Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Martabak manis
Idris membawa dua plastik dan satu paperback berisi martabak dan juga kamera yang telah ia beli tadi.
Wajahnya sumringah sambil bergumam menyanyikan sebuah lagu bruno mars yang judulnya just the way you are.
Ia berjalan dengan langkah yang stabil memasuki rumahnya sambil bernyanyi.
...When I see your face...
...There's not a thing that I would change...
...Cause you're amazing...
...Just the way you are...
...And when you smile...
...The whole world stops and stares for a while...
...Cause girl, you're amazing...
...Just the way you are...
Tia yang tengah menunggu di sofa ruang tamu tersenyum menghampiri Idris yang membawa bungkusan plastik di tangan.
"Akhirnya sampai juga pesananku" Tia mengambil bungkusan tersebut dari tangan Idris, dengan senang hati Idris memberikannya.
"This is for you wifey martabak manis yang dibeli dengan penuh cinta dari seorang Idris"
"Haha terimakasih ya mas jadi makin sayang deh aku sama kamu"
Idris ikut duduk bersama Tia di sofa. Tia telah menghidangkan dua martabak manis di diatas meja yang ada di depan sofa.
Mereka berdua menikmati setiap gigitan dengan penuh suka cita sambil menonton televisi.
Tia memilih menonton drama turki, seperti biasa her favorite serial is Esref Rüya.
"Ini enak banget mas yang kacang keju" Tia menyuapi Idris dengan martabak kacang keju di tangan kanannya.
Idris membuka mulutnya lalu memakan martabak tersebut "uhmm you're right babe this is so good" gumam Idris.
"Tapi rasa coklat juga enak kok apalagi yang beli mas suami jadi enaknya double. So yummy"
"Kamu bisa gombal ya sekarang haha"
"Ketularan kamu soalnya jadi ya gitu deh".
Idris menatap Tia yang tengah asik menikmati martabak manis sampai tidak sadar dia sudah menyakitinya.
Idris menghela nafas dengan berat lalu menyandarkan kepalanya di bahu Tia.
Tia sedikit terkejut tapi langsung tersenyum. Ia menaruh martabak yang berada di tangannya lalu meraih tisu untuk mengelap tangan.
Setelah itu Tia menepuk pelan kepala Idris yang tengah bersandar ke bahunya.
"Kayaknya kamu lelah banget ya mas? Kelihatan banget dari wajah kamu yang kebanyakan pikiran" ucapnya mendayu dengan suara lembut yang sedikit pelan.
"Cuma butuh pelukan sayang" Kemudian Idris memeluk pinggang Tia. Ia membalik Tubuh Tia sehingga berhadapan dengannya.
"Gimme a hug agar tubuhku hangat dan pikiranku nggak kalut lagi" Idris merengek pelan seperti anak kecil yang membuat Tia ingin tertawa rasanya. Baru kali ini Idris bersikap manja.
"Ututu come baby boy come to momma" dengan jahil Idris menyelundupkan kepalanya di dada Tia lalu menggesek hidungnya karena terasa sangat nyaman.
"Jangan gesek hidung disitu geli tahu!" Idris cemberut sehingga Tia menghela nafas.
"huft okay my bad come here again" Tia menyuruh Idris untuk meletakkan kepalanya kembali ke dada lalu mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Bukan mereka yang menonton televisi tapi televisi yang menonton adegan romantis mereka berdua. Bahkan adegan romantis di tv kalah oleh mereka.
...----------------...
Tia inisiatif untuk mematikan televisi lalu beralih menatap Idris "Mas ayok ke kamar udah malam nih waktunya tidur" ajak Tia lalu dia angguki oleh Idris.
Idris terlebih dulu menggandeng tangan Tia. Ia menggenggam dengan erat seakan tak mau melepaskan setiap detik saat berada di sisi Tia.
Kamar Idris dan Tia berada di lantai dua. Mereka berdua berjalan menaiki tangga bersama.
Tia lebih dulu masuk ke kamar lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang super empuk.
Sedangkan Idris masih membasuh wajahnya di kamar mandi.
Suara langkah kaki terdengar di indera pendengaran Tia. Ia melihat Idris yang berjalan menuju ke arahnya.
Lalu Idris mengambil celah saat melihat Tia tengah melihat kamera yang telah Idris beli tadi.
Ia membuka kaki Tia lalu menelusupkan dirinya di tengah. Ia tersenyum hangat saat Tia menoleh ke arahnya.
Idris bisa memperhatikan kecantikan Tia dari bawah, bahkan Tia bisa menyadari jika diperhatikan.
"Kenapa kamu ngelihatin aku sambil senyum-senyum begitu? Biar bikin aku kesemsem ya sama ketampanan kamu?" Setelah itu Idris tersenyum ala joker (senyum yang lebar maksutnya).
"Nggak boleh?... Bilang aja kalau nggak kuat ngelihat ketampanan aku ini" ucapnya narsis membuat Tia tertawa.
"Hahahahha you're so funny but..... Emang bener sih soalnya wajah kamu manis walaupun nggak kaya zayn malik tapi tetap tampan buat aku"
"Ngebandingin kok sama zayn malik ya beda jauh atuh"
"Tapi kamu juga tampan mas" Setelah meletakkan kamera di atas nakas Tia mengelus wajah Idris. Tangan lembutnya memegang bulu mata lentik Idris lalu beralih turun ke rahang tegas Idris dan menciumnya.
Tia mengecup rahang Idris "I love this" lalu mengecup hidung Idris "This and..." Tia menunjuk bibir Idris "Also this my favorite".
Idris menegang seketika, kedua matanya menerjap dengan pelan.
Tia mengalihkan pandangannya dari Idris. Ia membawa wajahnya menoleh ke samping setelah mengatakan itu semua.
Idris membenarkan posisinya sekarang ia duduk lalu mengarahkan kedua tangannya.
Dengan kedua tangannya Idris memposisikan wajah Tia agar berhadapan dengannya.
Kemudian ia mengecup singkat bibir Tia. Seulas senyuman terlihat manis di bibir Idris.
Lalu Idris meraih tengkuk leher Tia untuk mengecup kembali bibir Tia. Bukan hanya kecupan yang diberikan tapi juga lumatan.
Kedua bibir yang bertemu saling melumat satu sama lain. Suara decapan juga terdengar di dalam kamar yang sunyi tadi.
Hawa panas mulai menggerayangi tubuh mereka berdua. Udara yang dingin seakan berganti menjadi hawa panas karena sengatan seperti sengatan listrik.
Karena Tia tidak menolak Idris melanjutkan kembali aktivitasnya.
Tia yang hanya menggunakan piyama satin sepaha dengan tali spaghetti memudahkan tangan Idris untuk masuk kedalam piyama tersebut.
Tangan kiri Idris tak tinggal diam. Kini tangannya beralih ke tulang selangka Tia lalu menurunkan tali tersebut tanpa melepaskan ciuman.
Tia sedikit mendorong dada Idris karena kehabisan nafas "Wait... Izinkan aku bernafas sebentar" ucapnya.
Idris tersenyum lalu mengelus bibir Tia yang sedikit bengkak "I love you sayang".
Tia mencari pasokan udara sebanyak-banyaknya. Lalu ia berucap "I'm yours....Give me warmth tonight".
"As you wish wifey" Idris kembali mencium Tia dengan menggebu-gebu. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia menurunkan seluruh tali piyama yang digunakan Tia lalu menurunkannya dan membuangnya ke lantai.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada