"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Pertemuan Dengan Pram
Kanaya berdiri di depan cermin panjang di kamar utama. Piyama satin telah berganti dengan blouse putih sederhana dan rok span sebatas lutut berwarna krem. Rambutnya diikat rendah, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya. Perempuan itu mengambil sesuatu dari meja rias. Lantas, mulutnya menggerutu kesal.
"Lihat akibat ulahmu semalam, Kalendra. Aku sudah seperti orang yang tengah alergi!" sindir perempuan itu pada sang suami.
Telunjuknya fokus mengucapkan concealer pada leher jenjangnya yang terdapat ruam-ruam merah keunguan.
Tidak hanya pada leher, namun dagu dan juga rahang turut menjadi sasaran.
Kalendra yang tengah duduk di tepi ranjang,terkekeh geli. Lantas, laki-laki itu berdiri. mengancingkan kemeja hitam yang dikenakannya. Lalu, laki-laki itu berjalan mendekati sang istri, memeluknya dari belakang.
"Tapi kau puas kan, dengan kerjaku semalam?" bisiknya menggoda. Ia gigit daun telinga istrinya yang memerah.
"Pu--puas apanya? Kau sangat payah!" jawab Kanaya gugup.
Perempuan itu menjadi tidak fokus menutupi bekas kissmark yang Kalendra tinggalkan. Netranya menatap awas pada Kalendra melewati pantulan cermin.
"Oh, yaa?" bibir Kalendra tersungging miring.
"Mau kuulangi adegan semalam? Agar kau dapat mengingat betapa indahnya desa---"
"Kalendra, stop it!" sela Kanaya, membalikkan badannya ia bungkam bibir sang suami dengan telapak tangan kecilnya.
Iseng, Kalendra jilat telapak tangan Kanaya yang membungkam bibirnya. Membuat perempuan itu menjauhkan tangannya sembari melototinya tak terima.
"Kau---" telunjuk Kanaya mengacung tak terima.
"Kau menyebalkan!"
Bukannya takut, Kalendra justru semakin terhibur. Meraih telunjuk Kanaya, ia bawa jari itu ke dalam mulutnya. Mengulumnya hingga membuat istrinya itu mendesis lirih.
Kanaya ingin menarik telunjuknya. Namun, dengan kurang ajarnya Kalendra malah menggigit ujung jarinya yang sontak membuat Kanaya berseru kaget.
"Sakit!!"
"Sekarang, masih mau mengatakan pelayananku kurang memuaskan?"
Ck, sial. Ternyata Kalendra masih saja membahasnya.
Kanaya tersenyum manis yang terkesan dipaksakan. Mengalungkan lengannya pada bahu kokoh sang suami, perempuan itu berujar lembut, namun menekan dalam waktu bersamaan.
"Puas. Sangaaaat puas. Kau memang yang terbaik."
Kalendra tertawa kecil mendengarnya. Semakin merapatkan tubuhnya pada Kanaya, wajah laki-laki itu mendekat. Sampai juntaian rambut depannya mengenai dahi Kanaya.
"Aku bisa memuaskanmu lagi. Kapanpun kau mau aku siap. Bahkan jika kau memintanya sekarang aku mau." ujarnya rendah. Hidungnya yang mancung menelusuri pipi Kanaya.
"Kalendra, jangan mulai." peringat Kanaya yang merasa kegelian.
"Aku harus segera pergi. Dan bukannya kau juga ada rapat pagi ini?"
Mendengar peringatan dari Kanaya membuat Kalendra menjauhkan wajahnya. Laki-laki itu menghela nafas jengah. Lantas, menarik pinggang Kanaya agar sepenuhnya menempel pada tubuh depannya.
"Kau yakin ingin pergi?" tanyanya, nada suaranya terdengar keberatan.
Kanaya mengangguk pelan. "Jangan halangi aku lagi. Kau tidak lupa dengan kesepakatan semalam bukan?"
Kalendra berdecih lirih. "Aku peringatkan jangan sampai memberikan dia harapan." ujarnya mengancam.
Terseyum simpul, Kanaya merapikan kerah kemeja sang suami. "Kau mau menemaniku?" tawarnya.
"Maunya seperti itu. Tapi seperti yang kau katakan, aku ada rapat pagi. Dan ini cukup penting."
"Kalendra dengar-- kau hanya perlu percaya padaku." ujar Kanaya meyakinkan.
"Aku hanya ingin berbicara dan mengakhiri semua kesalahpahaman. Tidak ada yang lain. Kau--- kau percaya padaku kan?"
Kalendra menatap manik Kanaya dalam. Sampai akhirnya, wajahnya kembali mendekat. Bibirnya melumat rahang Kanaya. Lidahnya menjilat, membuat Kanaya terkejut setengah mati.
"Ka--Kalendra, apa yang kau lakukan." desis Kanaya berusaha menjauhkan kepala sang suami.
Selesai dengan urusannya, Kalendra menatap puas pada concealer yang sudah terhapus pada rahang Kanaya. Membuat ruam merah keunguan akibat ulahnya kembali terlihat.
Menegakkan tubuhnya, laki-laki itu merapikan anak rambut Kanaya. "Aku akan mengutus dua orang untuk mengawasi. Jadi kau tidak akan bisa macam-macam kalaupun ingin."
