Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Hari ini Nafis bersama Andini dan team berangkat menuju Pati. Seyogyanya sudah dua hari lalu mereka berangkat akan tetapi, Andini mendadak harus menjalani sidang kliennya yang diajukan. Nafis sendiri juga ada pasien yang hendak berkonsultasi dengannya.
Begitu tiba di Pati mereka langsung menuju ke pengadilan agama Pati,. Memasukan gugatan perceraiannya. Baru setelah semua urusannya selesai, mereka menuju butik milik Nafis. Rencana akan istirahat sebentar sebelum kembali ke Semarang nanti.
" Fis kamu masih belum bicara ke orang tuamu?" Nafis mengeleng.
" Kenapa, masih belum berani ?" kali ini Nafis mengangguk.
" Ke Zizah juga belum ?"
" Belum, Akhir bulan ini aku akan kepesantrennya Zizah Din. Kebetulan sudah waktunya penjengukan. Aku yakin SPP nya Zizah pasti belum di bayar mas Hanafi, soalnya kartu ATM yang dia bawa aku blokir."
" Bagus itu jangan mau terus-terusan di manfaatin kamu "
" Padahal ya tampang dia itu lho kayak yang baik banget, nggak taunya monokodo " Nafis hanya mengeleng mendengar ungkapan kekesalan sahabatnya.
" Oya Fis, aku denger dari Agnes kamu sekarang juga buka klinik di Jakarta, gimana perkembangannya ?"
" Alhamdullilah sejak mendampingi salah satu aktor muda waktu itu, jadi makin banyak yang percaya curhat sama aku. Sekarang sudah ada dua psikolog yang bergabung."
" Semoga semakin lancar dan makin bermanfaat buat banyak orang ya "
" Aamiin "
" Wah butik kamu yang di sini besar juga ya ternyata ?" Andini begitu kagum melihat usaha temannya yang begitu berjaya.
" Alhamdulillah Din, ini yang terbesar ketiga dari seluruh butikku yang ada "
" Keren kamu " Nafis hanya menanggapi dengan senyuman.
Begitu masuk keduanya di buat terkejut dengan keberadaan Hanafi di dalam butik.
" Assalamu'alaikum !" Ucap Nafis dan Andini secara bersamaan.
" Wa'alaikum salam bu " jawab karyawan Nafis. Nampaknya Hanafi masih belum menyadari kedatangan Nafis dan Andini.
" Pak Hanafi ngapain kesini mbak ?" Santi menghela nafasnya.
" Katanya mencari tambahan buat seserahan bu "
" Sudah ambil apa saja San ?" Santi nampak tak sampai hati menyampaikan kelakuan Hanafi dan ummi Aminah.
" Katakan saja San ?"
" Waktu itu ummi Aminah mengambil lima buah gamis dan beberapa Jilbab bu. Lalu, dua hari berikutnya tuan Hanafi minta di pesankan selop untuk perempuan yang pakai manik-manik "
" Sudah kamu pesankan ?" Santi mengeleng.
" Hari ini pak Hanafi minta sarung santri couple bu, sama mengambil beberapa tunik "
" Ada ya mau poligami kok nggak modal sama sekali " Ucap Andini.
" Biarkan saja dia mau ambil apa hari ini. Yang kemaren mereka ambil kamu catat kan San ?" Santi mengangguk.
" Pak Hanafi ambil uang butik lagi tidak ?"
" Sempat minta kemaren bu tapi, sesuai intruksi ibu saya bilang kalau sudah kita setor ke butik pusat."
Hanafi nampak gelapan waktu mendapati Nafis duduk santai di sofa yang biasa di gunakan untuk pengunjung istirahat.
" Dek kamu pulang, Alhamdulillah " Seru Hanafi sembari mencoba menutupi ke gugupannya.
" Kamu kemana aja selama ini, mas bingung lho nyariin kamu ?" Hanafi memilih ikut duduk di dekat Nafis lalu menaruh barang yang sudah dia ambil di sebelahnya. Seakan takut, kelihatan Nafis.
