NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinikahi Duda

Sebagai penduduk baru di perumahan itu dan tetangga baru untuk keluarga Budi, Reynan turut ikut andil dan turut berbahagia dengan pesta yang diadakan oleh tetangga barunya itu.

Ia pun mendengar dan mengerti dengan permasalahan yang sedang terjadi saat ini.

“Tunggu, Pak …” panggilnya pada Pak penghulu.

“Iya, Mas?” tanyanya.

“Tunggu sebentar,” ucapnya pada Pak penghulu.

“Pak, apa Bapak berkenan jika putri Bapak saya nikahi?” tanyanya pada Budi.

Seketika Budi tercengang. Ia terkejut dengan perkataan seorang pria muda di depannya.

“Pak …” panggil Reynan lagi. Di mana melihat Budi tampak terdiam dengan pandangan kosong.

“Eh, ya, apa?”

“Apa Bapak berkenan jika saya menikahi anak Bapak?” Reynan mengulangi pertanyaan itu.

“S-serius kamu mau menikahi anak saya?” tanya Budi. Kali ini sorot matanya memancarkan kelegaan juga harapan.

“Iya, Pak.”

“Ya, ya, ayo sekarang saja ijab kabulnya.” Budi langsung memerintahkan Reynan untuk duduk di kursi akad, begitu juga dengan Pak penghulu. “Ayo, Pak.” 

Mengingat Pak penghulu tidak punya banyak waktu, maka acara ijab kabul langsung dilakukan.

“Saya terima nikah dan kawinnya Qistina Zara binti Budi dengan maskawin uang tunai senilai satu juta rupiah dibayar tunai.” Reynan mengucap ijab kabul dengan tenang, tanpa ada paksaan apalagi keraguan disana.

“Bagaimana saksi?” tanya Pak penghulu.

“Sah …” 

“Alhamdulillah …”

Sedangkan di dalam kamar, Zara menangis dalam pelukan sang Ibu. 

Entah akan bagaimana dan seperti apa kehidupannya setelah ini.

Menikah dengan seorang pria bernama Amir tidak ada dalam pikirannya.

Ya, Zara masih mengira jika ia menikah dengan Amir.

Karena saat melakukan ijab kabul, tidak menggunakan mikrofon.

Kini terdengar suara MC, jika pengantin wanita untuk segera keluar menemui pengantin prianya, yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.

“Siap?” tanya Lia pada Zara.

Dengan mata yang basah, Zara tersenyum pada sang Ibu dengan kepala yang ia anggukan.

“Iya, Bu.” Zara menjawab lirih.

Lia tahu, itu senyum yang dipaksakan. Namun apa boleh buat, saat ini bukan waktu untuk meratap, tetapi untuk menghadap.

Akhirnya, Lia membawa Zara keluar dari kamar. 

“Loh?” Suara itu keluar dari mulut Zara, kala melihat siapa yang duduk di meja akad bersama penghulu, sang Ayah dan para saksi lainnya.

“Bu?” Zara meminta penjelasan pada Lia.

“Ibu juga kurang tau. Dah, sekarang kita ke sana dulu, nanti minta penjelasannya pada Ayah,” ujar Lia.

Akhirnya Lia mengantarkan Zara ke meja akad.

Zara diarahkan untuk mencium tangan Reynan, lalu Reynan diarahkan untuk memegang kepala Zara dan memberi doa.

Setelah itu, menandatangani surat-surat pernikahan.

“Karena pengantin prianya berbeda, jadi nanti buku nikahnya ambil ke kantor KUA ya, Mas.” Pak penghulu bicara.

“Iya. Pak,” jawab Reynan.

Rangkaian demi rangkaian acara sudah dilaksanakan. Kini waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dan acara sudah selesai dari sepuluh menit yang lalu.

“Saya izin pulang dulu, Bu, Pak,” ucap Reynan pada Lia dan Budi.

“Kenapa? Sekarang kamu udah jadi suami Zara, dan ini juga rumah kamu,” kata Budi.

Reynan tersenyum. “Iya, Pak. Saya mau mengabari keluarga saya dulu dan saya mau berganti pakaian,” ujarnya.

Budi menganggukan kepalanya. “Oh, ya, ya. Iya benar kamu kabarin keluarga. Jika perlu, diagendakan untuk pertemuan. Masa Bapak tidak tahu besan,” kelakarnya.

Reynan tertawa kecil. “Iya benar, Pak.”

“Ya sudah sana. Jangan lupa, nanti malam ke sini lagi,” ucapnya.

