NovelToon NovelToon
Tunangan Yang Tak Di Anggap

Tunangan Yang Tak Di Anggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.

Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Dafin melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya, lampu ruang tengah yang biasanya sudah padam ternyata masih menyala terang. Bramantyo, ayahnya, duduk di sofa besar sambil memegang segelas wiski, menatap tajam ke arah pintu.

"Dari mana saja kamu?" suara Bramantyo menggelegar di ruangan yang sunyi itu.

Dafin menghentikan langkahnya, ia menghela napas kasar sambil melonggarkan kerah kemejanya yang terasa mencekik. "Keluar sebentarlah, Pa," ucapnya singkat dengan nada malas, bermaksud langsung naik ke lantai atas.

"Keluar sebentar atau ke apartemen wanita itu lagi?" potong Bramantyo dengan nada dingin yang membuat langkah Dafin terhenti.

Dafin menoleh, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Bramantyo berdiri dan berjalan mendekati putranya.

"Aku tahu kamu menemui Maya. Kamu pikir aku bodoh?" Bramantyo menunjuk ke arah jendela luar.

"Dengar Dafin, di luar sana banyak kamera wartawan. Satu saja foto kamu keluar dari apartemen itu tersebar, hancur semua rencana kita untuk menguasai Maheswari Group! Arkan tidak akan sudi menyerahkan putrinya pada pria yang memelihara wanita simpanan!"

Dafin yang sudah muak dengan tekanan malam ini akhirnya meledak. Ia menatap ayahnya dengan berani. "Lalu apa lagi, Pa? Aku sudah menuruti semua kemauan Papa untuk bertunangan dengan Alea yang membosankan itu! Apalagi?!"

Dafin mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Aku sudah muak berpura-pura jadi pria baik-baik di depan keluarga Maheswari. Aku butuh hiburan!"

"Hiburanmu itu bisa menghancurkan kerajaan bisnis kita!" balas Bramantyo tak kalah keras.

"Aku capek, Pa!" bentak Dafin. Tanpa menunggu jawaban lagi dari ayahnya, ia berbalik dan melangkah lebar menuju kamarnya, lalu membanting pintu dengan keras.

Dafin baru saja hendak memejamkan mata saat ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar kuat. Ia menyambarnya dengan kasar, mengira itu pesan dari Maya yang merajuk.

Namun, matanya langsung membelalak saat membaca barisan kalimat dari nomor yang tidak ia kenal.

"Bagaimana jika semua orang tahu kelakuan bejatmu? Menurutmu, apakah Arkan Maheswari masih mau menerimamu sebagai menantu?"

Wajah Dafin seketika pucat pasi. Ia bangkit dari tempat tidur dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahi. Jantungnya berdegup kencang

"Sialan" umpat Dafin dengan gigi bergeletuk.

Ponsel di genggaman Dafin bergetar lagi. Kali ini, sebuah notifikasi pesan gambar masuk, diikuti oleh barisan kalimat yang membuat dunianya seolah runtuh seketika.

"Sepertinya kamu punya hobi buruk yang tidak pernah berubah sejak dulu. Masih ingat gadis SMA itu? Gadis yang kamu bunuh secara perlahan itu"

Dafin terengah-engah, matanya melotot menatap layar. Foto berikutnya yang muncul adalah sebuah foto lama yang sangat buram namun jelas memperlihatkan dirinya yang masih remaja, berdiri di depan sebuah pintu besi gudang dengan wajah angkuh. Itu adalah dosa besar yang ayahnya kubur dengan uang miliaran rupiah bertahun-tahun lalu.

Belum sempat ia mengatur napas, sebuah foto baru muncul di bawahnya. Foto itu sangat jernih, diambil dari sudut tinggi. Itu adalah foto dirinya yang sedang melangkah masuk ke apartemen Maya hanya satu jam yang lalu, lengkap dengan keterangan waktu yang akurat.

"Dulu menyekap gadis, sekarang mengkhianati tunangan. Kelakuan bejatmu tidak ada habisnya, Dafin. Bagaimana kalau foto-foto ini mendarat di meja Arkan Maheswari pagi ini?"

"Sialan! Bajingan!" umpat Dafin dengan suara tertahan. Ia melempar ponselnya ke atas kasur seolah benda itu adalah api yang membakar tangannya.

Ia menjambak rambutnya sendiri, frustrasi. Keringat dingin kini benar-benar membasahi kemejanya. Siapa pun pengirim pesan ini, dia tidak hanya tahu tentang Maya, tapi dia tahu tentang kejadian gadis SMA itu rahasia paling kelam yang bahkan tidak diketahui oleh pihak kepolisian karena semua saksi telah dibungkam.

Dafin kembali menyambar ponselnya, mencoba membalas pesan tersebut dengan tangan gemetar.

— "Apa maumu? Berapa uang yang kamu butuhkan?! Jangan berani-berani menyebarkan itu!"

Namun, hanya ada satu centang abu-abu. Nomor itu sudah mati.

......................

