu dengan hati-hati, dan menyimpannya di saku jas—bersebelahan dengan foto ibunya.

Dua benda. Satu saku. Seperti dua potongan puzzle yang belum jelas hubungannya.

Kalara tiba di rumah kontrakannya pukul setengah tiga. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru semakin aktif. Ia langsung menuju meja kerjanya di pojok ruang tamu—meja kayu besar yang penuh dengan sampel kain, katalog warna cat, dan buku-buku desain.

Ia meletakkan kotak kayu di tengah meja, lalu duduk menghadapnya seperti detektif yang menginterogasi tersangka.

Kotak itu sederhana. Kayu jati tua dengan ukiran dua hati menyatu. Gaya ukiran khas Jawa, mungkin tahun 70-an atau 80-an. Di bagian bawah, ada bekas stiker yang sudah dikelupas, menyisakan residu lengket yang menguning.

Ia membuka tutupnya lagi, mengamati bagian dalam. Selain gambar tadi, tidak ada apa-apa. Tapi saat ia memiringkan kotak, cahaya matahari sore menangkap sesuatu di dasar kotak—goresan, seperti tulisan.

Kalara mendekatkan kotak ke jendela. Goresan itu tipis, nyaris tak terlihat. Tapi setelah diteropong dari berbagai sudut, ia bisa membaca satu kata:

"Rara."

Rara.

Nama panggilannya.

Jantung Kalara berhenti berdetak—lalu berdetak kencang, jauh lebih kencang dari sebelumnya.

Ini pasti kebetulan. Banyak orang dipanggil Rara. Mungkin itu nama anak yang menggambar itu. Mungkin itu nama ibunya. Mungkin itu cuma coretan tidak sengaja.

Tapi di lubuk hati terdalam, Kalara tahu—ini bukan kebetulan.

Tangannya meraih ponsel, menekan kontak yang paling sering dihubungi setelah Mama.

"Ra?" suara Renata di ujung sambungan. "Gimana seleksinya? Dapet?"

"Ren, gue perlu cerita. Tapi jangan ketawa dulu."

"Cerita apa? Lo jatuh cinta sama si es batu?"

"Bukan. Lebih aneh dari itu."

Renata terdiam sebentar. "Lo bikin penasaran. Sini, gue lagi di kafe dekat rumah lo. Lo bisa ke sini?"

"Bisa. Gue tunggu."

Kafe itu kecil, hanya enam meja, tapi selalu nyaman. Renata sudah duduk di meja favorit mereka—pojok dekat jendela, dengan colokan listrik di bawah meja. Dua cangkir Americano sudah tersaji.

Kalara duduk, meletakkan kotak kayu di atas meja.

"Ini apa?" tanya Renata, mengamati kotak itu.

"Barang bukti."

"Lo jadi detektif sekarang?"

"Ren, serius. Ini gue ambil dari rumah tua itu. Tanpa sengaja. Tapi pas gue buka, di dalamnya ada ini."

Kalara mengeluarkan gambar anak-anak itu, melipatnya hati-hati, dan menyerahkannya pada Renata.

Renata membaca tulisan di bawah gambar. Matanya membelalak. "'Ibu, pulanglah. Aku tunggu di stasiun.' Ini seram, Ra. Masa kecil siapa?"

"Gue nggak tahu. Tapi lihat bagian bawah kotak."

Renata membalik kotak, mengamati goresan tipis di dasarnya. "'Rara'? Rara? Itu panggilan lo, Ra."

"Apa gue nggak tahu itu? Itu makanya gue bingung."

Renata meletakkan kotak, menatap Kalara dengan serius. "Lo pikir ini kebetulan?"

"Nggak tahu, Ren. Tapi lo tahu gue. Gue nggak percaya kebetulan."

"Jadi lo curiga... apa?"

Kalara menghela napas. "Lo ingat gue cerita tentang ayah gue? Tentang dia pergi tanpa kabar?"

"Ya. Lo cerita itu berkali-kali. Sampai gue hafal."

"Nah, dulu Mama pernah bilang, ayah kerja di dekat stasiun. Dan di gambar ini—" Kalara menunjuk kertas itu "—ada tulisan tentang stasiun. Lalu di kotak ini ada nama panggilan gue. Mungkin ini cuma kebetulan, tapi—"

"Tapi lo ngerasa ada hubungannya?"

