Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 PAGI YANG CANGGUNG.
Khay mengangguk. “Kelihatan.”
Revan meliriknya. “Hei.”
Khay tertawa kecil, cepat-cepat menutup mulutnya dengan selimut. “Maaf, maaf.”
Hening kembali. Kali ini terasa lebih ringan.
Beberapa saat kemudian, Khay bergerak sedikit, merapikan posisinya. Selimutnya kembali diremas tanpa sadar.
“Khay,” ucap Revan pelan.
“Iya?” jawab Khay cepat, refleks.
“Kamu dingin?”
Khay menggeleng. “Tidak. Aku hanya… tegang.”
Revan mengangguk pelan. “Kalau begitu, rileks saja. Anggap aku… teman.”
Khay terdiam. “Teman?”
“Teman yang kebetulan sah,” lanjut Revan tenang.
Khay tertawa kecil. “Definisi yang aneh.”
“Tapi jujur,” balas Revan.
Khay mengangguk pelan. “Iya.” Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri. Lalu, tanpa sadar, ia berkata, “Mas Revan tidak menakutkan.”
Revan menoleh. “Kamu pikir aku menakutkan?”
“Kesan pertama,” jawab Khay polos. “Wajah dingin, jarang bicara, datang ke rumahku pakai aura bos besar.”
Revan menghela napas kecil. “Maaf.”
“Tidak, tidak,” Khay cepat-cepat membela. “Sekarang aku tahu… kamu orang baik.”
Revan terdiam sejenak. “Terima kasih.”
Khay tersenyum, lalu tiba-tiba menyadari sesuatu. “Mas Revan?”
“Ya?”
“Kamu… sering tidur di kamar orang lain?”
Revan mengernyit. “Tidak.”
“Oh,” jawab Khay cepat. “Syukurlah.”
“Kenapa?”
“Kalau kamu sudah terbiasa, berarti aku yang terlalu lebay,” jawab Khay jujur.
Revan terkekeh kecil. “Kamu tidak lebay.”
“Bohong,” balas Khay pelan.
Revan tidak membantah. Malam semakin sunyi. Suara napas mereka mulai selaras. Ketegangan di tubuh Khay perlahan berkurang, meski tangannya masih sesekali meremas selimut.
Revan memperhatikan itu. Dengan suara rendah, ia berkata, “Khay.”
“Iya…”
“Kamu aman.”
Dua kata itu sederhana. Namun entah kenapa, dada Khay terasa hangat mendengarnya.
“Aku tahu,” jawabnya lirih. “Terima kasih… sudah tidak memaksaku.”
Revan menatap langit-langit. “Aku ingin kamu merasa nyaman. Itu saja.”
Khay menoleh sedikit ke arahnya. “Mas Revan…”
“Ya?”
“Kalau suatu hari nanti aku siap… aku yang akan bilang.”
Revan terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Aku akan menunggu.”
Khay tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya malam itu, ia mengendurkan genggaman tangannya pada selimut. Tubuhnya terasa lebih ringan.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Hingga akhirnya
“Mas Revan?” suara Khay terdengar mengantuk.
“Hmm?”
“Kalau aku tiba-tiba ngompol karena gugup, jangan ceritakan ke siapa pun.”
Revan refleks menoleh, lalu untuk pertama kalinya tertawa pelan. “Aku janji.”
“Terima kasih,” gumam Khay, lalu tertidur.
Revan menatap wajah istrinya yang kini terlelap. Wajah polos, tenang, tanpa beban. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi, memastikan Khay tetap hangat.
Malam itu, tidak ada sentuhan berlebihan. Tidak ada tuntutan. Hanya dua orang asing yang mulai belajar berbagi ruang… dan kepercayaan. Dan bagi Revan, itu lebih berarti dari apa pun.
PAGI HARI.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, jatuh tepat di wajah Revan. Ia mengerjap pelan, lalu membuka mata sepenuhnya. Beberapa detik pertama, pikirannya masih kosong hingga rasa nyeri samar menjalar dari lengannya.
Revan menarik napas pelan. Lengannya terasa pegal. Bukan pegal biasa, melainkan pegal yang khas, seperti tertindih sesuatu cukup lama. Ia mencoba menggerakkan bahunya sedikit… dan baru saat itulah ia menyadari penyebabnya.
Khay.
Khay tidur nyenyak di lengan kirinya.
Kepala Khay bersandar pas di lengannya, rambut hitamnya terurai berantakan di dada Revan. Kedua tangan Khay memeluk tubuh Revan erat, alami, seperti anak kecil yang memeluk bantal kesayangannya.
Wajah Khay terlihat damai, bibirnya sedikit mengerucut, napasnya teratur. Revan terdiam.
Selama beberapa detik, ia hanya menatap wajah istrinya itu. Tidak bergerak. Tidak berani.
"Jadi… begini rasanya, batinnya."
Lengannya semakin terasa kesemutan, tapi Revan tidak langsung menariknya. Ia justru menyesuaikan napasnya, berusaha setenang mungkin agar tidak membangunkan Khay.
Sudut bibirnya terangkat tipis senyum kecil yang nyaris tak terlihat. Katanya canggung, pikirnya.
"Tapi tidurnya begini."
Pegal yang mulai menjalar sampai ke bahu. Revan bukan pria yang mudah mengeluh. Dibandingkan tekanan pekerjaan, rasa sakit seperti ini seharusnya tidak berarti apa-apa.
Namun pagi itu… rasanya berbeda.
Ada kehangatan yang tidak biasa. Bukan hanya dari tubuh Khay yang menempel padanya, tapi dari perasaan aneh yang menyelinap pelan ke dadanya.
Revan menoleh lagi ke arah Khay.
