Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuhanpun belum merestuinya..
Di ruang perawatan yang sunyi itu,aroma antiseptik masih menggantung di udara. Jingga duduk di sisi ranjang, telaten merapikan selimut Arjuna yang sejak pagi tampak lebih pucat dari biasanya. Wajahnya lembut, penuh perhatian cara yang sama ia lakukan sejak Arjuna jatuh sakit. Tanpa disadari, ketelatenan itu menjadi magnet.
Pintu terbuka pelan. Seorang dokter laki-laki masuk dengan senyum profesional. Ia memperkenalkan diri, lalu mulai memeriksa kondisi Arjuna. Namun ada sesuatu yang membuat alis Arjuna berkerut. Tatapan dokter itu terlalu sering beralih bukan ke monitor, bukan ke catatan melainkan ke Jingga. Sekilas memang wajar, tapi berulang kali. Terlalu berulang.
Arjuna menarik napas pendek. Dadanya masih terasa sesak, bukan hanya karena sakit, tapi juga oleh rasa yang tiba-tiba memanas dan merasa cemburu. Ia berusaha mengabaikannya,memejamkan mata sejenak. Tapi ketika dokter itu meminta Jingga mendekat untuk membantu memegang lengan Arjuna, tatapan itu kembali berlama-lama. Bahkan senyum kecil terselip, yang entah mengapa terasa tak pada tempatnya.
“Dok,” suara Arjuna terdengar datar namun tegas, “saya bisa sendiri.”
Jingga menoleh, sedikit heran. “Aku cuma bantu—”
“Tidak perlu,” potong Arjuna cepat. Ia menggeser lengannya, seolah ingin menegaskan wilayahnya sendiri. Dokter itu mengangguk, sedikit canggung, lalu melanjutkan pemeriksaan dengan jarak yang lebih profesional.
Namun cemburu Arjuna belum surut.Saat dokter menjelaskan hasil pemeriksaan, pandangan itu kembali melayang ke arah Jingga sekilas, lalu lebih lama. Arjuna mendecakkan lidah pelan. Tangannya meraih ujung lengan baju Jingga, menggenggamnya dengan lembut namun pasti. Sebuah isyarat yang menegaskan sesuatu.
Jingga menunduk, menatap genggaman itu. Ia tersenyum kecil, seolah mengerti.Tangannya membalas, menepuk punggung tangan Arjuna menenangkan. “Tenang,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar. “Fokus sembuh dulu.”
Dokter menutup map, memberikan beberapa instruksi, lalu pamit. Saat pintu tertutup, ruangan terasa lebih lega. Arjuna melepaskan napas panjang, bahunya turun. Jingga tertawa kecil, menatapnya dengan mata yang hangat.
“Kamu cemburu?” tanyanya, nada suaranya menggoda tapi lembut.
Arjuna memalingkan wajah, pipinya sedikit memanas. “Dia kenapa sering banget lihat kamu,” gumamnya. “Aku gak suka.”
Jingga tertawa lagi, kali ini lebih jelas. Ia merapikan rambut Arjuna yang berantakan. “Aku di sini untuk kamu.Dari tadi juga,” ujarnya pelan, menekankan setiap kata. “Tidak ada yang perlu dicemburui.”
Arjuna menatapnya, sorot matanya melunak. “Tetap saja,” katanya, setengah merajuk. “Kamu… milikku.”
Jingga menggeleng sambil tersenyum,lalu mencondongkan tubuh sedikit cukup dekat untuk membuat Arjuna merasa nyaman. “Aku disini, di sisimu,” katanya lembut. “Itu yang lebih penting.”
Arjuna mengangguk. Rasa cemburu itu perlahan mencair, berganti kehangatan yang menenangkan. Ia menggenggam tangan Jingga lagi, kali ini tanpa ketegangan. Di ruangan yang kembali sunyi, Arjuna akhirnya tersenyum kecil yang hanya muncul ketika ia tahu, apa pun yang terjadi, Jingga tetap memilih disisinya.
"Ka Juna lucu kalau cemburu." Ucap Jingga tiba-tiba.
"Lucu gimana?" Alisnya mengerut.
"Wajah kaka tuh dingin dan tegas tapi bisa cemburu juga ya.Kan jadinya lucu."
"Aku hanya ingin melindungi apa yang menjadi milikku." Kilahnya membuat Jingga terkekeh.
"Lagian dokter itu terlihat lebih muda dari ku." Lanjutnya.