" Yang jelas aku menjauh dari hal-hal yang hanya bisa membuatku sakit mas." Hanafi nampak salah tingkah.
" Kamu ada waktu kan dek ?"
" Untuk apa ?"
" Ada yang mas ingin bicarakan dek "
" Masih adakah yang musti kita bicarakan mas ?"
" Ada hal-hal yang harus kita selesaikan dek "
" Apa lagi mas, bukankah semua sudah lama selesai?"
" Dek?"
" Maaf mas, bagiku saat kamu memutuskan untuk meminang wanita lain untuk kamu jadikan istri sekaligus maduku, maka sejak saat itu aku anggap semuanya selesai, termasuk rumah tangga kita "
" Dek... Tidak bisa kah kita tetap berjalan bersama, mas janji kamu tetap akan menjadi prioritas mas. Mas hanya akan ke tempat Ning Fizah saat kamu tidak dirumah saja " Nafis tertawa sumbang.
" Kamu yakin mas, bisa memprioritaskan aku dan anak-anak ?" Hanafi mengangguk mantap.
" Aku kok sangsi mas, selama ini saja kamu tidak fokus ke kami, apa lagi sekarang ada perempuan lain. Yang ada mungkin aku makin tersisih. Lagian apa kamu bisa membagi waktumu antara aku, ummimu dan dia, bukannya selama ini duniamu hanya sebatas ummimu saja ?"
" Sudahlah mas, jangan membebani dirimu dengan kehadiranku. Lepaskan saja aku mas, toh kamu sudah ada yang baru "
" Dek kamu tau kan, mas melakukan ini hanya karena tak mau mengecewakan ummi. Tolonglah pahami posisi mas " Nafis kembali terkekeh.
Sementara Andini hanya memperhatikan saja drama apa yang akan dimainkan pria monokodo satu ini. Tak lupa dia juga diam-diam mendokumentasikan pertemuan ini. Siapa tau bisa menjadi alat bukti di persidangan nanti.
" Kurangkah aku memahamimu selama empat belas tahun ini mas, kurangkah pengertianku selama ini mas ?"
" Seperti yang pernah aku bilang, aku bisa mengalah dalam beberapa Han, tapi tidak untuk hal yang satu ini "
" Adakah kamu libatkan aku saat kamu akan mengambil keputusan ini mas, tidak bukan?"
" Lantas buat apa aku bertahan jika, pendapatku pun sudah tidak di perlukan ?"
" Kan umi sudah ijin waktu itu ?" Ingin rasanya Nafis memukul kepala suaminya dengan apapun agar suaminya sadar.
" Apakah itu bisa dianggap ijin mas, jika ummimu mengatakan dengan atau tanpa persetujuanku kamu akan tetap menikah dengan perempuan pilihan ummimu itu, itu ijin atau memaksakan kehendak mas ?" Hanafi terdiam
" Kamu kesini mau mencari apa mas ?"
" Ummi minta untuk di carikan ini buat melengkapi seserahan " Hanafi menunjukkan barang yang dia ambil.
" Ya Allah Hanafi, daleman buat seserahan aja kamu ambil di butik istri tuamu ?"
" Bisa kamu melakukan itu Hanafi, nggak malu kamu, ya Allah. Waras tidak sih kamu ini sebenarnya ?"
" Kalau mau poligami itu ya setidaknya modal dong. Lha ini kamu, bisa-bisa merampok istri pertama buat menikah dengan istri kedua. Tidak malu kamu Hanafi ?"
" Sudahlah Din, tidak ada gunanya bukan kita membahas itu " Andini mengangguk.
" Mas setelah ini jika ada yang masih mau kamu bicarakan, silahkan temui Andini. Dia pengacara pribadiku kamu tau itu kan ?"
" Oya, biar saja bertemu di pengadilan"
" Dek kamu ?"
" Iya, hari ini aku memasukan pengajuan perceraian ke pengadilan Agama. Aku harap kamu tidak mepersulit proses persidangan nanti. "
" Dek.."
" Apa lagi mas ?"
