Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 19
"Brengsek kau! Kurang ajar kau Bima! Berani sekali kau berbuat seperti ini padaku! Kau fikir kau siapa? Aku tak kan pernah membiarkan kau hidup dengan tenang!" teriak Bruno saat melihat Bima masuk dan tertawa melihat keadaan pria itu.
"Kau saja yang bodoh dan lengah. Siapa suruh kau tak selalu waspada! Sekarang wilayahmu menjadi wilayahku! Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Kau mau melawanku? Bahkan kau saja terpenjara di dalam sini, di bawah kendaliku!" jawab Bima penuh kemenangan dan keangkuhan.
bugh
bugh
Bugh
Bugh
"baji-ngan sial-an kau Bima! Pengecut kau Bima" teriak Bruno setelah Bima memberikannya beberapa pukulan. Bruno tak bisa melawan karena dalam keadaan terikat.
"Beri kembali mereka hukuman! Dan ambil alih wilayahnya sekarang juga! Jika ada anak buah mereka yang tak menurut maka habisi saja!" perintah Bima.
"Baji-ngan kau Bima! Sampai kapanpun baik aku maupun anak buahku tak akan ada yang menurut padamu! Mereka semua setia padaku!" teriak Bruno tapi tak di dengar oleh Bima.
Mereka pergi dari sana dan membiarkan anak buahnya memberikan pelajaran kepada Bruno dan anak buahnya yang tak mau menurut dan beralih menjadi pengikut Bima. Pria itu memang terkenal dengan keke-ja-man-nya yang tak pernah mengenal ampun kepada lawan-lawannya.
"Dimana anak itu?" tanya Bima.
"Maksudnya Aruna? Kalau Aruna, Dia sedang mendapatkan perawatan karena mendapatkan banyak pukulan dan lu-ka," jawab Edwin membuat Bima menatap tak suka kepadanya.
BRAAAAKKK
Dengan kasar Bima membuka pintu kamar yang di tempati oleh Aruna. Gadis kecil itu tak kaget dengan kelakuan pria yang dulu dia panggil ayah. Kelakuan kasarnya sudah tak lagi membuatnya menangis ataupun sakit hati. Bahkan mungkin hati dan perasaannya sudah mulai mati rasa. Yang ada kini hanya amarah, dendam dan balas dendam kepada pria itu. Untuk sementara dia menahan diri sampai dimana tiba waktunya untuk membalaskan semuanya.
sreeeeettttt
"Aku tak suka anak lemah! Berdiri dan pergi latihan kembali!" perintah Bima setelah menarik selang infus di tangan Aruna.
Hal barusan sampai membuat tangannya mengeluarkan cairan merah. Tadi Aruna sempat drop lagi sehingga dokter memberikan dia perawatan lagi dengan cara memberikan cairan infus kepada Aruna. Edwin menatap tak percaya di belakang Bima. Semua yang di lakukan Bima kepada Aruna sangat tak berperasaan. Apalagi Aruna jelas anak kandungnya, tak seperti yang dia katakan. Bima hanya sedang menyangkal jika dia memiliki anak perempuan.
Aruna membiarkan cairan merah itu terus keluar dan menetes ke lantai. Matanya menatap nyalang ke arah Bima yang kini ada di hadapannya. Tak ada lagi rasa takut dalam diri Aruna kepada pria itu.
Plaaaakkk
"Berani sekali kau menatapku seperti itu! Kau fikir kau sudah hebat karena berhasil selamat dalam operasi ini! Kau anak tak berguna yang hanya menyusahkan saja. Kau harus belajar untuk tidak menyusahkan orang lain! Cepat pergi dan latihan fisik lagi! Jangan berleha-leha dan malas. Menjadikan lu-kamu yang tak seberapa itu alasan untuk tidur!" emosi Bima setelah menampar Aruna.
Dia tak suka tatapan itu, dia benci tatapan yang memperlihatkan kebencian dan amarah yang besar dari Aruna. Tatapan itu seolah menantangnya.
"Tuan, Aruna harus istirahat seperti anak buah kita yang lainnya, mereka juga sama. Jika di paksa maka Aruna akan semakin kelelahan. Dia masih kecil, fisiknya tak sekuat kita para pria dewasa! Biarkan dia beristirahat satu hari, besok aku akan membuat dia kembali berlatih fisik!" Edwin mencoba untuk membela Aruna.
