"Aku bersumpah akan membalas semua penghinaan dan rasa sakit ini."
Tivany Wismell, seorang penipu ulung dari dunia modern bertransmigrasi ke zaman peradaban China kuno. Mengalami ketidakadilan dan nasib yang tragis, Tivany menolak menyerah dan akan membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengerti
Wei menceritakan semua tentang masalalu dan awal dendamnya pada Meyleen. Tidak ada yang di tutup-tutupi atau di kurangi, dia benar-benar menceritakan dari awal sampai akhir sesuai yang dia alami dan dia ketahui.
Meyleen mendengarkan dengan syok, meskipun seorang penipu dia ini tetaplah manusia yang memiliki simpati dan empati. Mendengar betapa kejam orang-orang istana pada Wei, membuat Meyleen sangat sedih. Apalagi melihat dengan mata kepalanya sendiri Ibu nya di bunuh, siapa yang tidak gila? bahkan melihat Wei yang masih bisa tenang setelah semua yang terjadi membaut Meyleen trenyuh.
Meyleen jadi merasa bersalah karena marah-marah sejak kemarin, mungkin Wei adalah sosok pria yang kehilangan cahaya hidup. Dia tidak tau bagaimana jadi seorang manusia yang benar, tidak tau cara menjadi pasangan yang baik atau bahkan menjadi sosok Ayah yang baik.
Dengan pengalaman dan trauma yang luar biasa menyakitkan, wajar jika Wei tersesat dalam dunia kegelapan yang menelannya selama ini. Alasan Wei bertahan hidup karena ingin membalas dendam dengan para serigala murni, dan merebut tahta kekaisaran Mo sebagai balasan segala rasa sakit yang Ibunya alami.
Meyleen meneteskan air mata sedih, dia merasa kasihan pada suaminya yang dipaksa kuat dan dingin karena rasa sakit yang dia alami. Meyleen tau, jauh di dalam sana masih ada Wei yang polos dan ceria. Apa sosok itu masih bisa datang lagi? bagiamana cara Meyleen mengembalikan sosok itu?.
"Wei." Meyleen merasa bersalah, tidak enak hati dan sedih karena sudah marah-marah.
"Tidak apa-apa, itu hanya cerita lama." Ucap Wei begitu tegar.
Meyleen semakin trenyuh, dia turun dari ranjang dan berjalan memutar menuju sisi Wei. Meyleen memeluk Wei dan menangis di sana, padahal Wei yang merasakan semuanya tapi malah kenapa dia yang menangis? itu lah perempuan.
Wei membalas pelukan Meyleen, merasakan perasaan yang hangat karena ketulusan dari seorang penipu. Kesalahan keduanya hanyalah minim komunikasi, masih sama-sama belajar memahami pasangan dan membangun rumah tangga.
"Wei, kita harus membahagiakan anak kita. Jangan sampai dia merasakan penderitaan yang sama, seperti yang kita alami saat kecil." Ucap Meyleen.
"Ya." Wei mengangguk setuju.
"Kenapa singkat sekali, coba ucapkan kata yang lebih panjang." Ucap Meyleen, menatap Wei dengan mata sembabnya.
"Bagaimana?." Bingung Wei.
"Coba Katakan, Iya istriku." Ucap Meyleen menarik turunkan alisnya.
"Iya istriku." Ucap Wei dengan wajah datarnya.
"Kenapa datar sekali wajahmu, kau tidak merasa berdebar saat mengucapkan nya?." Heran Meyleen, tidak jadi salting.
"Tidak." Jujur Wei.
"Hey kau menyebalkan." Meyleen kesal.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah dari lahir." Ucap Wei jujur.
Meyleen hanya tersenyum geli, dia diam-diam melihat taring Wei yang sudah kembali tumbuh. Meskipun belum sepanjang sebelumnya, saat ini Wei terlihat seperti manusia normal dengan ukuran taring sejajar dengan gigi lainnya.
"Kau terlihat jauh lebih tampan jika memiliki taring." Ucap Meyleen.
"Bukankah itu aneh?." Heran Wei.
"Tidak bagiku. Putraku juga akan tumbuh dengan tampan sepertimu kan?." Ucap Meyleen, menatap bayinya yang mulai menggeliat.
"Tentu saja, karena dia anakku." Wei menjawab dengan serius.
"Sudahlah lebih baik kau tidur, aku yang akan menidurkan Lin setelah ini. Bukankah kau sudah mulai bekerja besok?." Ujar Meyleen.
"Pekerjaan ku sudah di pegang Kin." Ucap Wei.
"Tidak masalah jika kau ingin kembali bekerja, aku bisa mengurus Lin di bantu Soso." Ucap Meyleen.
"Tidak, aku sudah bekerja keras kemarin jadi aku ingin libur." Tolak Wei.
"Kasihan, pasti Kin juga ingin libur." Ujar Meyleen.
"Itu sudah tugasnya." Ujar Wei enteng.
