Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. API DAN BAYANGAN
..."Di bawah bulan purnama dan tatapan ratusan mata, kebenaran dan takhayul akan berhadapan, dan hanya satu yang akan berdiri di pagi hari."...
...---•---...
Perjalanan pulang terasa lebih singkat.
Atau mungkin pikiran Doni terlalu sarat. Ragu, takut, dan tekad menyatu menjadi gumpalan berat di dadanya.
Matahari condong ke barat ketika kereta tiba di balai kampung. Namun suasana di sana jauh berbeda dibanding pagi tadi.
Sekelompok besar orang berkerumun di teras. Lebih banyak lagi. Wajah-wajah tegang. Bisikan mendidih. Ada yang menuding ke arah Doni, ada yang menggeleng, ada yang bicara cepat disertai gerak tangan.
Karyo segera berlari mendekat begitu Doni turun. Napas tersengal. Wajahnya basah keringat, berkilat dalam cahaya sore.
"Akhirnya kau pulang! Ada masalah besar!"
"Apa yang terjadi?"
"Ki Darmo akan mengadakan ritual malam ini untuk 'membersihkan' kampung." Karyo berbicara cepat, kata-kata saling menyusul. "Dia menyuruh semua orang hadir."
"Semua?"
"Yang tidak datang akan dianggap sudah terpengaruh ilmu hitammu dan bakal dikucilkan."
Napas Doni tertahan. Dadanya serasa ditekan batu. Eskalasi yang tak terduga.
"Di mana ritualnya?"
"Di lapangan tengah kampung. Dia sudah menyiapkan api unggun besar dan berbagai sesaji. Pak Lurah juga akan hadir karena desakan para tetua."
Pak Wiryo muncul dari kerumunan. Alisnya berkerut dalam. Bibirnya menipis.
"Doni, kau harus datang ke ritual itu." Ia melangkah lebih dekat, suara merendah. "Kalau tidak, itu akan dianggap pengakuan bahwa kau memang menggunakan ilmu hitam."
"Kalau aku datang?"
"Maka Ki Darmo akan menantangmu langsung di depan semua orang." Pak Wiryo menatapnya. "Ini akan jadi konfrontasi terbuka antara cara lama dan cara baru."
Bambang yang berdiri di dekat ayahnya menambahkan, suara lirih tapi tegas. "Banyak yang masih percaya padamu, Kang. Terutama yang sudah kau sembuhkan. Tapi mereka takut bicara karena tekanan pengikut Ki Darmo." Ia menarik napas. "Kalau kau bisa buktikan ilmumu bukan sihir jahat di ritual itu, mereka akan kembali mendukungmu."
Doni menatap wajah-wajah yang menantikan keputusannya. Mata penuh harap. Bibir gemetar menunggu jawaban.
Aku bisa saja pergi dari kampung ini, mencari tempat lain, memulai lagi dari awal. Tapi itu berarti meninggalkan orang-orang yang sudah kubantunya, yang masih membutuhkan. Itu berarti menyerah pada ketakutan dan takhayul.
"Aku akan datang." Suaranya lirih, namun setiap kata keluar tegas. "Dan aku akan menghadapi Ki Darmo."
...---•---...
Matahari terbenam cepat di daerah tropis.
Langit berganti dari jingga menjadi ungu tua, lalu hitam bertabur bintang bagai garam yang ditaburkan di atas kain gelap. Bulan purnama naik perlahan. Bulat sempurna. Putih keperakan, menerangi cukup untuk melihat bayangan sendiri di tanah.
Di lapangan tengah kampung, api unggun besar menyala dengan nyala melompat-lompat. Jingga kemerahan menari seperti roh terjebak kobaran. Panas terasa hingga tepi lingkaran. Udara bergetar, membuat wajah-wajah terlihat bergoyang.
Ratusan orang berkumpul membentuk lingkaran. Tiga atau empat lapis. Wajah mereka disinari cahaya api yang menciptakan bayangan menari di tanah. Bayangan yang memanjang, memendek, berubah bentuk.
Di tengah lingkaran, Ki Darmo berdiri dengan pakaian serba hitam. Kain berkibar saat ia bergerak bagai sayap gagak. Rambut putih terurai hingga bahu, berkilau keperakan di bawah cahaya bulan. Ia memegang tongkat dengan hiasan bulu hitam dan lonceng kecil yang berbunyi setiap kali digerakkan.
Ting ting ting.
Suara menusuk telinga.
Di sekelilingnya ada berbagai sesaji: ayam hitam yang sudah disembelih, darahnya masih segar mengkilap basah. Bunga melati dan kenanga yang aromanya bercampur bau darah. Kemenyan yang asapnya mengepul tebal seperti kabut putih keabuan.
Dan berbagai benda yang dianggap memiliki kekuatan magis. Keris tua dengan warangka retak. Batu-batu aneh berbentuk tak beraturan. Jimat-jimat dari kain kuning bertulisan yang tak terbaca.
Pak Lurah duduk di kursi kayu yang disiapkan khusus. Posisinya sedikit lebih tinggi dari yang lain. Wajahnya datar, netral, bagai topeng kayu. Jemarinya mengetuk-ketuk sandaran kursi. Ritme tidak beraturan. Pandangannya menyapu kerumunan, melewati Ki Darmo, berhenti sejenak di Doni, lalu kembali ke api.
Ia menelan ludah.