Bima tak menjawab, tapi dia pergi dari sana tanpa sepatah katapun berjalan keluar dari dalam sana.
"Apa balasan untukku dari setiap yang kamu perintahkan padaku Tuan? Aku rasa jika hanya pemotongan masa tahananku saja tak cukup. Apalagi aku mengorbankan nyawa di setiap operasi yang aku lakukan!" ucapan Aruna berhasil membuat Bima berhenti dan berbalik.
"Apa maksudmu hah?" tanya Bima, Edwin juga terlihat kaget dengan ucapan Aruna.
"Aku ingin imbalan uang juga selain dari pemotongan waktu tahananku. Setidaknya aku bisa menikmati hasil keringatku. Mereka saja di bayar, dan kau mendapat keuntungan yang banyak dari nya-wa kami. Bukankah aku hanya alat untukmu juga Tuan Bima? Alat untuk memuluskan semua rencanamu? Rugi rasanya kalau aku hanya mendapatkan potongan waktu saja!" jawab Aruna berani.
"Apa? Kau berani padaku? Kau sedang bertransaksi denganku Aruna?" tanya Bima tak percaya.
"Anggap saja begitu Tuan! Saya ingin perjanjian tertulis, mendapat gaji dan mendapatkan pemotongan waktu tahanan dari setiap tugas dan perintah anda. Saya akan lakukan semuanya sampai waktu saya habis di sini. Dan setelahnya perjanjian berakhir!" jawab Aruna.
"Kau fikir kau siapa Aruna? Kau bisa mengaturku?" emosi Bima.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membawa Arkha pergi dariku. Apalagi kepercayaan dia padamu sudah hilang karena Anda membawa para bedebah itu ke istana anda! Dengan mudah aku bisa membawa dan mempengaruhi anak kesayanganmu untuk membencimu Tuan! Bagaimana anda bisa bertahan dengan kebencian dalam diri anak kesayangan anda?" jawab Aruna tenang.
Aruna menyerang Bima dengan kelemahannya, Arkha adalah kelemahan Bima. Dia terlalu mencintai dan menyanyi anak laki-lakinya itu. Dia tak akan membiarkan anaknya membenci dia.
"Kau! Sejak kapan kau menjadi anak yang licik seperti ini hah? Sejak kapan kau berani mengancam ayahmu sendiri!" emosi Bima membuat Aruna tersenyum hambar.
"Ayah? Apa anda tak salah Tuan? Bukannya aku anak ha-ram dari ibuku yang sudah kau tuduh berkhianat? Aku tak punya Ayah! Aku hanya punya baji-ngan yang sedang memenjarakan aku karena sikap pengecutnya!" jawab Aruna membuat kedua tangan Bima terkepal dengan kuat di sana.
"Buatkan perjanjiannya sekarang! Jika memang anda masih ingin mengendalikan aku!" tambah Aruna.
"Edwin buat perjanjiannya! Anak sial-an ini benar-benar sudah membuat aku marah!" geram Aruna.
"Om, tolong tambahkan juga point dalam perjanjian itu. Aku tinggal disini ini agar tak bisa bertemu dan mempengaruhi Arkha. Kemudian aku minta motor besar, dan yang terakhir. Tuan Bima tak boleh mencampuri kehidupan pribadiku, karena aku bukan siapa-siapa dia. Aku orang asing dan hanya sebagai orang yang bekerja padanya. Dalam waktu yang sudah di tentukan," tambah Aruna membuat Bima hanya menatapnya tajam kemudian pergi dari sana.
Edwin membuatkan surat perjanjian antara ayah dan anak itu. Aruna berdiri dan masih membiarkan tangannya seperti itu. Edwin dan Ramon ingin sekali membantu Aruna. Tapi, ayah dan anak itu sedang ada dalam puncak emosinya.
"Silahkan tanda tangani perjanjian ini," ucap Edwin menyodorkannya. Mereka menandatangani surat itu bersama, bahkan Aruna menambahkan cairan merah di sana sebagai bukti perjanjian itu sah.
Setelahnya Bima pergi dengan membawa kemarahan yang luar biasa di dalam dadanya. Kali ini dia mengalah kepada Aruna. Itulah yang ada dalam pikirannya.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/