NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: LANGKAH DI ASPAL BARU

Tiga bulan setelah euforia wisuda, aroma buku baru berganti dengan bau aspal panas dan dinginnya udara Kota Bandung. Samudera dan Alsya kini menempati sebuah paviliun kecil di gang sempit daerah Surapati. Paviliun itu lembap, dengan suara tetesan air dari pipa bocor yang menjadi musik pengantar tidur mereka.

Bagi Alsya, ini adalah lonjakan realita yang menghantam telak. Dia yang biasanya hanya perlu menekan bel untuk memanggil pelayan, kini harus belajar mengucek baju sendiri hingga telapak tangannya memerah dan perih karena deterjen murah. Namun, setiap kali ia merasa lelah, ia melihat Samudera yang jauh lebih hancur-hancuran berjuang.

Samudera bekerja di "Bara Modification", sebuah bengkel modifikasi motor ternama yang diisi oleh orang-orang berwatak keras. Di sana, Samudera bukan siapa-siapa.

"Woi, anak baru! Bengong aja loe!" bentak Bara, pemilik bengkel bertubuh kekar dengan tato ular di lengannya. Dia melemparkan kain lap yang penuh noda oli bekas tepat ke wajah Samudera. "Loe pikir karena muka loe ganteng, loe bisa santai? Di sini kita main mesin, bukan main perasaan. Cepat masuk ke kolong, beresin baut yang longgar itu!"

Samudera hanya diam, menelan harga dirinya bulat-bulat. Dia merangkak masuk ke bawah motor besar yang panas, membiarkan tetesan oli mengenai pipinya. Dia butuh uang ini—untuk biaya kuliah malamnya dan untuk membayar sewa studio kecil Alsya agar kekasihnya itu tetap bisa melukis.

Sementara itu di kampus, Alsya mulai merasakan "dinding" tak kasat mata. Teman-teman sekelasnya adalah anak-anak seniman kelas atas yang berbicara tentang pameran di Paris.

"Sya, loe beneran tinggal di gang kumuh itu?" tanya Nadia, teman sekelasnya yang selalu menenteng tas branded. "Sayang banget, lingkungan itu bisa ngebunuh estetika loe. Kenapa nggak minta bokap loe sewa apartemen di Dago aja sih?"

Alsya hanya tersenyum kecut, meski hatinya terasa sesak. Dia rindu kasur empuknya, tapi dia lebih takut kehilangan kebebasannya.

Kehangatan di paviliun mereka mulai mendingin karena rasa lelah yang luar biasa. Suatu sore, saat Alsya sedang menatap kanvas kosongnya dengan frustrasi, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di depan studio mini mereka di mulut gang.

Seorang wanita paruh baya turun dengan keanggunan yang mengintimidasi. Dia adalah Madam Vanya, kurator seni paling berpengaruh yang dikenal memiliki "tangan dingin" untuk melejitkan seniman baru, namun juga dikenal kejam dalam memanipulasi hidup mereka.

"Alsya Anantara. Putri Saga yang lebih memilih hidup di selokan daripada di istana," ucap Madam Vanya sambil melirik jijik ke arah dinding studio yang mulai berjamur. "Saya melihat sketsa kamu. Kamu punya teknik, tapi lukisan kamu hambar. Kamu tahu kenapa?"

Alsya menatap wanita itu tajam. "Kenapa?"

"Karena kamu terlalu sibuk mengurus laki-laki yang hanya akan menarik kamu turun ke lumpur," Madam Vanya melirik Samudera yang baru pulang kerja dengan baju penuh noda hitam dan wajah lelah. "Seni butuh pengorbanan, Alsya. Dan pengorbanan pertama yang harus kamu lakukan adalah... membuang beban yang tidak perlu jika kamu ingin sukses di tangan saya."

Samudera membeku di tempatnya berdiri. Kalimat itu seperti pisau yang menguliti sisa-sisa harga dirinya. Dia melihat Alsya terdiam, dan untuk pertama kalinya di aspal baru ini, ada keraguan yang terpancar di mata kekasihnya itu—keraguan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Papa Saga.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!