Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Masuk," ucap nya tanpa keluar dari dalam mobil.
"Beneran boleh?" tanya nya sambil tersenyum bahagia.
"Buruan," kata Erlan lagi.
Mendengar itu, Aruna pun segera berjalan cepat membuka pintu mobil bagian belakang hendak masuk ke dalam mobil tersebut.
"Lo kira gue sopir? Duduk di depan," kata Erlan menegurnya.
Aruna pun sedikit kebingungan dan pada akhirnya ia pun duduk di samping Erlan. Tak lama setelah itu Erlan pun kembali melajukan mobilnya.
"Kok mau numpangin Aruna?" tanya nya kepada Erlan.
"Jangan kepedean, gue cuma takut Lo di culik, nanti malah bikin masalah," kata Erlan lagi.
"Mana ada penculik siang-siang bolong gini," jawab Aruna sambil memutar bola matanya.
"Lo baru di sini, lihat di sana," kata Erlan menunjuk ke arah sebuah perkumpulan geng motor yang ada di sebuah basecamp pinggir jalan raya tersebut.
Aruna pun menatap ke arah tempat tersebut yang memang terlihat begitu banyak orang di sana. "Mereka orang jahat?" tanya Aruna seketika merasa takut.
"Menurut lo?" jawab Erlan sambil fokus mengemudi. "Tapi tadi pagi gak ada kok," jawab Aruna.
Erlan melirik Aruna sekilas dan kemudian kembali fokus ke jalan. Ia memilih untuk diam setelah mendapat tatapan tajam dari sang kakak. Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di rumah, Erlan memberhentikan mobilnya di garasi mobil.
"Ingat, jangan bilang-bilang papa kalau gue bawa Lo balik sama gue," kata Erlan sebelum Aruna turun dari mobil nya.
"Kenapa?" tanya Aruna.
"Mulai sekarang Lo harus nurut sama gue, dengerin apa yang gua omongin, dan gak usah banyak tanya," kata Erlan terkesan mengancam.
"Kak Erlan ngacem Aruna?" tanya Aruna sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Terserah Lo, kalau Lo mau aman ya dengerin kalau gak ya ..." Erlan memegang gagang pintu mobil hendak bersiap turun dari mobil.
"Iya, iya Aruna janji bakal nurut, tapi Aruna mohon sama kak Erlan, jangan cuekin mama, jangan kasar sama mama nya Aruna, Aruna mohon kak Erlan baik sama mama, mama itu kelemahan Aruna," ucap Aruna sambil memegang lengan Erlan terlihat sangat memohon.
Erlan terdiam, ia melihat Aruna yang sepertinya mau melakukan apa saja untuk sang mama, hal ini malah membuat hati nya bahagia, dengan begitu dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan karena Aruna pasti akan menurutinya, siafat jahilnya pun mulai kambuh.
"Oke, deal," kata Erlan mengulur kan tangan nya.
"Deal," jawab Aruna menyambut uluran tangan Erlan.
"Ada lagi?" tanya Erlan
"Udah boleh mangil kakak?" tanya Aruna polos.
"Dari tadi Lo udah mangil gue kakak," jawab Erlan jengkel yang kemudian berjalan keluar dari mobil.
"Eh, iya juga ya," kata Aruna yang setelah itu ikut turun dari mobil. Mereka pun berjalan bersama masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Mereka pun berjalan bersama masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
Teks yang sudah diubah dengan nama yang diubah dan diberi jarak paragraf:
"kalian, pulang bersama?" tanya mama Dinda yang saat itu menghampiri Aruna.
"A,aaa," Aruna melirik Erlan.
"Sudah lah sayang, sekarang ganti baju dan ajak kakak mu makan siang ya, mama sudah menyiapkan makan siang untuk kalian," ucap mama Dinda yang melihat Erlan berjalan mendahului Aruna menaiki tangga menuju kamar nya.
"Oke ma," setelah itu Aruna pun bergegas menaiki tangga mengikuti Erlan.
"Mereka kenapa aneh sekali?" batin mama Dinda kebingungan.
Tapi tiba-tiba Hana datang menghampiri nya.
"Nyonya,"
"Ah, iya Hana, ada apa?" tanya mama Dinda sedikit kaget.
"Tuan besar Firman meminta saya untuk mengajak nyonya ke suatu tempat," ucap Hana sambil tersenyum.
"Kemana?" tanya mama Dinda kebingungan.
"Kejutan, nanti nyonya juga akan tau," kata Hana lagi.
"Tapi anak-anak baru saja kembali dan mereka belum makan siang," mama Dinda masih saja menganggap kalau anak nya masih kecil karena itu ia selalu merasa khawatir.
"Astaga nyonya, mereka sudah dewasa, dan bisa mengurus diri sendiri, sekarang nyonya siap-siap, saya akan mengatakan kepada nona muda kalau akan membawa nyonya keluar sebentar," ucap Hana yang kemudian bergegas pergi meninggalkan mama Dinda menuju kamar Aruna.
"Astaga Hana, dia bahkan belum mendengarkan jawaban ku, aku jadi khawatir meninggalkan Aruna di sini sendirian, dia pasti takut dengan Erlan," khawatir mama Dinda.
Namun mau bagaimana juga, Hana mengatakan ini adalah perintah papa Firman, mama Dinda juga tak mungkin mempersulit pekerjaan Hana, dia pun bergegas kembali ke kamar nya untuk siap-siap pergi bersama Hana.
Setelah menyampaikan kepada Aruna kalau ia akan membawa mama Dinda kekauar sebentar atas permintaan papa Firman, Hana pun menyiapkan mobil, tak butuh waktu lama mereka pun berangkat meninggalkan rumah tersebut. Meskipun khawatir, namun Hana berusaha meyakinkan mama Dinda kalau mereka tidak akan lama, hanya sebentar untuk melihat-lihat sesuatu.
Sementara itu, Aruna baru saja selesai menganti pakaian nya, ia pun berjalan keluar dari kamar karena cacing-cacing di perutnya sudah tidak sabar untuk meminta makanan. Bersamaan dengan itu, Erlan juga keluar dari kamar nya.
"Ngapain Lo ngelihatin gue kayak gitu?" ucap Erlan yang kemudian menghampiri Aruna.
"Gak, siapa juga yang ngeliatin," kata Aruna mengalihkan pandangan nya.
"Mama Lo kemana?" tanya Erlan lagi.
"Gak tau, keluar sama kak Hana, katanya di suruh papa," ujar Aruna.
"Oh," jawab Erlan yang kemudian melewati Aruna menuruni satu-persatu anak tangga.
"Kak Erlan!" panggil Aruna.
"Hmm," jawab Erlan tampa menoleh dan berhenti melangkah.
"Mau ke mana?" ucap Aruna yang kemudian mengikuti nya.
"Mau makan lah, Lo kira gue gak laper?" kata Erlan dengan ketus.
"Tapi yang masak siang ini mama loh, bukan pelayan," goda Aruna.
Namun Erlan tidak mempedulikan nya dan kemudian berjalan menuju dapur.
Aruna yang melihat itu pun menjadi kesal dan terus mengikuti Erlan. Benar saja, setelah melihat menu masakan yang ada di meja makan, Erlan menyadari kalau itu bukan lah masakan para pelayan di rumah nya.
Sementara Aruna yang melihat itu sangat bahagia buru-buru duduk dan menikmati masakan mama nya yang selalu menjadi juara di hatinya.
"Ni anak pantesan aja gede badan nya padahal baru delapan belas tahun, makan kayak orang kesurupan gitu," batin Erlan memperhatikan Aruna yang makan dengan lahap.
"Merhatiin apaan? Gak makan? Jangan sampai tinggal piring nya doang ya," tegur Aruna memancing kekesalan Erlan.
Erlan yang kelaparan pun akhirnya menurunkan ego nya dan kemudian mengambil piring bersiap untuk makan. Ini pertama kalinya dia makan masakan orang lain setelah sepuluh tahun selalu makan masakan maid di rumah nya.
"Kak Erlan, cobain ini deh, ini enak banget tau, ini masakan andelan mama," kata Aruna menunjuk satu menu makanan yang sedari tadi ia makan sendiri.
"Gue gak suka cumi," kata Erlan menolak.
"Cobain, dikit aja cobain," kata Aruna tak peduli dan kemudian meletakkan makanan tersebut ke piring Erlan.
"Arunaaaa," kesal Erlan.
"Hehe, cobain," kata Aruna nakal.
Mau tidak mau, Erlan pun mencicipi makanan tersebut, rasanya malah kebalikan, bukan Aruna yang menurutinya malah ia yang menuruti Aruna.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah