Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Latihan Menembak II
Barisan itu mulai gaduh, ada yang membela Bintang namun tidak sedikit yang mengejek dan mencemooh kannya, banyak yang berpendapat jika Bintang hanya menumpang dan tidak dianggap kehadirannya oleh Xavier, hanya sekadar figuran.
Sedangkan orang yang menjadi pembicaraan sedang menyiapkan tempat untuk latihan menembak, dan tengah menguji untuk memastikan keamanan sewaktu digunakan.
Setelah semua siap mereka langsung berpindah ketempat latihan khusus untuk menembak, dan memanah.
Xavier memberikan contoh membidik papan target, dan memanah.
Xavier bahkan dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan, hatinya merasa emosi saat mereka mulai mengejek Bintang, tapi sebisa mungkin Xavier mengendalikan dirinya.
Lalu mengambil posisi dengan berdiri disamping untuk menguji para siswa yang ikut latihan.
Lalu, tampak Aurora dan Renata maju untuk ujuk kebolehan, namun mereka yang telah kesal pada Bintang memanggil Bintang untuk ikut bergabung bersama, dengan tujuan untuk mempermalukan Bintang.
Siapa yang tidak tahu kemampuan Aurora dan Renata yang jago dibidang itu, jika Aurora di kehidupannya dahulu mati-matian ikut kursus menembak demi mendekati Xavier Sang pewaris.
Maka l beda dengan Renata, dirinya memang diharuskan karena Dia berasal dari keluarga militer, dan kesamaannya mereka berdua adalah sama-sama membenci Bintang karena menganggap Bintang mencuri perhatian yang seharusnya milik mereka.
"Hai... Apa maksud kalian?!" Teriak Axel emosi sambil menarik Bintang yang bersiap maju.
"Tidak ada, kami hanya ingin mengajari Dia saja," Sahut Renata sinis.
"Kalian tahu jika Bintang belum pernah menyentuh pistol atau senapan, kalian sengaja ingin memprovokasi dan mempermalukan nya kan," Ucap Narendra emosi.
"Sudah... Ayo Bintang biar Kakakmu yang tampan ini yang akan mengajari mu langsung..." Ucap Han sambil menarik tangan Bintang dan menepuk dadanya sombong.
"Hei... Apa maksud Lo... Bintang adek gue, jadi gue yang paling berhak mengajarinya langsung..." Axel melotot dan menarik kembali tangan Bintang untuk berdiri disampingnya.
"Hei... Kalian tahu siapa yang paling ahli, jadi lebih baik little star gue saja yang mengajarinya." Ucap Narendra kalem dan maju dengan gaya arogannya.
"Bintang! Kemari...!" Panggil Xavier sambil melambaikan tangannya memanggil Bintang.
Dirinya sedari tadi sangat geram melihat, Axel, Han dan juga Narendra yang terus menerus berdebat memperebutkan Bintang, dan melihat Bintang yang dikelilingi oleh pria membuatnya ingin menarik paksa Bintang dan membawanya pergi dari sana.
"Hati-hati... Jangan sampai jadi meleset lalu mengenai teman yang lain." Ucap Renata sinis sambil berdiri tegap dengan tangan yang sudah menggenggam pistol.
"Bintang, anggap saja ini ketapel, jangan sampai tanganmu bergetar dan berkeringat itu akan berakibat fatal..." Ucap Aurora mengingatkan dengan tersenyum miring.
Bintang berkeringat, dalam kehidupannya yang dulu, dirinya tidak pernah berurusan dengan senjata api, Dia hanya pandai menggunakan pedang atau sejenisnya.
Tapi kali ini berbeda, sedikit saja kesalahan maka akan berakibat fatal. Dengan tangan yang bergetar Bintang mengangkat pistol setelah memasang kaca mata dan penutup telinga.
Disampingnya, Renata dan Aurora sudah mulai menembakkan peluru dengan percaya diri, sedangkan Bintang yang berada ditengah mereka berdiri dengan tangan yang masih bergetar.
Namun, tak lama kemudian, punggungnya terasa hangat, lalu dari belakang pundaknya ada tangan lain yang melingkari dan membantunya memegang pistol dan mengarahkan nya pada titik yang benar.
"Buka lebar kakimu, angkat sedikit sikunya, tegakkan punggungmu, fokus..." Terdengar suara bariton dibalik telinganya.
'Dia... Dia..