NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karma Yang Tak Bersuara

Rumah mewah keluarga Santoso malam itu terasa panas, bukan karena suhu udara, melainkan karena api amarah dan kepanikan yang membakar penghuninya.

Di ruang tengah, Sisca duduk di antara tumpukan surat peringatan penyitaan aset. Wajahnya yang dulu selalu glowing berkat perawatan mahal, kini kusam, cekung, dan pucat pasi. Lingkaran hitam di bawah matanya begitu pekat. Rambutnya kusut masai, tak lagi tertata rapi.

"Gimana ini, Ren?!" teriak Sisca histeris, melempar sebuah amplop berlogo bank ke arah suaminya. "Besok! Besok mereka mau pasang plang sita di depan rumah ini! Kamu mau kita tidur di kolong jembatan?!"

Rendy duduk di lantai, memegangi kepalanya yang mau pecah. "Aku sudah coba telepon semua teman, Sis. Nggak ada yang mau pinjamin uang lagi. Nama kita sudah jelek. Mereka tahu kita bangkrut."

"Usaha dong! Gadaiin apa kek! Ginjal kamu kek!" Sisca menjerit, suaranya melengking memecahkan kesunyian malam.

Napas Sisca memburu. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Tekanan darahnya melonjak drastis akibat stres berat yang menumpuk selama berbulan-bulan.

Tiba-tiba, Sisca merasakan kram hebat di perut bawahnya. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas rahimnya dengan kuat.

"Aaahh!" Sisca memekik tertahan, tangannya mencengkeram perut buncitnya yang memasuki usia delapan bulan.

"Sis? Kenapa?" Rendy mendongak kaget.

"Sakit... Ren... Sakit banget..." wajah Sisca berubah menjadi putih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung bercucuran di pelipisnya.

Detik berikutnya, Sisca merasakan sesuatu yang hangat mengalir di antara kakinya. Ia menunduk. Darah segar merembes membasahi gaun tidur sutranya, menetes ke lantai marmer yang dingin.

Pemandangan itu.

Darah itu.

Rendy terpaku. Ingatannya terlempar ke beberapa bulan lalu, ke lantai apotek di mana Alina pernah terbaring dengan kondisi serupa.

"Darah... Ren... tolong..." rintih Sisca, tubuhnya limbung.

Rendy tersadar dari syoknya. "Sisca! Tahan, Sayang! Kita ke rumah sakit sekarang!"

Rendy membopong tubuh istrinya yang lemas ke mobil. Ia memacu kendaraannya membelah jalanan Surabaya seperti orang gila, menerobos lampu merah, membunyikan klakson tanpa henti.

"Bertahan, Nak... Bertahan, Sis..." doa Rendy dengan tangan gemetar di kemudi.

Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit.

Lampu-lampu neon putih yang menyilaukan terasa menyakitkan mata. Aroma antiseptik menusuk hidung.

Rendy berdiri di depan pintu ruang tindakan dengan pakaian yang bernoda darah istrinya. Ia mondar-mandir, menggigit kukunya hingga berdarah. Mertuanya, Pak Budi dan Bu Herlina, baru saja tiba dengan wajah panik.

"Gimana Sisca, Ren? Gimana cucu Mama?" tanya Bu Herlina sambil menangis.

"Dokter masih di dalam, Ma. Pendarahannya banyak banget..." jawab Rendy lirih.

Satu jam berlalu. Rasanya seperti satu abad.

Pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter kandungan keluar dengan masker yang sudah diturunkan ke leher. Wajah dokter itu tampak muram dan lelah.

Rendy dan mertuanya langsung menyerbu dokter itu.

"Dok, gimana istri saya? Anak saya?" desak Rendy.

Dokter itu menghela napas panjang, menatap keluarga itu dengan tatapan simpatik namun tegas.

"Ibu Sisca mengalami Solusio Plasenta akibat tekanan darah tinggi yang ekstrem dan stres berat. Plasentanya lepas dari dinding rahim sebelum waktunya, sehingga suplai oksigen ke bayi terputus total."

Dokter itu diam sejenak, menyiapkan kalimat terberatnya.

"Kami berhasil menyelamatkan nyawa Ibu Sisca, meski kondisinya masih lemah dan butuh transfusi darah. Tapi mohon maaf... bayinya tidak dapat kami selamatkan. Janin sudah meninggal di dalam kandungan sebelum sampai di sini."