"Sebenarnya aku sangat penasaran, hal apa yang kau lakukan selama tujuh bulan lamanya. Tapi sepertinya kau tidak akan mengatakannya ya?." Ucap Meyleen.
"Tidak untuk saat ini." Jawab Wei.
"Apa kau menemui simpanan mu? atau justru istrimu yang lain?." Meyleen curiga.
"Tidak ada yang seperti itu, aku sudah mengatakan jika aku hanya bisa bercinta denganmu saja." Ucap Wei lelah.
"Jika kau misterius begini siapa yang tidak curiga kan?." Ujar Meyleen.
"Tapi aku sudah bicara yang sebenarnya." Heran Wei.
"Lalu jika aku pergi tiba-tiba dalam waktu lama, saat aku kembali aku hanya memberikan alasan tanpa bukti. Apa kau akan percaya begitu saja?." Ucap Meyleen.
"Yah sulit memang, tapi tunggu lah sampai waktu yang tepat. Aku tidak bisa memberitahumu sekarang." Ucap Wei.
"Kenapa, berikan aku alasan?." Heran Meyleen.
"Karena rencana belum sempurna, jika rencana belum matang lebih baik di simpan saja." Ucap Wei.
"Terserahlah." Meyleen menyerah.
Meyleen menyusui dan menidurkan Lin dengan tenang, setelah Lin tidur mereka berdua juga tidur untuk memulihkan tenaga. Mengurus bayi bersama, rasanya cukup menyenangkan meskipun bahaya sedang mengintai mereka dari segala sisi.
Saat Meyleen sedang menikmati masa menjadi newmom dengan bantuan suaminya, di Kerajaan Yun tepatnya di kediaman Mentri Jiang sedang diadakan pesta besar, karena Mentri Jiang telah resmi diangkat menjadi penasihat Raja.
Zuzu sedang hamil besar, sudah masuk sembilan bulan tapi dia mengatakan jika masih tujuh bulan. Itu karena Zuzu hamil di luar nikah dengan tunangan Kakaknya sendiri, Jun saat ini sudah mulai menunjukkan watak aslinya.
Dia yang awalnya manis dan tergila-gila pada Zuzu, kini mulai merasa tertarik dengan gadis lain. Jun membeberkan niatnya untuk mengangkat selir, dan itu membuat Zuzu sakit hati dan marah. Pihak keluarga Jiang tidak bisa menolak, karena pengangkatan Selir bagi pria itu di perbolehkan. Zuzu harus menelan pil pahit, saat pujaan hatinya menduakannya saat dirinya sedang mengandung.
"Suamiku, aku ingin sekali makan daging panggang. Tolong panggangan yang matang sempurna, aku juga ingin sedikit sayur dengan irisan bawang." Ucap Zuzu dengan manja.
"Apa kau tidak melihat jika aku sedang menyuapi Dao? jangan bersikap kekanakan Zuzu, kau bisa mengambilnya sendiri. Dao sedang hamil muda dan butuh perhatian ku saat ini." Ucap Jun sensi.
"Apa salahnya memberikan padaku juga? aku juga istrimu dan juga sedang mengandung." Zuzu marah.
"Kau selalu saja mengajakku berdebat, benar-benar wanita berisik." Ucap Jun marah.
"Kakak keterlaluan, setelah memiliki selir Kakak jadi jahat padaku. Padahal dulu Kakak mengatakan hanya akan mencintaiku saja." Zuzu menangis.
"Hahh, kau benar-benar membuatku sakit kepala. Bersikaplah lebih dewasa sebagai Kakak madu, bahkan Ibumu sendiri juga seorang Selir." Ucap Jun mengingatkan kasta.
Deg.
Zuzu mematung tidak menyangka, dia merasa marah dan membenci Dao. Dao sendiri hanya diam saja, dia di jodohkan oleh orangtua dan hanya menerima saja. Urusan Jun tertarik padanya itu bonus, karena Dao juga diam-diam memiliki kekasih gelap.
Zuzu yang merasa di acuhkan mendekat pada Feng, Feng sudah menjaga jarak dengan keluarga inti. Dia fokus belajar dan siap mewarisi posisi Mentri yang ditinggalkan Ayahnya, berusaha tetap menjalani hidup meskipun membawa kebencian Meyleen dalam benaknya.
"Kakak__
"Aku bukan Kakakmu, jangan bicara padaku anak jalang." Ucap Feng dingin, lalu menjauh.
Zuzu menggeram marah, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kenapa harus dirinya yang mendapatkan perlakukan seperti ini, bahkan Ibu dan Neneknya sedang sibuk sombong karena memiliki harta dan kekuasaan baru.
Zuzu pikir setelah kematian Meyleen dia akan menang dan hidup nyaman, tapi kenapa justru semuanya berbalik? kenapa pria yang dulu dirinya kira sangat baik dan penyayang bisa berubah seperti ini? Zuzu terus saja berpikir semua ini karena orang lain.
apa jadi lupa akan meylin dan lin....
q harap tidak ya thorrr 💪😘