Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Awal Kebahagiaan
Pasha seperti orang gila, dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ini bukan lebay tapi Pasha memang benar-benar khawatir dengan keadaan Ashika. "Astaga, pasti dia kelelahan bekerja sampai pingsan seperti itu," gumam Pasha khawatir.
Ikbal tidak mengikuti Pasha, dia langsung pulang saja ke rumahnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Pasha pun sampai di rumah kedua orang tua Ashika. Pasha mengetuk pintu dan Kenanga yang membukanya.
"Assalamualaikum, Tante," ucap Pasha panik.
"Waalaikumsalam. Ada apa Nak? kok kelihatan panik seperti itu?" tanya Mama Kenanga.
"Ashika gak apa-apa 'kan, Tante? dia baik-baik saja 'kan?" tanya Pasha panik.
"Dia ada di halaman belakang, kamu ke sana saja," sahut Mama Kenanga.
Pasha bergegas menuju halaman belakang. Terlihat Ashika sedang duduk santai di kursi halaman belakang. Pasha segera menghampiri Ashika dan berlutut di hadapan Ashika sembari memeriksa kening Ashika membuat Ashika kaget.
"Kamu sakit apa? kenapa bisa sampai pingsan? pasti kamu kelelahan ya? aku 'kan sudah bilang jangan terlalu keras kerjanya. Ayo, kita ke rumah sakit," cerocos Pasha sembari bangkit dan menarik tangan Ashika.
Ashika menahan lengan Pasha lalu tersenyum. "Ngapain senyum-senyum? ayo kita ke rumah sakit, aku gak bakalan kena rayuanmu hanya dengan senyuman," kesal Pasha.
"Aku gak sakit, Mas," sahut Ashika.
"Terus, kata Ikbal kamu pingsan di kantor? itu artinya kondisi kamu sedang tidak baik-baik saja. Sudah jangan banyak alasan, buruan kita periksa ke rumah sakit," ucap Pasha dengan wajah serius.
Ashika balik menarik tangan Pasha lalu menyuruh Pasha untuk duduk. Ashika duduk di samping Pasha lalu menggenggam tangan Pasha membuat Pasha bingung. "Apa Mas khawatir jika aku sakit?" tanya Ashika.
"Tentu saja," sahut Pasha.
"Kenapa Mas khawatir?" tanya Ashika lagi.
"Ya, karena kamu adalah wanita yang aku cintai makanya aku khawatir banget takut kamu kenapa-napa," sahut Pasha mantap.
Ashika kembali menyunggingkan senyumannya. "Terima kasih Mas sudah mau mencintai janda mandul ini, sebenarnya mengenai aku pingsan di kantor itu bohong dan aku yang menyuruh Ikbal untuk berbohong supaya kamu mau ke sini untuk menemui aku karena sudah tiga hari Mas tidak menemui aku," ucap Ashika.
"Maksud kamu apa?" tanya Pasha masih bingung.
"Mas pasti sudah menunggu jawaban atas pertanyaan Mas waktu itu, dan hari ini aku ingin menjawabnya," ucap Ashika.
Pasha menatap Ashika dalam-dalam sedangkan Ashika tampak terdiam sejenak. Ashika menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan. "Aku siap untuk menjadi istri Mas," sahut Ashika.
Pasha masih bingung, dia masih belum bisa mencerna kata-kata Ashika barusan. "Kamu ngomong apa barusan?" tanya Pasha.
"Aku bersedia jadi istri Mas," sahut Ashika dengan senyumannya.
"Serius? kamu serius mau jadi istri aku?" tanya Pasha tidak percaya.
Ashika mengangguk sembari tersenyum. Pasha sangat bahagia, dia pun langsung memeluk Ashika. "Terima kasih, Ashika. Aku janji, akan selalu membahagiakan kamu, aku tidak akan seperti Rio yang meninggalkan kamu hanya karena belum diberikan keturunan," seru Pasha.
Ashika melepaskan pelukannya. "Aku pegang kata-kata Mas, jangan sampai Mas mengecewakan aku seperti Mas Rio," ucap Ashika.
"Aku akan buktikan semuanya," sahut Pasha.
"Tapi, kalau aku memang ditakdirkan tidak akan mempunyai anak bagaimana, Mas?" tanya Ashika dengan raut wajahnya sedihnya.
