"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebat
"Icha, kamu ingin menikah?!"
Suara melengking dari ponselnya membuat Icha menjauhkan ponsel itu dari tangannya. Ia memejamkan mata mendengar suara mamanya yang nyaring.
"Mama, jangan cecar aku dari ponsel seperti ini." Icha memperingatkan mamanya yang bernama Arum.
"Bagaimana mama bisa sabar jika menerima kabar seperti ini?!" Kembali suara Arum terdengar.
"Aku tahu mama dan papa pasti terkejut. Kak Rayyan juga pastinya terkejut dengan berita ini. Tapi aku juga tidak tahu harus menjelaskan seperti apa mama." Icha merasa lelas seketika
"Berita ini membuat tekanan darah papamu naik. Ia ingin bertemu denganmu sekarang!" Arum kembali berseru.
Masih sangat terkejut dengan berita ini. Alex dan Queen langsung terbang ke Semarang untuk menyampaikan niat mereka soal pernikahan Arnold dan juga Icha. Rayhan sebagai papa Icha bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Namun Alex dan Queen, yang merasakan hal yang sama. Tidak bisa menunda berita baik ini lagi. Arum dan juga Rayhan akhirnya tidak bisa menolak lagi. Mereka memberikan keputusan pada Icha sebagai orang yang menjalankan.
"Mama. Aku tidak bisa pulang ke sana sekarang. Pekerjaanku sangat banyak, dan tidak bisa di tinggalkan." Icha memberikan alasan.
Sayangnya itu bukan alasan sebenarnya. Icha hanya malas mendapat pertanyaan berupa interogasi dari orang tua dan kakaknya. Ia menghela nafas dengan cukup berat. Merutuki Arnold yang membuatnya berada dalam posisi sulit sekarang.
Sedangkan lelaki itu?
Ia malah bisa bekerja dengan santai. Menyerahkan semua urusan kepada orang tuanya. Ini semakin membuat kepala Icha terasa pusing.
"Kamu tidak perlu kemari! Kami akan berangkat siang ini ke Jakarta. Dan kami ingin bertemu denganmu malam ini juga lady. Jadi luangkan waktumu." Arum memperingatkan sang putri agar bertemu dengan mereka.
"Baiklah mama." Icha menjawab dengan suara kalah.
Tahu jika tidak akan bisa menang berdebat dengan mamanya. Ia hanya perlu menahan beberapa ceramah dari mereka, seperti biasa bukan?
Usai berbincang dengan mamanya, Icha segera bersiap ke rumah sakit. Bekerja seperti biasa. Ia akan semakin pusing jika harus memikirkan ini lebih lama lagi. Lebih baik ia pergi bekerja.
Oma Jasmine juga masih di rawat di rumah sakit. Ia akan singgah di kamar oma mereka, sebelum keliling dan mengunjungi para pasiennya.
Icha bergerak cepat di apartementnya. Setelah memastikan ponsel dan dompetnya berada dalam tas, ia bergegas keluar dari apartemen menuju basement. Dimana mobilnya berada.
Ponselnya berulang kali berbunyi, ia melirik ponsel itu dan melihat nama si pemanggil. Mengabaikan panggilan itu saat melihat nama Arnold tertera di sana. Ia sudah cukup di pusingkan oleh ide gila sepupunya itu. Dan sekarang ia malas untuk berbicara dengan lelaki itu.
Biarkan saja Arnold kesal karena di abaikan. Itu pantas untuknya yang menyeret Icha ke dalam masalah ini. Toh, jika memang ada yang perlu di bicarakan. Lelaki itu akan mendatanginya bukan?
pemikiran itu membuat Icha merasa lebih tenang. Ia menambah laju mobilnya menuju rumah sakit Cahyadi. Dimana ia bekerja selama setahun ini.
"Selamat pagi dokter." Sapaan di terima Icha disetiap langkah menuju ke ruangannya.
'Selamat pagi." Icha menjawab dengan sopan dan melanjutkan langkahnya.
Pagi ini ia memiliki jadwal keliling sebelum memeriksa beberapa pasien untuk siang.
'Klek!'
Membuka pintu ruangannya, ia berjalan dan meletakkan tasnya di atas meja. Mengambil ponsel dan memeriksa panggilan tak terjawab dari Arnold. 15 kali. Ia menghela nafas melihat itu.