Ketika Doni memasuki lingkaran bersama Karyo, Pak Karso, dan Pak Wiryo di belakangnya, bisikan-bisikan langsung mengeras. Seperti air yang mendidih, gelembung-gelembung kecil muncul lalu pecah.
"Itu dia!"
"Berani juga dia datang!"
"Kita lihat siapa yang benar!"
"Kalau dia benar-benar punya roh jahat, api akan menolaknya!"
Ki Darmo menoleh.
Gerakannya lambat. Dramatis.
Matanya yang tua berkilat tajam. Memantulkan cahaya api bagai kaca yang memantulkan lampu. Merah. Berbahaya.
"Akhirnya kau datang, anak muda." Suaranya bergema, diperkuat akustik lapangan terbuka. "Berani juga kau menghadapi ritual pembersihan ini."
"Saya datang karena tidak punya sesuatu untuk disembunyikan." Doni menjawab dengan suara keras agar semua mendengar. Napas dalam. Stabil. "Saya tidak menggunakan ilmu hitam atau kekuatan gaib. Yang saya pakai adalah pengetahuan tentang tubuh manusia dan cara menyembuhkannya."
"Pengetahuan?"
Ki Darmo tertawa keras. Suara bergema di lapangan, memantul dari gubuk-gubuk sekitar, kembali seperti gema dalam gua.
"Dari mana pengetahuan itu? Siapa gurumu? Berapa lama kau belajar?"
Ia melangkah lebih dekat.
Tongkat terangkat.
Lonceng berbunyi lebih keras.
"Kau bahkan baru beberapa hari lalu hampir mati demam, tiba-tiba bisa menyembuhkan penyakit yang tak bisa disembuhkan orang lain!"
Pertanyaan-pertanyaan yang menohok. Aku tak bisa menjawab jujur tanpa mengungkap rahasiaku. Tapi aku juga tak bisa berbohong terang-terangan.
"Dalam demam itu, saya mendapat pencerahan." Ia memilih tiap kata seperti melangkah di atas es tipis. "Pengetahuan yang datang dari tempat jauh, dari waktu berbeda. Tapi pengetahuan itu bukan sihir. Itu adalah pemahaman tentang cara tubuh bekerja, bagaimana penyakit menyerang, dan cara melawannya."
"Pencerahan!"
Ki Darmo mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
Lonceng berbunyi keras. Ting ting ting ting. Seperti alarm bahaya.
Api unggun berkobar lebih tinggi seolah merespons, percikan terbang ke udara.
"Itu hanya kata lain untuk kerasukan! Kau dirasuki roh kuat, dan roh itulah yang memberimu kekuatan! Tapi roh itu punya maksud jahat! Dia ingin kuasai kampung ini melaluimu!"
Kerumunan bergolak. Seperti air diaduk dengan tongkat besar.
Beberapa orang mengangguk setuju. Kepala naik turun cepat.
Beberapa terlihat ragu. Mata melirik kiri kanan.
Beberapa diam saja memperhatikan dengan mata lebar bagai burung hantu.
Doni merasakan keringat mengalir di punggungnya.
Panas dari api.
Panas dari tatapan ratusan mata.
Panas dari tekanan yang menumpuk di dada.
Ini saatnya. Aku harus mengambil risiko untuk membuktikan diriku.
"Baiklah."
Suaranya tenang tapi tegas. Memotong keributan bagai pisau tajam memotong tali.
"Kalau Ki Darmo bilang saya menggunakan kekuatan gaib, mari kita buktikan." Ia melangkah maju. Lebih dekat ke api. Cahaya menerangi wajahnya. "Siapa di sini yang sakit? Yang benar-benar sakit, bukan pura-pura?"
Kerumunan terdiam sejenak.
"Mari Ki Darmo coba sembuhkan dulu dengan ilmunya." Ia menoleh ke dukun tua itu. "Lalu saya akan coba dengan cara saya."
Napas ratusan orang tertahan.
"Kita lihat mana yang berhasil."
Tantangan terbuka.
Lapangan mendadak hening.
Hanya api yang berderak. Kayu retak, pecah, berubah jadi abu.
Hanya angin yang berhembus. Membawa bau kemenyan dan bunga.
Hanya napas yang tertahan.
Semua mata beralih ke Ki Darmo, menunggu responsnya.
Dukun tua itu berdiri kaku bagai patung.
Wajahnya memerah. Terlihat jelas bahkan dalam cahaya api yang bergoyang.
Rahang mengatup keras sampai otot di pipi bergerak.
Tangan mencengkeram tongkat sampai buku jari memutih bagai tulang yang menonjol.
Ia tak menyangka akan ditantang langsung seperti ini. Di depan seluruh kampung. Di tengah ritualnya sendiri.
"Kau..."
Suaranya bergetar. Tongkat diayunkan ke udara, terhenti di tengah jalan.
"Kau berani menantangku?"
"Bukan menantang." Doni menjaga suaranya tetap tenang meski jantung berdegup keras di telinganya. "Hanya membuktikan. Bukankah itu maksud ritual ini? Untuk membuktikan kebenaran?"
Kerumunan mulai berbisik lebih keras. Suara tumpang tindih bagai ombak pecah di pantai.
"Dia benar!"
"Mari kita lihat!"
"Kalau Ki Darmo benar, dia pasti bisa buktikan!"
"Tapi kalau anak muda itu benar..."
Mereka merasakan ketegangan ini akan memuncak pada sesuatu yang menentukan.
Sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Dan mereka benar.
...---•---...
...Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