Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sampai di dalam rumah, Viola membuang napas panjang. Dadanya berdebar luar biasa, sama seperti dulu saat ia pertama pedekate dengan Rasta. Saat ia memejamkan mata, bayangan Rasta yang menari-nari di pikirannya. Jelas sekali.
Viola menggeleng. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri sambil menggromet, "Gak boleh, Vi! Kamu gak boleh mikirin Rasta terus!"
Akan menjadi tambah rumit jika Viola terus dekat dengan Rasta. Dia harus segera menjauh.
Viola membawa Vita ke kamar, membaringkannya ke atas tempat tidur. Lalu, mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hei...."
"Hei ... Kamu kapan pulang?"
*
Sementara itu, Rasta masih berada di dalam mobil. Tanpa ada niat untuk beranjak pergi dari rumah Viola. Dia menatap hampa saat tau sesuatu yang ingin ia gapai, letaknya sudah semakin jauh. Rasta mengejar, sementara yang dikejar malah berlari menjauh.
Jauh karena dua hal. Pertama, karena Rasta sendiri yang menjauhkannya. Dan yang kedua, karena Viola sendiri yang berusaha menjauh. Rasta tidak mengerti, mengapa Viola tidak mau memberikannya kesempatan lagi, padahal jelas Rasta bisa melihat Viola masih mencintainya.
Apa karena dia takut hal yang dulu akan terulang kembali? Padahal Rasta sudah menunjukkan perubahannya. Dia tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Apa pun yang akan terjadi nanti, Viola dan Vita yang akan menjadi prioritasnya Rasta.
Rasta rasa, alasan Viola menjauh bukan karena dia tidak mempercayai Rasta. Buktinya, Viola tetap mengenalkan Rasta kepada Vita sebagai ayah kandungnya, itu sudah cukup membuktikan Viola sudah menaruh kepercayaan terhadap Rasta.
Terapi karena ada sesuatu lain, yang lebih rumit. Dan Rasta belum tau apa itu.
*
"Ta, mama boleh bicara sebentar?"
Langkah kaki Rasta terhenti sebelum ia memasuki kamarnya. Dilihatnya, sang mama sedang berjalan mendekatinya.
"Mama mau bicara apa?" sahut Rasta.
Liana bertanya, meski ada keraguan di setiap ucapannya, "Kamu udah ketemu sama Viola dan anak kamu? ketemu di mana? Apa mama juga boleh ketemu sama mereka?"
Rasta menatap mamanya lekat, mencoba mencari kesungguhan di kedua matanya. Jangan sampai Rasta terkecoh dengan kebohongan mamanya lagi. Jangan sampai mamanya membuat Viola dan Vita menjauh darinya lagi.
"Mama mau apa ketemu sama mereka?" tanya Rasta. Mendadak, suaranya ketus.
"Pertama, mama mau minta maaf sama Viola. Dan yang kedua, mama mau ketemu sama cucu mama. Pengen lihat dia," jawab Liana, mencoba terlihat sungguh-sungguh, agar Rasta percaya.
Rasanya sulit bagi Rasta untuk mempercayai mamanya, setelah apa yang wanita itu lakukan di masa lalu. "Mama punya rencana apa lagi?" Rasta menyipit curiga.
Liana menghela napas. "Kamu kok tanyanya gitu sih, Ta? Mama nggak ada rencana apa-apa, mama beneran mau ketemu sama Viola dan cucu mama. Mama mau minta maaf sama mereka," tukasnya berusaha meyakinkan Rasta.
"Sulit untuk aku percaya sama mama lagi," balas Rasta. "Aku gak bisa jawab, Ma. Semua keputusan ada di tangan Viola. Kalau Viola mau ketemu sama mama dan kalau dia ngizinin mama ketemu sama Vita, nanti aku atur waktunya."
Rasta kemudian membuka pintu kamar, tanpa menunggu jawaban dari mamanya.
Mungkin yang dirasakan Viola saat ini, sama seperti yang Rasta rasakan terhadap mamanya. Sulit mempercayai lagi setelah dikecewakan.
*
Rasta melihat Viola tetap berangkat kerja ke restoran sesuai dengan jam kerjanya. Bahkan dia berangkat lebih awal. Rasta jadi semakin menyesal teringat hukuman lembur yang pernah Rasta berikan hanya karena Viola telat tiga puluh menit.
Rasanya ingin mengulang waktu untuk memperbaiki semuanya.
Viola sedang mengelap meja, tersenyum tipis saat melihat Rasta yang berjalan sambil menyembunyikan tangan kirinya di dalam saku celana, kemudian Rasta mengacak-acak puncak kepalanya saat melewati Viola.