Icha sangat malas untuk mengirim pesan pada lelaki itu. Ia tidak ingin merusak moodnya pagi ini dengan menghubungi Arnold.
"Wah Icha. Ternyata setelah melihat panggilan dariku sekalipun. Kamu tidak mau menghubungi balik?' Arnold keluar dari ruangan tidur Icha.
"Aaaaa."
Icha terlonjak mendengar suara itu tiba - tiba. Tangannya terkepal di dada dan seketika ia berbalik ke belakang tubuhnya. Ia melotot melihat keberadaan lelaki itu di ruangannya.
Rasa terkejut tadi langsung berganti emosi yang naik ke permukaan. Tangannya turun dari dada dan menatap Arnold tajam.
"Apa yang kamu lakukan di ruanganku?!" Icha berseru kuat.
"Ah! Aku tidur di sini sejak jam 3 tadi pagi." Arnold menjawab santai.
"Jangan bilang kak Ar memanfaat kak El untuk memasuki ruanganku!" Tembak Icha langsung.
"Yah, itu gunanya memiliki orang di sekitar kita bukan?" Arnold malah berkata dengan santai.
'Ya Tuhan!"
Icha memejamkan mata karena Arnold. Kenapa ia harus bertemu lelaki ini sepagi ini? Dan yang lebih kesal saat lelaki ini malah bersikap terlalu santai, seolah ini adalah ruangan pribadinya.
"Meskipun kak Ar berjaga di ruangan oma Jasmine semalaman ini bersama kak El dan kak Vina. Tapi bukan berarti harus tidur di ruanganku!" Icha tidak menahan kekesalannya lagi.
"Ruangan oma ada di ruangan VVIP. Lantai yang memiliki banyak ruangan kosong. Dan kak Ar bisa memilih salah satu kamar di sana untukmu!." Icha kembali menyemburkan lahar amarahnya.
"Atau kalau tidak di ruangan kak El kan bisa! Mereka pasti tidak masalah jika meminjamkan kamar pribadi mereka padamu!" Icha juga menambahkan. Mengingat Rafael adalah direktur rumah sakit ini. Dan ia memiliki kamar pribadi di sana.
"Ada 2 masalahnya Icha." Arnold menjawab santai. Mengangkat sebelah alisnya melihat emosi Icha yang meledak - ledak pagi ini.
"Aku tidak suka tidur di ranjang pasien. Karena itu membuatku merasa aku sedang sakit. Juga aku tidak mau tidur di kamar pribadi El dan Vina. Damn! Bagaimana mungkin aku tidur di tempat mereka, yang bisa saja menjadi tempat mereka memadu kasih. Itu menggelikan!" Arnold menjelaskan dengan santai.
"Jadi di ranjang yang ada di ruanganku aman begitu?" Icha semakin kesal mendengar alasan itu.
" Tentu saja. Tanpa takut terkontaminasi hal negatif." Arnold mengangguk puas.
Mereka semua jelas tahu, jika Icha tidak memiliki kekasih. Jadi hanya ranjang Icha menurut Arnold yang aman untuk ia tempati.
"Tapi kak Ar tidak tahu bukan? Jika aku bisa aja memiliki affair dengan salah satu dokter atau perawat lelaki di rumah sakit ini. Dan bisa saja kami melakukan kegiatan panas di ranjangku?" Icha menyeringai dan seketika puas melihat tatapan tajam Arnold.
"Oke. Aku akan meretas CCTV ruangan ini. Dan memerintahkan El untuk mencari tahu siapa bajingan itu." Seketika raut wajah Arnold mengeras oleh ucapan Icha.
"Devan akan menghubungi Rayyan untuk menceritakan ini. Dan kami berempat akan mengebiri lelaki itu karena berani bermain - bermain dengan keluarga besar kita." Arnold menegaskan.
Icha terperangah melihat emosi Arnold. Ia hanya bercanda. Tapi lelaki ini menanggapinya dengan serius?
Ia sesaat lupa, jika para lelaki di keluarga besarnya adalah kumpulan lelaki posesif dan menyebalkan.
Dan sekarang ia kena sial perkataannya sendiri.
........................................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik