Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat
Pagi itu, Rama bangun lebih awal dari biasanya, ia akan kembali ke sekolah setelah libur panjang.
Dengan penuh rasa semangat, Rama mengenakan seragam sekolah biru putih yang sudah ia siapkan sejak semalam. Ia ambil tas sekolahnya, dibawanya keluar dari kamar. Sementara bu Susi sudah menyajikan makanan untuk mereka bersarapan.
Bu Susi dan Galih sudah menunggu di meja makan itu. "Selamat pagi, Rama... " ucap nenek dan juga ayahnya.
"Selamat pagi, mbah ibu... Selamat pagi ayah..." Rama pun duduk, siap untuk sarapan bersama.
Bu Susi mengambilkan nasi dan juga lauk untuk mereka. "Galih, mulai hari ini ibu mau kembali ke pasar, bu Desi sudah menyerahkan kunci kios. Bu Desi sudah tidak mau perpanjang sewanya, karena sudah beli kios sendiri di dekat kios ibu," kata bu Susi.
"Memangnya ibu belum lupa cara jualan?" Gurau Galih, karena sudah bertahun-tahun bu Susi tidak jualan di pasar.
"Memangnya kamu bisa lupa pada Arumni?" Balas bu Susi yang membuat Galih tersedak makanannya.
Rama mengunyah makanan sambil menahan tawa.
Galih hanya melirik sebentar lalu kembali pada makanannya.
"Tuh kan, Rama. Ayah mu mana bisa jawab kalau soal Arumni."
"Bisa, bisa kok." Protes Galih.
"Mana? Mana buktinya? Ibu nggak percaya." Kata bu Susi, "kamu percaya atau tidak, Rama?"
Rama masih menahan tawa menatap wajah gugup ayahnya, sambil menggelengkan kepalanya.
"Tu... lihatlah, anak mu juga berpikir sama kaya ibu."
"Di luar ada yang manggil kamu, Rama." Galih mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nggak ada, ayah." Rama masih menahan tawa.
"Ada, orang ayah dengar. Coba kamu keluar sana." Perintah Galih, "ibu juga mau ke pasar kan, bu? Ayo bersiap, aku akan mengantar ibu." Ucap Galih sebelum meninggalkan meja makan.
"Eh, Galih. Ibu nggak jualan di pasar pagi, ya...!" Ucap bu Susi yang tidak ditanggapi oleh Galih.
Rama dan bu Susi jadi tertawa. Tampak jelas dari wajah Galih yang mencoba menutupi perasaannya, saat mereka menyinggung nama Arumni.
* *
Waktu sudah menunjukkan pukul 6, namun Arzetya masih saja bermalas-malasan di kamarnya, berkali-kali ibunya membangunkan namun ia masih saja menolak.
"Tya, ayo cepat. Jangan menyusahkan ibu mu, sayang." Arumni terus menarik-narik selimut agar Tya segera terbangun.
Dengan mata yang masih terpejam, Tya menarik selimutnya kembali. "Ibu, tolong jangan ganggu tidur ku, bu. Tempat tidur ini sangat nyaman, aku belum siap menghadapi tugas-tugas sekolah yang menumpuk, ibu." Tya kembali memutar badan, mencoba untuk tidur kembali.
"Jangan malas, sayang... kamu harus bangun sekarang."
Tak ada sautan dari Tya, Arumni pun segera keluar untuk meminta bantuan pada Adit. "Mas.. mas Adit!" Teriaknya saat membuka pintu kamar.
"Ada apa sih, sayang...," jawabnya santai sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Lihatlah jam berapa ini? Anak mu masih saja malas-malasan di kamar." Kata Arumni penuh rasa kesal.
"Tenanglah, sekolahnya dekat ini. Masih ada waktu satu jam, nggak akan terlambat, kan?"
"Ih, rupanya aku salah meminta bantuan." Arumni semakin kesal, ia hendak keluar dari kamar, namun Adit menarik tangannya—hingga membuat Arumni terjerembab dalam dekapannya. "Mas, bukan waktunya bercanda." Arumni berusaha melepaskan diri, namun suaminya itu terlalu kuat.
