Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran yang Berbeda
Latihan sore yang melelahkan itu akhirnya usai. Pancaran cahaya jingga di ujung barat mengiringi langkah para pemain yang bergegas meninggalkan lapangan. Di parkiran, Vilov tampak sudah bersiap dengan motornya. Ia meraih jaket berwarna putih yang kontras dengan kulitnya, memakainya dengan gerakan yang mantap, lalu mengenakan helmnya dengan santai.
Pemandangan itu tak luput mengundang perhatian tim - timnya. "Anak motor, breee!" teriak salah satu pemain senior sambil tertawa, menggoda gaya Vilov yang tampak sangat percaya diri sore itu.
Vilov yang sudah berada di atas motornya hanya tertawa di balik kaca helm. "Yoi, brother! Hahaha," jawab Vilov dengan muka yang cool, namun tetap memperlihatkan keramahannya yang khas.
Di sudut lain, Tika dan Tije yang sedang merapikan tas mereka hanya bisa melirik ke arah sahabatnya itu. Mereka sudah sangat hafal dengan tingkah Vilov yang terkadang narsis namun selalu berhasil mencairkan suasana.
"Gue kadang nggak habis pikir ya, Tije. Dari sekian banyaknya manusia di muka bumi ini, kenapa kita memilih dia untuk menjadi temen kita?" ucap Tika sambil menggeleng-gelengkan kepala, meskipun ada nada sayang dalam suaranya yang mengejek.
Tije tertawa renyah sambil mengikat tali sepatunya. "Gue juga nggak ngerti, Tika. Hahaha! Tapi nggak apa-apa lah, dunia bakal sepi kalau nggak ada dia. Biarkan saja dia jadi manusia unik satu-satunya yang kita punya," sahut Tije dengan nada pasrahnya.
Mendengar percakapan kedua sahabatnya, Vilov tidak tinggal diam. Ia menjulurkan lidahnya ke arah mereka dengan gaya kekanak-kanakan yang mengundang tawa lebih keras. "Nggak usah gitu, kalian pasti seneng banget kan punya temen kek gue? Ngaku aja deh!" ucap Vilov dengan penuh percaya diri.
Candaan spontan itu ternyata tak hanya menghibur Tika dan Tije. Di barisan lain, Adinda diam-diam memperhatikan. Ada senyum tipis yang terlihat di bibirnya saat melihat bagaimana Vilov berinteraksi. Adinda merasa tertarik dan suka melihat gaya serta sahutan Vilov yang selalu terlihat happy dan apa adanya, seolah beban pikiran yang tadi mereka bicarakan telah menguap begitu saja.
Setelah sesi candaan singkat itu berakhir, Vilov pun pamit kepada semua pemain. Ia melambaikan tangan, tak terkecuali ke arah Putra. Putra sendiri sejak tadi sebenarnya diam-diam memperhatikan. Ada sorot mata yang sulit diartikan dari arah Putra saat melihat Vilov yang tampak jauh lebih santai dan tenang, seolah apa yang dilakukan Putra sebelumnya—pengabaian dan perubahan sikap itu—sama sekali tidak lagi berpengaruh pada mental Vilov.
Perjalanan pulang ditempuh Vilov dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Beberapa jam kemudian, deru mesin motornya berhenti tepat di depan rumah. Vilov menaruh motornya di garasi dengan rapi, melepas jaket putihnya yang mulai berdebu, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Mah," ucap Vilov saat melewati pintu depan.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, sudah balik. Ya udah, mandi dulu sana, biar badannya segar lagi," jawab mama Vilov dari arah dapur dengan nada lembut yang selalu menenangkan.
Vilov mengangguk patuh. Ia segera menuruti permintaan mamanya untuk membersihkan diri. Guyuran air dingin terasa begitu menyegarkan, melunturkan semua keringat dan sisa-sisa kegelisahan yang sempat bersarang di kepalanya.
Setelah semua urusan selesai, Vilov merebahkan badannya di atas kasur empuk di kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang sangat lega. Ia sendiri sempat heran, entah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Namun, sepertinya hati Vilov benar-benar merasa tenang karena kejujuran dan ungkapan dari Adinda tadi di lapangan. Ternyata, kebenaran memang selalu memiliki cara untuk menyembuhkan luka.
Saat badannya mulai merasa benar-benar rileks dan matanya hampir terpejam untuk beristirahat sejenak, tiba-tiba ponsel yang ia letakkan di samping bantal berdering.
Ttrriinng...
