NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Langkah Tanpa Nama

Fajar baru saja menyingsing, cahaya keemasan menyusup lewat celah-celah reruntuhan tambang, menerangi debu qi yang masih beterbangan seperti kabut. Suara linggis menggali dan teriakan buruh saling bersahutan terdengar samar dari terowongan utama. Mereka sedang mengeluarkan jenazah satu per satu, memanggil nama-nama yang tak lagi menjawab. Tapi tak ada yang memanggil nama Li Shen. Tak ada yang sadar dia sudah bangkit dari reruntuhan terdalam.

Li Shen berdiri sendirian di sudut gelap terowongan tujuh, tubuh barunya terasa ringan namun penuh kekuatan yang asing. Pedang Langi itu sudah dibungkus kain tebal yang biasa ia pakai untuk kerja di tambang, kain kasar yang dulu ia gunakan untuk membungkus alat sederhana seperti palu, linggis sampai beliung, sekarang kain itu menjadi selubung sempurna untuk sembunyikan bilah yang berkilau itu. Ia ikat bundel itu di punggung, seperti buruh biasa membawa barang.

Dia tatap reruntuhan itu lama, tempat yang hampir jadi makamnya, tempat yang selama bertahun-tahun jadi penjara hidupnya. Tidak ada rasa rindu. Hanya dingin. Ia sudah tahu tidak ada yang akan mencari dirinya tepat seperti yang Paman Gu bilang. Tak ada yang akan menangisi kepergiannya. Anak yatim piatu seperti dia, mati atau hidup pun sama saja bagi mereka.

Ia melangkah hati-hati ke arah terowongan samping yang jarang dipakai, sebuah jalan rahasia yang ia temukan bertahun-tahun lalu saat bekerja malam sendirian. Terowongan itu terbilang sempit, penuh akar, sarang laba-laba dan batu-batu berlumut. Terowongan itu mengarah ke lereng gunung di belakang tambang. Beruntung tak ada penjaga di sana, karena Zhao Kui dan anak buahnya terlampau sibuk di mulut utama gua.

Li Shen bergerak tanpa suara, tubuh barunya membuat langkahnya ringkas seperti bayangan. Ia lewati mayat-mayat yang tertimbun parsial, tak berhenti bukan karena tak peduli, tapi karena ia tahu tak ada gunanya lagi. Yang hidup harus lanjut.

Keluar dari terowongan samping, angin pagi lantas menusuk kulitnya, membawa bau rumput basah bercampur debu qi yang lebih tipis. Ia menuruni lereng dengan hati-hati, sampai melewati sawah kering di bawah. Beberapa petani sudah mulai bekerja untuk mencabuti rumput liar. Mereka melihat pemuda itu dari kejauhan.

Salah satu petani tua yang dulu sering menyuruh Li Shen menggarap sawah, mengerutkan kening. “Bukankah Itu Li Shen? Kenapa sekarang jauh lebih gagah?” Ia geleng-geleng kepala sendiri sambil meraba jenggotnya, lalu lanjut bekerja. “Sepertinya bukan.”

Yang lain bahkan tak sadar sama sekali.

Li Shen lewat tanpa berhenti. Ia sudah tahu, tak ada yang peduli cukup untuk ingat wajahnya dengan benar. Tak ada yang akan sekedar bertanya “kau selamat?”. Itu sudah biasa baginya. Malah lebih baik begini, tak ada yang curiga jika dirinya pergi.

Alhasil ia lanjut jalan, menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui, menuju hutan di perbatasan desa. Tujuannya jelas ke ibu kota Lianzhou, Jing’an. Pusat segala penindasan terjadi. Tapi ia tidak langsung ke sana. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri jika dirinya lebih kuat dengan cara melatih tubuh dan pedang ini di tempat sepi, lalu mencari informasi tentang Perkumpulan Tanpa Mandat yang rumornya telah lama beredar.

Hari pertama perjalanan, perutnya keroncongan karena tak makan sejak malam longsor. Di hutan itu, ia berburu kelinci liar yang lincah. Dengan tubuh baru, gerakannya cepat seperti bayangan. Ia bisa menangkap kelinci bahkan hanya dengan tangan kosong. Di atas api unggun kecil, ia panggang daging itu sederhana, makan lahap meski tanpa garam. Rasanya jauh lebih enak dari nasi basi yang dia makan.

Hari-hari berikutnya, ia lanjut berburu rusa, atau ikan di sungai dengan ujung pedangnya. Kadang ia tukar hasil buruan dengan pedagang keliling. Kulit kelinci atau daging ditukar roti bantat, buah-buahan, atau jubah lusuh untuk mengganti pakaiannya yang compang-camping akibat longsor.

Sejak awal Li Shen memang menghindari jalan utama. Ia tidur di bawah pohon atau di mulut gua, lalu berlatih pedang pada malam hari di tempat-tempat sepi. Ia menebas pohon besar sampai roboh, berlatih menangkis lawan rekaan, dan mengulang gerakan yang sama hingga semakin halus. Tubuhnya tidak mudah lelah, sudah jelas senua ini berkat basis kekuatan dari Taixu Shengjing yang ia sebut sebagai “Kehendak Murni”.

Seminggu kemudian, ia sampai di perbatasan Lianzhou yang jauh lebih ramai dari desanya. Jalanan tanah seakan melebar dengan pos penjagaan Tianyuan berdiri di kejauhan. Di sana, kultivator rendah memeriksa pedagang ataupun pengelana yang lewat. Mereka mengambil pajak, atau memukul yang tidak patuh dengan gagang tombak. Li Shen mengamati semuanya dari balik semak belukar, menatap pos itu lekat-lekat.

“Aku harus cepat-cepat pergi ke ibu kota,” gumamnya.

Malam itu, ia berjalan melingkari pos dengan melewati hutan gelap dan lanjut ke arah Jing’an, ibu kota yang masih berjarak cukup jauh.

1
MuhFaza
bagus. lanjutkan
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!