NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Debar yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya.

Apartemen dalam keadaan seperti kapal pecah saat Kala baru saja pulang dari persidangan. Suara musik sangat keras datang dari kamar Nareya yang tertutup. Musik klasik dengan nada memilukan.

Kala mengetuk pintu itu, “Reya buka pintunya, saya mau bicara.”

“Reya…” panggilnya sekali lagi namun belum juga mendapat jawaban. Suaranya kalah dengan bunyi musik. “Saya ambil kunci cadangan…”

“Gaudah lebay lo! Buka aja gak di kunci.” teriak Nareya dari dalam kamar.

Kala membuka pintu itu namun tertahan oleh tumpukan baju yang sudah berhamburan. Kondisi kamar itu jauh lebih parah dibandingkan ruang tengah yang hanya beberapa kursi yang tidak sesuai pada posisinya.

Lalu Kala mencari sosok yang menyebabkan kekacauan itu. Nareya duduk di lantai balkoni kamar, dengan rokok di tangannya. Kaleng bir di meja kecil terlihat sudah terbuka.

Kala mendekati Nareya, sedikit terkesiap ketika melihat rambut Nareya sangat pendek. Kala tidak mengucap apapun lalu duduk di sebelahnya.

Ketika Kala menoleh ke arah Nareya, dia tahu suaminya akan mulai bicara namun dengan cepat menyambar terlebih dahulu. “Habiskan dulu satu batang baru lo ngomong.”lirik Nareya ke kotak rokok di meja.

Kala mengambil satu batang lalu mengulurkan ke Nareya yang sudah siap dengan korek gas di tangan. Hisapan pertama Kala langsung terbatuk-batuk.

“Haha lo gak pernah ngerokok juga? Sama, tapi di hisapan ke lima udah terbiasa kok.” ucap Nareya, menaikan satu kakinya ke kursi.

Sejenak Nareya teringat papa nya, lalu terkekeh. Ternyata itu yang dirasakan Wira, pantas saja suka nongkrong lama di depan teras. Bebas dan lega tanpa beban.

“Udah terbiasa kan” kekeh Nareya lagi. “Nggak usah buru-buru, nikmatin.”

“Saya sudah lama sekali berhenti merokok,” Kala menaikan satu kaki kanan di atas kaki kirinya. Nareya tersenyum miring saat Kala membakar habis satu batang dengan sangat cepat.

“Berhenti karena sakit?” tanya Nareya karena Kala sudah menyelesaikan rokoknya.

“Bukan, karena saya mau hidup lebih panjang. Memastikan Kirana dan Mommy aman,” jawab Kala menatap Nareya.

“Terus kenapa lo mau-mau aja gue suruh ngerokok?” Nareya balik menatap Kala sekilas.

“Karena saya mau bicara dengan kamu.”

Nareya tertawa puas, merasa berhasil mempermainkan Kala.

“Haha, lo bodoh juga ya. Seorang Kala Montana Atmasena dari keluarga yang menjunjung adab.” Nareya menyeringai, “Cih… adab?!” lanjutnya lalu menatap tajam “Menuruti ucapan bodoh hanya untuk bicara sama gue.”

Kala tidak terpengaruh dengan cemoohan istrinya.

“Dito menyampaikan maaf ke kamu lewat saya.”

“Kamu bukan orang bodoh untuk tahu siapa yang salah sebenarnya di sini.”

Nareya kembali tersulut emosi lalu tanganya meraih sekaleng bir yang sudah dia seruput sedikit. Dia pikir, sama seperti rokok yang lama kelamaan dia akan terbiasa dengan rasa tidak nyaman di awal. Pahit dan sedikit membakar tenggorokanya, tidak sampai seteguk sudah direbut Kala.

“Itu punya gue!” protes Nareya tidak menghentikan Kala.  Lalu ditenggak nya sampai tandas.

“Lo kalau mau ambil di kulkas sendiri elah. Gue tadi beli dua, ck.” decak Nareya lalu melangkah menuju dapur.

Kala mengikutinya sampai di depan kulkas lalu mencegah tangan Nareya untuk menenggak satu kaleng bir yang tersisa. Dengan cepat kala membuka dan membuang ke wastafel.

“Lo nyebelin banget sumpah.”

“Saya minta maaf, itu salah saya. Kamu kalau marah ke saya saja, jangan sakiti diri kamu sendiri.”

“Gue puas bukan sakit.”

Kala menangkap satu bekas guratan yang memerah di pergelangan tangan Nareya yang ada dalam genggamanya. Saat itu juga pikiran Kala langsung kalut. Terkejut karena sudah sejauh itu Nareya berbuat hanya dalam waktu beberapa jam.

Nareya melepaskan tanganya dari genggaman Kala ketika tatapan intens tertuju pada garis merah di sana.

“Kalau yang satu ini gue gak akan kuat, sakit banget ternyata. Mungkin gue harus cari cara lain yang lebih gak sakit.”

“Jangan lakukan!”

“Lalu apa? Saranin gue kepuasan lain supaya mengalihkan rasa sakit gue.”

