"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pikiran Naina terus saja terganggu oleh sosok cantik dan anggun. Sangat berbeda jauh dengan dirinya, yang terlihat kucel dan tak terurus.
Bagaimanapun, Naina harus mengalah. Mau melabrak pun ia pasti tak akan ada yang membela. Naina sadar, ia menikah dengan Ryan karena sebuah desakan warga dan demi keamanan mereka berdua.
Pernikahan yang tak di landasi cinta, mana bisa bertahan lama. Adanya buah hati di tengah-tengah mereka pun bukan suatu tolak ukur untuk tetap bersama di tengah hati yang mulai berbeda.
Namun hati Naina labil, ia hanya butuh tempat berlindung. Butuh tempat pulang. Butuh seseorang yang tetap berada di sampingnya. Naina tak mau sendiri lagi. Terdengar serakah, tapi Naina ingin egois mempertahankan miliknya.
Siapa sangka yang ia pikir miliknya bukanlah miliknya dari awal. Jika ingin tega, Naina lah sesungguhnya pihak ketiga diantara hubungan Ryan dan Maeta. Siapa yang harus di salahkan? Jika yang harus di salahkan adalah Ryan. Dia yang egois dan tak berperasaan.
Ryan serakah, ia tak ingin melepaskan kehidupan yang baru, namun ia tak ingin kehilangan kehidupan yang lamanya. Meski hatinya tak berada di Naina, tapi sebagian jiwanya tertanam di Nayla. Putri kandungnya.
"Naina, bawakan pulpen di jas tadi." Titah Ryan dengan suara tegasnya memerintah.
"Jas yang tadi anda pakai?"
Ryan menatap Naina kesal.
"Maaf," lirih Naina dan mencoba mencari benda yang Ryan inginkan.
Saat Naina menemukan jas yang Ryan pakai tadi saat ngantor, ia langsung menggeledah jas tersebut. Betapa terkejutnya Naina saat menemukan kotak persegi panjang yang di bungkus kain bludru merah.
Dengan lancangnya Naina membuka kotak itu, ternyata isinya kalung cantik dengan permata hijau yang menghiasi liontin kalung tersebut.
Betapa bahagianya Naina, apakah ini kejutan untuknya? Ya, Naina yang labil dan takut di tinggalkan itu merasa bahagia dengan apa yang ia temukan. Naina merasa bahwa Ryan memberikan kejutan untuknya.
Ryan yang tak biasanya menyuruh Naina, kali ini menyuruhnya mencari sesuatu, dan akhirnya menemukan benda berkilau yang membuatnya bahagia.
"Pak apakah kotak ini untukku? Aku menemukannya di jas anda." Cerocos Naina berjalan menemui Ryan dengan wajah cerah.
Ryan ingin mengelak, namun ia tak kuasa begitu melihat wajah Naina yang tersenyum cantik padanya. Ryan akui bahwa Naina itu cantik, bahkan cantik alaminya dapat mengalahkan kecantikan Maeta.
Ryan luluh sesaat, namun ia tepiskan kembali. Kalung cantik yang akan Ryan berikan pada Maeta. Gadis pujaan hatinya itu akan tiba di tanah air 2 minggu kedepan.
"Aku suka, Pak. Kalungnya cantik." Ucap Naina tanpa memperdulikan Ryan.
"Kau suka?" Ryan bertanya yang jelas-jelas sudah tahu jawabannya.
"Ehmm..." Jawab Naina dengan senyuman merekah di wajahnya.
Dalam lubuk hati Ryan, ia tak ingin merusak wajah cantik itu kembali sendu. Biarkanlah kado itu untuknya, Ryan akan membelikan yang baru untuk Maeta. Tak ada salahnya juga membahagiakan istrinya.
"Sini aku pakaikan."
Naina langsung mendekat pada Ryan, dan memberikan kalung itu pada suaminya untuk di pakaikan pada leher jenjangnya.
Memang cantik dan sangat pas di leher Naina. Ryan pun terkesima sesaat. Sampai akhirnya ia memutuskan kembali mencari pulpen yang ia maksud.
Naina bersenandung, ia melakukan pekerjaan rumah dengan hati bahagia. Naina berpikir mungkin ini awal yang baik untuk rumah tangganya. Ryan telah menunjukkan perubahan. Semoga kedepannya tak ada lagi pihak mana pun yang merusak bahteranya. Pikir Naina.
Malam ini, menjadi malam yang bahagia dan tenang bagi mereka bertiga. Untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan tinggal bersama, malam ini Ryan makan bersama dengan keluarga kecilnya. Begitu pun dengan Nayla yang semakin akrab dengan Ryan.
"Terimakasih untuk makanannya." Ucap Ryan dan berlalu pergi meninggalkan Naina.