Dunia seakan berhenti berputar.

Bu Herlina menjerit histeris, lalu pingsan di pelukan Pak Budi yang juga menangis tergugu.

Rendy mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding dingin rumah sakit. Kakinya lemas, tubuhnya merosot hingga ia terduduk di lantai koridor.

Meninggal.

Anaknya meninggal.

Anak laki-laki yang sudah mereka siapkan kamar mewahnya. Anak yang digadang-gadang akan menjadi penerus keluarga. Hilang.

Dan penyebabnya? Stres. Stres karena kebangkrutan. Kebangkrutan yang disebabkan oleh Alina. Dan Alina melakukan itu karena... karena mereka membunuh anak Alina lebih dulu.

"Ini karma..." bisik Rendy dengan suara kosong, air matanya menetes tanpa bisa dibendung. "Ini karma, Tuhan..."

Dua jam kemudian, di ruang rawat inap.

Sisca siuman. Pengaruh obat biusnya mulai hilang. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar yang putih.

Ia meraba perutnya. Masih buncit, tapi terasa hampa. Tidak ada lagi tendangan kecil yang biasa ia rasakan. Tidak ada lagi denyut kehidupan di sana.

Rendy duduk di samping ranjang, menggenggam tangan istrinya erat-erat. Matanya bengkak.

"Ren..." panggil Sisca lemah. "Anak kita mana? Dia di inkubator kan? Dia selamat kan?"

Rendy tidak sanggup menjawab. Ia hanya menunduk, menangis di punggung tangan istrinya.

Melihat reaksi suaminya, Sisca mengerti.

"Nggak..." desis Sisca. "Nggak mungkin... Ren, bilang kalau anakku hidup! REN!"

"Maafin aku, Sis... Maafin aku..." isak Rendy. "Dia sudah nggak ada."

"AAAAAAARRGGHHH!!!"

Jeritan Sisca memecah keheningan rumah sakit. Jeritan seorang ibu yang kehilangan belahan jiwanya. Jeritan kepedihan yang murni, tanpa dibuat-buat, tanpa gengsi.

Sisca menangis meraung-raung, memukuli perutnya sendiri, memukuli Rendy, memaki takdir.

"Kenapa?! Kenapa harus anakku?! Ambil saja hartaku, tapi jangan anakku!!" raung Sisca pilu.

Rendy memeluk istrinya erat-erat, menahan agar Sisca tidak menyakiti dirinya sendiri.

Di tengah tangisannya, bayangan wajah Alina melintas di benak Rendy.

Beberapa bulan lalu, Alina menangis sendirian di kamar rumah sakit kumuh, kehilangan janinnya karena didorong oleh Sisca. Tidak ada yang memeluk Alina saat itu. Tidak ada yang meminta maaf.

Sekarang, mereka merasakan persis apa yang dirasakan Alina. Rasa sakit kehilangan yang merobek dada, rasa hampa yang tak bisa diisi oleh uang sebanyak apa pun.

Malam itu, di kamar VIP yang biayanya entah akan mereka bayar pakai apa, Sisca dan Rendy hancur sehancur-hancurnya.

Mereka telah kehilangan segalanya. Harta, tahta, dan kini... permata hati mereka. Sangkar emas itu kini benar-benar kosong dan berlumuran air mata darah. Karma telah menuntaskan tugasnya dengan cara yang paling brutal.

1
Suci Ramadhani
keren thor....salut dengan alur cerita yg penuh strategi gini...💪semangat thor
Lee Mba Young
next 👍👍
Lee Mba Young
lanjuttt kan 👍
Lee Mba Young
lanjuttt
Tarwiyah Nasa
sering thor..dr Ponorogo ke Madiun deket 😄
yusnah
selalu ditunggu upnya
sutiasih kasih
ikutan😭😭
PENULIS ISTIMEWA
Semangat ya kak.. peluk jauh 🤗🤗
sutiasih kasih
karma di bayar tunai...
aku
nangis kejer krn nih impian ku yg tak sampai, nyenangin almh. ibu dan alm. bapak 😭😭😭
sutiasih kasih
nungguin upnya
Umay Cahbaguz
kapan up lagi thor
g sabar nih/Heart/
sutiasih kasih
makan tuh karmamu🤣🤣
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!