sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Percakapan dengan Kenzo di kamar tidurnya mengganggu jadwal terbang ku. aku harus bertemu dengan Basyir sebelum berangkat ke Hongkong
"itu bukan keputusanku, Kenzy." Basyir menggeleng. Dia sedang bersiap siap memobilisasi belasan anggota keluarga terbaik.
"Kenzo bilang bumi hanguskan, itu berarti seluruh keluarga."
"kau sudah memastikan keluarga itu bersalah?",
"tentu saja, Kenzy" Basyir terlihat sedikit tersinggung, " mereka datang ke sini tadi siang sebelum pemeriksaan rutin Kenzo. mereka datang untuk meminta ampunan, bersedia memberikan separuh bisnis keluarga selagi diampuni. Kenzo menolak bertemu."
Aku menghembuskan nafas, hampir semua keluarga sebenarnya punya mata mata di keluarga lain. Keluarga Thong bahkan punya banyak, sebagai sumber informasi, termasuk di pemerintahan. tertangkapnya mata mata adalah hal lumrah, bisa ditebus dengan harga yang pantas atau hanya kehilangan wilayah teritorial. Tapi sepertinya Kenzo sangat sensitif belakangan, dia merasa apa pun yang mengancam keluarga Thong harus dihabisi
"kau tenang saja, Kenzy" Basyir tersenyum, "biarkan aku dan yang lain membereskan hal seperti ini. aku pastikan, sekembalinya kau dari Hongkong situasi kembali normal. Dan keluarga kita bisa bersiap menyambut calon keluarga baru. aku mungkin tidak bisa lagi memanggil namamu langsung, aku harus mulai berlatih memanggilmu 'tauke muda'."
"aku tidak senang membicarakannya, Basyir." aku menjawab cepat, "dan berhenti menggangguku dengan panggilan itu"
Basyir tertawa, menepuk pundakku "kau harus membiasakan diri mendengar panggilan itu, Kenzy. Tidak ada lagi yang boleh memanggil namamu sekali kau diangkat menjadi penerus."
aku mendelik, menyuruhnya diam.
Basyir mengangkat bahu, tetap tertawa.
"jika hal ini memang terpaksa dilakukan, pastikan kalian melakukannya dengan cepat, Basyir, agar mereka tidak menderita"
"tentu saja tauke mu, eh sorry, Kenzy" Basyir melambaikan tangannya, sengaja menggangguku. Di halaman bangunan utama, enam mobil Van berwarna hitam mengkilap telah siap berangkat. Basyir naik ke salah satu mobil, mengangguk kepadaku dan berseru pendek, "assalamualaikum"
Pintu baja yang digerakkan sistem otomatis membuka, rombongan eksekutor itu berangkat.
Aku melirik jam di pergelangan tangan. Sudah pukul lima sore, aku juga harus segera ke bandara.
****************
Aku tiba di bandara pukul lima tiga puluh.
"maaf aku terlambat sekali, Edwin" ucapku saat masuk ke dalam pesawat jet pribadi keluarga Thong.
"anda kaptennya, capt. tidak masalah" seseorang dengan seragam pilot sudah menunggu. Majalah yang sedang dibacanya di kursi kokpit segera ia letakkan.
Aku melepas jas hitam, melemparkannya ke sembarang kursi. Duduk disebelahnya Edwin, memasang alat komunikasi. "semua sudah siap?" memeriksa cepat panel panel di depanku.
"sejak dua jam lalu" Edwin menjawab mantap, tangannya terampil menekan tombol tombol di depannya. Pintu pesawat ditutup.
Aku mengangguk, lima belas detik menunggu, lampu hijau berkedut di layar panel, aku segera menggerakkan tuas kemudi. Edwin di sebelahku berbicara dengan menara pengawas
Pesawat jet bergerak anggun menuju runaway. Aku menginfirmasi untuk terakhir kalinya kepada menara pengawas, izin take off diberikan. persis saat petugas menara menjawab "clear!" aku menekan tombol, mesin jet menggerung bertenaga, lantas meluncur cepat di atas aspal. Tiba di kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara, tanganku perlahan menggerakkan tuas. Moncong pesawat mulai naik, dan dua detik berikutnya pesawat mulai naik, dan dua detik berikutnya pesawat jet berkelir merah itu sudah melesat ke angkasa.
"mulus seperti biasanya, capt" Edwin tersenyum.
Aku mengangguk, menatap ke depan lewat jendela kokpit. Setidaknya, saat berangkat sore seperti ini, pemandangan ibu kota terlihat menakjubkan. Lampu lampu yang menyala membuat kota seperti bermandikan cahaya. Pesawat jet melakukan manuver kecil sebelum akhirnya masuk ke lintasan. stabil di ketinggian tiga puluh ribu kaki.
"aku tidak akan mengemudi malam ini, Edwin"
aku bangkit, menuju ke kursi penumpang.
"siap, capt!"
Hanya ada kami berdua di pesawat itu. Aku menghempaskan punggung di salah satu kursi dan segera mengeluarkan koper dari atas bagasi-pelayan yang mengirimkannya lebih dulu ke pesawat. Menyalakan tablet dan segera tersambung ke sistem operasional organisasi shadow economy.
Di keluarga Thong, aku tidak masuk dalam struktur organisasi karena posisiku adalah jagal nomor satu. Aku kaki tangan langsung Kenzo. Tugasku spesial, yakni penyelesaian konflik tingkat tinggi. Jika Basyir atau Parwez mengalami kesulitan, aku turun tangan.
Pesawat jet tiba di Hongkong jam sembilan lewat tiga puluh. Mobil limusin beserta sopirnya telah menunggu, langsung membawaku ke pusat kota.
Ini pesta ulang tahun master dragon yang ke 80, pucuk tertinggi penguasa shadow economy daratan Cina. Keluarga Thong diundang untuk mengikuti jamuan makan malam, dan aku datang mewakili Kenzo, sang tauke besar.
aku terus melangkah hingga ujung ballroom, melintasi ratusan tamu perayaan ulang tahun, hingga tiba di pintu besar berukuran naga yang dijaga oleh dua orang. Salah satu penjaga itu mengenaliku.
"selamat malam, Kenzy" dia mengangguk dalam dalam kepadaku "master dragon telah menunggu anda didalam"
aku balas mengangguk sekilas. Melangkah melewati pintu.
Ada meja panjang di ruangan dalam yang juga dipenuhi makanan makanan, kue kue, dan berbagai minuman.
"ah, akhirnya kau tiba, Kenzy" orang yang duduk di kursi paling besar menyapaku.
Dialah yang sedang berulang tahun. Dialah kepala seluruh keluarga. Semua orang memanggilnya master dragon.
Aku membungkuk. Sebelas tamu di kursi lain menatap kami. Mereka adalah perwakilan keluarga dari banyak tempat, salah satunya dari keluarga penguasa shadow economy di makau.
"malang sekali nasib kawan kita satu itu. Usianya lebih muda sepuluh tahun dariku tapi sudah sakit sakitan. Hanya bisa memukuli bantal. Sementara aku masih bisa memukuli lawan lawan tangguh" master dragon tergelak
aku menoleh kepada dua pelayan di belakang. Mereka segera maju, meletakkan kotak kayu diatas meja. aku membuka kotak itu. Sebuah patung naga emas langsung terlihat saat tutup dibuka
"demi dewa dewa!" master dragon berseru melihat patung itu.
"hadiah ulang tahun dari keluarga kami, master dragon. Maafkan jika sangat sederhana" aku berkata takzim, kembali mengangguk.
"Bukankan itu patung yang hilang dari Singapura? Ini hebat, Kenzy. Hebat sekali"
Aku mengangguk sekali lagi. Tidak mudah mencuri patung naga itu dari tempatnya. aku harus mengirim pencuri paling lihai dan membayarnya mahal. juga lebih banyak uang untuk menyumpal petugas dan pihak pihak lain agar pencurian itu berhasil. Tapi membawa patung ini penting sekali untuk memenangkan hati master dragon. ada urusan yang membutuhkan persetujuannya malam ini.
Ini kali keempat aku bertemu master dragon, setelah tiga sebelumnya bersama tauke. pada pertemuan pertama saat jamuan makan malam, master dragon menatapku heran. Kenapa ada anak kemarin sore datang ke pestaku? Baru saat ke dua dan ketiga master dragon paham kenapa aku selalu diajak.