Setelahnya, ia cium kening Kanaya lamat. Mengusap puncak kepala istrinya penuh kasih sayang.
"Aku percaya padamu."
.
.
Dan--- di sinilah Kanaya berada sekarang. Berdiri di samping bangkar Pram dengan canggung. Sedangkan laki-laki itu menatap Kanaya...entahlah, Kanaya tidak mengerti jenis tatapan apa itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kanaya seperti sapuan angin di telinga pram. Lembut dan memenangkan.
"Jauh lebih baik setelah kau datang." jawab Pram melebarkan senyumnya.
"Apa sekarang kau sudah sadar, Kanaya? Kau berniat meninggalkan Kalendra dan kembali padaku?"
Dua bodyguard yang diminta Kalendra untuk menemani Kanaya hendak maju. Namun urung kala Kanaya menghentikan mereka lewat gerakan tangan.
"Lebih baik kalian keluar. Aku hanya ingin berbicara berdua dengan dia." titah Kanaya.
"Maaf, Nyonya. Tapi Tuan Kalendra memerintahkan agar kami tidak meninggalkan Nyonya barang sedetik." ujar salah satu bodyguard.
"Biarkan itu menjadi urusanku. Kalian keluarlah, aku yang akan menanggungnya jika Kalendra marah."
Dua bodyguard tadi saling lirik, sebelum akhirnya patuh dan meninggalkan Kanaya hanya berdua dengan Pram di ruang rawat laki-laki itu.
"Aku sudah tahu semuanya." ujar Kanaya.
"Tentang...tujuan awal kau mendekatiku."
Pram menegang. Ia tatap wajah pujaan hatinya pias. "Kanaya--- aku bisa jelaskan ini semua. Aku saat itu---"
"Aku tahu kau tidak punya pilihan saat itu."
"Kanaya, biarpun tujuan awal aku mendekatimu salah, tapi lambat laun aku benar-benar mencintaimu. Sampai sekarang, rasa itu masih ada." jelas Pram dengan raut ketakutan yang begitu ketara.
"Tapi semua itu sudah terlambat, Pram."
Kanaya menghela nafas panjang. "Pram, kau berhak untuk melanjutkan hidup. Di sini, aku ingin meluruskan semuanya. Aku harap, kita bisa berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan apa yang sudah ada."
"Apa maksudmu?" nada bicara Pram terdengar sendu.
"Aku ingin memulai kehidupan baru dengan Kalendra. Begitu pula denganmu. Aku harap kau dapat melanjutkan kehidupan ini tanpa terbayang-bayang kisah masa lalu. Kau berhak bahagia Pram, meskipun tanpa diriku."
Pram tertawa getir. "Lucu ya? Kau ingin hidup bahagia dengan orang yang jelas-jelas telah menghancurkan hubungan kita?" tanyanya tak terima.
"Seperti niat awalmu yang salah mendekatiku lalu berakhir jatuh cinta, seperti itu pula dengan perasaanku pada Kalendra. Meksipun cara dia mendapatkanku salah, tapi seiring berjalannya waktu, aku mencintainya." Kanaya tatap manik Pram yang memancarkan kekecewaan.
"Dan kau harus tahu ini. Mungkin, Kalendra adalah alasan kita berpisah. Tapi awal pernikahan kami tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, Pram. Ada kisah lain di dalamnya.
"Pram, aku hanya ingin kehidupan yang tenang. Aku harap kita bisa berdamai dan melupakan semua yang telah terjadi."
Pram membuang muka hanya agar Kanaya tidak melihat air matanya yang perlahan turun. "Baiklah jika itu maumu. Aku tidak akan lagi mengganggu. Tapi kau harus ingat ini, Kanaya. Kapanpun kau ingin kembali, tanganku terbuka lebar untuk kembali mendekapmu."
"Tidak Pram. Jangan buat diriku semakin jahat. Kau harus berjanji padaku. Kau juga akan melanjutkan hidup dan menemukan cinta sejatimu."
Pram tersenyum miris mendengarnya. "Aku...akan berusaha."
Membasahi bibirnya yang terasa kering, Kanaya kembali berujar. "Maaf atas kelakuan Kalendra. Gara-gara dia kau jadi seperti ini."
Kini, Pram memberanikan diri menatap Kanaya. "Tidak perlu minta maaf. Dan--- terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Aku harap kau tidak menyesal dengan pilihanmu."
Sedangkan di luar ruangan, dua perempuan berpakaian hitam berdiri mengawasi. Salah satunya menerima panggilan dari Kalendra.
"Bagaimana situasinya?"
"Semuanya terkendali. Nyonya dan dokter itu hanya berbicara seperlunya. Tidak ada interkasi berlebih." laporanya setelah mengawasi dari jendela.
Kalendra menutup telepon, lalu menatap layar laptopnya. Di sana, rekaman dari penyadapan suara yang dia pasang di ponsel Kanaya menampilkan percakapan mereka.
Mata laki-laki itu berpendar gelap. Obsesinya semakin menguat.
"Tak akan kubiarkan kau pergi, bahkan jika kau ingin, Kanaya."
lupa dmn