Sofia hamil anak dari Jabez suaminya namun Layla merebut kebahagian itu dari Sofia dengan mencuri Test Pack milik Sofia, dan Layla mengaku-ngaku bahwa dia lah yang hamil anak dari Jabez.
Mendengar kabar baik atas kehamilan Layla, tentu saja membuat Jabez menjadi senang karena selama ini, dia sangat mendambakan seorang anak untuknya sebagai penerus keturunan Gurita kerajaan perusahaan EZAZ RAYA.
Layla merupakan istri pertama dari Jabez Ezaz yang digadang-gadang semua orang untuk meneruskan garis keturunan keluarga Ezaz Raya.
Mampukah Sofia menjalani pernikahan ini bersama Jabez serta membuktikan pada semua orang bahwa Layla berbohong akan kehamilannya. Dan kembali merebut hati suaminya agar Jabez mencintainya lagi serta menendang kekuasaan Layla dari istana Alhambra.
Mohon dukungannya ya pemirsa yang budiman 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 SIMPAN BAYINYA, BUANG IBUNYA
Ekspresi wajah Sofia terlihat sedih, tak mengira dia akan mendapatkan respon mengecewakan dari Jabez Ezaz bahwa suaminya tidak mempercayai ucapannya.
Sofia membuang muka, tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih terdiam.
Tampak Jabez Ezaz murung karena dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada Sofia sedangkan bukti akan kehamilan Sofia memang tidak ada untuk di tunjukkan.
Jabez Ezaz menarik nafas pelan seraya menghampiri Layla.
"Mari kita pergi, dan jangan usik ketenangan Sofia, biarkan dia berpikir jernih, Layla !"
"Baik, suamiku, aku mengerti..."
Layla melirik pelan seraya tersenyum sinis pada Sofia.
"Mari kita pergi, suamiku ! Dan kita bicarakan tentang rencana penyambutan bagi calon ahli waris Kerajaan Ezaz Raya di masa depan, yang akan jatuh pada anak kita berdua, suamiku tersayang..."
"Ya, Layla, kita pergi ke ruangan istirahatku dan kita bicarakan masa depan ini."
"Baik, suamiku."
Layla menggandeng tangan Jabez Ezaz seraya mengibaskan gaun roknya yang panjang ke arah Sofia, tersenyum puas lalu melangkah pergi.
Jabez Ezaz berjalan bersama Layla tanpa memperdulikan lagi akan kehadiran Sofia di dekat mereka berdua.
Keduanya melenggang pergi sembari saling berpandangan mesra serta saling menggengggam erat, melihat kedekatan yang terjalin kembali antara Layla dan Jabez Ezaz tentu membuat Sofia bersedih hati.
Sofia bahkan tidak mengerti bagaimana Jabez Ezaz tidak mempercayai ucapannya padahal jelas-jelas kalau Layla merebut Test Pack miliknya.
Memang Jabez Ezaz tidak menyaksikan sendiri kejadian di antara Layla dan dirinya bertengkar tadi namun seharusnya suaminya lebih bersikap adil dan mendengarkan ucapan darinya daripada ucapan Layla yang belum tentu benar adanya.
Satu kesalahan Sofia adalah dia tidak dapat menunjukkan Test Pack bukti akan kehamilannya kepada Jabez Ezaz karena itulah dia harus rela jika suaminya itu tidak mempercayai perkataannya dan lebih memilih percaya pada Layla yang memegang bukti kehamilan milik Sofia.
Air mata Sofia kembali menggenang namun kali ini dia benar-benar menangis ketika dia harus menghadapi kenyataan hidupnya yang pahit dan menyedihkan seperti ini.
Terhina, dipojokkan, diinjak-injak harga dirinya, di permalukan bahkan di olok-olok karena berkasta rendah serta hanya berstatus selir kedua dari Jabez Ezaz yang merupakan pewaris tahta dari Kerajaan Ezaz Raya.
Terdengar cemoohan dari dua dayang kepercayaan Layla pada Sofia.
"Jangan cengeng, siapa suruh tidak tegas, sudah tahu hamil malah jalan-jalan sendirian di lua !"
"Ya, kasihan sekali, jadi selir kok bodoh, tidak cerdas seperti nyonya Layla, pantas saja statusmu masih tetap selir kedua bukan istri tuan Jabez Ezaz, karena kau bodoh selir Sofia !"
"Masak calon anaknya harus menjadi calon pewaris dari Kerajaan Ezaz Raya, entah bagaimana nasibnya kerajaan ini jika dipimpin anak dari keturunanmu, selir Sofia !"
"Bodoh, tolol, dan serampangan !"
"Hahahahahaha.... !"
Kedua dayang kepercayaan Layla tertawa keras setelah mereka mengejek Sofia lalu menatap sinis kepada selir malang itu.
"Makanya rawat dirimu secantik mungkin supaya tuan Jabez Ezaz tidak berpaling darimu, dan lebih memperhatikan dirimu, kenapa jadi selir masih saja tidak pintar kau ini, selir Sofia !"
"Bagaimana dia mengerti artinya menjadi seorang wanita ningrat berstatus tinggi sedangkan dia tahunya hanya ngangkang saja dan mendesah nikmat !"
"Hehehehehe, aku terlalu polos dan naif buat suamiku, dan aku memang bodoh semacam keledai dungu !"
"Hahahahaha..., berpura-pura polos itu kata yang tepat buat selir Sofia, dia hanya menghemat uang agar dirinya bisa dikasihani oleh tuanku Jabez..."