"Tapi nyatanya aki lebih nyaman dengan yang lebih dewasa."Jawab Jingga kemudian memeluk lengan Arjuna membuat Arjuna lega.
"Tolong jangan pergi.."Lirihnya.." Karena mungkin aku akan hancur."
Jingga terpaku.Ternyata ketakutannya selama ini tidak ia rasakan sendiri,dan Arjuna pun merasakan hal yang sama.
"Aku yang akan lebih hancur kalau kaka pergi." Ucap Jingga rendah "Kaka tau kaka lah yang buat aku bangkit,dan alasan aku kuat dan bertahan itu karena kaka.Jadi mungkin aku yang akan lebih hancur kalau kaka pergi."
Keduanya langsung terdiam.Ruangan terasa hening dan sunyi,hanya dua pasang mata yang saling menatap dalam.Menyelami hati masing-masing.Yang saling mengisi dan menguatkan.
Hingga tanpa sadar,sebuah rasa asing mereka rasa untuk pertama kalinya.Terasa hangat dan lembut,tak lama hanya saling menempel namun mampu membuat jantung serasa ingin meledak.
"Maaf..."Lirih Arjuna saat melepasnya,ia mengusap bibir Jingga dan menyatukan keningnya dengan Jingga.
Mungkin sudah waktunya aku memikirkan permintaan Ibu untuk segera menikah.Aku sudah tidak ingin jauh lagi dari Jingga.
°°°°
Langkah Jingga terasa ringan namun pikirannya penuh saat ia keluar dari ruang perawatan. Perutnya berbunyi pelan,sejak pagi ia belum sempat makan hanya sepotong buah dan segelas susu yang masuk kedalam perutnya. Ia memutuskan turun ke kantin rumah sakit, berharap bisa cepat kembali sebelum Arjuna terbangun dan mencarinya.
Kantin siang itu cukup ramai. Aroma makanan hangat bercampur suara sendok dan obrolan lirih. Jingga mengantri, menatap daftar menu di atas etalase. Ia memesan sup bening dan nasi hangat pilihan paling aman, pikirnya, yang bisa ia habiskan cepat.
Tanpa disadari, beberapa meja di belakangnya, seorang pria paruh baya dan seorang perempuan berbusana rapi duduk berdampingan. Pria itu tertawa kecil, suaranya familiar. Perempuan di sampingnya menyesap minumannya, sesekali mengangguk. Ayah Jingga dan ibu tirinya.
Jingga membelakangi mereka. Rambutnya tergerai, wajahnya tertutup setengah oleh masker. Ia sibuk menghitung kembalian, lalu melangkah ke arah meja kosong dekat jendela. Sementara itu, sang ayah menoleh sebentar ke arah antrean sekilas saja namun pandangannya terhenti pada petugas kasir, bukan pada sosok yang berdiri tak jauh darinya.
Ibu tiri Jingga memanggil pelayan,meminta tambahan air minum. Mereka lalu kembali tenggelam dalam percakapan, membahas jadwal dan urusan yang tak ada sangkut pautnya dengan siapa pun di sekitar. Tak ada satu pun yang menyadari jarak tipis yang barusan menyatukan masa lalu dan masa kini.
Jingga duduk, membuka tutup mangkuk supnya. Uap hangat naik, menenangkan. Ia meniup perlahan, lalu menyendok. Ponselnya bergetar pesan singkat dari Arjuna: “Kamu di mana?” Jingga tersenyum kecil, membalas cepat bahwa ia sedang di kantin dan akan segera kembali.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri, membereskan nampan. Saat melangkah menuju pintu keluar, ayahnya justru berdiri membelakangi, mengancingkan jas. Waktu seolah sengaja menyelipkan mereka dalam satu ruang, satu napas namun tanpa pertemuan.
Jingga melewati mereka tanpa menoleh. Ayahnya melangkah ke arah berlawanan. Tidak ada tatapan, tidak ada panggilan, tidak ada pengenalan. Hanya kebetulan yang dibiarkan tetap menjadi kebetulan.
Saat pintu kantin tertutup di belakangnya, Jingga menghembuskan napas pelan. Entah mengapa dadanya terasa lebih lapang. Ia menggenggam plastik makanan, mempercepat langkah kembali ke lantai atas ke tempat di mana hatinya kini berlabuh, tanpa bayang-bayang yang perlu dihadapi hari ini.
Semesta pun seolah belum mengizinkan keduanya bertemu,entah karena memang luka yang belum sembuh atau hati yang telah mati.
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga