Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Itu saja. Itu janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Tak lama berselang, bu Nur, wali kelas XA sekaligus guru mata pelajaran bahasa indonesia tampak masuk ke ruang kelas.
"Selamat pagi anak-anak. Hari ini, kita kedatangan siswa baru karena pindah sekolah. Mohon kerjasamanya," titah bu Nur pada seluruh siswanya.
"Iya bu,"jawab siswa dengan serempak.
"Silakan maju Nak untuk memperkenalkan diri," pinta bu Nur pada murid baru tersebut.
Perempuan bernama Xeline terlihat meletakkan tas ransel berwarna hitam miliknya dan tak lupa melepaskan masker yang menutupi wajahnya. Ia terlihat beranjak dari bangku dan berjalan ke arah depan kelas menghadap bu Nur.
Seusai bersalaman dengan wali kelas tersebut, Xeline menghadap ke seluruh siswa kelas XA dan mulai memperkenalkan diri.
"Selamat pagi. Perkenalkan. Nama saya Xeline Nadira Hartanto. Biasa dipanggil xeline," ucap perempuan itu dengan nada sedikit tinggi.
Deg
Dada Bhima berdebar kencang. Ia menatap Xeline dari kejauhan. Mata lebar, alis yang melengkung alami tanpa sulam alis, bibir tipis, hidung mancung yang presisi dengan bentuk wajahnya yang oval, bentuk tubuh kecil, dan tinggi seratus enam puluh lima senti meter, dengan dada nyaris rata, dan bentuk tubuh yang kecil, atau dengan kata lain kerempeng.
"Gilaaaakkk. Gadis ini tipeku banget. Aku sudah lama menunggu tipe perempuan seperti ini. Mirip anime yang kusuka. Ah entah apa judul anime itu, aku lupa. Dari melihatnya pertama kali saja, aku bisa menebak. Pasti cewek ini aslinya sangat tomboy, hiperaktif, pecicilan, dan memiliki aura brengsek dari tatapan matanya. Aku semakin yakin satu hal. Sepertinya dia juga sepertiku. Suka anime dan punya hobi game. Tapi dia nyaris menutupi semua itu dengan mode setelan cuek dan gengsi. Perempuan dengan perpaduan begitu sempurna. Hiperaktif, pecicilan, tomboy, suka anime dan game, memiliki aura brengsek. Ini tipe cewek langka banget. Semoga hanya aku yang bisa melihat kelebihan cewek ini," batin Bhima.
Aneh sekali ya tipenya Bhima. Bila cowok lain,pasti suka cewek cantik, memiliki tubuh langsing, seksi, bibir merah merono yang penuh, tinggi, penuh aura keibuan, feminim, tapi tipe bhima agak lain mungkin ya. Suka perempuan kerempeng, hiperaktif, pecicilan, tomboy, memiliki aura brengsek, suka anime dan seorang gamer. Agak lain ya si Bhima ini? Tapi setiap lelaki memiliki tipe perempuan yang berbeda bukan? Sudah akhir tahun 2025, silakan pilih perempuan sesuai tipe ya. Nggak lucu bukan nyari cewek spek bidadari, keibuan yang bukan tipe banget hanya untuk pacaran, atau untuk ke jenjang pernikahan, tapi mata dan hati masih melihat ke cewek yang tipemu banget? Kasihan ceweknya. Betewe pilihlah cewek dengan tipe kamu banget, dan setialah. Setia itu mahal bukan?
Bhima memejamkan mata perlahan. Ia baru saja teringat sesuai mengenai Xeline, gadis yang saat ini tengah berada di depan kelas untuk memperkenalkan diri.
"Ahhhh, aku baru ingat sekarang. Bukankah ini xeline yang diceritakan sama temen silat tempo hari? Anak silat dari grup sebelah yang out padahal sudah mau kenaikan sabuk. Kondisinya sama persis denganku yaitu tidak diperbolehkan mengikuti ujian kenaikan sabuk karena tidak diizinkan oleh orang tua. Oh Tuhan, apakah Xeline ini orangnya? Ternyata dia cantik dan tipeku banget. Ditambah gadis ini bisa silat. Paket combo plus ini. Tuhan, sepertinya aku jatuh cinta in the first sight. Xeline, kamu tipe aku banget," batin Bhima begitu bergemuruh.
