NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Ancient Ruler

Reincarnation Of The Ancient Ruler

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: blueberrys

Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.



Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai dari gurun kematian

Kebangkitan Sang Kaisar kuno telah dimulai. Sejarah dunia ini, yang selama ini ditulis oleh para pemenang yang curang, akan segera dihapus dan ditulis ulang dengan tinta yang tidak akan pernah pudar: tinta darah para pengkhianat.

Perbatasan Kekaisaran Chi Long bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Wilayah ini adalah bentang alam yang kejam, di mana pasir kuning bertemu dengan cakrawala yang membara. Di sana, berdiri Benteng Naga Api, sebuah struktur megah dan mengerikan yang terbuat dari batu basal hitam yang konon dipahat oleh para dewa perang kuno. Benteng ini bukan sekadar bangunan ia adalah simbol keangkuhan Kekaisaran Chi Long, pembatas absolut antara peradaban yang beradab dan keganasan Gurun Kematian yang tak terpetakan.

Pagi itu, fajar menyingsing dengan warna merah yang tidak wajar, seolah-olah langit telah bersimbah darah sebelum pertempuran dimulai. Panji-panji merah dengan lambang naga api berkibar dengan liar, mengeluarkan suara seperti cambuk yang membelah udara. Namun, di balik kedisiplinan militer yang kaku, ada ke khawatiran yang merayap. Para prajurit veteran yang telah melewati ribuan pertempuran merasakan bulu kuduk mereka berdiri.

Keanehan dimulai ketika seekor burung pemakan bangkai makhluk yang paling tangguh di gurun mendadak jatuh dari langit. Tubuhnya kaku, matanya memutih, dan ia mati bahkan sebelum menyentuh tanah. Langit di ufuk barat perlahan berubah; biru cerah tertutup oleh kabut kelabu pekat yang membawa aroma kematian dan besi. Badai pasir yang biasanya menderu kasar, tiba-tiba berubah menjadi pusaran sunyi yang mengerikan.

"Kapten, lihat itu! Di tengah badai!" teriak seorang penjaga muda, suaranya bergetar hebat hingga tombaknya beradu dengan lantai batu.

Dari kejauhan, di pusat badai yang mampu mengoyak daging manusia hingga ke tulang, muncul sebuah bayangan kecil. Sosok itu berjalan dengan tenang, ritme langkahnya begitu teratur seolah ia sedang berjalan di taman istana, bukan di tengah neraka pasir. Setiap kali kakinya menyentuh bumi, sebuah gelombang kejut transparan terpancar, meratakan gundukan pasir setinggi rumah dalam sekejap. Alam seolah-olah memberikan jalan, tunduk pada kehendak sosok yang sedang melangkah itu.

Sosok itu adalah Shang Zhi. Rambut hitamnya yang panjang terurai bebas, menari-nari dalam irama yang tidak sinkron dengan angin badai. Jubahnya yang compang-camping akibat perjalanan jauh tidak mampu menyembunyikan aura wibawa yang memancar dari setiap serat tubuhnya. Di pinggangnya, sebuah pedang hitam yang baru saja ia bersihkan dari karat mengeluarkan dengungan rendah sebuah vibrasi predator yang telah mencium bau mangsa.

Jenderal Huo, komandan tertinggi benteng yang memiliki reputasi sebagai "Pemusnah Pemberontak," segera menaiki tembok utama. Sebagai seorang kultivator Ranah Fusion Soul tingkat menengah, energinya meluap-luap, menciptakan aura panas yang membuat udara di sekitarnya terdistorsi. Dengan baju zirah merah membara dan tombak api yang legendaris di tangannya, ia memandang rendah ke arah sosok di bawah sana.

"Siapa kau, orang asing?" suara Jenderal Huo menggelegar, diperkuat oleh energi internalnya hingga meruntuhkan butiran debu dari langit-langit benteng. "Gurun Kematian tidak pernah membiarkan mangsanya bernapas. Apakah kau hantu yang merangkak keluar dari lubang neraka terdalam?"

Shang Zhi berhenti tepat seratus langkah dari gerbang utama . Ia mendongak perlahan. Matanya yang dingin dan dalam, seperti sumur tanpa dasar, menatap langsung ke dalam mata Jenderal Huo. Pada detik itu, sang jenderal merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat ia merasa seolah-olah seluruh rahasia hidupnya sedang ditelanjangi oleh tatapan pemuda itu.