Bunyi notifikasi itu memecah keheningan kamar. Vilov mengulurkan tangan, menyalakan layar ponselnya yang terang, lalu mengerutkan kening saat melihat isi pesan dari sebuah nomor yang tidak ia kenal.
"Hallo," bunyi isi pesan singkat tersebut.
Vilov sempat terdiam sebentar, berpikir siapa yang menghubunginya di jam segini. Dengan rasa penasaran, ia mengetik balasan. "Siapa?" jawab Vilov singkat dan padat.
Tak butuh waktu lama, ponselnya kembali bergetar. Sebuah jawaban muncul di layar yang membuat jantung Vilov berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Aku Adinda, Vilov. Save ya. Aku ambil nomor kamu dari grup tim," balas Adinda di seberang sana.
Melihat nama itu, Ia segera menyimpan nomor tersebut dengan nama Adinda. Sejak saat itu, jari-jemarinya mulai lincah mengetik di atas layar. Mereka pun mulai saling balas pesan satu sama lain, membicarakan hal-hal kecil yang tadi tidak sempat terucap di lapangan. Vilov terdiam sejenak setelah menyimpan nomor Adinda di daftar kontaknya. Ia menatap layar ponsel di kegelapan kamar, memperhatikan foto Profil Adinda yang tampak tersenyum manis. Ada sebuah perasaan yang sulit ia definisikan; namun juga rasa penasaran yang mulai tumbuh.
"Gua rasa nih cewek baik juga sih," ucap Vilov pelan di dalam hatinya, mengakui bahwa prasangka buruknya selama ini ternyata meleset jauh. Adinda bukan hanya teman tim yang hebat di lapangan, tetapi juga seseorang yang memiliki keberanian untuk meluruskan keadaan.
Lalu, jemari Vilov mulai bergerak lincah di atas layar ponselnya. Ada satu hal yang masih mengganjal di benaknya, sebuah rasa ingin tahu tentang sejauh mana pria yang dulu pernah dekat dengannya itu melangkah.
"Lu masih chat sama Putra?" tanya Vilov, mengirim pesan itu dengan sedikit keraguan. Ia tidak ingin terlihat cemburu, namun ia merasa perlu tahu situasinya agar tidak ada lagi kejutan yang menyakitkan di kemudian hari.
Hanya butuh beberapa detik sampai status online muncul di bawah nama Adinda, diikuti tulisan typing... yang membuat Vilov tanpa sadar menahan napas.
"Iya, dia masih chattin aku terus dari tadi," balas Adinda. Jawaban itu jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Vilov menghela napas panjang. Ia teringat bagaimana dulu ponselnya juga selalu bergetar karena pesan dari Putra, yang kini justru terasa seperti memori asing. Ia tidak ingin Adinda masuk ke dalam lubang yang sama, di mana perhatian diberikan secara berlebih lalu ditarik begitu saja tanpa alasan.
"Lu hati-hati aja ya sama dia," ketik Vilov sebagai bentuk peringatan tulus. Ia tidak bermaksud menghasut, ia hanya ingin Adinda waspada terhadap pola perilaku Putra yang tidak konsisten.
Layar ponsel kembali menyala. "Tapi jujur, aku masih nggak enak banget sama kamu, tau Vil," balas Adinda lagi, lengkap dengan emoji wajah sedih. Adinda sepertinya merasa menjadi penyebab renggangnya hubungan Vilov dan Putra, meskipun secara teknis ia hanyalah orang ketiga yang tidak tahu apa-apa.
Vilov tersenyum tipis membaca pesan itu. Ia menghargai perasaan Adinda, namun ia sudah membulatkan tekad untuk tidak terjebak dalam masa lalu. Baginya, harga dirinya jauh lebih penting daripada terus-menerus meratapi sikap seseorang yang tidak menghargainya.
"Santai aja, gua mah aman," balas Vilov dengan singkat dan padat, mencoba menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang tangguh.
Namun, di balik balasan singkat itu, ada percikan baru yang mulai menyala. Percakapan mereka tidak berhenti di situ. Keduanya justru semakin asyik membahas hal-hal di luar urusan Putra—mulai dari strategi permainan hockey untuk pertandingan mendatang, hingga hobi masing-masing yang ternyata memiliki banyak kemiripan.
Vilov yang tadinya ingin langsung tidur, justru terjaga hingga larut malam. Ia menyadari bahwa terkadang, kehilangan seseorang yang salah adalah cara semesta untuk mengenalkan kita pada orang yang jauh lebih baik .