Kala terdiam menatap mata Nareya mencari apa yang sebenarnya dia rasakan sampai melakukan sesuatu yang gila.

Bukan sekedar sakit hati, tapi kekecewaan.

Kesalahan yang sangat fatal dia lakukan. Bahkan usaha untuk mendapatkan simpatinya belum lama berhasil dia dapatkan. Ini pertama kalinya Kala mendapat efek emosional dari seorang perempuan.

Kematian adalah hal yang paling menakutkan baginya. Dan dia hampir menjadi penyebabnya.

“Kenapa? Lo takut? Sekarang gue cuma menunggu waktu sesuai perjanjian lo.”

“Saya lebih takut ketika kamu mulai menyakiti dirimu sendiri karena saya.”

“Kan lo gak cinta sama gue, ngapain lo takut kehilangan gue.”

“Saya sayang kamu Nareya, saya khawatir kamu…”

“Mati?” potong Nareya. “Gue pikir buat apa juga gue hidup. Kebahagiaan orang tua gue? Huh, mereka hanya menganggap gue alat investasi yang setelah dewasa gue jadi pohon duit lalu mereka tinggal duduk manis. Kata mereka itu, berbakti.”

“Adik gue, kasian. Mereka butuh gue, tapi haruskah gue bertahan untuk mereka dengan kondisi gue gak punya harga diri.”

“Hanya jadi bahan becandaan? Atau bahan lampiasan nafsu orang kaya, yang menjebak gue lewat kelemahan gue?”

“Memalukan, saat gue tau gue baru aja menemukan cinta pertama gue, siangnya gue denger sendiri kalau gue cuma jadi bahan becandaan. Bahkan menertawakan gue seperti gue memang tidak ada harganya lalu pantas untuk dipermalukan.” tunjuk Nareya kepada Kala.

Puncak emosi Nareya ketika mulai melupakan semua tanpa jeda bicara. Tanpa tarikan napas panjang. Tidak memberi kesempatan Kala untuk menjawab.

Namun tiba-tiba pandangan buram, suara denging di telinga semakin kencang saakan turut menarik penglihatanya. Lalu tubuhnya mulai hilang keseimbangan.

“Sayang, Reya!” Kala menangkap badan Nareya sebelum menghantam lantai.

Ambruk, semua gelap.

Kala membopong Nareya sampai ke kamarnya lalu menidurkan di atas kasurnya,

Dengan cepat Kala menghubungi dokter keluarga untuk cepat datang ke apartemennya. Karena sangat khawatir, seperti diserang rasa panik. Kala langsung menelpon Ana untuk datang membantunya.

Dokter datang lebih dahulu, lalu tak lama Ana datang. Dia baru beberapa hari di Indonesia ketika mendapat kabar suaminya cerai dengan Ratna.

“Nareya kenapa nak?” tanya Ana

“Belum tau mom, dokter Heru sedang memeriksa.”

Kala belum berani menjelaskan situasi yang terjadi sebelumnya kepada Ana. Dia juga tak tenang menunggu hasil pemeriksaan dokter.

“Dari denyut nadinya sepertinya istri mas Kala sedang hamil, tapi ini perlu di cek lebih lanjut.”

“Apa? Ah mantuku hamil? Sayang… kamu sebentar lagi jadi orang tua.”

Ana sangat bahagia, sampai akan memeluk Kala, namun di tepis.

“Dok, apa resiko paling buruk ketika dia merokok dan minum bir?”

Dokter Heru sangat terkejut dengan pertanyaan Kala. Tentu saja ibu hamil tidak boleh merokok dan minum alkohol.

“Tentu saja sangat berbahaya bisa sampai keguguran, lebih baik jangan dahulu.”

“Lagian kamu ini, pertanyaan macam apa …”

“Dia baru saja menghabiskan satu batang rokok dan menyesap bir. Kami tidak tahu kalau dia hamil.”

Kala sampai memegang kedua tangan Dokter Heru, dan mengguncang cepat. Dia sangat bahagia tentu saja, tapi pikiranya tertuju pada keselamatan Nareya dan calon anaknya.

Dokter akhirnya menyarankan untuk segera membawa ke rumah sakit.

Ana sangat marah, karena bagaimana bisa Kala begitu bodoh membiarkan istrinya merokok. Tapi semua tertahan melihat menantunya masih belum tersadar. Dan anaknya juga dalam keadaan terguncang.

 Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Kala memikirkan berbagai kemungkinan hal yang buruk terjadi pada Nareya. Tapi di saat yang bersamaan ada desir halus yang datang pertama kali. Rasa yang sama sekali tidak dikenali. Debar yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Kala menggenggam tangan Nareya, lalu berpindah mengusap perutnya. Debar itu semakin kencang, sampai tak bisa menahan senyumnya, meski masih mengkhawatirkan kondisi Nareya. Dalam pangkuanya, Nareya belum juga sadar. Dengan penuh kehati-hatian Kala mengusap kepala Nareya, menatap wajahnya yang pucat, dan rambut nya yang sudah pendek. Ada sesal dalam tatapan itu.

‘Kamu harus sehat karena saya harus tau,apa yang sebenarnya saya rasakan’

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!