Reynan menganggukan kepalanya, lalu setelah itu ia izin untuk pergi.

***

“Ternyata jodoh lo duda, Za.” Lea bicara.

Zara terdiam. Sungguh ia malas meladeni Kakak sepupunya itu.

“Eh, kenapa si Danish kabur ya?” celetuk Yumna, anak dari Kakak Budi bernama Haris.

Sebagai informasi. Budi ini anak terakhir dari tiga bersaudara. 

Kakak pertama Hanung, lalu Haris, setelahnya baru Budi.

Dari Hanung, ia punya anak bernama Lea dan Rofiq. Sedangkan Haris, Yumna dan Naomi. Lalu Budi hanya mempunyai Zara saja.

“Apa lo udah kasih dia madu duluan, Za?” tanya Naomi.

“Gila lo,” balas Zara.

“Ya siapa tau, lo kasih nyicip duluan. Jadi setelah dia tau, rasa punya lo, dia pergi. Toh dia udah nyicip ini,” lanjutnya.

Zara kembali terdiam.

“Serius, Za? Lo kasih dia nyicip duluan?” Lea kembali bertanya.

“Najis!”

“Lah, tadi lo diam. Diam itu tandanya iya,” ucapnya lagi.

“Kak … emangnya kalo diam itu, jawabannya iya gitu? Gila aja,” kata Zara.

“Ya, siapa tau begitu. Oh … atau jangan-jangan si Danish kabur karena sifat lo ini, yang kek gini, Za.” lanjut Lea lagi.

Zara berdiri dengan cepat. “Bisa gak kalian itu punya perasaan sedikit, gue baru mengalami kejadian gini. Punya rasa empati, walau sedikit gitu ke gue.”

Lea berdecak. “Lo mau gue kasihani, Za?” tanyanya sedikit pongah.

“Engga, makasih.” Zara pun pergi dari kumpulan para sepupunya.

Lea, Yumna dan Naomi, tersenyum saat Zara pergi.

Kini Zara berada di kamarnya, ia duduk dengan perasaan campur aduknya.

Sedangkan di ruang keluarga, ada keluarga Budi dan sang Ibu, Sofa namanya.

“Ibu gak nyangka, kalo takdir Zara jadi seperti ini,” ucapnya.

Budi diam dengan helaan napas keluar dari mulutnya.

“Mungkin ini adalah karma. Di mana Budi pernah mengecewakan perempuan lain,” celetuk Hanung. “Jadi saat ini, Zara yang kena imbasnya,” lanjutnya.

“Mas!” Budi membentaknya.

Sedangkan Lia, terdiam.

“Bukan soal itu aja, mungkin Danish malu punya istri urakan kaya Zara. Jadi daripada terlanjur menikah, lebih baik menyudahinya.” Frida ikut bicara, ia istrinya Hanung.

“Mbak!” Budi juga membentak Frida. “Mas Hanung dan Mbak Frida tidak perlu ikut campur, apalagi memberikan spekulasi begitu. Yang ada, nantinya menjadi fitnah,” kata Budi.

Frida tersenyum remeh, sedangkan Hanung berdecak keras.

“Bukan memberikan spekulasi, tapi ini sebagai pengingat jika apapun itu pasti ada timbal baliknya,” kata Hanung.

“Contohnya, waktu itu kamu menyakiti hati Nina. Kamu membatalkan pernikahan yang akan dilakukan dua bulan lagi, demi—” Hanung tidak melanjutkan ucapannya. Namun matanya menatap tajam pada Lia.

“Sudahlah, Mas. Itu masa lalu dan mungkin itu sudah jalannya jika kami tidak berjodoh,” ucap Budi. Ia tidak mau sang istri terus dipojokkan oleh sang Kakak.

Hanung kembali berdecak.

“Sudah … apa yang dikata Budi benar. Dia dan Nina tidak berjodoh dan Zara pun begitu, ia tidak berjodoh dengan Danish.” Sofa ikut bicara.

“Iya. Jodohnya Zara duda,” kata Frida lagi dengan senyum ejeknya.

“Duda juga gak apa-apa, yang penting dia bertanggung jawab.” Budi menjawab.

Frida kembali tersenyum remeh. “Ya, semoga saja seprti itu.”

Pembicaraan itu terus berlanjut hingga pukul dua siang hari.

Di rumah lain. 

Kini Reynan tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur, matanya menatap lurus pada plafon kamarnya.

“Semoga keputusan yang saya ambil ini, bisa mereka pahami.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!