NovelToon NovelToon
Ketika Restu Jadi Penghalang

Ketika Restu Jadi Penghalang

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:45k
Nilai: 5
Nama Author: Muliana95

Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.

Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.

Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Wandi

Sekarang Juliana sudah di pindahkan ke kamar oleh Bagas. Dia di kelilingi oleh Safira, Bagas dan Malik.

"Salah ku, ibu memang ngeluh pusing sejak semalam. Seharusnya aku gak buka warung," keluh Malik, menatap ibunya yang kembali menutup mata.

"Kan ibu yang keukeh menyuruhmu, jadi jangan salahkan dirimu," lirih Juliana, tanpa membuka matanya.

"Kita bawa kerumah sakit aja," ujar Bagas, yang berdiri disamping Safira.

"Gak usah," tolak Juliana, cepat. "Ibu hanya butuh istirahat,"

Safira terisak. Sebab ketika melihat ibunya tergeletak. Pikirannya malah menduga yang tidak-tidak. Beruntung, Allah masih menyayanginya, memberikan kesempatan untuknya merawat orang tuanya.

Diluar kamar, anak-anak tadi malah fokus pada makanan yang sebelumnya di bawa oleh Bagas. Padahal, tadi mereka malah ikut panik.

Akhirnya, karena takut dan tak tega. Safira memutuskan untuk menginap di rumah ibunya untuk malam ini.

Sebab, selain karena alasan ayah mertuanya yang gak mungkin di tinggal, Safira juga ingin menginap bersama ibunya, di kamar ibunya.

Mau tak mau, Bagas menuruti permintaan istrinya. Tapi sebelum itu, Bagas mengajukan syarat, jika Safira harus menelponnya, kalo terjadi apa-apa. Bahkan, jika itu luka di ujung jarinya.

✨✨✨

Anwar kembali ke rumahnya. Sejak di beritahu tentang Fadil dan Bagas yang menolongnya tempo hari. Pandangannya ke Bagas mulai berubah.

Dulu, ia pikir Bagas itu memalukan. Selain petani, ia juga gak punya penghasilan tetap, sepertinya.

Dan penilaian itu sempat berubah ketika mengetahui, kebenaran tentang harta Bagas. Tapi bukan menilai dalam keadaan positif. Ia menilai, jika Bagas bisa menjadi suami yang baik untuk Safira. Dan pasti akan memberikan sebagian sawah untuk dikelola olehnya, tanpa membayarkan sewa.

Dan kali ini, pandangan berubah lagi. Dia beranggapan jika Bagas itu terlalu bodoh. Bodoh karena menolong orang sepertinya.

Bodoh, karena rela menunggu berjam-jam, hanya untuk menemaninya. Padahal sebelumnya, dia telah menghina, mencaci maki, dan juga. Ah, Anwar saja tak sanggup menelusuri semua kesalahannya pada Bagas serta keluarganya.

"Tolong minta Bagas kesini," pinta Anwar dengan nada lirih.

"Kenapa tiba-tiba?" tanya Hesti, yang sedang memijat kakinya.

Nadia yang hendak mengantarkan bubur untuk Ayahnya, menghentikan langkah di balik tembok dapur.

"Aku ingin berterima kasih, serta minta maaf," ungkap Anwar dengan tatapan kosong. "Kalo gak ada dia, mungkin aku mati sendirian di sawah. Dan baru kalian temukan, ketika badanku kaku,"

Hesti terdiam, diam-diam dia membenarkan ucapan suaminya.

Tapi, gengsi dan dendam lebih besar. Dendam karena penolakan Bagas pada Nadia.

Iya, beberapa hari yang lalu dia mengetahui jika Bagas dan Nadia sempat bertemu di sawah.

Hesti mengetahuinya dari orang yang sawahnya tak jauh dari balai. Dan orang itu baru berani mengatakan, ketika Nadia sudah bertunangan dengan Wandi.

"Dia gak mungkin datang," ujar Nadia, yang muncul dengan semangkok bubur di tangannya.

Anwar dan Hesti saling pandang.

"Kalian gak mungkin lupa kan? Kalo sudah mengharamkan mereka serta anak cucu mereka untuk kesini," peringat Nadia, sembari menyerahkan bubur ke tangan ibunya.

"I-itu hanya ucapan ketika aku murka. Dan sekarang sudah gak berlaku lagi kok," ungkap Anwar kikuk.

Nadia hanya mendengus, menatap jengah kedua orang tuanya.

"Aku akan belanja hantaran hari ini, bang Wandi telah mengirimi aku uang,"

Setelah mengatakan itu, Nadia pun berlalu.

✨✨✨

Di kota, Wandi menghitung penghasilan yang di dapatkannya hari ini.

Senyum puas terpampang nyata.

Walaupun yanh di dapatkan rata-rata pecahan seribu sampai lima ribu, tapi Wandi puas.

Ya, Wandi bekerja sebagai pengemis. Setiap hari dia memolesi wajahnya dengan make-up. Tak lupa dia menambahkan kulit palsu agar terlihat seperti orang tua renta.

Dulu, Wandi bekerja sebagai kurir pengantar makanan. Namun, dia sering mendapatkan keluhan dari pelanggan. Makanan telat sampai lah, makanan yang berantakan lah, dan lain sebagainya.

Alhasil, karena tidak mau mendapatkan komplen terus-terusan, Wandi berhenti kerja. Dan dia diajak oleh tetangga kosannya untuk bekerja sebagai pengemis, di pasar ke pasar.

"Lima ratus ribu, jumlah yang banyak, bermodalkan tekad," kekeh Wandi mengipasi wajahnya dengan uang tersebut.