Tanpa sadar, tangannya sedikit menegang ingin merapikan rambut Khay yang menutupi wajahnya. Tapi ia menahan diri.
Jangan, katanya pada dirinya sendiri. Saat itulah Khay bergerak kecil.
Alis Revan langsung menegang. Refleks, ia memejamkan mata kembali dan mengatur napasnya, berpura-pura masih terlelap.
Khay mengerjap pelan. Kesadarannya datang perlahan. Hangat. Nyaman. Terlalu nyaman.
"Eh… hangat?"
Khay membuka mata sedikit lebih lebar. Yang pertama ia sadari adalah sesuatu yang keras dan hangat di bawah pipinya. Bukan bantal. Terlalu kokoh untuk disebut bantal.
Lalu… bau.
Bau yang asing tapi tidak mengganggu. Bersih. wangi Maskulin.
Detik berikutnya, otaknya bekerja penuh.
…ASTAGA.
Khay langsung membeku.
Perlahan sangat perlahan ia menyadari posisinya. Kepalanya di lengan Revan. Kedua tangannya memeluk tubuh Revan. Bahkan satu kakinya tampak menyilang ke arah Revan tanpa sadar.
MATI AKU.
Dalam hati, Khay menjerit. "Bisa-bisanya aku tidur begini?!"
Wajah Khay terasa panas. Jantungnya berdetak cepat. Ia tidak berani bergerak, takut gerakan kecil saja akan membangunkan Revan.
Ia melirik wajah Revan dari jarak sedekat itu.
Mata Revan tertutup. Wajahnya tenang. Rahangnya tegas, napasnya teratur. Tidak ada tanda-tanda ia terbangun.
Syukurlah… batin Khay lega setengah mati.
Namun rasa malu langsung menyerbu.
" Ya ampun, Khay… peluk-peluk begini itu maksudnya apa? Kamu ini kenapa sih? Baru nikah, tapi kelakuan kayak…" Khay menggerutu dalam hati, menyalahkan dirinya sendiri habis-habisan.
Pantas tadi malam Mas Revan bilang aku aman… malah aku yang menyerang lebih dulu.
" Kalau dia bangun dan sadar… aku mau taruh muka di mana?" Ia menarik napas kecil, berusaha mengumpulkan keberanian untuk melepaskan pelukannya.
Pelan-pelan, Khay mencoba menarik salah satu tangannya.
Tidak bergerak.
Tangannya seperti menempel.
Tenang… pelan… jangan panik…
Ia mencoba lagi, kali ini sedikit lebih tegas.
Begitu tangannya terlepas, Revan hampir saja tersenyum untung ia masih memejamkan mata.
Khay melanjutkan usahanya, melepaskan tangan yang satu lagi, lalu perlahan menggeser kepalanya dari lengan Revan.
Begitu kepalanya terangkat, lengan Revan terasa sangat ringan.
Revan menahan napas. Lengannya nyaris berteriak lega. Namun ia tetap berpura-pura tidur.
Khay berhasil mundur beberapa senti. Ia duduk setengah bangun, menatap Revan dengan wajah campur aduk malu, panik, dan bingung.
" Mas Revan… jangan bangun. Jangan bangun sekarang. Tolong." Ia melirik jam di meja kecil. Masih pagi.
" Kalau aku kabur ke kamar mandi sekarang, kelihatan nggak ya?" Khay turun dari ranjang dengan sangat hati-hati, seperti pencuri amatir. Setiap langkahnya ia ukur, takut ranjang berderit.
Begitu kakinya menyentuh lantai, ia langsung berdiri kaku.
Ia menoleh sekali lagi ke arah Revan. Revan tetap diam. Tenang. Terlihat… terlalu tenang.
Khay mengerutkan kening. " Masih tidur… kan? " Ia menunggu beberapa detik.
Tidak ada reaksi.
Khay menghela napas lega, lalu berjalan cepat tapi tetap berusaha tidak berisik menuju kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup
“ASTAGAAAAA,” bisiknya panik sambil menutup wajah. “MALU BANGET!”
Ia bersandar ke pintu, menunduk dalam-dalam. “Kenapa aku bisa tidur begitu sih?!” gerutunya. “Peluk-peluk segala… itu refleks atau memang aku kebablasan?!” Wajahnya panas bukan main.
Di luar kamar mandi, Revan akhirnya membuka mata.
Ia menatap langit-langit, lalu ke arah pintu kamar mandi. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat lengan kirinya perlahan yang tadi menjadi ‘bantal hidup’.
Revan meringis kecil. “Kebas,” gumamnya pelan.
Namun senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
Ia tidak marah. Tidak terganggu. Justru… ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
" Jadi begini caranya dia tidur " batinnya. Tanpa sadar, tapi jujur.
Revan bangkit pelan dari ranjang, merapikan selimut, lalu duduk di tepi ranjang menunggu. Ia memberi Khay waktu waktu untuk menenangkan diri, dan waktu agar pagi itu tetap terasa ringan.
Dari balik pintu kamar mandi, suara air mengalir terdengar.
Khay menatap pantulan dirinya di cermin. “Tenang, Khay,” ucapnya pada diri sendiri. “Tarik napas. Anggap saja itu… kecelakaan.” Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
" Mas Revan orang dewasa. Dia nggak akan mempermasalahkan hal kecil seperti ini… kan? "
Di luar, Revan tersenyum kecil.
" Tidak. Aku tidak akan. "
Pagi itu, tanpa mereka ucapkan apa pun, sebuah kedekatan kecil telah tercipta lahir dari tidur tanpa sengaja, dari pelukan tanpa rencana.
Dan bagi keduanya, itu adalah awal yang… jujur.