Kalara mengangguk pelan. "Gue nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi rumah itu... Ren, rumah itu ada di mimpi gue tadi malam. Sebelum gue tahu harus ke sana. Sebelum gue lihat fotonya."

Renata menyeruput kopinya, berpikir. "Oke. Mari kita logika. Lo dapet proyek ini—belum dapet, masih seleksi—di rumah tua Menteng. Lo nemu kotak ini di kamar pembantu. Di kotak ada tulisan 'Rara'. Lo dipanggil Rara. Lo merasa ada hubungan misterius. Lalu?"

"Itu aja. Belum ada lalu-lalunya."

"Berarti lo harus cari lalu-lalunya."

"Gimana caranya?"

Renata tersenyum, matanya berbinar nakal. "Lo bilang tadi, arsiteknya siapa? Arsya Wiraguna? Yang katanya es batu itu?"

"Iya, kenapa?"

"Coba lo bayar utang kopi gue, nanti gue kasih ide."

Kalara mendengus, tapi tetap memanggil pelayan untuk memesan makanan ringan. "Udah, bayar. Sekarang kasih ide."

"Gampang. Lo harus deketin si es batu itu."

"Apa?!"

"Bukan untuk pacaran, goblok. Tapi untuk cari informasi. Dia pasti sudah lebih dulu ke rumah itu. Mungkin dia lihat sesuatu. Mungkin dia tahu sejarah rumah itu lebih dari yang dikatakan Pak Willem. Lo harus kerja sama sama dia."

Kalara menggeleng keras. "Lo nggak lihat dia, Ren. Orang itu dingin banget. Waktu gue ngomong tentang jiwa rumah, dia cuma bilang 'bagus, setidaknya Anda punya visi'—datar kayak robot."

"Mungkin dia memang robot."

"Ren, serius!"

"Gue serius, Ra. Lo butuh akses ke rumah itu. Lo butuh alasan untuk terus ke sana. Dan satu-satunya alasan lo bisa ke sana secara legal adalah lewat proyek ini. Jadi, lo harus dapet proyek ini. Dan untuk dapet proyek ini, lo harus bisa kerja sama sama si robot itu."

Kalara diam. Renata benar, seperti biasa.

"Tapi gimana caranya?" tanya Kalara akhirnya. "Gue tadi hampir berantem sama dia."

"Ya lo harus... agak-agak, gimana bilangnya, nggak terlalu gue banget. Sedikit lebih... profesional. Sedikit lebih... nurut."

"Nurut? Lo tahu gue? Gue nggak bisa nurut sama orang kayak gitu."

"Bisa, dong. Pura-pura aja. Sambil lo gali informasi. Ingat, ini soal ayah lo. Soal masa lalu lo. Mungkin—" Renata menurunkan suaranya "—mungkin ini kesempatan lo untuk tahu kenapa ayah lo pergi."

Kalara menatap kotak kayu di meja. Kata 'Rara' di dasarnya seperti berbisik, memanggil.

"Iya," bisiknya. "Mungkin."

Di sisi lain Jakarta, Arsya duduk di ruang kerjanya yang sunyi.

Lantai 27, gedung perkantoran di pusat bisnis. Pemandangan kota terbentang di balik jendela kaca besar, tapi Arsya tidak melihatnya. Ia sibuk membuka file-file lama di laptopnya—bukan file proyek, tapi file pribadi.

Folder bernama "Ibu".

Isinya hanya sedikit. Beberapa scan foto masa kecil yang diselamatkan dari album keluarga yang nyaris terbakar. Satu rekaman suara—kaset lawas yang ia ubah jadi mp3 bertahun-tahun lalu, suara ibunya bersenandung lagu pengantar tidur. Dan dokumen-dokumen lama: akte kelahiran, akte kematian? Tidak, ibunya tidak punya akte kematian karena tidak pernah ditemukan. Hanya laporan kehilangan yang dibuat Ayah di polsek setempat.

Arsya membuka laporan itu lagi.

"Nama: Rarasati Wiraguna. Usia: 32 tahun. Terakhir terlihat: 15 November 1999, di Stasiun Gambir."

Tanggal itu terukir di memorinya. 15 November 1999. Dua puluh tiga tahun lalu. Dua puluh tiga tahun sejak ia menunggu di peron stasiun, menunggu ibu yang tak pernah datang.

