Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelelahan?
Tita dan Jelita datang membawakan bunga ke makam Fiana. Sudah 40 hari berlaku semenjak kematian Fiana dan kedua sahabatnya itu selalu dihantui rasa bersalah.
"Entah sampai kapan perasaan bersalah ini akan hilang, Fi. 40 hari sudah kepergianmu namun rasanya aku belum mampu menerima kenyataan atas kematian mu." kata Jelita sambil menaburkan bunga di atas makam Fiana.
"Aku sangat merindukan mu, Fiana. Kita baru beberapa bulan ketemu karena kamu memilih tinggal di Amerika. Seharusnya kamu tak pernah datang di sini. Seharusnya kamu tak pernah ketemu dengan Arjuna sehingga semua kepahitan ini tak akan pernah kita alami." kata Tita. Ia menuangkan air dan mencuci batu nisan Fiana.
Keduanya terus berbicara sampai mereka melihat si penjaga kubur yang sedang membersihkan rumput di sekitar jalan masuk.
"Permisi, pak. Kurang lebih 2 minggu yang lalu, ada seorang lelaki yang datang ke makam baru itu. Apakah bapak melihatnya?"
Roman tersenyum. "Kalian siapa?"
"Kami adalah teman dari gadis yang bunuh diri itu. Lelaki yang datang itu adalah suaminya." jawab Tita.
"Bagaimana mungkin keluarga Adams dan keluarga Pekins bisa bersama? Kalian bohong ya?"
"Pak, mereka berdua sebenarnya saling mencintai. Namun keadaan yang membuat mereka terpisah seperti ini. Kami takut kalau lelaki itu melakukan sesuatu yang nekat, misalnya ia bunuh diri juga karena merasa tak sanggup menerima kematian istrinya." kali ini Jelita yang bicara.
Roman tersenyum. "Saya menolong lelaki itu. Dia memang sempat ingin bunuh diri tapi akhirnya dia sadar dan kembali menerima kenyataan atas kematian istrinya. Sekarang dia sudah pergi ke tempat lain. Dia berusaha menenangkan dirinya. Tapi dia baik-baik saja."
"Syukurlah. Bolehkah kami tahu dia ada di mana? Tenang saja pak, kami bukan mata-mata kerajaan. Orang tuanya sangat sedih karena tak tahu Arjuna ada di mana." Tita berkata lirih.
"Maaf, aku tak bisa mengatakannya. Yang pasti dia akan pulang kalau semuanya sudah mulai baik-baik saja."
Jelita dan Tita hanya bisa pasrah. Setidaknya mereka tahu kalau Arjuna tak bunuh diri. Keduanya pun pamit lalu meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil yang lain datang. Ternyata itu adalah dokter Edgar. "Papa........" Edgar menyalami Roman.
"Nak, papa senang kamu datang mengunjungi papa. Ayo masuk!" ajak Roman. Edgar pun mengikuti langkah Roman. Saat memasuki rumah, ia memandang foto seorang wanita yang sedang memeluk seorang bayi. "Mama, aku merindukanmu."
"Papa buatkan kopi kesukaanmu."
Edgar pun duduk di depan meja bulat. Tempat biasanya sang papa makan. Ia sangat menyukai kopi buatan papanya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Roman.
"Aku sudah berhasil menjadi dokter istana."
"Nak, papa khawatir dengan rencanamu ini. Kamu melibatkan banyak orang."
"Aku hanya ingin raja sakit dan menggantungkan hidupnya dalam pengobatan yang akan kuberi. Dia telah membuat mamaku menderita. Dia tak pantas mendapatkan kebahagiaan." kata Edgar dengan nada yang berapi-api.
"Nak, hidup dalam dendam dan kebencian itu tak baik. Oh ya, bagaimana kabar Rina?"
"Dia semalam tidur di apartemen ku."
"Kalian sudah punya hubungan yang jelas?"
Edgar menggeleng. "Semalam kami bercinta dengan penuh gairah. Namun paginya saat aku bangun, aku menemukan catatan dari Rina yang mengatakan kalau dia tak ingin berhubungan dengan ku karena dia dan anaknya akan pergi ke luar negeri."
"Kamu menyerah?"
"Tidak. Aku akan mengunjunginya di luar negeri begitu urusan di sini selesai."
Roman mengangguk. "Itu lebih baik. Oh ya, bagaimana kabar Arjuna?"
"Dia sudah menikah dengan Diana sebagaimana yang kita rencanakan."
"Apakah dia mau dengan Diana?"
"Setiap makanan yang diantar ke rumah mereka mengandung zat tertentu yang akN membuat mereka selalu bergairah. Arjuna akan tergila-gila pada Diana."
Roman hanya bisa menarik napas panjang lalu menyesap kopinya.
