"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syuting Shibuya dan Skandal "Kucing Hilang" di Lautan Manusia
Pagi itu, Tokyo masih diselimuti kabut tipis saat rombongan "Pasukan Tapir" tiba di persimpangan Shibuya yang terkenal sebagai penyeberangan paling ramai di dunia.
Bagas berdiri di pojok jalan dengan perasaan was-was, sementara di sekelilingnya, puluhan kru film Jepang sibuk mengatur lampu, kamera raksasa, dan layar LED yang bakal menampilkan wajah Supra secara live.
"Bagas-san," panggil Mr. Tanaka yang hari ini memakai jaket khusus kru.
"Mohon pastikan Supra-san tetap tenang. Di sini sangat ramai, kami tidak ingin dia mengalami stres kultural."
"Tenang, Tanaka-san," jawab Bagas sambil mencoba membungkuk sesopan mungkin (kali ini batiknya sudah diganti dengan kaos bertuliskan 'I Love Tokyo-Bekasi').
"Supra ini kucing mental baja. Dia sudah biasa menghadapi suara knalpot racing di depan rumah, jadi keramaian Shibuya ini cuma kayak suara kipas angin buat dia."
Dira berdiri di samping Bagas, memegang tas berisi perlengkapan darurat: tisu basah, sikat bulu, dan cadangan ikan pindang yang sudah dibungkus kedap udara.
"Pir, gue denger kalau Supra sukses di syuting ini, dia bakal dikontrak buat film layar lebar di sini. Jaga dia baik-baik!"
Jaka dan Manda bertugas menjadi pagar betis tidak resmi. Jaka sibuk membagikan brosur (yang sebenarnya kartu namanya sendiri) kepada pejalan kaki Jepang yang lewat, sementara Manda sibuk menaruh batu giok di bawah kaki kamera agar frekuensi gambarnya jernih.
"Oke, Action!" teriak sutradara.
Skenarionya sederhana: Supra harus berjalan pincang dengan sangat elegan menyeberangi zebra cross Shibuya di tengah ribuan orang, kemudian berhenti di tengah-tengah, menatap kamera dengan tatapan sinisnya yang paling maut, sementara layar LED raksasa di atas gedung menampilkan tulisan: "Bahkan Kucing Paling Sinis pun Suka Pasir Nekonami".
Supra diturunkan dari gendongan Bagas. Begitu kakinya menyentuh aspal Tokyo yang sangat mulus, Supra sempat tertegun. Melihat ribuan kaki manusia yang bergerak serempak saat lampu hijau menyala. Dengan penuh wibawa, Supra mulai melangkah. Tap ... tap ... pincang ... tap.
"Liat tuh, Ndoro! Aktingnya dapet banget! Mukanya bener-bener kayak Shogun yang lagi mikirin utang negara!" bisik Bagas bangga.
Namun, di tengah-tengah penyeberangan, sebuah bencana kecil terjadi. Seekor burung dara Tokyo yang sangat gemuk tiba-tiba mendarat tepat di depan hidung Supra. Jiwa pemburu Supra yang selama ini terpendam di balik daster Bagas mendadak bangkit.
"MEOOOONG!"
Supra melompat! Bukan ke arah kamera, tapi mengejar burung dara itu masuk ke dalam kerumunan ribuan orang yang sedang menyeberang.
"SUPRAAAA! BALIK LO!" teriak Bagas panik.
"Supra-san! Dame desu! (Jangan!)" teriak Mr. Tanaka ikut panik.
Dalam hitungan detik, sosok kucing oranye berpita merah itu menghilang di antara ribuan kaki manusia berbaju hitam dan abu-abu. Kamera kehilangan fokus, sutradara menjerit histeris, dan kru Jepang mulai berlarian ke segala arah.
"Ndoro! Supra ilang di lautan Jepang!" Bagas langsung lari menerobos kerumunan tanpa mempedulikan teriakan satpam.
"Jaka! Manda! Bantu cari!" teriak Dira yang sudah mau menangis.
Selama lima belas menit, persimpangan Shibuya berubah jadi ajang pencarian kucing paling heboh sepanjang sejarah. Bagas merangkak di antara kaki-kaki orang Jepang sambil berteriak, "SUPRA! PINDANG! PINDANG!"
Jaka mencoba bertanya pada orang-orang sekitar dengan bahasa Jepang hasil belajar dari aplikasi: "Anata wa ... kucing oranye ... pincang ... mite desu ka? (Apakah Anda melihat kucing oranye pincang?)"
Orang-orang Jepang hanya membungkuk bingung, mengira Jaka sedang melakukan performance art aneh.
Manda tiba-tiba berdiri di tengah jalan, menutup matanya, dan mengangkat tangannya ke atas.
"Gue ngerasa energinya! Dia nggak jauh! Dia ada di tempat yang aromanya ... sangat familiar!"
"Aroma apa, Man?!" tanya Dira terengah-engah.