"Ashika, dengarkan aku. Sebanyak apa pun kita punya anak, tetap pada akhirnya yang akan menemani kita sampai akhir bukan anak-anak kita melainkan pasangan kita. Jadi, jika memang kamu tidak akan memberiku keturunan, aku tidak akan mempermasalahkannya karena aku memilih kamu untuk menjadi teman hidup aku," sahut Pasha mantap.
Ashika meneteskan air matanya dan Pasha langsung menghapusnya. "Jangan nangis, aku tidak mau melihat kamu menangis," ucap Pasha.
Ashika pun memeluk Pasha. Kenanga melihat dari kejauhan dan tersenyum bahagia. Bahkan mata Kenanga sudah terlihat berkaca-kaca. "Semoga Pasha adalah pendamping Ashika yang terakhir," batin Mama Kenanga.
Menjelang malam, Ashika memasak dibantu oleh Pasha. Pasha bukanya bantu masak malah menggangu Ashika membuat Ashika kesal. "Mas, kalau Mas hanya ingin mengganggu tanpa membantu, lebih baik diam saja sama Mama dan Papa!" kesal Ashika dengan melotot ke arah Pasha.
"Astaga, menyeramkan sekali kamu," sahut Pasha.
"Sudah sana pergi, ngobrol saja sama Papa!" bentak Ashika.
"Nak, sana temani Papa Rudi saja daripada nanti kamu terluka," seru Mama Kenanga.
"Baiklah, Tante. Aku juga takut diguyur minyak goreng panas," sahut Pasha.
Pasha pun memilih untuk pergi tapi sebelum pergi, dia dengan cepat mencium pipi Ashika setelah itu kabur. "Mas Pasha!" teriak Ashika.
Kenanga terkekeh melihat tingkah keduanya. Beberapa saat kemudian, masakan Ashika dan Kenanga pun beres. "Pa, Nak Pasha, ayo makan malam dulu," seru Mama Kenanga.
"Wah, perut aku jadi lapar Tante," seru Pasha.
"Makan yang banyak," ucap Mama Kenanga.
"Pasti dong," sahut Pasha.
Malam itu mereka makan malam bersama dengan penuh kebahagiaan. Setelah selesai makan malam bersama dan berbincang-bincang sebentar, Pasha pun pamit pulang karena sudah malam. Ashika mengantar Pasha sampai ke depan rumah.
"Terima kasih, malam ini aku bakalan tidur dengan nyenyak," seru Pasha.
"Hati-hati di jalan, Mas," sahut Ashika.
Pasha kembali memeluk Ashika dan tentu saja Ashika membalas pelukan Pasha. "Orang tua aku pasti bakalan bahagia mendengar berita bahagia ini," seru Pasha.
Ashika melepaskan pelukannya. "Kalau Mas ngehubungi mereka, sampaikan salam aku untuk mereka," ucap Ashika.
"Ngapain nitip salam segala, lebih baik kamu ngomong langsung aja," sahut Pasha.
"Maksud Mas apa?" tanya Ashika mengerutkan keningnya.
"Lusa kita berangkat ke Australia menemui kedua orang tua aku," sahut Pasha dengan senyumannya.
"Hah...jangan bercanda Mas, aku belum siap jika harus bertemu dengan orang tua Mas," sahut Ashika kaget.
"Kenapa belum siap? aku ini sedang mencari calon istri bukan calon pacar. Lagipula aku melamar kamu bukan buat pacaran tapi buat nikahi kamu jadi aku gak mau nunggu lama-lama lagi, lebih baik secepatnya kita menikah," sahut Pasha.
"Tapi aku malu Mas," keluh Ashika.
"Kenapa mesti malu, kedua orang tua aku sudah tahu semuanya mengenai kamu jadi kamu gak usah khawatir," sahut Pasha.
Ashika terdiam merasa tidak yakin, karena bagaimana pun Pasha adalah sepupu Rio dan takutnya orang tua Pasha juga Mama atau Papanya ada yang tidak menyukai dirinya. Pasha yang melihat Ashika terdiam langsung menggenggam tangan Ashika. "Kamu tahu Om Anton 'kan? sebaik apa dia, begitu pun dengan Papa aku hanya saja bedanya Mama aku sangat penyayang tidak seperti Tante Nirmala," jelas Pasha.
Ashika menyunggingkan senyumannya. "Pokoknya mereka baik, nanti kamu kenalan saja langsung dengan mereka," ucap Pasha.
Akhirnya Ashika pun menganggukan kepalanya tanda setuju. Pasha ikut bahagia, lalu pamit pulang. Dia ingin cepat-cepat me. perkenalkan Ashika dengan kedua orang tuanya.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan