“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP21
Jemari Edwin begitu lincah mengupas kulit wajah jasad salah satu anggota organisasi. Darah membasahi kedua tangannya, namun senyum di bibirnya justru mengembang cerah. Siulan ringan mengalun dari sela bibirnya, menjadi musik pengiring bagi aktivitas keji yang ia lakukan—terdengar santai, terlalu ceria.
Pemandangan mengerikan itu amat mengusik Dinda yang masih bersandar lemah di batang pohon besar.
“S-sinting,” gumamnya pelan. Rasa nyeri di leher membuat kata-katanya terputus, napasnya tersengal dan pandangannya berkunang. Jahitan di kulitnya terasa tertarik setiap kali ia menelan ludah, memaksanya menahan gerak dan hanya memejamkan mata sejenak, berusaha agar tak pingsan.
Edwin menoleh sengit ke arah Dinda. Ia lekas berdiri, berjalan cepat — tiba-tiba melompat dan jongkok di hadapan Dinda sambil menenteng pisau dengan sisa daging menggantung di ujung bilahnya.
“Kau tau?” desisnya pelan. “Kau dan Abirama punya satu kesamaan.” Ia memiringkan kepala, mata ambernya berkilat. “Kalian sangaaaat menyebalkan. Selalu berhasil merusak moodku.”
Dinda memejamkan mata rapat-rapat. Ada sesuatu dalam sorot Edwin yang terlalu tajam untuk ditatap lama, membuatnya takut setengah mati.
Tiba-tiba kain melilit lehernya.
Gadis itu otomatis tersentak dan membuka mata. Edwin telah melilitkan potongan baju berbahan katun lembut, mengikatnya dari belakang leher dan menahan tubuh Dinda agar tak bergerak terlalu banyak.
Dinda berontak, ia pikir pria itu berniat membunuhnya.
“Kau bisa diam?” desis Edwin kesal. “Aku nggak mau kau banyak bergerak. Jahitanku bisa rusak.”
Edwin menarik simpul kain agar lebih rapi, memastikan gadis di hadapannya nyaman.
“Kau tau?” ujarnya dengan suara berat. “Sekarang kau resmi masuk daftar orang yang tidak aku sukai.”
Dinda hanya mengernyit.
“Gara-gara demi melindungi lehermu ini, aku terpaksa mengorbankan baju kesayanganku ini,” jelas Edwin ketus, sementara mata Dinda langsung fokus ke arah baju Edwin yang sengaja dirobek. “Baju ini hadiah pertama dari istriku. Hadiah seratus hari kami berbagi desah.”
Dinda melotot kesal. “Tidak bisakah kau bicara seperti orang normal?” gumamnya sinis. “Telingaku bisa membusuk kalau terus dipaksa mendengar kalimat tak senonoh dari orang sinting sepertimu.”
Sudut bibir Edwin langsung terangkat. “Mendengar kau berbicara selancar ini, sepertinya kau akan baik-baik saja.” Ia lekas berdiri, berbalik badan hendak melangkah. Namun, suara Dinda menghentikannya.
“A-anda mau ke mana?” Kali ini Dinda bertanya dengan nada sopan, meski suaranya masih bergetar. “Apakah Anda akan menyelamatkan Maspol?”
“Masphwuoll masphwuoll.” Edwin menirukan dengan nada sengaja dipelintir, sudut bibirnya sampai terangkat nyinyir. Dirinya geli setengah mati mendengar panggilan itu.
“Aku mohon selamatkan dia.” Suara Dinda bergetar, penuh harap.
Bola mata pria tampan itu memutar malas. Ia berbalik setengah badan, merogoh saku, lalu mengeluarkan ponsel. Jemarinya bergerak cepat di atas layar. Sesaat kemudian, benda pipih itu dilempar begitu saja ke pangkuan Dinda.
Kening gadis berparas cantik itu berkerut, bingung.
“Kau jangan kemana-mana sampai bantuan datang,” ucap Edwin datar, seolah memberi instruksi pada benda mati.
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi, meninggalkan Dinda seorang diri di bawah pohon rindang.
Sepeninggalan Edwin, Dinda menghela napas lega. Ia bertahan di sana—menit demi menit merambat lamban, nyeri di lehernya berdenyut setiap kali ia menelan ludah. Tiga puluh menit ia lalui berteman kan suara serangga, angin, dan gemerisik dedaunan. Hingga tiba-tiba, terdengar derap langkah mendekat.
Jantung Dinda seketika berpacu, takut yang tadi mereda kembali menggerogoti. Namun begitu sosok itu keluar dari balik pepohonan, pundak tegang itu luruh. Air mata langsung menggenang.
“Bu Nikeeeen ... hikss!” Ia terisak, bahunya naik turun, lega dan lelah tumpah jadi satu.
Bella bergegas mendekat, wajahnya berubah tegang begitu melihat kondisi Dinda. Di belakangnya, dua pria menyusul dengan langkah sigap. Dito dan Haris. Keduanya saling bertukar pandang singkat, jelas membaca situasi yang jauh dari baik.
“Astaga ...,” gumam Bella tertahan ketika Dinda menyingkap kain yang membalut leher. Ia langsung berlutut di hadapan Dinda, kedua tangannya memeriksa jahitan di leher gadis itu tanpa menyentuhnya sembarangan. Matanya mengernyit, ia hapal betul pola jahitan yang familiar itu.
‘Edwin? Jadi dia benar-benar di sini?’ batinnya.