"Namaku... Shang Zhi," jawabnya. Suaranya rendah, namun memiliki daya tembus yang luar biasa. Suara itu merayap masuk ke dalam kesadaran setiap prajurit di benteng, berbisik di telinga mereka seolah ia berdiri tepat di belakang punggung mereka. "Aku ingin melewati wilayah ini menuju ibu kota Chi Long. Bukalah gerbangnya, dan tidak akan ada darah yang tumpah hari ini. Itu adalah janji, sekaligus peringatan."

Keheningan sesaat pecah oleh gelak tawa yang meledak dari atas tembok. Para prajurit kavaleri dan pemanah merasa terhina. Bagaimana mungkin satu orang pemuda yang tampak seperti pengembara lapar berani mendikte ribuan pasukan elit Kekaisaran?

"Berani sekali kau, sampah!" Jenderal Huo meludah ke bawah, wajahnya memerah karena amarah. "Kekaisaran Chi Long dibangun di atas tulang-tulang sombong seperti kau! Jika kau ingin lewat, lewatlah sebagai mayat yang membusuk! Pemanah, hapus keberadaannya dari dunia ini! Lepaskan hujan api!"

Atas perintah tersebut, langit mendadak gelap tertutup oleh ribuan anak panah. Setiap ujung anak panah telah dibubuhi energi elemen api tingkat tinggi, menciptakan tirai api raksasa di angkasa. Cahaya matahari tertutup oleh ribuan titik merah yang meluncur deras, membawa maut yang tak terelakkan menuju posisi Shang Zhi berdiri.

Shang Zhi tidak bergerak. Ia tidak menghindar, tidak pula menarik pedangnya. Ia hanya memejamkan mata dan menggumamkan dua kata yang mengubah hukum alam di tempat itu:

"Teknik Kaisar: Medan Hampa Abadi."

Saat anak-anak panah itu tinggal beberapa inci dari helai rambutnya, waktu seolah berhenti. Api yang berkobar pada anak panah tersebut padam seketika, bukan karena ditiup angin, melainkan karena energinya seolah diserap oleh kekosongan. Kayu-kayu busur yang kokoh hancur berkeping-keping menjadi butiran kristal es hitam yang jatuh ke tanah dengan suara gemerincing . Panas yang menyengat di sekitar gerbang mendadak berubah menjadi dingin yang menusuk sumsum tulang.

Wajah Jenderal Huo memucat. "Tidak mungkin... Ini mustahil! Serang! Semua pasukan, keluar dan hancurkan dia sampai menjadi bubur!"

Gerbang besi raksasa yang beratnya puluhan ton terbuka dengan debuman yang menggetarkan bumi. Ribuan kavaleri elit yang menunggangi kuda api binatang buas yang diselimuti api abadi menyerbu keluar. Derap kaki kuda mereka menciptakan gempa kecil, debu beterbangan menutupi pandangan. Mereka adalah badai baja yang tak terhentikan.

Shang Zhi menarik napas panjang. Energi emas gelap di dalam Dantian-nya, yang telah tertidur selama berabad-abad, kini bergejolak seperti naga yang terbangun. Ia menggenggam hulu pedang hitamnya. Dalam satu gerakan yang begitu halus dan cepat sehingga mata manusia hanya menangkap kilatan cahaya hitam, ia menebas.

"Tebasan Sembilan Neraka: pemutus Benang Takdir."

Satu tebasan horizontal yang sederhana. Namun, sebuah garis hitam pekat, setipis rambut namun sepanjang ratusan meter, meluncur membelah atmosfer. Garis itu melesat melewati barisan kavaleri dengan kecepatan yang melampaui logika.

Tidak ada suara ledakan. Tidak ada teriakan kesakitan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Kemudian, secara serentak, ribuan kuda dan penunggangnya berhenti di tempat. Sebuah garis merah tipis muncul di leher kuda, di pinggang prajurit, dan di perisai baja mereka. Tanpa peringatan, tubuh-tubuh itu terbelah dengan rapi. Namun, bukannya darah yang mengalir, luka-luka itu justru membeku menjadi es hitam. Patung-patung es tersebut kemudian pecah menjadi debu halus, lenyap diterbangkan angin gurun, menyisakan tanah yang kosong seolah ribuan pasukan itu tidak pernah ada.

Keheningan yang mencekam menyelimuti Benteng Naga Api. Prajurit yang masih tersisa di atas tembok jatuh terduduk, lemas. Tombak dan busur mereka terlepas dari tangan yang gemetar hebat. Mereka baru saja menyaksikan akhir dari sebuah legenda dalam satu ayunan tangan.

