BERAWAL DARI SALAH KIRIM NOMOR, BERAKHIR DI PELAMINAN?!
Demi tes kesetiaan pacar sahabatnya, Dara (22) nekat kirim foto seksi sambil ngajak "kawin". Sayangnya, nomor yang dia goda itu BUKAN nomor pacar sahabatnya, tapi Antonio (32), Oom-nya Acha yang dingin, mapan, tapi... diam-diam sudah lama suka sama Dara!
Dara kabur ke pelosok desa, tapi Nio justru mengejar. Dara mencoba membatalkan, tapi Nio justru malah semakin serius.
Mampukah Dara menolak Om-om yang terlalu tampan, terlalu dewasa, dan terlalu bucin karena salah chat darinya ini?
Novel komedi tentang cinta yang beda usia 10 tahun. Yuk, gas dibaca. Biar tahu keseruan hidup Dara-Nio yang serba gedabak-gedebuk ini 🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ame_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Mas Nio Kenapa?
Tak butuh waktu lama, Bima berhasil menemukan informasi mengenai pria yang membuat kesal bosnya itu.
"Namanya Arkan, umur 24 tahun. Star host di agensi tempat istri bapak bekerja. Dilihat dari riwayat hidupnya... ah, sepertinya mereka satu sekolah yang sama saat SMA. Kemungkinan dia kakak kelas istri Anda." kata Bima.
'Kakak kelas?' batin Nio.
Dia kembali menatap layar ponselnya yang menampilkan kegiatan Dara bersama pria itu—Arkan—saat sedang memperjualkan produk kecantikan tersebut. Dia bisa melihat kedekatan mereka, interaksi mereka, dan...
Tatapan Dara saat melihat pria itu.
Tangan Nio mengepal hingga jari-jarinya memutih.
Nio tidak suka.
Nio tidak mau melihat istrinya dekat-dekat dengan bajingan itu.
Dia tahu, dia bisa bersaing dengan 1000 pria yang mencoba mendekati istrinya, tapi—
Dia tidak akan bisa bersaing dengan pria yang dicintai oleh istrinya.
Nio menghela napas kasar.
Dia takut, pria itulah yang Dara cinta. Karena tatapan Dara saat melihat pria itu terlihat berbeda, setidaknya seperti itulah yang Nio rasa.
Dara biasanya tidak suka bicara dengan orang asing. Ekspresinya juga lebih sering cemberut. Tapi sekarang, dia terlihat sangat ceria. Mungkin karena dia sedang berada di depan layar dan berjuang. Tapi... tetap saja. Nio rasa ada sesuatu diantara mereka.
Jam di dinding menunjukkan pukul 16.30. Nio segera berdiri dari kursinya.
"Saya pulang duluan. Yang lain, langsung pulang begitu jam kerja selesai."
"Siap, Pak."
Nio langsung pergi dari ruang kerjanya tanpa menoleh lagi, meninggalkan Bima yang masih sibuk memeriksa beberapa berkas.
***
"Wah, waktu live aku udah habis, nih. Yang belum sempet checkout jangan panik, masih ada Kak Arkan yang bakal nemenin kalian disini. Kita jumpa lagi besok jam 08.00-17.00, ya!"
"Yah, Kak Dara nya udah mau udahan. Padahal lagi seru-serunya live, nih. Penonton juga kayaknya suka sama Kak Dara," goda Arkan.
Dara terkekeh pelan.
"Apaan sih, kakak ini. Gue udah pingin rebahan tahu!"
"Kalau lembur duitnya banyak, Dar." jawab Arkan.
"Enggak, enggak. Udah habis suara gue buat cuap-cuap dari pagi sampe sore. Sekarang pingin istirahat." jawabnya.
Akhirnya setelah sesi panjang yang melelahkan, Dara diizinkan untuk pulang. Dia bertemu dengan Ibu manajer di luar studio yang memuji hasil kerjanya yang bagus—padahal ini baru hari pertamanya bekerja.
"Besok jangan lupa datang sesuai jam kerja ya, Dar."
"Pasti, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu."
Bu Manajer mengangguk, mengizinkan Dara pulang.
Dara berjalan keluar dari gedung dengan langkah yang agak cepat—teringat janji Nio yang akan menjemputnya. Dilihatnya jam di pergelangan tangannya, pukul 17.05. Tidak mungkin Nio sudah sampai, kan?
Tapi... saat dia keluar, dia benar-benar melihat mobil suaminya disana. Nio sudah datang, entah sejak jam berapa.
Dengan agak berlari kecil, Dara menghampiri mobil suaminya. Dia segera masuk ke kursi sebelah pengemudi.
"Udah nunggu lama, Mas?" tanya Dara.
'Harusnya dia pulang kantor jam 5 sore kan ya? Kok jam segini dia udah sampe disini?' batin Dara.
Nio tersenyum.
"Enggak, kok. Baru sekitar sepuluh menit." jawabnya.
Dia menyodorkan sebotol air mineral untuk istrinya—yang terlebih dahulu dia buka tutupnya agar Dara lebih mudah untuk minum. Dara menyambut itu dengan senang, tahu saja suaminya itu kalau dia sudah sangat haus.
"Partner live kamu tadi, kayaknya kalian sangat dekat. Kalian saling kenal?" tanya Nio.
Dara terbatuk, agak tersedak juga saat minum. Itu pertanyaan biasa sebenarnya, tapi kok Dara merasa takut untuk cerita, ya?
Dan lagi, kok Nio bisa tahu bahwa dia live berdua dengan orang lain? Dia menontonnya?
Dara menerima tisu pemberian suaminya, mengusap-usap air yang sempat menyembur dari mulutnya.
"Dia kakak kelas waktu SMA, namanya Kak Arkan." katanya.
Nio bergumam pelan sambil menganggukkan kepala. Setidaknya Dara tak mencoba berpura-pura tidak kenal.
"Kalian dekat?" tanya Nio lagi.
Dara menggeleng.
"Enggak, tapi ya... kenal. Makanya bisa lebih luwes pas kerja bareng." jawab Dara.
Dia menatap ekspresi wajah Nio, mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh suami tampannya itu.
"Kenapa memangnya, Mas?" tanya Dara.
Nio menggeleng pelan. Tangannya meraih tangan Dara, lalu diciumnya punggung tangan istrinya dengan penuh cinta.
"Enggak apa-apa, Sayang. Hari ini kamu bekerja dengan bagus. Semangat terus kerjanya, ya." katanya, sambil tersenyum.
Dara ikut tersenyum. Tapi kok, hatinya merasa tidak enak, ya, saat melihat senyum Nio? Seolah-olah ada luka yang Nio sembunyikan dalam senyumnya itu.
'Perasaan gue aja kali, ya? kan gue enggak ngapa-ngapain dia.' batin Dara.
***
Si Mas Nio kira-kira kenapa, ya? 🤭
Jangan lupa like, komen, subscribe, dan vote nya ya bolo-bolo. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya~
Bye-bye~
saran gue sih jan mbatin mulu. ntar saingan ama cenayang😩
kenapa pula harus jari tengah Dar😩 lu nantangin apa weh🤦🏼♀️