***********
Napas Diana dan Arjuna saling memburu. Mereka bahkan tak sempat pindah ke kamar. Lantai ruang tamu yang dialasi oleh karpet yang tebal, menjadi saksi panasnya percintaan mereka malam ini.
Diana yang kini berada di atas Arjuna segera memeluk tubuh lelaki itu saat ia mencapai puncaknya. Arjuna pun langsung membalas dekapan Diana karena dia juga akhirnya mencapai puncaknya.
Diana menatap wajah Arjuna yang nampak berkeringat. Posisi mereka yang sama-sama duduk di lantai membuat Diana bisa melihat wajah Arjuna saat lelaki itu bercinta dengannya.
Tangan Diana terukur. Ia tiba-tiba saja membelai pipi Arjuna dengan punggung tangannya. Ia juga menyeka keringat di wajah Arjuna dengan jari-jarinya.
"Arjuna, aku merasa bahwa aku sudah cinta padamu."
Arjuna terkejut mendengarnya. "Secepat ini?"
"Ya. Memangnya tak boleh?" tanya Diana lalu melingkarkan tangannya di leher Arjuna. Ia bahkan belum melepaskan penyatuan mereka.
"Jika masa hukuman ku sudah selesai, aku akan pergi dari sini, Diana."
"Aku akan ikut kemana saja kamu pergi. Aku tak mau berpisah denganmu." lalu Diana kembali mencium bibir Arjuna dengan penuh gairah. Ia sekarang tidak malu-malu lagi dalam mengekspresikan apa yang dia mau dan apa yang ia rasakan.
Arjuna melepaskan pelukannya. Ciuman Diana sudah membakar kembali hasrat dalam dirinya. Perlahan ia mendorong tubuh Diana sehingga akhirnya gadis itu duduk di sebelahnya.
"Kamu tak ingin?" tanya Diana dengan wajah sedikit kecewa.
Arjuna tersenyum. "Aku mau. Tapi sebaiknya kita pindah ke kamar saja." Arjuna berdiri. Ia kemudian mengulurkan tangannya. Diana menyambutnya. Lalu setelah keduanya sudah sama-sama berdiri, Arjuna segera mengangkat tubuh Diana dan membawanya ke kamar.
Saat Arjuna bercinta dengan Fiana, ia juga sangat bergairah dan seakan tak pernah ingin berhenti bercinta. Itu karena mereka memang jarang bertemu. Namun dengan Diana, Arjuna merasa seperti seorang maniak. Hampir sepanjang hari mereka habiskan waktu untuk bercinta. Entah apa yang Arjuna rasakan. Tubuhnya akan semakin kuat dan semakin bergairah ketika ia sudah selesai makan.
*************
Para gadis membawa pasangan itu ke sungai. Arjuna hanya mengenakan kain sarung yang membungkus tubuhnya dari pinggang ke bawah sedangkan Diana menggunakan kain sarung juga yang melilit tubuhnya.
Begitu tiba di sungai, mereka diminta untuk masuk ke dalam air lalu menaburkan bunga-bunga yang memang sudah disiapkan. Para gadis pun ikutan mandi.
Diana dan Arjuna ikut tertawa. Diana kini tak malu-malu lagi menggandeng Arjuna karena teman-teman nya suka mempermainkan Arjuna dengan menarik lelaki itu untuk mereka peluk.
"Jangan ganggu milikku." kata Diana sambil melotot ke arah teman-temannya.
"Jadikan dia milik kami. Sebentar saja." mohon Moon.
"Aku ingin menciumnya walaupun sudah menjadi milikmu." kata Ling disambut tawa yang lain.
Diana yang masih menggandeng Arjuna tiba-tiba merasa pusing.
"Diana, kenapa?" tanya Arjuna.
"Aku merasa pusing." kata Diana. Tak lama kemudian gadis itu benar-benar pingsan.
Semua langsung berteriak histeris. Arjuna dengan cepat mengangkat tubuh Diana dan membawanya ke tepi sungai.
"Diana ....! Diana ....!" panggil Arjuna sambil menepuk-nepuk pipi Diana. Lelaki itu merasa kalau Diana mungkin kelelahan karena selama 3 hari mereka mereka berdua benar-benar intens bercinta.
Ling memegang nadi Diana. "Nadinya normal. Mungkin dia kelelahan. Sehari berapa kali sih kalian bercinta?" tanya Ling.
Wajah Arjuna langsung memerah. Namun ia kembali menepuk pipi Diana. Gadis itu tiba-tiba menahan tangan Arjuna. "Juna, kamu di mana? Jangan tinggalkan aku."
"Aku di sini, Diana."
"Juna, aku tak mau hidup tanpamu." kata Diana masih dengan mata yang terpejam. Arjuna terkejut. Ada apa ini?