NovelToon NovelToon
Paket Cinta

Paket Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Imamah Nur

Kabur dari perjodohan toksik, Nokiami terdampar di apartemen dengan kaki terkilir. Satu-satunya harapannya adalah kurir makanan, Reygan yang ternyata lebih menyebalkan dari tunangannya.

   Sebuah ulasan bintang satu memicu perang di ambang pintu, tapi saat masa lalu Nokiami mulai mengejarnya, kurir yang ia benci menjadi satu-satunya orang yang bisa ia percaya.

   Mampukah mereka mengantar hati satu sama lain melewati badai, ataukah hubungan mereka akan batal di tengah jalan?

Yuk simak kisahnya dalam novel berjudul "Paket Cinta" ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35. Pertengkaran

Sobekan kertas lecek di tangan Nokiami terasa seperti vonis. Pertanyaannya menggantung di udara lorong yang dingin, menelanjangi semua dalih dan sarkasme yang selama ini menjadi baju zirah Reygan. Pria itu terpaku, matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini melebar karena syok dan panik. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lampu neon, seolah semua darah telah surut dari sana. Ia tampak seperti pencuri yang tertangkap basah, bukan dengan barang curian, melainkan dengan hatinya sendiri.

“Aku…” Reygan memulai, suaranya serak, pecah. Ia menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun dengan gugup. “Itu… cuma kertas. Jangan dibesar-besarkan.”

“Cuma kertas?” ulang Nokiami, suaranya naik satu oktaf, dipenuhi kekecewaan yang menusuk. “Kau lari dari apartemenku, kau bilang aku ini drama, kau bilang kau nggak punya waktu untuk main-main, lalu kau meninggalkan ini? Ini bukan sekedar kertas, Reygan. Ini harapan. Dan kau yang menuliskannya.”

Reygan membuang muka, tatapannya menyapu apa saja yang ada di sekitar lalu menatap ujung sepatunya sendiri. Ia tidak bisa menatap mata Nokiami yang menuntut kejujuran.

“Aku nggak punya waktu untuk ini,” desisnya, kembali ke kalimat andalannya, perisai terakhirnya. “Aku harus kerja.”

“Bohong!” sentak Nokiami sembari melangkah maju hingga ujung sepatunya hampir menyentuh sepatu bot Reygan yang usang. “Berhenti bersembunyi di balik pekerjaanmu! Berhenti bersembunyi di balik utangmu! Akui saja, kau takut!”

“Aku tidak takut!” balas Reygan, suaranya meninggi, akhirnya menatap Nokiami dengan kilat amarah.

“Aku realistis! Kau hidup di dunia dongeng di mana perasaan bisa membayar tagihan. Aku tidak! Setiap menit yang kuhabiskan di sini untuk berdebat soal tulisan konyol di struk belanjaan adalah uang yang tidak masuk ke kantongku. Uang yang seharusnya bisa dipakai untuk mencicil utang!”

“Jadi ini soal uang?” tantang Nokiami. “Tawa itu, momen di dapur itu, semua itu nilainya lebih rendah daripada ongkos kirim burger sialan ini?”

“Ya!” bentak Reygan. “Ya. Karena itu satu-satunya hal yang nyata buatku sekarang. Uang. Utang. Target. Sisanya... cuma gangguan.”

Kata ‘gangguan’ itu menghantam Nokiami seperti tamparan. Sakitnya lebih dalam dari semua hinaan tentang berat badannya. Ia mundur selangkah, wajahnya mengeras. Rasa marah dan sakit hati yang tadi membuncah kini membeku menjadi ketenangan yang dingin.

“Baik,” katanya pelan, suaranya datar tanpa emosi. “Kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Reygan tampak terkejut dengan perubahan sikap Nokiami yang tiba-tiba. Ia sepertinya mengharapkan teriakan lagi, atau tangisan. Bukan penerimaan yang dingin ini.

“Bagus,” sahutnya kaku.

“Tapi ingat satu hal,” lanjut Nokiami seraya mengangkat dagunya. “Strategi kita melawan Leo masih berjalan. Kita harus tetap terlihat bersama di depan umum sesekali. Anggap saja itu bagian dari pekerjaanmu yang lain. Aku akan bayar waktumu.”

Tawaran itu adalah sebuah penghinaan, dan mereka berdua tahu itu. Reygan mengatupkan rahangnya begitu keras hingga otot di pipinya menonjol. “Aku tidak butuh uangmu.”

“Oh, ya? Bukankah tadi kau bilang setiap menit itu berharga?” balas Nokiami dengan senyum.

“Besok. Jam tujuh malam. Di taman kota. Jangan terlambat.”

Tanpa menunggu jawaban, Nokiami berbalik, masuk ke dalam apartemen, dan menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Reygan sendirian di lorong dengan kantong burger yang mulai dingin di tangannya dan kata-kata Nokiami yang membakar di telinganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!