"Aroma ... TERASI!"
Semua mata tertuju pada sebuah gedung di seberang jalan. Di depannya, terlihat kerumunan orang Jepang yang sedang mengantre panjang di sebuah kedai pop-up kecil. Di papan namanya tertulis: "RATNA-SAMA SAMBAL & RICE BOWL".
Rombongan Bagas langsung berlari ke sana. Benar saja, di atas meja kasir kedai milik Mama Ratna, Supra sedang duduk dengan sangat tenang sambil menikmati potongan ayam goreng yang sudah dilumuri sambal (yang untungnya level nol). Di sekelilingnya, belasan remaja Jepang berteriak-teriak, "Kawaii! Kawaii!" sambil memotret Supra.
Mama Ratna sedang sibuk melayani pelanggan dengan gaya ala MasterChef. "Iya, silakan! Ini sambal terasi asli Bekasi, bikin lidah kamu joget! Oh, ini Supra? Iya, dia asisten saya bagian pencicip rasa!"
Bagas lemas di depan meja kasir. "Ma ... Supra dicariin satu negara Jepang, ternyata dia di sini lagi mukbang?"
Mama Ratna melirik Bagas. "Loh, tadi dia dateng sendiri kok. Kayaknya dia laper liat kalian syuting terus nggak dikasih makan. Sini, Bagas-san, bantuin Mama bungkusin nasi!"
Mr. Tanaka dan kru film akhirnya sampai di kedai Mama Ratna. Mereka terengah-engah, tapi begitu melihat kerumunan orang Jepang yang mengerubungi Supra dan kedai Mama Ratna, mata Mr. Tanaka langsung berbinar-binar.
"Ini ... ini luar biasa!" seru Mr. Tanaka. "Kita tidak perlu syuting ulang di jalan! Ini jauh lebih organik! Kucing internasional yang makan sambal tradisional! Ini adalah kampanye iklan yang akan mengguncang pasar global!"
Sutradara langsung memerintahkan kru untuk memasang lampu di kedai Mama Ratna. "Cepat! Ambil gambar Supra-san yang lagi menjilati jari Ibu Ratna! Ini adalah momen emosional yang sangat Sugoiii!"
Syuting yang tadinya kacau balau berubah menjadi sesi foto produk yang sangat sukses.
Mama Ratna mendadak jadi bintang iklan pendamping, sementara Bagas hanya bisa gigit jari karena perannya sebagai manajer digantikan oleh ulekan Mamanya.
Malamnya, mereka kembali ke hotel dengan perasaan campur aduk. Supra sudah kenyang dan tidur pulas, sementara Bagas duduk di balkon sambil menatap lampu-lampu Tokyo.
"Ndoro," panggil Bagas.
"Ya, Pir?"
"Gue baru sadar. Di manapun kita berada, mau di Singapura, mau di Jepang, pusat semesta kita itu tetep aja ujung-ujungnya ke sambal terasi Mama."
Dira tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Bagas. "Seenggaknya syutingnya lancar, Pir. Dan liat tuh di berita."
Dira menunjukkan layar HP-nya. Tagar #SupraSambal menduduki peringkat satu trending topic di Tokyo. Bahkan ada akun fansbase baru bernama "Supra-kun Protection Society".
"Gila," gumam Bagas. "Besok-besok kalau kita jalan-jalan, gue harus pake masker, Ndoro. Takutnya gue dikejar fans Supra yang mau minta tanda tangan tapak kaki dia."
Tiba-tiba, Jaka masuk ke kamar dengan terburu-buru. "Gas! Dira! Ada pengumuman dari Nekonami!"
"Apa lagi? Supra mau dicalonkan jadi Walikota Shibuya?" canda Bagas.
"Bukan! Besok kita diundang ke istana seorang kolektor kucing terkaya di Jepang, Yakuza-san... eh maksud gue, Mr. Yamamoto. Dia mau beli patung Jago Perunggu lo dengan harga yang bisa bikin kita beli pulau pribadi!"
Bagas berdiri tegak. "APA?! JAGO MAU DIBELI LAGI?! Tapi Jago-nya kan ada di Jakarta!"
"Itu dia masalahnya, Gas!" seru Jaka. "Dia mau lo bikin replikanya secara live di taman rumahnya besok pagi, tapi bahan semennya harus dicampur dengan pasir dari Gunung Fuji!"
Bagas menatap Dira dengan tatapan horor. "Ndoro ... gue nggak tau gimana caranya bikin patung pake pasir Gunung Fuji. Itu pasir suci atau pasir bangunan?!"
Invasi di Jepang semakin liar! Supra jadi ikon sambal, Mama Ratna jadi idola baru, dan sekarang Bagas harus menjadi kontraktor dadakan di rumah miliarder Jepang. Tapi tantangan terbesarnya adalah: Mama Ratna bersikeras mau ikut ke rumah Mr. Yamamoto untuk membawakan oleh-oleh berupa petai mentah.