Awalnya Bella sempat mencurigai pesan berisi lokasi yang dikirim dari nomor Edwin. Terlebih karena setahunya, pria itu masih berada di Amerika. Ia bahkan sempat mengira itu jebakan. Namun, ketika ia memeriksa pesan dari Abirama berisi sebuah lokasi yang tak beda jauh jaraknya—perasaan aneh yang sejak tadi mengganjal di dada pun memaksanya datang. Dan kini, melihat jahitan di leher Dinda, ia tahu firasatnya tidak salah. Ia yakin, Edwin kembali datang ke pulau terkutuk itu, mencari dirinya.
Dinda menyerahkan ponsel Edwin pada Bella. Agen mata-mata itu menerima tanpa banyak tanya.
“Pemiliknya menyusul Maspol,” jelas Dinda tanpa dipinta. “Maspol tertangkap oleh mereka.”
Mendengar penjelasan Dinda, Bella memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras sebelum ia menoleh ke arah Dito dan Haris.
“Kalian bawa dia ke pantai utara,” perintahnya tegas. “Orang-orangku akan menjemput kalian di sana.”
Dito mengangguk cepat. “Siap.”
Bella lalu kembali menatap Dinda. Nada suaranya melunak, namun tetap stabil seperti jangkar di tengah badai.
“Kamu tenang, ya,” katanya sambil menggenggam lembut jemari Dinda. “Kamu aman sekarang. Dengar aku baik-baik, tarik napas pelan ... satu ... dua ... hembuskan.”
Dinda mengikuti, meski bahunya masih gemetar.
“Bagus,” lanjut Bella. “Dua petugas ini akan membawa kamu ke pantai utara. Di sana akan ada yang menjemput dan membawamu ke tempat yang lebih aman. Kamu cuma perlu bertahan sedikit lagi, oke?”
“A-apa Maspol ...,” suara Dinda nyaris tak keluar.
Bella meremas kuat jemari gadis itu, berusaha meyakinkan. “Aku akan menjemputnya. Janji.”
Dinda menggeleng lemah. “Enggak. Bu Niken tuh cewek. Kita cewek-cewek lemah ini bisa apa di tempat menyeramkan begini, Bu? Nggak liat leher saya ini? Pokoknya enggak.”
“Dinda, aku ini mahluk jadi-jadian,” kelakar Bella. “Percaya deh, aku jauh lebih nyeremin daripada tempat ini.”
Dinda terdiam, menatap Bella dengan wajah setengah bingung, setengah putus asa.
Bella lalu melirik sekilas ke arah Haris — pria bertubuh tegap itu langsung paham. Tanpa banyak bicara, Haris berbalik membelakangi Dinda dan jongkok mantap di hadapannya.
“Naik,” katanya singkat.
Sementara itu, Bella dan Dito bergerak sigap. Dito menopang siku Dinda, Bella menahan bahunya dengan hati-hati, memastikan leher yang terjahit tak terlalu banyak bergerak.
“Pelan-pelan,” bisik Bella. “Ikuti aku.”
Dengan sisa tenaga yang ada, Dinda menurut. Tubuhnya condong ke depan hingga akhirnya bertumpu di punggung Haris. Pria itu langsung berdiri kokoh, seolah beban di punggungnya tak berarti apa-apa.
“Pegangan yang kuat,” ujar Haris tenang.
Dengan langkah mantap, Haris mulai berjalan menyusuri jalur setapak yang mengarah ke pantai utara, Dito mengawal di sisi kanan, sementara Bella berdiri sejenak, memastikan arah mereka benar sebelum akhirnya berbalik ke jalur lain.
Perjalanan terasa ganjil, terlalu mudah bagi mereka mencapai pantai utara. Tak ada halangan, tak ada satu pun anggota organisasi yang berkeliaran. Dan semua itu bukan tanpa sebab.
Jauh di sisi lain kawasan itu, di dermaga, para pria bersenjata justru tengah bersiaga penuh, pandangan mereka tertuju ke laut, menyambut kedatangan para Elit yang baru saja merapat.
Senyuman para Elit mengembang keji, angkuh — seolah merekalah pencipta bumi.
“Rekan-rekan ... kalian siap bersenang-senang?!”
*
*
*
Halo, kalian semua 🤍
Apa kabar? Semoga hari-hari kalian selalu diberi kesehatan dan hati yang tenang.
Saya mau minta maaf sebesar-besarnya karena sudah beberapa hari berturut-turut, belum bisa update karya. Jujur, kondisi kesehatan saya sedang tidak baik-baik saja. Sudah sekitar dua minggu ini saya harus rutin kontrol ke dokter setiap 3–4 hari dan konsumsi obat secara teratur. InshaAllah, 2–3 minggu ke depan saya dijadwalkan cek darah di laboratorium dan lanjut rujukan ke spesialis penyakit dalam.
Saya sadar, membuat kalian menunggu seperti ini terasa tidak profesional, dan untuk itu saya benar-benar minta maaf. Terima kasih karena masih sabar, masih setia menunggu, dan tetap memberi dukungan meski saya belum bisa konsisten hadir.
InshaAllah saya akan mencari jalan terbaik agar karya ini bisa segera menuju tamat. Mohon doanya juga supaya saya lekas pulih dan bisa kembali menulis dengan kondisi yang lebih baik.
Terima kasih banyak untuk kesabaran, dan cinta kalian. Tetap dukung saya, ya. 🤍
Semoga kebaikan selalu kembali pada kalian.
k dehwa lekas sembuh 😩