Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Ikut bu, tunggu sebentar" ucap Aksa kepada guru wanita yang memanggilnya.
Siang ini semua guru akan menjenguk Lusi yang sedang dirawat di rumah sakit, entah sakit apa yang diderita Lusi hasil laboratorium belum keluar.
"Kami tunggu di parkiran mobil, Pak" ucap Guru yang bernama Anjani.
"Iya..." Aksa menjawab singkat, berharap Anjani segera pergi karena ingin menjelaskan kepada Dini tentang kesalahannya yang ia lakukan.
Anjani sebenarnya hendak pergi, tapi Dini justru turun dari motor lalu mendekat. Dini berdiri di hadapan guru bahasa Inggris itu lalu salim tangan.
Anjani tersenyum kecil, walaupun tidak begitu mengenal Dini karena belum pernah mengajar, tapi nama Dini Kirana cukup dikenal karena kecerdasannya.
"Kamu menunggu siapa?" Tanya Anjani kemudian.
"Menunggu teman bu..." Dini terpaksa berbohong, tidak mungkin jujur jika ia belum melanjutkan perjalanan karena ditahan Aksa. Sebenarnya ia ingin pergi sejak tadi, tapi Anjani keburu datang. Tentu saja tidak sopan jika ia pergi begitu saja.
"Kalau gitu saya duluan ya."
"Baik bu..." Dini mengangguk sopan. Setelah Anjani pergi, Dini melewati Aksa begitu saja, naik ke atas motor.
"Hai, jangan ngambek terus dong. Jelek kalau begitu."
"Memang saya jelek, berbeda dengan bu Lusi" Dini melirik Aksa sekilas lalu membuang wajahnya kasar.
Aksa menarik napas panjang, ucapannya lagi-lagi salah di telinga Dini, langkahnya maju satu tindak. Namun, segera berhenti ketika Dini mundur menjauh. "Aku mengangkat Bu Lusi tadi karena darurat Dini. Aku minta maaf," Aksa menyadari kesalahannya.
"Bukan karena darurat, tapi Pak Aksa senang, ada kesempatan peluk-peluk bu Lusi!" Sewot Dini mengeluarkan isi hatinya. Seharusnya Aksa bisa menggunakan tandu lipat di ruang uks tidak harus menggendong.
"Dengar dulu Dini..." Aksa bermaksud berbicara baik-baik.
"Tidak ada yang harus dijelaskan, Pak" Suara Dini serak.
"Terus aku harus bagaimana, Dini?" Aksa kesal juga, padahal sudah minta maaf tapi Dini masih juga sewot.
Dini diam, seharusnya ia tidak semarah ini karena Lusi sedang tidak sadar, tapi sikap Aksa juga tidak bisa dibenarkan. Padahal Aksa tahu bahwa Lusi mencintainya, jika Lusi tiba-tiba sadar saat dalam gendongan tentu saja kebaikan Aksa di salah artikan.
"Kamu jangan kekanak-kanakkan Dini. Ini lingkungan sekolah, kamu tahu aku seorang guru yang punya tanggung jawab menolong siapapun yang kesusahan," balas Aksa, pria itu mulai terpancing emosi walau tetap menahan volume suaranya.
"Iya, aku memang kekanak-kanakkan!" Air mata Dini mengalir deras. Ia tidak terima dikatakan seperti itu, kemudian menyalakan mesin hendak pulang tapi Aksa menahan.
"Dini, jangan pulang dalam keadaan emosi begini!" seru Aksa, tangannya memegang spion motor. Tatapannya terkunci pada wajah Dini. Ada kilat tajam dari mata gadis itu, marah karena takut kehilangan.
"Lepas!" sentak Dini dingin. Tanpa aba-aba Dini berbalik menyambar helm menutup wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Suara knalpot menderu keras, Dini menarik tuas gas sedalam mungkin, membiarkan asap tipis tertinggal saat motornya melesat pergi meninggalkan area parkir dengan kecepatan tinggi. Dini sebenarnya merasa konyol karena cemburu kepada orang yang pingsan, tapi entahlah, kali ini tidak bisa menyikapi dengan bijak.
"Astagfirullah... kenapa jadi begini sih..." Aksa tetap di posisinya berdiri mematung. Ekpresi wajahnya berubah, digantikan oleh gurat kecemasan melihat Dini melarikan motornya seperti bukan dirinya sendiri.
Ia balik badan melangkah menuju parkiran mobil membawa sesak yang tertinggal di dada. Dini bukan sekedar pergi tapi lebih ke sebuah pelarian dari rasa sakit yang tidak sengaja Aksa ciptakan.
"Pak Aksa lama sekali" ucap bu Anjani ketika Aksa tiba di mobil.
Aksa tersenyum dipaksakan, tanpa ada kata yang keluar. Ia masuk ke mobil yang dalam keadaan pintu terbuka. Lima guru perwakilan sekolah sudah duduk berhimpitan di jok tengah dan belakang. Aksa segera mengisi jok sempit karena dua guru wanita lainnya berbadan besar. Aksa menjadi seperti cabe rawit di sebelah tahu.
"Pak Aksa jangan sedih gitu, semoga bu Lusi baik-baik saja" ucap ibu Vera, semua guru mengira Aksa sedih karena memikirkan Lusi.
Aksa menoleh cepat, menatap Vera lalu beralih ke wajah para guru yang lain. Tatapan matanya membantah bahwa ia dengan Lusi ada hubungan. Mana mungkin ia mencintai nama yang menjadi pemicu badai kecil antara dia dan Dini. Aksa tidak menjawab ucapkan mereka. Guru-guru memang beranggapan jika Lusi adalah kekasihnya. Sebab, Lusi sendiri yang selalu percaya diri mengaku-ngaku tunangannya.
Derrrtt Derrrtt Derrrtt...
Handphone Aksa bergetar memecah kesunyian dalam mobil. Aksa menggeser tombol hijau meletakkan handphone di telinga, entah bicara apa si penelpon tapi Aksa tampak panik.
"Pak supir, cepat sedikit ya," Aksa menatap para guru hendak mengucap sesuatu entah apa yang terjadi.
...~Bersambung~...
otw mak...
selamat ya Din .. semoga sukses 😍
ada. pepatah yang bilang lebih baik dicintai dari pada mencintai tapi selalu tersakiti ..
cewek yg lain...😄🤭