"Siapa yang ngajak bercanda?" Goda Adit sambil mempererat dekapannya, "Tya pasti paham kapan waktunya ke sekolah." Katanya.
Rasa kesalnya mulai mereda, Arumni mulai merasa nyaman, ia balas pelukan suaminya yang paling mengerti akan suasana hatinya. Ia selalu bersyukur, sebelas tahun bersama, hampir tidak pernah menemukan keburukan suaminya.
"Sudah lebih, tenang?" Bisiknya.
Arumni hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan senyuman lembut.
"Ya sudah, pergilah." Kata Adit saat melepas pelukan lalu berjalan ke arah cermin untuk merapikan rambutnya.
"Kenapa jadi ngusir?"
"Nggak ngusir, siapa yang ngusir? Aku nggak ngerasa ngusir."
"Iya, ngusir." Kekeh Arumni.
"Nggak, nggak ngusir sayang... Kalau masih ingin di sini, tetaplah di sini. Nggak ada yang larang."
Mulutnya akan terbuka, namun saat menatap jam dinding yang terlihat sangat cepat, Arumni segera keluar dari kamar itu.
Adit hanya mengukir senyum saat melihat istrinya yang kini semakin cerewet, jauh dari yang dulu, tapi tetap manis di hatinya.
Beberapa saat kemudian Arumni kembali ke kamar lagi, "mas, kemana lagi anak itu?"
"Anak itu, maksudnya anak siapa?" Adit selalu santai dalam menanggapi.
"Anak kamu lah, memangnya anak siapa lagi?" Arumni kembali merasa kesal.
"Bukan cuma anak ku, tapi anak kita!"
Bukannya menjawab, Arumni justru pergi meninggalkan suaminya kembali. Ia menuruni tangga, hendak bertanya pada mama mertua, namun ternyata mereka sedang sarapan bersama, dan Tya sudah memakai seragam merah putih lengkap.
"Tya, dari tadi ibu—" ucap Arumni dengan napas yang terengah-engah menahan rasa kesal.
"Duduk, Arumni. Ayo kita sarapan," perintah mama Alin dengan begitu santai.
"Tya... kamu menyusahkan ibu," keluh Arumni.
Mama Alin hanya tersenyum, ia tahu rasa khawatirnya sang ibu pada anak yang sudah hampir terlambat ke sekolah.
"Nyusahin bagaimana, bu?" Protes Tya, "aku mandi sendiri, ganti baju sendiri, sarapan juga sendiri kan, oma?" Ucap Tya yang mendapat belaan dari omanya.
"Iya, ibu tahu, tapi kamu lihat jam berapa ini?"
"Belum ada jam 7, bu..." Saut Adit dari belakang.
"Iya, mas. Tapi Tya terlalu santai," kata Arumni.
"Tapi selesai juga, kan?"
"Tuh kan, bu. Mas ayah lebih paham dari pada ibu." Ucap Tya yang membuat semua menoleh keheranan.
"Mas ayah?" Semua jadi tertawa karena ucapan Tya yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Mama Alin pun tak bisa menahan tawa, cucunya itu sangat lucu, ada aja yang diomongin.
Tya berdiri setelah menyelesaikan sarapannya, ia mencium tangan semua orang. "Aku berangkat dulu mama oma, ibu sayang, dan juga mas ayah." Ucapnya lalu berjalan cepat ke luar rumah untuk pergi ke sekolahnya yang hanya beberapa langkah dari rumahnya.
"Ngelawak terus nih anak, nggak tahu ibunya panik setiap hari." Gumam Arumni, "sama sekali nggak bisa serius."
"Kayaknya kamu suka ngatain Zaki, makanya sifatnya jadi seperti Zaki."
"Mitos, itu mas. Mana ada anak kita tapi sifatnya seperti orang lain, yang ada seperti bapaknya pasti itu, iya kan, ma?"
"Nggak ya, ma?" Bela Adit.
"Nggak, Adit waktu kecil nggak banyak bicara."
Tidak ada pembelaan membuat Arumni menyerah, "kalau begitu seperti aku."
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/