Shang Zhi menyarungkan kembali pedangnya dengan bunyi 'klik' yang tajam. Ia berjalan dengan tenang melewati sisa-sisa debu es hitam, melangkah menuju tembok benteng yang kini terasa seperti mainan di matanya. Ia menatap ke arah Jenderal Huo yang sudah kehilangan seluruh wibawanya, wajah sang jenderal kini putih seperti kertas.

"Sampaikan pesan ini kepada Kaisarmu di ibu kota," suara Shang Zhi terdengar dingin. "Aku sedang dalam perjalanan. Jika ia menyambutku dengan pedang, maka Kekaisaran Chi Long akan menjadi catatan kaki dalam sejarah yang terlupakan. Jika ia menyambutku dengan rasa hormat, mungkin aku akan membiarkannya tetap memakai mahkotanya."

Dengan satu loncatan ringan yang menentang gravitasi, Shang Zhi melampaui tembok setinggi tiga puluh meter itu dan mendarat di sisi lain dengan tanpa suara. Ia terus berjalan, meninggalkan ketakutan yang akan menghantui benteng itu selamanya.

Di dalam tas pinggangnya, Shang Zhi menyentuh botol kecil berisi Cairan Pemurni Esensi. "Tunggulah aku, Yun Xi. Badai ini baru saja dimulai, dan aku adalah pusatnya."

Beberapa hari setelah peristiwa di Benteng Naga Api, Shang Zhi tiba di pinggiran kota dagang yang ramai, tak jauh dari ibu kota. Berita tentang "Bencana dari Gurun" telah mendahuluinya, namun tidak ada yang mengenali pemuda dengan jubah usang ini sebagai sosok yang menghancurkan seribu kavaleri.

Di tengah ketegangan politik yang mulai memanas, Shang Zhi justru melangkah masuk ke tengah hiruk-pikuk Pasar Besar Lin'an. Aroma rempah-rempah, suara tawar-menawar pedagang, dan warna-warni kain sutra memenuhi indranya. Setelah sekian lama berada di tengah kesunyian gurun yang mematikan, kebisingan manusia terasa aneh namun menenangkan.

Ia berhenti di depan sebuah butik pakaian yang paling mewah, di mana kain-kain sutra terbaik digantung dengan anggun. Pemilik toko, seorang pria paruh baya yang jeli, awalnya memandang remeh pakaian Shang Zhi yang berdebu. Namun, saat ia melihat mata Shang Zhi, ia segera membungkuk dalam, merasakan tekanan tak kasat mata yang memaksa tubuhnya untuk tunduk.

"Tuan... ada yang bisa saya bantu?" tanya pemilik toko dengan nada gemetar.

"Aku butuh pakaian yang bagus," ucap Shang Zhi sambil meletakkan sekantong emas murni yang ia ambil dari sisa-sisa rampasan perang di gurun. "Sesuatu yang layak untuk dipakai saat bertemu dengan seorang kaisar atau saat menghadiri sebuah pemakaman kekaisaran."

Pilihan Shang Zhi jatuh pada sebuah jubah panjang berwarna hitam pekat dengan sulaman benang emas berbentuk awan di bagian tepinya. Kainnya selembut air namun sekuat baja, mencerminkan sosoknya yang tenang namun mematikan.

Setelah mengganti pakaiannya, ia keluar dari toko tersebut. Kini, ia bukan lagi pengembara yang tampak malang. Ia adalah seorang penguasa yang berjalan di antara manusia. Sambil memandangi matahari terbenam yang menyinari atap-atap istana di kejauhan, Shang Zhi merapikan kerah bajunya yang baru.

"Ibu kota sudah dekat," gumamnya pelan, sebelum menghilang di tengah kerumunan pasar, menuju takdir yang telah lama ia nantikan.

...Bersambung.... ...

1
urrr🍈
aduh... sedihnya sampe sini🥹🥲
pinguin: author bilek : kasi senang aja dulu🤭
total 1 replies
urrr🍈
dalam bgt kata-katanya
urrr🍈
suka bgt sama cara penyampaiannya /Smile/
Adi tt
done
Adi tt
oke done
Adi tt
💪🤣🤣
book of novel
Bang, kalo boleh bertanya. Ini bab sudah berapa kali revisi?
pinguin: gapapa bg sama² berusaha, semangat 💪
total 3 replies
Adi tt
semangat BG di tunggu ch selanjutnya 💪
pinguin: okee makasi yaa
total 1 replies
Adi tt
lanjut bg semangat💪
pinguin: di tunggu yaaa
total 1 replies
Adi tt
done
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!