Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The CEO’s Misery
Setelah insiden lantai marmer yang memalukan itu, harga diri Leo Alexander Caelum tidak hanya retak, tapi hancur berkeping-keping. Pria yang biasanya ditakuti di ruang rapat dewan direksi itu kini berubah menjadi pria pendendam yang kekanak-kanakan. Ia tidak terima harga dirinya diinjak oleh gadis yang ia sebut "parasit".
Leo mulai melancarkan aksi balas dendam kecil yang konyol. Namun, ada satu faktor yang tidak ia perhitungkan: Eleanor Caelum.
Pagi itu, di meja makan, Leo sengaja menarik kursi Liora tepat saat gadis itu hendak duduk. Ia ingin melihat Liora terjatuh. Namun, belum sempat pantat Liora menyentuh lantai, sebuah tangan dengan cincin berlian besar melayang di udara.
Plak!
"Aduh! Ibu!" Leo mengerang sambil memegangi bagian belakang kepalanya yang baru saja terkena geprekan kasih sayang dari Eleanor.
"Leo! Apa-apaan kau ini? Umurmu sudah tiga puluh tahun, bukan tiga tahun!" bentak Eleanor dengan mata melotot. "Minta maaf pada Liora sekarang!"
Leo mendengus, wajahnya memerah. Ia melirik Liora yang menahan tawa sambil merapikan kursinya kembali. "Aku tidak sengaja, kursi ini memang sudah rusak," dusta Leo dengan nada yang sangat tidak meyakinkan.
Beberapa hari kemudian, Leo mencoba lagi. Saat Liora sedang membawa baki berisi teh hangat untuk Eleanor di ruang tengah, Leo sengaja menjulurkan kakinya di koridor untuk menjegal Liora. Ia sudah membayangkan teh itu akan tumpah membasahi gaun Liora dan membuatnya terlihat bodoh.
Namun, Liora yang sudah waspada sejak awal, sengaja melangkah lebih tinggi dan mendaratkan kakinya tepat di atas jempol kaki Leo yang hanya beralaskan sandal rumah.
"ARRGGHH!" Leo memekik tertahan, wajahnya membiru menahan sakit.
"Oh, Tuan Leo? Ada apa? Apa kaki Anda terlalu panjang hingga menghalangi jalan?" tanya Liora dengan wajah polos yang sangat menyebalkan.
"Kau—"
Plak!
Lagi, tangan Eleanor mendarat di kepala Leo. Kali ini lebih keras.
"Leo Alexander Caelum! Kau pikir Ibu tidak lihat kau sengaja menjulurkan kakimu?" Eleanor berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap. "Berhenti mengganggu Liora atau Ibu akan menyumbangkan seluruh koleksi mobil mewahmu ke yayasan sosial!"
Leo tertegun. "Ibu! Aku ini putramu!"
"Putraku yang sedang bertingkah seperti berandalan pasar!" sahut Eleanor ketus. "Liora, ayo kita ke taman. Abaikan saja patung sombong ini."
Liora mengikuti Eleanor sambil memberikan lirikan kecil ke arah Leo yang masih memegangi jempol kakinya. Lesung pipi Liora muncul sesaat, seolah-olah mengejek kegagalan Leo.
Leo benar-benar tidak bisa berhenti. Ia merasa jika ia tidak bisa menang melawan Liora, hidupnya tidak akan tenang. Malam harinya, saat Liora sedang di dapur sendirian untuk mengambil air minum, Leo muncul dari kegelapan.
Ia bermaksud menakut-nakuti Liora dengan berbisik di telinganya bahwa dia akan segera diusir. Namun, saat Leo baru saja mendekat dan hendak membuka mulut, ia tidak menyadari Eleanor sedang berdiri di belakang dispenser dengan masker wajah hijau yang menyeramkan.
"Mau apa kau, Leo?" suara Eleanor terdengar seperti hantu.
"ALLAHUAKBAR!" Leo melompat kaget hingga menabrak rak piring.
Plak!
Geplakan ketiga mendarat sukses di kening Leo.
"Ibu! Kenapa Ibu selalu muncul di saat yang salah?!" teriak Leo frustrasi.
"Bukan Ibu yang salah, tapi niatmu yang busuk!" Eleanor menggelengkan kepala. "Ibu tidak mengerti kenapa kau begitu terobsesi mengganggu Liora. Kau benci dia, tapi kau terus mengekorinya seperti anak ayam kehilangan induk. Kalau kau suka, bilang suka. Jangan jadi pengganggu!"
"Suka? Aku? Dengan dia?!" Leo menunjuk Liora dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Bahkan jika dia adalah wanita terakhir di bumi, aku lebih baik menikahi tiang listrik!"
Liora hanya lewat sambil membawa segelas air, tanpa bicara sepatah kata pun, namun ia sengaja menggumam pelan, "Tiang listrik setidaknya punya fungsi, tidak seperti Anda yang hanya bisa mengeluh."
Leo mematung. Ia ingin membalas, namun ia melihat tangan ibunya sudah terangkat lagi di udara, siap memberikan "geplakan" maut berikutnya.
Pria penguasa bisnis itu akhirnya mendengus kesal dan berjalan pergi dengan langkah menghentak-hentak. Di dalam hatinya, ia membenci kenyataan bahwa Liora kini memiliki pelindung yang tak terkalahkan. Namun, di balik kemarahan itu, ada perasaan aneh yang mulai tumbuh. Ia menyadari bahwa ia menikmati setiap perdebatan, setiap tatapan tajam Liora, dan setiap kali ia gagal mengganggu gadis itu.
Ternyata, bernapas di rumah yang sama dengan Liora tidak lagi terasa sesak karena kebencian, melainkan karena rasa berdebar yang ia sendiri pun tak sanggup mengakuinya.
"Bagi Leo, setiap geplakan dari ibunya adalah pengingat bahwa di rumah ini, ia bukan lagi sang raja, melainkan hanya seorang antagonis yang gagal."
"Liora belajar bahwa cara terbaik menghadapi monster bukanlah dengan berlari, melainkan dengan membiarkan sang monster terlihat konyol di depannya."
"Di balik setiap gangguan kecilnya, Leo sebenarnya hanya sedang mencoba mencari perhatian dari satu-satunya orang yang tidak pernah memujinya."