NovelToon NovelToon
Beyond The Sidelines

Beyond The Sidelines

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Mega L

Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembaran Baru di Lapangan Kota

Langkah kaki Vilov terasa begitu ringan saat ia menapaki teras rumahnya sore itu. Aroma tanah basah sisa hujan kemarin masih tercium tipis, namun suasana hatinya jauh lebih cerah daripada langit Cilegon saat ini. Begitu pintu depan terbuka, Vilov tidak sabar untuk segera menemukan sosok wanita yang selalu menjadi pendukung nomor satunya yaitu Mamanya.

​Ia mendapati Mamanya sedang sibuk di dapur, merapikan beberapa piring yang baru saja kering. Dengan wajah yang berseri-seri dan napas yang sedikit memburu karena semangat, Vilov menghampiri Mamanya.

​"Mah! Mama! Vilov punya kabar luar biasa nih hehe!" seru Vilov dengan nada bicara yang meluap-luap.

​Mamanya menoleh, meletakkan lap tangan yang sedang dipegangnya, lalu menatap anak bungsunya itu dengan senyum penasaran. "Ada kabar apa, Vil? Coba kasih tau Mama pelan pelan, Nak."

​Vilov berdiri tegak, mencoba mengatur napasnya agar terdengar lebih dramatis. "Mama mau tahu ga, Vilov kepilih, Mah! Vilov resmi jadi pemain hockey perwakilan kota Cilegon! Tadi infonya udah ramai di kelas, dan ini benar-benar resmi!" ucap Vilov dengan nada bangga yang tak bisa ia tutupi.

​Mendengar penjelasan itu, raut wajah Mama Vilov berubah drastis. Matanya berbinar, dan senyum lebar segera menghiasi wajahnya. Ia melepaskan semua kegiatannya di dapur lalu mendekat untuk mengusap bahu Vilov dengan penuh kasih sayang. "Wah... serius kamu, Nak? Wah, bagus sekali kalau begitu! Mama benar-benar bangga sama kamu. Kerja keras kamu jatuh bangun di lapangan ternyata membuahkan hasil yg besar," ucap Mama dengan nada suara yang bergetar karena rasa bangga yang tulus.

​Namun, di tengah rasa bahagianya, Vilov teringat akan konsekuensi dari pencapaian ini. Ia menatap Mamanya dengan sedikit ragu. "Tapi Mah... Vilov dapat kabar, kalau udah masuk tingkat kota, latihannya bakal jauh lebih sering dan lebih berat dari biasanya. Mungkin Vilov bakal jarang di rumah sore-sore. Mama nggak apa-apa?" tanyanya meminta kepastian.

​Mama Vilov tersenyum tenang, sebuah senyum yang selalu berhasil menenangkan badai di hati Vilov. "Nggak apa-apa, sayang. Selama itu untuk hal yang positif dan kamu memang mencintai bidang itu, Mama akan selalu mendukung. Mengisi waktu muda dengan prestasi itu jauh lebih bagus daripada cuma main nggak jelas. Yang penting, kamu bisa jaga kesehatan dan sekolah jangan sampai terbengkalai," nasihat Mamanya.

​Mendengar restu dan dukungan penuh dari sang Ibu, hati Vilov terasa sangat lega. Ia memeluk Mamanya singkat sebelum akhirnya berpamitan untuk masuk ke kamar. Di dalam kamar, Vilov segera berganti pakaian dengan kaos santai yang lebih nyaman.

​Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang selama ini menjadi saksi bisu setiap keluh kesahnya. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar di atas meja hiasnya. Ada notifikasi baru di grup WhatsApp hockey mereka. Dengan cepat, Vilov membaca pesan itu dari atas hingga bawah tanpa melewatkan satu kata pun.

​Ternyata benar apa yang dikatakan Tije di sekolah tadi. Di dalam grup tersebut, Pelatih menuliskan daftar nama resmi pemain yang terpilih untuk mengikuti pelatihan daerah tingkat kota. Nama "Vilov" tercantum jelas di sana, bersanding dengan nama-nama atlet berbakat lainnya dari berbagai sekolah di Cilegon.

