Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Degh!
Dunia seakan berhenti berputar bagi Sheila. Ia melihat perawat itu membuka sedikit kain putih tersebut, menampakkan sesosok bayi mungil [yang sebenarnya adalah bayi orang lain yang meninggal di waktu bersamaan] yang sudah kaku dan membiru.
"TIDAK!!!" raung Sheila. Suaranya melengking memecah kesunyian rumah sakit, sebuah jeritan keputusasaan yang begitu dalam hingga membuat Risma menutup mulutnya karena tidak sanggup melihat pemandangan itu.
Bunda Rini jatuh terduduk di lantai, tangisnya pecah sejadi-jadinya. "Ya tuhan... Cucuku... Kenapa jadi begini?!"
Sheila merangkak turun dari tempat tidur, mengabaikan luka operasinya yang terasa seperti robek kembali. Ia merengkuh tubuh bayi kaku itu ke dalam pelukannya, mencium keningnya berkali-kali dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Ia tidak sadar bahwa bayi yang ia peluk bukanlah darah dagingnya sendiri, melainkan korban dari kekejaman Tuan Narendra yang ingin mematikan harapan Sheila selamanya.
Di tengah jeritan histeris Sheila, pintu kamar terbuka lebar. Arkan melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi kecemasan. Ia baru saja kembali dari bagian administrasi untuk melacak rekaman CCTV, namun pemandangan di depannya justru membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Apa yang terjadi di sini?!" suara Arkan menggelegar, namun seketika melemah saat matanya menangkap sosok bayi kaku di pelukan Sheila dan perawat yang berdiri mematung di sana.
"Dokter Arkan... bayi ini... dia ditemukan kembali di inkubator, tapi kondisinya sudah tidak bernyawa," lapor perawat itu dengan suara gemetar, mencoba tetap tenang di bawah tatapan tajam Arkan.
Arkan terpaku. Sebagai dokter senior, instingnya langsung berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat janggal. Bagaimana mungkin bayi yang baru saja diculik bisa kembali ke tempat asalnya tanpa terdeteksi satu pun petugas keamanan? Dan mengapa bayi itu terlihat jauh lebih kuyu dari kondisi terakhir yang ia ingat di ruang NICU?
"Arkan! Tolong anakku, Arkan! Kamu bilang dia pejuang kecil! Kamu bilang dia kuat! Bangunkan dia!" rintih Sheila. Ia mencengkeram jas putih Arkan dengan tangan yang berlumuran darah karena jarum infusnya terlepas paksa.
Arkan segera berlutut di samping tempat tidur. Dengan tangan gemetar, ia memeriksa denyut nadi di leher kecil bayi itu. Kosong. Dingin. Namun, saat Arkan memperhatikan guratan halus di wajah bayi tersebut, ia menyadari sesuatu. Ada yang berbeda. Tapi ia tidak bisa mengatakannya sekarang di tengah kondisi Sheila yang sedang di ambang kegilaan.
"Sheila, tenang... kamu harus bernapas," bisik Arkan sambil mencoba mengambil bayi itu dari pelukan Sheila, namun Sheila justru memeluknya semakin erat.
"Enggak! Jangan ambil dia lagi! Kalian semua pembohong!" raung Sheila.
Arkan menatap tajam ke arah perawat itu, matanya berkilat penuh kecurigaan. "Siapa dokter yang menyatakan kematiannya? Dan siapa yang membawanya kemari tanpa protokol resmi?" tanya Arkan dengan nada mengintimidasi.
Perawat itu hanya menunduk, tidak berani menjawab. Arkan tahu, ada konspirasi besar yang sedang terjadi di rumah sakitnya sendiri. Namun saat ini, fokus utamanya adalah menyelamatkan nyawa Sheila yang mulai mengalami pendarahan hebat akibat luka operasi yang terbuka karena terus meronta.
"Risma! Bunda! Bantu saya membaringkan Sheila!" perintah Arkan tegas. Ia harus menelan kecurigaannya sendiri demi menyelamatkan wanita yang ia cintai dari maut yang sedang mengintai.
Arkan tidak langsung percaya begitu saja. Sebagai dokter, ia merasakan ada kejanggalan fisik pada bayi tersebut, namun ia terpaksa mendahulukan keselamatan Sheila yang sedang kritis secara fisik dan mental.
"Sheila! Berhenti meronta!" Arkan berseru tegas sembari menahan bahu Sheila agar tidak terjatuh dari brankar. Ia segera memberikan instruksi cepat kepada perawat lain yang baru saja masuk. "Siapkan sedatif dan set jahit darurat! Luka operasinya mengalami dehisensi, pendarahannya harus segera dihentikan!"
Sheila tidak memedulikan rasa sakit yang menghujam perutnya. Ia hanya terus memeluk bayi kaku itu dengan tatapan kosong yang mengerikan. "Jangan ambil dia, Arkan... tolong jangan ambil lagi..." bisiknya parau, sebelum akhirnya pengaruh obat penenang mulai merayap masuk ke sistem sarafnya, membuat pelukannya perlahan melemas dan matanya terpejam.
Arkan dengan sigap mengambil bayi itu—yang ia yakini bukan anak Sheila—dan menyerahkannya kepada Risma dengan tangan yang terasa berat. Ia kemudian fokus menjahit kembali luka operasi Sheila yang terbuka. Keringat dingin mengucur di pelipis Arkan. Setiap tusukan jarum yang ia lakukan terasa seperti menusuk hatinya sendiri.
Di sudut ruangan, Risma mendekap bayi itu sambil terisak. "Kamu harus tetap kuat, Sheil! Kamu harus kuat demi Aku dan Bunda," ucap Risma penuh rasa prihatin, meski tubuhnya sendiri gemetar hebat.
Keesokan harinya, suasana duka menyelimuti pemakaman kecil di pinggir kota. Sheila yang masih sangat lemah bersikeras untuk hadir. Ia duduk di kursi roda, wajahnya sepucat kertas, dikawal ketat oleh Arkan dan Bunda Rini.
Saat jasad kecil itu diturunkan ke liang lahat, Sheila hanya diam. Tidak ada lagi raungan histeris, yang ada hanyalah tatapan mata yang telah kehilangan seluruh cahayanya. Ia melihat tanah demi tanah menutupi bayi yang ia kira sebagai putranya.
"Selamat jalan, Sayang," bisik Sheila dalam hati. "Mulai hari ini, Mommy tidak akan menangis lagi. Mommy akan menjadi sosok yang cukup kuat untuk menghancurkan mereka yang telah membuat kita seperti ini."
Arkan yang berdiri di belakang kursi roda Sheila mengepalkan tangannya. Ia tahu ada yang salah dengan kematian bayi ini, tapi ia belum memiliki bukti. Ia bersumpah dalam hati bahwa ia akan menjadi pelindung bagi Sheila sampai kebenaran itu terungkap.
Bunda Rini memeluk pundak Sheila dengan isak tangis yang tertahan. "Sudah Nak, kita pulang ya? Kamu harus pulih."
Sheila hanya mengangguk pelan. Namun, saat mereka berbalik untuk meninggalkan area pemakaman, dari kejauhan, sebuah mobil hitam tampak terparkir di bawah pohon rindang. Di dalamnya, Bayu mengamati setiap pergerakan Sheila dengan senyum yang sulit diartikan.
Hari demi hari berlalu setelah pemakaman itu. Sheila mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk bangkit. Meskipun lubuk hatinya masih terasa hampa, kehadiran Arkan yang selalu setia menemani dengan penuh perhatian menjadi satu-satunya alasan ia tetap bertahan. Arkan tidak pernah memaksa Sheila untuk bicara, ia hanya memastikan bahwa wanita itu tidak pernah merasa sendirian dalam kegelapannya.
Ceklek.
Suara pintu kamar perawatan terbuka perlahan. Arkan melangkah masuk dengan senyum hangat yang menenangkan, membawa aroma kopi dan semangat baru ke dalam ruangan yang sempat terasa sesak itu.
"Pagi, Cantik!" sapa Arkan lembut sambil meletakkan beberapa berkas medis di meja. Ia menghampiri Sheila yang sedang duduk menatap jendela, lalu memeriksa kantong infus dan denyut nadinya dengan sangat teliti. "Bagaimana hari ini? Apa perasaanmu sudah jauh lebih baik?"
Sheila menoleh pelan, memberikan senyum tipis—sebuah kemajuan besar setelah berhari-hari ia hanya diam membatu. "Pagi, Dok. Jauh lebih baik. Setidaknya semalam saya sudah bisa tidur tanpa terbangun karena mimpi buruk."
Arkan mengangguk lega, jemarinya menyentuh pundak Sheila sebentar untuk memberikan penguatan. "Itu kemajuan yang luar biasa, Sheila. Tubuhmu butuh istirahat agar batinmu juga bisa pulih. Ingat, kamu punya mimpi besar yang sedang menunggu untuk kamu wujudkan."
Sheila menatap tangannya yang kini tampak lebih stabil. "Saya ingin segera kembali ke kampus, Dok. Saya tidak ingin berlama-lama terjebak dalam kesedihan ini. Saya ingin menjadi dokter bedah, seperti Anda."
Arkan tertegun sejenak, namun matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa. Ia tahu, ambisi adalah obat terbaik bagi luka yang dialami Sheila saat ini.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/