NovelToon NovelToon
TEROR DI ALAS PURWO

TEROR DI ALAS PURWO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Hari Kiamat / Evolusi dan Mutasi / Pusaka Ajaib
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.

Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.

Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.

Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal

Nathan mengambil sepuluh tiket masuk seharga lima belas ribu yang diperuntukkan bagi warga domestik, sedangkan untuk tarif seratus lima puluh ribu diperuntukkan bagi turis mancanegara.

"Mas, pukul enam belas harus sudah keluar dari goa. Jangan mengambil apapun, jangan tertawa terbahak, jangan berkata kasar, dan jangan berbuat asusila, dan berpakaian sopan, tolong sampaikan pesan ini kepada sembilan orang teman mas--ya," pesan penjaga loket tiket, ia berharap jika kesepuluh pemuda itu pergi dengan selamat, dan pulang tanpa masalah apapun.

"Iya, Pak. Terimakasih pesannya, saya akan sampaikan kepada teman-teman saya," sabutnya dengan sopan, lalu berpamitan, sebab ada pembeli tiket lainnya yang sudah mengantri.

Penjaga tiket akan menyampaikan setiap pesan ini kepada siapa saja yang akan berkunjung si Hutan Alas Purwo yang bertujuan mengunjungi berbagai situs sejarah peradaban pada kerajaan Majapahit, dan mengunjungi berbagai goa yang dikenal dengan aura mistisnya.

Kali ini, Nathan dan kesembilan rekannya berniat mengunjungi goa istana, yang mana katanya pernah dijadikan salah satu tempat bertapa orang nomor satu di negeri ini.

"Udah?" Tanya Sena, sembari memperbaiki tas ranselnya yang berisi berbagai makanan ringan, ponsel, dan juga senter yang biasa dikenakan dikening, tak lupa ia membawa sebilah pisau belati, meskipun belum tau digunakan untuk apa nantinya, tetapi menurutnya, mungkin akan berguna.

Nathan menganggukkan kepalanya. "Ayo, dan sebelum kita berangkat ke hutan, kalian harus ingat pesat kuncen tersebut." pemuda berwajah tampan, dengan kulit sawo matang dan hidung bangir, disertai bola mata kecoklatan itu menghampiri rekannya yang sedang berkumpul.

"Pesan apa dari si Kuncen?" sahut Jhony dengan sikap tak ambil peduli.

"Ingat, dimana kita gak boleh ambil apapun yang ada dihutan Alas Purwo, bahkan sebutir batu juga gak boleh dibawa dengan sengaja,"

Kesembilan rekannya melongo. "Serius? Jadi kalau ke injek sepatu, terus ngikut sampai ke rumah juga gak boleh?" protes Gita yang merasa pesan itu sangat terlalu mengada-ngada.

"Kan itu gak sengaja," Sena menyela, sebab ia tak ingin melihat Gita terus memotong pembicaraan sebelum selesai.

"Brisik!" sahut Gita, gadis yang mengenakan cardigen berwarna hitam dengan bahan rajut tersebut

Gita memanyunkan bibirnya, memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Sena, sebab menganggap gadis itu terlalu serius dalam hal apapun.

Nathan menghela nafasnya dengan berat. "Sudah, sudah, jangan berantem, aku belum selesai ngomong." pemuda itu mencoba menenagkan kondisi yang terjadi. Membawa beberapa gadis ikut dalam acara pecinta alam tersebut menjadikan hal tantangan yang lebih sulit, sebab sifat wanita adalah ingin dimengerti, sebab sesalah apapun, wanita tetap benar.

Gita memutar mata malas, dan melipat kedua tangannya didepan dada, lalu kembali mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Nathan.

Sedangkan Sena masih terlihat fokus, tak peduli dengan sikap Gita yang memperlihatkan sikap ketidaksukaannya, bagi Sena, acuh tak acuh adalah hal yang harus ia terapkan dalam menjalani tantangan ini dalam membalas sikap Gita.

"Dengar, jangan ada yang berkata kasar, tertawa terbahak, berbuat asusila, dan jangan berpakaian tidak sopan," pesan Nathan dengan nada tegas.

Kesembilannya mengangguk patuh, lalu mereka menuju pintu masuk huta Alas Purwo, dan sudah tak sabar untuk melihat bangunan peninggalan zaman kerajaan hindu tersebut.

Sena mengetatkan ikat rambutnya, lalu mulai mengikuti jejak langkah Nathan yang dipilih sebagai pemimpin untuk menuju ketempat yang mereka inginkan.

Mereka memasuki hutan bambu, jalanan setapak membuat mereka harus berhati-hati, sebab hujan baru saja turun, dan mmebuat kontur tanah menjadi licin.

"Hadeew, jalan beceek, gak ada ojek," celoteh Alessa sembari mentap jalanan.

"Udah tau biasa jalan ke Mall, ikut-ikutan ke hutan," sindir Gita yang merasa jengah dengan sikap manja gadis itu.

Alesaa yang disindir hanya memanyunkan bibirnya. Sejak tadi, Gita sudah tampak cerewet, pasti akan membuat perjalanan ini terasa menjenuhkan.

"Sudahlah, jangan ribut, jaga sikap didalam hutan, jangan bertengkar," Sena kembali bersuara.

Mendengar teguran tersebut, Gita semakin membenci Sena, ditambah lagi Nathan tampaknya lebih perhatian pada gadis berkucir ekor kuda tersebut.

"Perhatikan langkah kalian, jalanan licin, jangan sampai tergelincir," Nathan mengingatkan, sebab medan yang mereka lalui cukup ektrem, dimana mereka harus melewati lereng, dan juga memasuki hutan sejauh satu setengah kilo meter.

Jalanan setapak sudah membentuk kubangan lumpur sedalam dua puluh centimeter. "Sebaiknya kita urungkan saja perjalanan ini, jalanan cukup ekstrem, sangat berbahaya,"Kenny membuka suara, ia melirik ketepi jurang, dan entah mengapa, sejak tadi perasaannya sudah cemas.

Sedangkan Sena selalu menatap hutan bambu yang tumbuh dengan subur, ia merasa jika dirinya selalu diawasi dari sana, entah apa, tapi bulu kuduknya meremang.

"Jangan, dong. Kita kemari kan sudah rencana jauh-jauh hari, masa iya sudah tinggal dikit lagi harus nyerah," Axel tak ingin kalah, sebab sangat disayangkan jika mereka terpaksa pulang akibat mental pengecut para pesertanya.

"Tapi aku kenapa merasa ada yang aneh, ya? Kok perasaan merinding mulu dari tadi." Naura memegang tengkuknya, dan Kael menyentuh pergelangan tangannya, jangan khawatir ada aku disini," ia mencoba menenangkan gadis itu.

Naura menoleh sejenak, lalu mengulas senyum manis. Jika bukan karena Kael, ia juga tak sudi untuk ikut menjelajahi hutan ini, tetapi semua akan menyenangkan jika perjalanan yang ia tempuh ada bersama sang pemuda.

Alessa mengambil ponselnya, lalu mulai merekam video setiap sisi hutan dan juga tebing jurang.

Wuuuuuusssh

Suara hembusan angin yang tiba-tiba menepa wajahnya dan berhawa panas, membuat ia bergidik ngeri.

Aleesa menggunakan celana pendek diatas lutut dipadu dengan pakaian kemeja berbahan katun premium tanpa lengan.

Perlahan ia merasa bergidik, seolah seperti ada yang sedang menggerayanginya, tapi entah apa.

Ia ingin mengadu, tetapi takut jika para rekannya akan mentertawakannya, sebab yang ia katakan tidaklah jelas, namun ia merasakannya cukup jelas, bahkan seolah gairahnya terbakar, dan tanpa mereka sadari Alessa ternya menggunakan pakaian yang cukup menggoda, memperlihatkan dua pahanya yang mulus, dan itu cukup membuat Genderuwo penghuni rumpun bambu menyukainya.

Aelssa yang sudah diincar oleh sang Genderuwo, harus mengalami perjalanan yang sangat mengerikan, sepertinya makhluk berbulu itu tidak peduli jika ini siang hari, dan tanpa sadar, Alessa sudah terpancing hasratnya.

"Bisa berhenti bentar, gak? Aku kebelet pipis," Alessa akhirnya tak dapat menahan rasa ledakan yang sudah hampir tiba dibun-ubunnya, entah siapa yang melakukannya, ia tak tahu.

"Perlu ditemani?" Sena menawarkan diri.

"Enggak, sebentar saja." Ia berlari ke balik pohon bambu, dan setibanya disana, ia merasa sesuatu mencumbunya dengan begitu nyata, meski tak berwujud, tetapi cukup membuatnya merah padam, hingga ia merasakan sesuatu melesak kedalam organ intinya, dan membuat ia terbelalak, dan bergegas menutup mulutnya.

Ingin berteriak tetapi tenggorokannya terasa keluh, hingga akhirnya ia mengejang tanpa mengetahui siapa yang sudah menyenggamainya.

1
rajes salam lubis
lanjut
rajes salam lubis
tetap semangat
rajes salam lubis
ok
rajes salam lubis
lanjut lanjut
rajes salam lubis
lanjut
V3
si Gemet mpe Emosi menghadapi Sena ,,, tp ttp ja gak bisa kasar sama Sena ,, Sena itu lain dari pada yg lain kata si Gemet ,,, Wanita Istimewa 🤣
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Ai Emy Ningrum: krn wanita ingin dimengerti 😽😽
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Kasihan keluarganya yah... Pasti mereka sedih dan khawatir karena anak-anak mereka belum pulang ke rumah.. 😢

Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏
Ai Emy Ningrum: semoga aja yah..itu mah gmn author nya ajah
total 1 replies
neni nuraeni
semoga mereka bebas,,,
kinoy
kpn klrnya ya ALLAH
V3
semoga Axel mampoes lah biar musuhnya berkurang satu 🤣
V3
aiiiiiihh ..... aku bacanya deg degan bgt loch 😱😱😱
V3
ruangan bawah tanah itu psti ruangan dmna para wanita yg HBS di tunggangi oleh si gemet 🤣🤣
V3
gsah berharap pingsan ja lah ,, si Alessa Mati jg gpa² ,,,, kn penyebab nya adalah Dia 🤬😡
neni nuraeni
ayo sena bebaskn mereka dan berhati" lah
V3
yaaa ... Naura trnyata sdh minum dn makan makanan nya ,,, apa yg terjadi PD Naura yaaa selanjutnya ❓
V3
berarti kalau di pukul kepalanya bakalan sadar donk yaaa spt Kael ,, walaupun bentuk tubuh nya belum berubah mjd manusia seutuhnya 🤔
V3: getok nya pke palu yaa kak terutama buat si Alessa dan Axel 🤣
total 2 replies
Nurr Tika
hati hati sena,lanjut
Desyi Alawiyah
Lanjut Kak.. 😆🙏
rajes salam lubis
waddidAww
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎♉
seru yaa tp kek mana mau gambil lha wong keris e menancap di kepala ular trus piye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!