NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 03

Kontras kesibukan garda depan Adinata Medical Center--iGD, terjadi di ruangan dokter spesialis penyakit dalam.

Ruangan itu sunyi. Terasa terlalu sunyi untuk ukuran ruang praktik yang biasanya sibuk sejak pagi. Tirai jendela terbuka setengah, membiarkan cahaya matahari masuk tanpa benar-benar menghangatkan suasana di dalamnya.

Dr. Raka Pradipta duduk bersandar tenang di kursi tamu, bukan di kursi utama milik dokter spesialis penyakit dalam yang hari itu ia pinjam. Jas dokternya rapi, tangan terlipat di pangkuan, wajahnya terlihat biasa saja--nyaris datar. Hanya seseorang yang benar-benar mengenalnya yang tahu, ketenangan itu bukan tanpa alasan.

Di depannya, dua dokter lain duduk dengan posisi lebih kaku. Berkas hasil pemeriksaan terbuka di atas meja, beberapa lembar sudah dipenuhi catatan kecil. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik terakhir.

Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan.

Justru karena terlalu banyak kemungkinan yang tidak boleh diucapkan.

Dokter Raka menggeser pandangannya ke arah hasil laboratorium sekali lagi. Angka-angka itu sudah jelas. . Secara medis, tidak ada yang benar-benar mengkhawatirkan. Namun keluhan yang disampaikan pasien VIp di lantai atas tidak sejalan dengan hasil yang ada.

Dan pasien itu bukan orang biasa.

Sagara Deva Adinata.

Nama yang bahkan tanpa disebut pun sudah cukup membuat seluruh rumah sakit bergerak lebih pelan dari biasanya. Pemilik yayasan. Pemimpin Adinata Holding. Orang yang membangun tempat ini dari tanah kosong menjadi pusat medis terbesar di kota.

Seseorang yang hari ini datang bukan sebagai pemilik.

Melainkan sebagai pasien yang merasa ada sesuatu yang salah pada tubuhnya sendiri.

“Semua parameter normal,” salah satu dokter akhirnya berkata pelan, seolah meminta kepastian yang sebenarnya sudah ia miliki.

Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya mengetukkan ujung pulpen ke meja sekali, pelan. Sementara dalam pikirannya sudah merangkum beberapa alasan yang akan dikemukakan.

Normal.

Kata yang aman. Kata yang menenangkan.

Dan untuk saat ini, kata yang memang harus tetap dipertahankan. Pikirnya.

“Untuk sementara,” ujar Raka akhirnya, suaranya rendah dan stabil, “kita berpegang pada itu dulu.”

Kedua dokter saling bertukar pandang singkat. Mereka paham maksud kalimat itu---atau setidaknya memilih untuk memahaminya seperti yang diinginkan Raka.

Bukan karena mereka tidak mampu mencari kemungkinan lain.

Tetapi karena sejak awal, Raka yang meminta agar pemeriksaan dilakukan tanpa memperlebar spekulasi. Tanpa diagnosa yang terlalu cepat. Tanpa kesimpulan yang bisa membuat satu nama besar di rumah sakit ini mulai dicurigai sedang tidak baik-baik saja.

"Terima kasih, Dokter."

Raka berdiri, merapikan lengan jasnya.

Pamit dengan sopan, sistem senioritas saja. Karena kalau dari jabatan, Raka orang nomor satu di Adinata Medical Center.

Ia pemimpinnya.

“Raka.”

Sapaan bernada akrab itu menghentikan langkah dokter Raka Pradipta yang baru saja keluar dari ruang spesialis penyakit dalam.

Dia Agam.

Raka menoleh, menatap lelaki seusianya yang berjalan cepat mendekat.

“Mobilmu mogok?” sambutnya datar. “Sagara sudah di atas. Harusnya kau tiba sebelum dia.”

“Ada insiden,” jawab Agam singkat. Tidak ada nada bersalah. Tidak ada penjelasan panjang.

Raka mendengus pelan. “Nenangin tangis Kaluna?”

“Ckk.” Agam berdecak. “Aku nabrak orang di depan rumah sakit.”

Langkah Raka tidak berhenti. Ekspresinya pun tak berubah. Ia berbalik menuju lift eksekutif di ujung koridor.

“Pastikan Sagara percaya dengan alasanmu,” ucapnya ketika pintu lift tertutup dan kabin mulai bergerak naik.

“Aku justru mau minta bantuanmu buat periksa korban itu.”

“Sudah masuk rumah sakit ini, ikuti prosedur,” jawab Raka tanpa menoleh.

Ia dokter penyakit dalam. Sekaligus kepala rumah sakit. Agam malah memintanya memeriksa pasien yang masih di UGD.

Agam mengedikkan bahu. Tentu ia tahu betul itu prosedurnya. Tapi ia tak peduli. Kalau perlu ia akan menyeret sahabatnya itu sebentar lagi untuk memeriksa kondisi korban yang ditabraknya.

“Dia nggak terluka. Tapi pingsan sampai sekarang.”

“Dia Kaluna?” tebak Raka.

Agam menoleh cepat. “Bukan.”

Raka mengangkat alis tipis. “Tumben sepeduli itu.” Setahu Raka, Agam hanya akan peduli pada satu nama perempuan saja. Kaluna.

“Panggilan nurani.” Senyum Agam tipis, tak sepenuhnya main-main.

Raka tak menanggapi lagi.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas Adinata Medical Center.

Mereka melangkah keluar, melewati koridor sunyi menuju ruang kerja Raka.

Suasana mendadak terasa lebih dingin.

Bukan karena pendingin ruangan.

Melainkan karena seseorang sudah berdiri di dalamnya.

Sagara Deva Adinata. adalah tipe lelaki yang tak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain diam. Tubuhnya tinggi dan tegap, terbentuk bukan untuk pamer kekuatan, melainkan seperti seseorang yang sejak lama terbiasa menanggung beban tanpa mengeluh.

Bahunya lebar, langkahnya tenang, selalu terukur--seolah setiap gerakan telah dipertimbangkan lebih dulu.

Wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Garis rahangnya tegas, hidung lurus, dan bibir yang lebih sering berada dalam garis datar daripada senyum.

Banyak yang menyebutnya tampan, sangat tampan katanya, tapi tak banyak yang berani menatapnya lama. Ada sesuatu pada sorot matanya---tajam, dingin, dan terlalu sadar akan keadaan sekitar---membuat orang merasa sedang dinilai tanpa pernah benar-benar dihakimi.

Ia bukan lelaki yang banyak bicara. Dalam rapat, ia hanya berbicara ketika keputusan harus diambil. Kalimatnya pendek, jelas, dan jarang diulang. Di luar itu, ia lebih sering mengamati. Mendengar. Menyimpan.

Hanya segelintir orang yang pernah melihat sisi lain dirinya---biasanya sahabat lama yang tahu bahwa di balik sikap dingin itu, Sagara bukan tak punya perasaan. Ia hanya tidak percaya bahwa perasaan adalah sesuatu yang aman untuk dimiliki. Dokter Raka, dan Agam, adalah lingkar sahabat Sagara.

Sebagai pewaris Adinata Grup, Sagara tumbuh di lingkungan yang mengajarkan satu hal sejak awal: kendali adalah segalanya. Dan ia memegang prinsip itu dengan sempurna---hingga suatu hari tubuhnya sendiri mulai bergerak di luar kendalinya.

Seperti pula kali ini, ia menatap dokter Raka, dan Agam, tanpa kata, tanpa tanya. Tapi sorot matanya itu sudah cukup dipaham apa maksudnya.

Raka meletakkan berkas hasil pemeriksaan di atas meja depan Sagara.

"Sudah."

Sagara tidak melihat, tidak menyentuh, hanya melirik sekilas.

"Langsung." Satu kata ia ucap.

"Hasilnya, sama seperti sebelumnya. Kondisimu normal."

Raka berucap tenang.

"Normal?" Sagara mengulang kata itu, pelan, dingin. Ia menatap Raka sekilas, lalu beralih pada asisten yang sejak tadi berdiri tegak di sampingnya.

"Tinggal bagian apa?" tanyanya.

"Bagian .." asisten itu menjeda ucapannya sejenak, sedikit ragu, sebelum tatapan Sagara mengubur keraguan itu dalam sekejap. "Dokter spesialis Obgyn."

"Kita kesana." Sagara bangkit tanpa ragu.

"Tapi--" Raka hendak mencegah. Tapi ia segera tahu, badai sekalipun tak akan menghalangi langkah Sagara, apalagi hanya satu kata darinya.

Raka bertukar pandang dengan Agam.

Keduanya lalu sama-sama keluar mengikuti.

Langkah Sagara panjang dan cepat di sepanjang koridor menuju lift khusus direksi. Raka dan Agam berjalan beberapa meter di belakangnya.

Agam merendahkan suara.

“Dia se-serius itu?"

Raka tak langsung menjawab. Ia tahan napas sejenak. Kekhawatiran yang sama terlihat di sana. “Semua unit spesialis rumah sakit ini sudah dia datangi,” ucapnya akhirnya. “Jantung. Saraf. Gastro. Endokrin. Bahkan psikiater.”

“Dan?” pertanyaan Agam sangat cepat.

“Semua bilang sama.” Raka menatap lurus ke depan. “Normal. Dia tidak apa-apa."

Agam mengembuskan napas pelan. “Berarti kau yang pegang kendali." Agam hendak tertawa.

“Jangan mulai,” potong Raka datar.

“Exclude dokter Obgyn."

Raka diam beberapa detik. Rahangnya mengeras tipis.

"Bahaya," Agam bergumam kecil.

"Kita harus hentikan."

“memang bisa?" Raka menatap Agam sekilas. “Dia merasa ada yang salah. Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukannya.”

Agam melirik ke arah punggung Sagara yang tetap tegap di depan mereka.

“Dan kalau tetap tidak ada jawaban?”

Raka tersenyum tipis. Bukan senyum hangat.

“Kau tahu sendiri bagaimana dia menghadapi sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.”

"Kalau begitu, kau harus siap-siap kehilangan jabatan, Dokter Raka Pradipta."

Agam masih menanggapi dengan bercanda.

"Jangan konyol. Pikirkan cara!" Raka sedikit menghardik.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!