"Cieeee....."
"Ekhem.. ekhem..."
Tidak Rasta pedulikan para karyawannya yang meledeknya. Tidak sopan memang! Dia tetap berjalan tenang ke ruangannya.
"Jadi ... Lo sama Pak Rasta udah balikan? Kapan kalian rencana mau nikah?" cacar Widia, matanya berkedip-kedip.
Viola memutar bola matanya. "Nggak ada yang balikan kok," jawabnya. "Gue sama Pak Rasta ya biasa-biasa aja. Sewajarnya orang tua gitu lah."
"Masa sih?" Widia tidak percaya. "Tapi keliatannya kalian kayak udah balikan. Soalnya sikap Pak Rasta ke lo tuh manis banget." Widia tersenyum-senyum tidak jelas.
Viola yang diacak-acak kepalanya, tapi Widia yang merasa hendak meleleh seperti lilin yang terbakar.
"Biasa aja tuh," cetus Viola sambil melanjutkan pekerjaannya. Meja-meja itu harus sudah bersih sebelum restoran buka.
"Ih lo nggak baper gitu?"
Viola menggeleng.
"Lo nggak mau balikan sama Pak Rasta lagi, ya?" Widia menebak-nebak.
"Apa sih, Wid? Kerja! Biar bisa bayar cicilan motor, jangan ngomongin Pak Rasta terus."
Widia cemberut setelah dimarahi Viola. Padahal kan dia cuma bercanda. Lagian, kelihatannya dua manusia itu masih saling mencintai, terus kenapa tidak balikan dan segera menikah? Toh, mereka sudah mempunyai anak.
*
"Vi!"
Viola menoleh saat namanya dipanggil. Dia melihat Rasta yang sedang berlari kecil mengejarnya.
"Iya, Pak Rasta?" sahut Viola sopan, selayaknya karyawan yang bicara dengan bosnya. Rasta berdecak kesal.
"Bisa nggak jangan panggil aku Pak? Aku bukan bapak kamu. Mending panggil aku sayang aja gimana? kayak dulu." Rasta tersenyum, seperti biasa senyum yang menyebalkan.
Viola menghela napas sambil memutar bola matanya. "Kenapa, Pak Rasta? Bapak butuh bantuan dari saya?" dan Viola tidak menggubris perkataan Rasta.
Ya sudahlah, Rasta hanya bisa pasrah. Tidak mau memaksa Viola.
"Eum ... Kalau mama mau ketemu sama kamu dan Vita gimana, Vi? Kamu mau ngasih kesempatan mama buat ketemu sama kalian?"
Wajah Viola langsung berubah. Rasta dengan cepat menambahkan ucapannya, "Tapi aku nggak maksa kok, Vi. Kalau kamu nggak mau, atau belum siap, aku juga nggak apa-apa."
Sejujurnya Viola tidak tahu apakah dia sanggup bertemu dengan mantan ibu mertuanya. Dari dulu, wanita itu tidak pernah menyukai Viola tanpa adanya alasan yang jelas.
Sampai-sampai mamanya Rasta itu berpura-pura baik padanya, hanya untuk menghancurkannya.
"Saya nggak tau, Pak Rasta. Ada keperluan apa ya beliau ingin bertemu saya dan Vita?"
Astaga Viola ... Rasta benar-benar tidak tahan mendengar Viola berbicara formal seperti ini. Jangan sampai Rasta memaksa mencium bibir yang memanggilnya Pak itu.
"Mama mau minta maaf sama kamu, sekaligus mau ketemu sama cucunya."
Viola terdiam cukup lama, nampak sedang memikirkan matang-matang jawaban atas permintaan Rasta. Entah mengapa, ia tidak yakin mamanya Rasta benar-benar ingin minta maaf. Curiga, dia mempunyai niat jahat lain.
Astaga ... bahkan sekarang Viola tidak bisa berpikir positif terhadap ibunya Rasta.
"Mungkin ... Kapan-kapan aja ya, Pak Rasta. Kalau dalam waktu dekat ini saya belum siap."
Rasta tanpa keberatan menganggukkan kepalanya. "Oke, tapi tolong ya Viola yang cantik, perempuan yang paling aku cintai, walaupun sedang di dalam restoran, tetap panggil aku Rasta kayak biasanya aja. Jangan pakai embel-embel 'Pak'. Aku nggak suka."
Viola mendesah pelan, "Mohon maaf saya tidak bisa, Pak Rasta. Kita beda status, di luar anda teman saya. Di sini anda bosnya saya. permisi .... "
Rasta masih mematung di tempat.
Apa kata Viola tadi?
Teman? Benarkah Rasta hanya dianggap sebagai teman sekarang?
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu