"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Kehilangan Kendali
Seperti yang Alex ucapkan, tepat pukul dua siang Alex kembali ke kantor. Dia datang seorang diri tanpa ada Anita bersamanya lagi.
Lift terbuka dan Alex melangkah keluar dengan wajah dingin seperti biasa. Tidak ada jejak makan siang romantis, tidak ada senyum berlebih. Hanya Presdir Alex yang kembali pada ritmenya.
Dea melihatnya sekilas dari sudut mata, lalu menundukkan kepalanya hormat saat pria itu melewati meja kerjanya. Dea benar-benar bersikap sangat profesional, bahkan terlalu profesional untuk mereka yang diam-diam yang telah menikah.
Dan Alex kembali merasa kesal dengan keprofesionalan Dea tersebut. Seolah dia menikahi dua wanita sekaligus, di apartemen Dea yang manja dan nakal, dan di kantor Dea yang lebih memilih pekerjaan dibandingkan cemburu padanya.
Sampai sore suasana berjalan normal. Pertemuan Alex dengan beberapa internal perusahaan, tanda tangan dokumen, panggilan telepon. Alex memberi instruksi seperlunya dan Dea menjalankan semuanya dengan tepat tanpa satu pun sikap berbeda.
Tidak ada wajah murung.
Tidak ada tatapan terluka.
Tidak ada sikap canggung.
Seolah-olah kejadian siang tadi tidak berarti apa-apa baginya.
Jam pulang kantor tiba.
Alex keluar lebih dulu, mengambil jasnya tanpa menoleh ke meja sekretaris. “Aku pulang dulu,” ucapnya singkat.
“Iya, Pak,” jawab Dea dan Millie sopan.
Seperti biasa.
Dea baru benar-benar beranjak setelah semua meja rapi, berkas tertata, dan ruang Presdir terkunci. Ia keluar kantor saat langit mulai gelap, kelelahan fisik bercampur kelelahan batin yang ia simpan rapi.
Begitu tiba di apartemen dan pintu dibuka, langkah Dea langsung terhenti.
Alex sudah ada di sana.
Duduk di sofa dengan jas dilepas, kemeja sedikit terbuka, sorot matanya dingin jauh berbeda dari Alex yang biasa menyambutnya.
Dea menutup pintu perlahan, meletakkan tasnya seperti biasa. Tidak ada ekspresi terkejut yang berlebihan.
“Kenapa belum mandi?” tanyanya ringan, kembali bersandiwara jadi gadis manja simpanan yang presdir.
Alex tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Dea, mencoba mencari retakan, emosi yang bocor, atau sisa luka yang bisa ia lihat.
Tapi tidak ada.
“Kamu capek?” tanya Dea lagi, nada suaranya yang makin terdengar manis.
Alex berdiri. Langkahnya mendekat perlahan, berhenti tepat di depan Dea. Jarak mereka hanya sejengkal.
“Kamu tidak keberatan?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan dingin.
"Keberatan apa?" tanya Dea, tak ingin menebak sendiri ke mana arah pembicaraan ini. Firasatnya Alex mengatakan tentang Anita, tapi sungguh Dea tak ingin salah sangka.
“Tentang Anita," jawab Alex akhirnya.
Dea mengangkat wajahnya lebih tinggi, menatap Alex lurus-lurus. Tidak ada kebencian di sana. Tidak ada kesedihan yang ia pertontonkan.
“Tidak,” jawabnya jujur. “Tidak sedikit pun.”
Alis Alex berkerut tipis. “Sungguh?”
Dea mengangguk pelan. “Itu hidupmu dan dia memang sangat cocok denganmu.”
Jawaban itu bukan yang Alex inginkan.
“Jadi kamu tidak cemburu?” desaknya, nada suaranya mulai tajam.
Dea tersenyum kecil, senyum yang tenang, terlalu tenang.
“Apa hakku untuk cemburu, Lex?”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada penolakan.
Ruangan mendadak sunyi.
Alex menatapnya lama, rahangnya mengeras. Ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak, tapi ia tidak tahu harus menamainya apa.
Dea melangkah melewatinya, berjalan ke kamar sambil membuka ikat rambutnya.
“Aku mau mandi dulu,” ucapnya santai. “Capek.”
Alex berdiri mematung di ruang tengah.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang tidak ia rencanakan sejak awal.
Ia ingin Dea marah.
Ia ingin Dea melarang.
Ia ingin Dea mengaku peduli.
Dan justru ketenangan Dea itulah yang membuatnya kehilangan kendali.
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..