Saat Xeline kembali ke tempat duduk yang berjarak dua bangku dari Bhima, tanpa sengaja pandangan mereka beradu sesaat. Xeline seketika menganggukkan kepala dan Bhima membalas dengan hal yang sama. Setelah menganggukkan kepala, ia terlihat membuang muka dengan melihat ke arah samping.
"Mengapa lelaki itu buang muka ya saat melihatku? Apa dia nggak nyaman ya bertatapan denganku? Atau wajahku ini begitu menjijikan ya? Apa ...? Entahlah, aku juga tak tahu. Aku juga nggak mau memiliki perasaan macam-macam. Aku hanya ingin bersekolah dengan baik disini. Aku nggak akan macam macam lagi seperti pamer prestasi atau apalah seperti saat di sekolah dulu. Aku hanya ingin menjalani sekolah hingga lulus di sini
itu saja keinginanku saat ini. kasihan ibu dirumah. Tapi betewe, mengapa aku memikirkan lelaki itu ya?Aneh," batin Xeline.
sementara di sisi lain, saat Bhima tengah berpaling, Ada getaran hebat di hatinya yang membuat ia tak berani menatap lama ke arah Xeline.
"Aku nggak kuat lihat mata gadis itu terlalu lama woii. Dia tipe gue banget. Ternyata Xeline sesuai sekali dengan ekspektasiku selama. Pantesan temen silatku bilang tentang Xeline padaku. Ia tahu banget tipe cewek idamanku seperti apa. Aku takut banget bertatapan terlama dengan Xeline karena takut ia akan mengetahui perasaanku yang sebenarnya," batin Bhima.
pelajaran bahasa indonesia terasa berlangsung lama. Bhima terlihat gelisah dan tidak bisa konsentrasi selama mengikuti pelajaran
"Kamu kenapa Bhim? Kok tumben gelisah kayak gini? Kamu sakit ya? Lebih baik kamu pulang sana. Takutnya kamu pingsan di sekolah bisa berabe. Nanti mamamu khawatir," saran Arga.
Bhima menggeleng pelan.
"Apasih kamu Ga? Aku nggak pa pa kok. Santai aja. Aku juga nggak akan pingsan."
Tak berselang lama bel tanda istirahat telah berbunyi.
Tet tet tet
Bhima beranjak dari kursi dan berjalan ke arah teras. Disana ternyata telah ada Xeline yang berdiri di dekat tiang penyangga yang terdapat di depan kelas.
"Kamu kenapa?" sapa Bhima pada Xeline dengan nada yang agak ditekan agar tidak terlihat kegugupan di depan siswa baru itu.
Xeline tetap terdiam.
"Hei, ditanya kok diam ae?" ulang Bhima sekali lagi.
"Mau izin tanya, kantinnya dimana ya?" tanya Xeline balik.
Bhima mengangguk tanda paham.
"Ooo nyari kantin. Setelah lorong di depan itu, belok kiri. Ada kantin berderet di sana," jelas Bhima.
Bhima melihat ke arah Xeline sekali lagi.
"Kok diem? Kenapa?" Tanya Bhima penasaran.
"Nggak."
"Kamu mau tak antar kesana?" tawar Bhima pada gadis itu.
Xeline menggangguk perlahan.
"Boleh."
Sesampainya di kantin, Xeline mengatakan sesuatu pada Bhima.
"Makasih ya kamu sudah mau ngantar saya ke kantin," ucap terima kasih Xeline pada lelaki itu.
"Nggak usah makasih. Biasa aja. Cuma antar ke kantin doang," elak Bhima.
Bhima berusaha stay cool dihadapan Xeline. Padahal saat itu hatinya tengah gugup tidak karuan karena berada disamping gadis yang disukainya.
Sejak pertemuan pertama hingga detik ini, Bhima masih menyukai Xeline. Meskipun ada gosip miring tentang Reza dan Xeline, rasa suka itu tidak berkurang sama sekali. Toh cuma gosip. Diantara mereka berdua juga tidak pernah ada kabar pacaran. Hal itu yang membuat hati Bhima sedikit tenang. Saat ini, rasa suka yang telah ada sejak dua tahun yang lalu telah tumbuh menjadi rasa cinta yang tersimpan rapi di hati Bhima.
Jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Bhima segera mengisi format data diri yang telah di share oleh Xeline di grup kelas.
Setelah dilihat ulang dan ia mengirimkan WA tersebut ke Xeline dengan rasa gugup sedikit.
Gimana nggak gugup, ini pertama kali ia WA pribadi pada gadis yang telah lama disukainya. Bhima, cie, cie.