Dan kenapa ia mau menikahi Nadia? Karena dia butuh orang lain, untuk membuktikan pada orang-orang kampung, kalau dia bekerja sebagai manager di hotel mewah di kota sana.

Di hari yang sama, Hayati yang di boncengin Bagas datang ke rumah Juliana.

Walaupun, keadaan besannya udah lebih baik, itu tak menyurutkan niat Hayati untuk berkunjung.

Dia tiba dengan parcel buah.

Safira, terlihat sedang menyuapi ibunya dengan telaten.

"Maaf bu, karena merepotkan," ujar Juliana melihat parcel yang di letakkan di nakas kamarnya.

"Iss, kayak sama siapa aja. Sakit apa sih bu? Kok bisa tergeletak,"

"Ibu memang sering gini. Tensi darahnya sering rendah. Hb juga," terang Safira masih fokus menyuapi ibunya.

"Kenapa gak ke rumah sakit aja?"

"Terlalu merepotkan mereka. Kasihan Malik dan Bungsu," sahut Juliana.

"Kan ada Bagas. Bagas kan, anakmu juga bu!" seru Hayati cepat.

"Dia pasti sibuk," lirih Juliana, dengan lemah.

"Sesibuk apapun, kalo demi orang tua, dia wajib meluangkan waktunya," tekan Hayati, melirik Bagas, yang berdiri di ambang pintu.

Bagas mengangguk setuju. Karena ajaran orang tuanya, berbakti itu kewajiban dan juga keharusan.

Dan ketika Bagas menikah, orang tuanya bukan lagi dua. Melainkan empat.

"Sekarang aku udah gak apa-apa, Bagas juga telah mencarikan obat untukku," balas Juliana, menatap sekilas menantunya.

Dan Juliana kembali menceritakan pada Hayati. Betapa beruntungnya ia memiliki menantu sehebat Bagas.

Dan mulai lah, masing-masing mereka memuji menantu sendiri, seperti ajang pamer kebaikan.

Jika Juliana memuji Bagas, Hayati malah memuji Safira.

Alhasil, yang di puji malah mesem-mesem sendiri. Bahkan, hidung keduanya kembang-kempis menahan rasa bangga.

"Oya, berhubung kandungan Safira udah lima bulan, berarti bentar lagi, kita akan mengadakan syukuran. Menurut ibu, baiknya kita adakan dimana?" tanya Hayati hati-hati.

"Karena ini kehamilan pertamanya. Sebaiknya diadakan disini saja. Dan aku juga berencana ingin merawat Safira dengan tangan ku sendiri. Bukan aku tidak mempercayaimu. Tapi, aku ingin berguna sebagai ibu," ujar Juliana, menatap penuh permohonan dan Juliana dan Bagas.

"Aku terserah sama Safira. Karena keinginanku hanya satu. Ingin Safira nyaman," ujar Bagas cepat.

"Aku juga bisa, pulang pergi. Menjaga Safira dan merawat ayah." sambung Bagas.

"Aku ingin disini, mungkin hanya sampai empat puluh empat hari," sahut Safira.

Dan Hayati mengangguk setuju.

Di kampung, memang anak pertama sering di rawat oleh ibu kandung dari wanita yang melahirkan.

Tapi, mertua pun tidak lepaskan tangan begitu saja. Biasanya, sang mertua datang, walaupun hanya sekedar untuk mencuci baju anak, menantu dan cucunya.

Dan untuk Hayati, mungkin Bagas akan mencari orang lain, untuk mengantikan ibunya itu.

1
yrputri
bagas bijaksana ini, calon suami yang baim💪
yrputri
semangat🤭
Mega Siregar
udah, ama Safira aja
Aquarius97 🕊️
ey Bagas, masih baru ya ga boleh di jenguk dulu 🤣
Aquarius97 🕊️
ngaca dong Bu hestiiiiiiiii🙄
Mingyu gf😘
bagus nadia, semoga kamu juga segera mendapatkan laki laki yang baik
Mingyu gf😘
/Sob/
Mingyu gf😘
Bagas safira terlalu polos untuk di sakiti🥺jadi tolong jaga hatinya
Aquarius97 🕊️
Halah halahh... tuman mulutmu Nurul minta di sambelin yaa
Aquarius97 🕊️
Alhamdulillah Ya Allah... rumor mandul Safira terpatahkan...
Cimol krispy
Wah udah tamat.
bahagia selalu buat Bagas dan Safira.
juga buat Wandi dan Nadia.
terimakasih author telah menyajikan cerita yang relate dengan kehidupan sehari² tapi tetap keren dan bernyawa.
Cimol krispy
Duuh siapa yang iris bawang di sini, perih sampai ke mata🤭
Cimol krispy
Berarti bisa jadi Nadia memang jodoh terbaikmu wandi
Mega Siregar
orang tua nadia memang belagu, matre/Smug/
Aquarius97 🕊️
terimakasih kak othor.. sudah mengizinkan Safira mengandung 🤭🤭🤭
Aquarius97 🕊️
harusnya kamu jangan menuruti permintaan kedua orangtua mu nad.. setidaknya pikirkan bahwa kamu juga perempuan, bagaimana jika kamu yg di posisi Safira?
Aquarius97 🕊️
fiuuuuuhhhh kukira Safira nggak tahu eheheh
Mega Siregar
kalau kamu benar-benar cinta ama bagas, nad...
kenapa kamu gak tinggalkan aja kedua orang tuamu, hah? 😤
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
berkah banget episode kali ini. Safira kyk dpt berkah dimana2. bahagianya nular ke ortu, dan ketemu Nadia jg tu cewek mau ngedoain dia dan anaknya di dlm perut 😭🤌❤️❤️❤️❤️
Cimol krispy
nggak kebayang, pas nyampe rumah tau2 orangtuanya udah dikafani. dua2nya lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!