Sekarang, di tangannya ada foto baru. Foto yang ditemukan di rumah tua Menteng. Foto yang sama dengan foto di albumnya—ibunya, lebih muda beberapa tahun, tersenyum sedih di depan rumah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Arsya membuka laci meja, mengeluarkan kaca pembesar. Ia meneliti foto itu detail demi detail. Latar belakang: bagian dari rumah—teras dengan pilar-pilar khas kolonial. Dan di sudut kiri foto, sebagian kecil dari sesuatu yang familiar: ukiran kayu berbentuk dua hati menyatu.

Sama persis dengan ukiran di kotak kayu yang kemarin dilihatnya di kamar itu.

Kotak yang kini tidak ada di tempatnya.

Arsya teringat. Saat ia dan Willem serta Kalara keluar dari kamar itu, kotak itu masih ada di ambang jendela. Tapi saat ia kembali sendirian, kotak itu sudah tidak ada.

Dan Kalara adalah orang terakhir yang keluar dari kamar itu.

Mungkinkah?

Ponselnya bergetar. Email baru.

Kepada Bapak Arsya Wiraguna,

Dengan ini kami mengirimkan data awal calon desainer interior untuk proyek renovasi rumah Menteng. Mohon Bapak dapat memberikan penilaian dan rekomendasi. Terlampir portofolio dan CV masing-masing kandidat.

Arsya membuka lampiran. Nama pertama: Kalara Asmara.

Ia klik file-nya, dan layar menampilkan portofolio desainer itu. Karya-karyanya bagus—sensitif, penuh perhatian pada detail, dan yang paling penting, semua desainnya punya narasi. Tidak hanya cantik secara visual, tapi juga bercerita.

"Setiap ruang punya jiwa," tulis Kalara di profilnya. "Tugas desainer adalah memastikan jiwa itu tidak hilang saat ruang berubah fungsi."

Kalimat yang sama dengan yang diucapkannya tadi pagi.

Arsya menutup file itu dan membuka file kandidat lain. Tapi pikirannya terus kembali ke Kalara. Bukan karena portofolionya. Bukan karena ucapannya tentang jiwa ruang. Tapi karena sesuatu yang lain: saat Kalara berdiri di kamar kecil itu, memegang kotak kayu, matanya berkaca-kaca.

Ia merasakan sesuatu. Sama seperti Arsya.

Dan kini kotak itu hilang.

Arsya mengambil ponsel, mencari kontak Willem. Tapi sebelum menekan tombol panggil, ia ragu. Jika ia bertanya pada Willem, Willem mungkin akan menelepon Kalara. Dan jika Kalara memang mengambilnya, ia akan panik, mungkin mengembalikannya, dan Arsya tidak akan pernah tahu alasannya.

Tidak. Lebih baik diam. Lebih baik amati.

Untuk saat ini.

Malam turun di Jakarta. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menciptakan lautan cahaya yang berkilauan. Di kontrakannya, Kalara duduk di lantai, dikelilingi buku-buku dan catatan. Ia mencoba mencari informasi tentang rumah tua Menteng, tentang sejarahnya, tentang siapa saja yang pernah tinggal di sana.

Hasilnya nihil.

Internet hanya menyediakan informasi umum: rumah itu milik keluarga Van der Meer, lalu dibeli oleh kakek Willem tahun 1960-an. Tidak ada detail tentang penghuni, tentang pembantu, tentang anak kecil yang menggambar gambar itu.

Kalara menghela napas frustrasi. Matanya beralih ke kotak kayu di meja. Seharian ini ia bolak-balik memegangnya, seolah berharap kotak itu tiba-tiba bicara.

Ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

"Halo?"

"Selamat malam, Ibu Kalara? Saya Willem. Willem dari rumah Menteng."

Kalara duduk tegak. "Oh, Pak Willem. Ada apa?"

"Saya hanya ingin memastikan, apakah Ibu sempat melihat sebuah kotak kayu kecil di kamar pembantu tadi? Kotak dengan ukiran dua hati."

Jantung Kalara berdebar. Berbohong atau jujur?

"Kotak... maksud Bapak?"

"Iya, kotak kayu antik. Saya baru ingat, itu peninggalan lama. Saya ingin menyimpannya sebelum rumah direnovasi. Tapi ketika saya cari tadi sore, sudah tidak ada."

Kalara menelan ludah. "Saya... saya lihat, Pak. Waktu tur tadi."

"Sekarang masih ada?"