​Vilov segera mengetikkan balasan dengan penuh semangat, "Siap, Kak! Saya bersedia dan siap mengikuti jadwal."

​Beberapa menit kemudian, Pelatih mengirimkan dokumen berisi jadwal latihan perdana dan rincian kegiatan mereka selama beberapa bulan ke depan. Vilov memperhatikannya dengan teliti. Latihan akan dilakukan di stadion utama dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap. Ada rasa bangga yang luar biasa merayap di dadanya. Ia teringat kembali pada masa-masa awal ia mencoba memegang stik hockey, saat ia masih sering diejek karena gerakannya yang kaku. Keputusannya untuk menekuni olahraga ini ternyata adalah keputusan yang sangat tepat.

​"Alhamdulillah ya Allah... Terima kasih atas kesempatannya," bisik Vilov dalam hati sambil menutup matanya sejenak untuk mensyukuri nikmat tersebut.

​Baru saja ia ingin memejamkan mata untuk beristirahat, ponselnya kembali berdering. Nama "Putra" muncul di layar, membuat detak jantung Vilov kembali berirama tidak beraturan.

​"Vil," pesan Putra singkat, seperti biasanya.

​"Yoi, Put, ada apa ?" balas Vilov cepat.

​"Wih, selamat ya kepilih. Besok latihan perdana rencananya berangkat sama siapa lu? Mau bareng gua nggak ?" tanya Putra melalui pesan teksnya.

​Vilov berpikir sejenak sebelum membalas. "Besok ya? Thank put, tapi kayaknya gue bakal diantar sama Kakak gue deh, Put. Soalnya sekalian dia mau lewat arah stadion."

​"Oh oke Vil nggak apa apa kalau gitu. Sampai ketemu di lapangan besok ya, Vil! Awas jangan sampai terlambat lu!" balas Putra yang diakhiri dengan sebuah sapaan santai khas cowok itu.

​Vilov tersenyum manis menatap layar ponselnya. Ia tidak menyangka bahwa seiring berjalannya waktu, perilaku Putra kepadanya menjadi semakin perhatian. Meskipun sampai hari ini belum ada ikatan resmi di antara mereka, namun kedekatan yang mereka jalin terasa begitu nyata dan memberikan kenyamanan tersendiri bagi Vilov.

​Merasa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Vilov segera bangkit dari kasurnya. Ia tidak ingin besok ada yang tertinggal. Dengan cekatan, ia mulai menyiapkan segala perlengkapan hockey-nya. Mulai dari sepatu khusus lapangan, stik andalannya, hingga perlengkapan hockey lainnya yang ia bersihkan kembali. Ia memasukkan semuanya ke dalam tas besar dengan sangat rapi dan tertata.

​Vilov juga menyiapkan seragam latihan yang paling bersih. Ia ingin memberikan kesan pertama yang baik di depan pelatih tingkat kota. Setelah semua perlengkapan siap di dekat pintu kamar, Vilov beranjak menuju meja belajarnya. Ia mengatur jam alarm di ponselnya dengan volume maksimal. Ia tidak ingin kejadian "salah jadwal" atau bangun kesiangan terulang kembali di hari pertamanya yang sangat penting ini.

​Vilov memandangi tas besarnya sekali lagi sebelum mematikan lampu kamar. Ia tahu bahwa tantangan ke depannya akan jauh lebih sulit. Ia akan bertemu dengan pemain-pemain hebat lainnya, namun ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih siap, lebih kuat, dan lebih fokus dari sebelumnya. Dengan hati yang penuh harapan dan semangat yang membara ia masih tidak menyangka dengan sesuatu yang telah terjadi yang ia alami sekarang dalam pikirannya ia berpikir bahwa semua ini adalah seperti mimpi yang sangat indah, ia pun memandangi photo almarhum sang ayah yang berada di kamarnya, ia berharap sang ayah merasakan bangga dengannya karna telah menjadi anak yang hebat, pikiran itu pun membuat Vilov akhirnya memejamkan mata, bersiap menyambut babak baru dalam hidupnya sebagai atlet kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!