Alea turun ke ruang makan dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Di meja makan, Arkan sudah duduk tenang sambil membaca koran digitalnya, sementara Shinta sibuk memastikan kopi suaminya tersaji dengan sempurna. Suasana hening, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen.

"Selamat pagi, Pa... Ma..." sapa Alea sambil menarik kursi di seberang ayahnya.

Arkan hanya bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.

Sikap dingin itu selalu sukses membuat Alea merasa ada jarak yang membentang lebar di antara mereka.

Tak lama kemudian, Arkan menyeka mulutnya dengan serbet, berdiri, dan merapikan jasnya. "Papa berangkat sekarang."

Setelah suara mobil Arkan menjauh, Alea menghela napas panjang. Ia menatap Shinta yang masih tersenyum tenang sambil mengaduk tehnya.

"Ma... Alea mau tanya sesuatu," ucap Alea pelan. Shinta menoleh lembut. "Kenapa Mama bisa tahan dengan sikap Papa yang angkuh dan dingin seperti itu? Kadang Alea merasa kita ini cuma pajangan di rumah ini."

Shinta meletakkan sendoknya, lalu menggenggam tangan Alea dengan hangat. "Alea, bagaimanapun dia adalah suami Mama dan ayahmu. Setiap orang punya cara yang berbeda dalam menunjukkan perasaan."

"Tapi Papa terlalu kaku, Ma. Dia lebih sering bicara soal bisnis daripada menanyakan perasaanku," keluh Alea lagi.

"Papa memang sulit bicara, Nak. Tapi ketahuilah, Arkan sangat menyayangi kita dengan caranya sendiri. Semua kerja kerasnya, sikap protektifnya, bahkan pemilihan pengawal terbaik seperti Kenan untukmu, itu adalah bukti rasa sayangnya. Dia hanya tidak ingin terlihat lemah di depan dunia yang keras," jelas Shinta dengan nada yang begitu tulus.

Alea melangkah keluar dari rumah menuju area taman samping yang asri. Ia berjalan dengan tangan terlipat di depan dada, mencoba mencari udara segar untuk mendinginkan kepalanya yang penat. Kenan, dengan kesiagaan yang sudah menjadi instingnya, segera melangkah mengikuti di belakang Alea dengan jarak yang tetap terjaga.

"Kita mau kemana, Nona?" tanya Kenan dengan suara beratnya yang tenang.

Alea tidak menoleh, ia terus berjalan menyusuri jalan setapak taman. "Aku tidak sedang ingin pergi kemanapun," jawab Alea singkat.

Langkah kaki Alea berhenti di sebuah kursi taman berbahan besi tempa yang terletak di bawah pohon rindang. Ia menghempaskan tubuhnya di sana, lalu mendongak menatap Kenan yang kini berdiri tegak di hadapannya.

Alea mendongak, menatap wajah kaku pengawalnya yang selalu tampak seperti patung itu. "Kenan..." panggil Alea.

Kenan sedikit menundukkan kepalanya. "Ya, Nona?"

"Kamu kan pria... bagaimana pandanganmu tentang Papa?" tanya Alea tiba-tiba. Matanya kini menatap lurus ke arah kolam ikan di depan mereka. "Kenapa dia harus bersikap seangkuh itu? Apa menurutmu dia benar-benar peduli pada kami, atau dia hanya peduli pada citra keluarganya saja?"

Kenan terdiam sejenak. Sebagai putra dari Baskara Atmaja yang juga seorang penguasa bisnis, ia sangat memahami beban yang dipikul pria seperti Arkan.

"Tuan Arkan adalah seorang pemimpin, Nona," jawab Kenan pelan namun mantap. "Di dunia bisnis yang kejam, kehangatan sering kali dianggap sebagai kelemahan. Di mata saya, sikap angkuh itu adalah cara beliau menjaga otoritasnya agar tidak ada orang luar yang berani meremehkan keluarga Maheswari."

Alea mendengus kecil. "Jadi menurutmu itu wajar?"

"Saya tidak mengatakan itu wajar bagi seorang anak, Nona," lanjut Kenan, kini melirik sedikit ke arah Alea. "Tapi pria seperti Tuan Arkan biasanya lebih suka menunjukkan kasih sayang melalui perlindungan daripada kata-kata. Dia sangat teliti memilih siapa saja yang boleh berada di dekat Anda. Itu adalah bentuk kepedulian yang sangat besar, meski terasa dingin."

1
Erna Riyanto
gadis SMA yg bunuh diri karena Davin...apakah adik kenan...makin penasaran
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ceritanya gampang di pahami dan alurnya menarik, ayahnya Alea memaksa Alea menikah dengan Dafin apakah Alea dan Dafin bisa saling mencintai
Erna Riyanto
semoga nnti Kenan bersatu sm alea...wlpun dgn jln yg sulit...suka bgt sm karakter Kenan...
Erna Riyanto
waahhh tambah lagi karya on going mu thorrr.....semoga konsisten dgn berbagai cerita yg dibuat...sukses...nungguin lanjutan si tuan Damian loh q
ig: denaa_127: makasihh udah support 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!