" Aku tidak mau pisah sama kamu dek"
" Kalau begitu kamu batalkan pernikahanmu sekarang juga mas lalu, ikut aku pindah ke tempat baruku " Nafis sengaja menantang Hanafi, walau dia tidak yakin Hanafi akan memenuhi permintaanya. Misal pun Hanafi benar-benar menurutinya Nafis tetap akan mundur. Dia tidak mau jatuh ke lubang yang sama.
" Tidak bisa dek, bagaimana dengan ummi. Beliau bisa malu dan pasti marah besar sama mas."
" Ogh iya ya mas, bukankan kamu akan melaksanakan Walimah minggu ini ya ?" Hanafi menganguk lemah. Dan itu membuat hatinya Nafis bergemuruh. Memintanya bertahan tetapi, masih tetap mau menikah lagi. Nafis benar-benar muak rasanya.
" Masih kurang apa buat seserahan mas, kemaren ummimu baru ambil gamis saja kan, kebaya buat akadnya sudah ada belum, Mau aku buatkan sekalian mas ?"
" Ambil aja mas yang kamu butuhin. "
" Ini bagus lho mas, pasti cocok buat calon istri baru kamu. Atau mau yang ini ?"
Nafis terlihat melampiaskan amarahnya. Dia berjalan kesan kemari, mengambil apa saja yang sekiranya cocok untuk seserahan istri barunya Hanafi. Andini dan karyawan Nafis hanya menatap iba kearah Nafis. Beruntung karyawan Nafis berinisiatif menutup toko tadi.
Tak tahan melihat sahabatnya, Andini lekas mendekat lalu manahan tangan Nafis.
" Fis sudah..."
" Ini masih belum cukup Din, masih kurang banyak "
" NAFISHA RETNO KINANTHI...CUKUP...!" Teriak Andini. Sekita tubuh Nafis luruh ke lantai.
" Hanafi tolong, dengan tidak mengurangi rasa hormat, keluar dari sini sekarang ?" Ucap Andini sembari memeluk sahabatnya.
" Tapi.."
" Keluar secara terhormat atau aku seret kamu keluar biar semau orang melihat kegilaan kamu." Andini sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Hanafi pun mengalah, dia bergegas keluar. Dia bahkan tidak lupa membawa barang yang sudah dia ambil tadi. Andini hanya mengeleng tak percaya.
" Mbak tolong ambilkan minum " Karyawan Nafis menganguk.
" Sudah ya Fis, jangan begini, ini hanya akan menyakiti diri kamu sendiri ?"
" Kenapa aku begitu bodoh Din. Kenapa aku bisa mempercayakan hidupku pada pria segila itu Din?" Andini hanya mampu memeluk sahabatnya.
Beberapa karyawan Nafis bahkan ikut menangis melihat apa yang harus di alami atasannya. Tak menyangka orang sebaik Nafis harus mengalami hal seburuk ini.
semoga kluarga istri ke 2 dan kluarga suami zalim dpt karma.
kl ortu istri ke 2 punya harga diri hrse cerai kan anak nya bukan mlh laki orang Mau di bawa pulang. alasan ae buat di didik. aslinya ya biar menang istri 2 dpt hanafi sepenuhnya tanpa berbagi. pasti alasan hamil di pake buat itu. istri ke 2 pling jg gk Mau ngalah merasa menang krn istri pertama mundur.. semoga dpt karma orang ngerti agama tp pada bejat.
nunggu karma nya, semoga anak Dr istri ke 2 gk lahir normal kasian anak Dr istri pertama dpt saudara tiri Dr Pelakor.
ya Pelakor Mau se sholehah apa pun wanita kl sdh merusak rumah tangga orang lain ttp Pelakor Dan ortu perempuan ttp mendukung 🤣🤣 Gila sih label kyai sekarang serem serem dng dalil agama.
hrse cerai semua, istri ke 2 tau diri nglepas hanafi bukan me lanjut kan pernikhan. mang dasarnya istri ke 2 doyan saja.
kl takut melukai ya hrse pisah.
hanafi me lanjut kan dakwah eh siapa yg Mau denger dakwah laki model bgitu. yg di omongin pasti poligami tok🤣. ustad cabul.