"Mana bisa begitu, kalau aku jadi dia mana aku sudi harus bergaun lusuh, sederhana tanpa mengenakan perhiasan seperti dia !"
"Ya, karena tujuan dia supaya menjadi pusat perhatian dan tuanku Jabez Ezaz akan lebih jatuh iba dan simpati padanya."
"Selir macam apa dia, mana bisa dihormati malah jatuhnya dia tidak pantas sebagai pendamping tuan Jabez Ezaz, akan sangat memalukan jika membawanya ke acara kehormatan kerajaan..."
"Ya, seperti itulah nasib dia sebagai selir kedua di sini, sungguh menyedihkan dan bodoh sekali !
"Aku tidak sudi dekat-dekat dengannya, sudah kusut masai, lusuh, tak terawat, jerawatan malah bodoh lagi..."
"Kau ini, sembarangan saja bicara pada dia, begitu-begitu jua dia masih selir tuanku Jabez Ezaz."
"Mana mau aku dekat dengan wanita lusuh seperti dia, jadi dayang pribadinya saja aku tidak sudi !"
"Hehehehehe... Jangan menghina dia, kasihan anak yang ada di rahimnya harus mendengar hinaan ini..."
"Biarkan saja, apa peduliku !"
"Kau ini, coba lihat selir Sofia tampak murung dan bermuram durja..."
"Ayo, pergi dari sini ! Aku tidak mau melihat tampangnya lagi, menjijikkan dan memalukan sekali !"
"Hai, tunggu sebentar, kasihan dia..., hehehehehe.... !"
"Ayo, pergi !"
Dua dayang kepercayaan Layla lantas melenggang pergi sambil tertawa keras dari hadapan Sofia yang menangis terisak-isak.
Tinggal Sofia sendirian yang menunduk sedih seraya menangkupkan kedua tangannya.
Di depan ruangan istirahat Jabez Ezaz, tampak Layla berdiri menunggu kedatangan dua dayang kepercayaannya.
Ketika Layla melihat dua dayangnya datang mendekat padanya, dia segera bertanya.
"Kenapa lama, dari mana saja kalian ?"
"Maaf, nyonya Layla, kami baru saja datang karena tidak tahan melihat selir Sofia bertingkah kekanakan seperti itu."
"Apa yang kalian lakukan kepadanya ?"
Dua dayang kepercayaan Layla saling berpandangan satu sama lalinnya lalu berkata pada Layla.
"Kami hanya mengolok-olok selir Sofia karena kami kesal melihat dia masih saja menangis..."
"Apa yang kalian katakan padanya sehingga dia bersedih seperti itu, asal kalian ingat jika kalian sampai menyinggung perasaan selir Sofia maka kepala kalian menjadi taruhannya nanti, kalian mau itu ?"
Serentak dua dayang kepercayaan Layla menggeleng cepat lalu menundukkan kepala mereka.
Layla mencibir sinis dengan sorot mata tajam kemudian melanjutkan ucapannya pada dua dayang itu.
"Ada tugas buat kalian berdua, tapi jangan sampai suamiku tahu soal ini !"
"Ya, nyonya, Layla..."
Jawab dua dayang tersebut sambil menengadahkan pandangannya ke arah Layla.
"Apa tugas yang mesti kami kerjakan untuk anda, nyonya Layla ?"
"Bukan tugas penting namun tugas ringan yang tidak memerlukan banyak tenaga atau pikiran untuk menyelesaikannya..."
"Kalau kami boleh tahu, tugas mulia apakah yang wajib kami kerjakan, nyonya Layla ?"
"Mudah saja, tapi ingat pesanku ini, jangan ada yang tahu tugas yang kuperintahkan pada kalian berdua !"
''Baik, nyonya Layla..."
"Bagus...''
Layla memandang sekali lagi pada dua dayang kepercayaannya dengan tatapan serius lalu tersenyum dangkal.
"Simpan bayinya, dan buang ibu dari bayi itu, tapi jangan sampai kalian melukai selir Sofia sebelum bayi itu lahir ke bumi ini !"
"Artinya kami harus mengawasi selir Sofia selama dia hamil, nyonya Layla ?"
"Ya, benar..."
"Simpan bayinya, dan buang ibunya..."
"Artinya ambil bayi milik selir Sofia setelah dia di lahirkan lalu buang ibunya yaitu selir Sofia dari istana Alhambra ini jauh-jauh kalau bisa binasakan dia tanpa meninggalkan jejak !"
"Kami mengerti, nyonya Layla..."
"Awasi selir Sofia selama dia hamil sampai dia melahirkan, jangan lalai dan terus awasi dia karena yang aku butuhkan dari sandiwara ini adalah bayi milik selir Sofia dan Jabez !"
"Kami paham dengan maksud anda, nyonya Layla..."
"Jika kalian mengerti maka berangkat lah sekarang juga, ikuti selir Sofia kemana pun dia pergi dan ingat satu hal dari pesanku ini !"
Layla menatap tajam kepada dua dayang kepercayaannya itu sembari mengarahkan ujung jari telunjuknya ke depan dan berkata tegas.
"Jangan coba-coba mencelakai Sofia, bagaimana pun juga aku butuh anak yang dia lahirkan nantinya sebagai calon pewarisku untuk merebut tahta kerajaan Ezaz Raya ini !"
Kedua dayang tersebut hanya mengangguk pelan tanpa berani berucap sepatah kata pun pada Layla, dan terlihat sorot mata dua dayang itu agak ketakutan ketika dia melihat Layla yang menatap mereka dengan bengisnya.