"Saya tidak tahu, Pak. Mungkin jatuh? Atau dipindah juru kunci?"

Diam di ujung sambungan. Kalara bisa merasakan Willem berpikir.

"Mungkin," kata Willem akhirnya. "Baiklah, tidak apa-apa. Mungkin memang sudah waktunya kotak itu pergi. Saya hanya... merasa terikat secara emosional."

"Emosional? Apa isinya penting, Pak?"

"Ini cerita lama, Ibu. Cerita tentang seseorang yang pernah bekerja di rumah itu. Seseorang yang meninggalkan sesuatu—sebuah kenangan. Saya hanya ingin menjaganya. Tapi sudahlah, mungkin takdir berkata lain."

Sambungan terputus.

Kalara menatap ponselnya, lalu menatap kotak di meja. Seseorang yang meninggalkan sesuatu. Sebuah kenangan.

Siapa? Dan apa hubungannya dengan tulisan 'Rara' di dasar kotak?

Ia mengambil gambar anak-anak itu lagi. Membaca tulisan di bawahnya berulang-ulang. Lalu pandangannya jatuh pada tanggal di sudut kertas.

15 November 1999.

Tanggal itu tidak asing. Ia pernah melihatnya di suatu tempat. Di mana? Ia memejamkan mata, mencoba mengingat. Dan tiba-tiba—

Akte kelahirannya.

Mama pernah menunjukkan akte kelahirannya waktu ia mengurus KTP. Tanggal lahirnya: 15 November 1995. Ia lahir 15 November.

Tanggal di gambar itu: 15 November 1999. Tepat ulang tahunnya yang keempat.

Dan di tahun yang sama, ayahnya pergi.

Kalara merasakan dunianya berputar sedikit. Dadanya sesak. Ini terlalu aneh untuk menjadi kebetulan. Terlalu mustahil.

Tapi ini nyata.

Dan ia harus mencari tahu.

Di ruang kerjanya yang sunyi, Arsya juga tidak bisa tidur.

Ia membuka jendela, membiarkan angin malam masuk. Jakarta di bawahnya berkedip-kedip, tapi pikirannya melayang ke peron stasiun dua puluh tiga tahun lalu. Ke tangan kecil yang menggenggam jaket biru terlalu besar. Ke harapan yang perlahan mati seiring gelapnya langit.

Ia meraih foto ibunya dari saku jas. Menatapnya lama.

"Ibu, di mana Ibu?" bisiknya. "Apa yang Ibu sembunyikan?"

Foto itu tidak menjawab. Hanya tersenyum sedih, dengan mata yang sayu seperti tahu sesuatu yang tidak bisa ia katakan.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Willem.

"Pak Arsya, saya baru bicara dengan Ibu Kalara. Ia melihat kotak itu saat tur. Tapi katanya sekarang tidak ada. Mungkin hilang. Saya minta tolong, jika nanti menemukan sesuatu yang aneh di rumah itu, tolong kabari saya. Ada sejarah di rumah ini yang perlu dijaga."

Arsya membalas: "Siap, Pak."

Lalu ia menambahkan: "Siapa pemilik kotak itu sebelumnya?"

Jawaban Willem datang beberapa menit kemudian:

"Seorang wanita. Pembantu di rumah ini dulu. Namanya Rarasati."

Rarasati.

Nama ibunya.

Arsya merasakan jantungnya berhenti. Lalu berdetak kencang, menggebu-gebu, seperti ingin melompat keluar dari dadanya. Tangan yang memegang ponsel gemetar hebat.

Rarasati.

Ibunya pernah bekerja di rumah ini. Ibunya adalah pembantu di rumah ini. Ibunya meninggalkan kotak itu, dan di dalam kotak itu—mungkin—ada gambar yang dibuat Arsya kecil? Tapi ia tidak ingat pernah menggambar di rumah ini. Ia tidak ingat pernah ke rumah ini.

Atau... ingatannya yang salah?

Ia duduk di kursi, mencoba mengendalikan napas. Pikirannya kacau, tapi satu hal yang jelas: rumah ini bukan sekadar proyek. Ini adalah bagian dari hidupnya. Bagian dari luka lamanya.

Dan wanita itu—Kalara—entah bagaimana juga terhubung. Arsya tidak tahu bagaimana, tidak tahu mengapa. Tapi ia akan mencari tahu.

Dimulai besok.

Dimulai dengan pertemuan yang tidak bisa ia hindari.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!