Ryan menggendong Nayla untuk tidur bersamanya. Tidak dengan Naina.
"Sabar sebentar, Naina. Mari kita goyahkan lagi hati suamimu." Lirih Naina menatap punggung Ryan yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu.
...****************...
Malam telah berlalu, pagi pun menyapa. Naina sudah siap dengan aktivitasnya. Ryan telah siap dan kemas.
"Nay masih di kamar ku, ia masih tertidur." Ucap Ryan dan berlalu pergi.
"Setidaknya sarapan lah dulu."
"Aku buru-buru."
"Tunggu sebentar," Naina berlari menghampiri Ryan dengan membawa bekal.
Naina sudah memastikan bahwa kejadiannya akan seperti ini. Setidaknya bekal sarapan ini bisa membantu Ryan dari rasa lapar.
"Makasih." Ryan menerimanya dan berlalu pergi meninggalkan apartemen.
Seperti biasa Ryan berangkat kerja tepat waktu, ia selalu lebih dulu daripada karyawannya. Ryan hanya ingin memberikan contoh baik untuk karyawannya. Selain itu Ryan juga ingin menghindari Naina.
Lambat laun, Ryan tak bisa menguasai dirinya bila berlama-lama bersama Naina. Ia harus tetap sadar. Jika ia telah bertunangan dengan cinta pertamanya. Maeta. Untuk Naina, itu hal kecil, Ryan tinggal menceraikannya.
"Yan, besok ada undangan syukuran dari Pak Yanu, dari grup Travel trans Java." Seru Dani yang tiba-tiba masuk ke ruangan kerja Ryan dan melemparkan undangan.
Ryan membolak-balikkan undangan itu, dan meletakkannya kembali. "Males."
"Lu harus datang, Yan. Gak baik juga lho. Mereka 'kan salah satu rekan bisnis kita."
"Kita lihat besok saja."
Ryan mulai mencoret-coret sketsa awal desain bangunan yang akan ia promosikan. Namun pikirannya masih tak tenang. Entah apa sebenarnya yang Ryan pikirkan. Hati dan pikirannya kini tak sejalan.
Jika mempertahankan bahtera yang ada otaknya tak bisa menerimanya. Jika ia melepaskan bahteranya dan memiliki cintanya, hati Ryan sakit seperti tercabik-cabik.
"Wih, apaan ini? Enak kayaknya." Dengan lancangnya Dani membuka kotak bekal Ryan.
Telur dadar yang sudah lengkap dengan kornet dan juga sayuran di dalamnya. Terlihat sangat menggiurkan. Telur dadar yang tebal dan juga renyah itu sangat menggoda bagi Dani.
"Yang sopan, ya, jadi orang." Ryan langsung membawa bekal sarapannya itu yang hampir di lahap oleh Dani.
"Lah, dari tadi gak lu sentuh, giliran mau gue makan tiba-tiba banget lu bawa."
"Berisik!" Ryan memotong telur dadar itu dengan garpu plastik yang telah di sediakan.
Ryan terdiam, masakan Naina tak pernah gagal di mulut Ryan. Rasanya pas dan juga enak. Meski terlihat aneh dan kekanak-kanakan, tapi rasanya bukan main-main.
Hanya memakan telur dadar, Ryan merasa kenyang. Tanpa sedikitpun ia bagi pada Dani.
"Yan, lu bener mau cerai sama Naina?" Tanya Dani yang dari tadi tak keluar dari ruang kerja Ryan.
Ryan terdiam, ia pun bingung. Meski secara hukum ia bisa membawa Nayla dengan uang, tapi apa Ryan akan tega memisahkan Ibu dan anak?
"Menurut lu gimana?"
Dani kesal dengan jawaban Ryan. Dengan spontan Dani melemparkan kerta ke wajah Ryan.
"Menurut gue, lu mending lepasin si Maeta. Karena kedepannya gue rasa lu gak akan bahagia. Lu bakal tersiksa dan sering terkena sakit batin."
"Sotoy banget sih lu." Elak Ryan.
"Terserah lu, cuma saran gue, lu lepasin Maeta dan pertahanan bahtera yang ada."
Dani berlalu meninggalkan Ryan.
Ryan semakin dilema. Bagaimana pun Dani teman semasa di putih abu, ia tahu persis sifat dan sikap Maeta yang di rasa kurang baik.
Meski cantik dan anggun, Maeta bukanlah gadis yang pas buat Ryan yang memiliki jiwa otoriter dan otak pemimpin. Dani merasa takut bila nanti Ryan akan benar-benar jatuh ke dasar jurang paling dalam bila bersama dengan Maeta.
Tapi mau bagaimana lagi, soal hati tak bisa orang lain ikut campur. Biarkan ia merasakannya sendiri agar ia paham dengan apa yang ia pilih.